
"Sat, bagaimana keadaan lo? Lo baik-baik saja, kan? Coba gue periksa."
Mendadak suasana jadi mencekam. Tiga lelaki yang ada di ruangan itu saling pandang.
"Anita?" spontan mereka bertiga bersuara pelan, tetapi masih terdengar di ruangan itu.
"Anita, jaga batasanmu. Dia itu atasan kamu!" tegur Adrian kemudian. Suaranya datar dan wajahnya tanpa ekspresi.
Ini bukan masalah cemburu atau tidak cemburu mengingat Adrian punya hati sama Anita. Ia tahu, dulu Satrio dan Anita memiliki hubungan spesial, entah seperti apa bentuknya, tidak ada yang tahu secara pasti. Namun, orang nomor satu di kesatuan itu juga tahu kalau hubungan itu hanya cinta sepihak.
Kalau mereka sedang berdua, mungkin masih bisa ditoleransi kalau pakai bahasa prokem. Namun, sekarang mereka tidak sedang berdua, terlebih di sini ada istri Satrio yang harus ia jaga perasannya.
Anita menoleh ke arah Adrian. Meski kadang sikap membangkangnya muncul kalau sedang kesal, tetapi ia juga masih segan sama atasannya itu.
"Eh, Bos ada di sini juga? Maaf, saya hanya ingin memeriksa kondisi Pak Satrio," kata Anita.
Kemudian ia lebih mendekat ke Satrio. Kali ini suaranya terdengar cukup sopan dan formal.
Tadi setelah membuka pintu Anita langsung ngeloyor masuk menuju Satrio. Gadis itu terlalu mengkhawatirkan pujaan hatinya. Begitu mendengar kabar kalau lelaki itu sedang terluka parah, ia langsung datang. Karena terlalu fokus pada lelaki itu, ia tidak memperhatikan kalau di situ juga ada Qia dan dokter Iman.
Qia yang berada di tempat itu tentu saja merasa tidak suka dengan sikap Anita.
"Maaf, Mbak Anita. Saya rasa itu tidak perlu. Kak Satrio baik-baik saja, jadi tidak perlu diperiksa," kata.
Mendengar itu, Anita menoleh. Matanya langsung menyipit begitu menyadari siapa yang ia lihat.
"Oh, kamu ada di sini juga?" ucap Anita rada sinis.
"Tentu saja. Dia itu suamiku, tentu saja aku harus menjaganya. Apa ada masalah? Justru aku bertanya-tanya, apa yang Mbak Anita lakukan di tempat ini?" tanya Qia santai.
Sikap dan kata-katanya itu membuat Anita agak naik darah.
"Aku ini rekan kerjanya. Tentu saja aku ingin tahu keadaannya. Apa ada larangan?" jawab Anita kesal.
"Tentu saja tidak ada larangan. Mbak Anita adalah teman Kak Satrio, tentu saja boleh menjenguk. Tapi, saya mau menyeka tubuhnya sekarang, silakan Mbak Anita keluar dulu, ya. Mbak Anita tidak ingin melihatnya, kan?" tanya Qia polos dengan suara yang sangat lembut. Tidak ada nada kemarahan di sana, tetapi kata-kata itu cukup tajam.
"Saya hanya ingin memeriksa keadaannya sebentar. Asal kamu tahu, saya ini juga paham tentang medis," kata Anita sedikit membentak. Dia sangat kesal, berani-beraninya gadis polos ini melarangnya. Satrio dan Adrian saja tidak keberatan.
Sementara, Satrio, Andrian, dan dokter Iman yang tadinya khawatir kalau Qia akan merasa sedih atau terintimidasi dengan dengan kehadiran Anita saling pandang. Mereka tidak menyangka kalau Qia berani bersuara, bahkan berani melarang Anita.
Mereka jadi penasaran, apa yang akan dilakukan gadis itu untuk menghadapi Anita. Secara, mereka sangat memahami betapa konyol atau keras kepalanya Anita jika berkaitan dengan Satrio.
"Saya rasa tidak perlu, Mbak Anita. Tim medis sudah memeriksanya dan memberikan perawatan terbaik mereka. Sekarang Kak Satrio sudah baik-baik saja, jadi tidak perlu diperiksa lagi. Betul begitu kan, dokter Iman?" jawab Qia sopan kemudikan menoleh ke dokter Iman.
"Kamu jangan berlagu. Lihatlah, Satrio saja tidak keberatan aku periksa," sahut Anita sengit.
Qia tersenyum.
"Bahkan, Kak Satrio tidak keberatan saya melakukan hal ini. Lihatlah, betapa suami saya sangat berterima kasih karena istri tercintanya telah menolongnya dari siapa pun yang akan mengganggu istirahatnya."
"Kau ...." Anita terlihat sangat kesal. Selama ini ia cukup dekat dengan Adrian dan Satrio. Makanya, terkadang dua lelaki itu agak kewalahan menghadapi kekonyolannya. Namun, kali ini dua lelaki andalannya itu malah diam saja. Tak ada sedikit pun pembelaan untuk dirinya
"Ternyata cukup menyenangkan bisa membungkam pelakor," batin Qia.
"Mari Mbak Anita, saya antar. Terima kasih atas kunjungannya," kata Qia.
Anita semakin kesal. Namun, ia tidak bisa membantah atau memaksakan diri untuk tinggal. Bagaimanapun, ia tidak ingin terlihat terlalu frontal memusuhi gadis lemah itu.
Andai di situ tidak ada Satrio dan Adrian, pasti dari tadi dirinya sudah mendamprat istri Satrio itu habis-habisan. Anita merasa tidak berdaya ketika gadis lemah yang telah merebut kekasihnya itu menggamit tangannya dan menuntunnya keluar.
Sekali lagi, tiga lelaki yang tadi sengaja untuk diam itu kini saling pandang.
"Ternyata istri lo macan juga," kata dokter Iman. Lelaki yang sudah dua tahun menikah itu juga tahu, seperti apa konyolnya Anita kalau sudah berkaitan dengan Satrio. Padahal, gadis itu adalah anggota kesatuan yang luar biasa.
"Dia memang tidak biasa," kata Andrian.
Satrio tidak berkata apa-apa. Ia juga baru tahu kalau Qia ternyata bukan gadis lemah yang rapuh yang selalu butuh perlindungan. Ia cukup baik dalam bertahan, kecuali kekuatan fisiknya yang memang terbatas.
"Lumayan, paling tidak, ada yang bisa menghalau Anita dari gue. Makanya, cepat lo nikahi dia, Kak, biar gak banyak berulah," kata Satrio pada Adrian.
Si Bos mau menjawab perkataan Satrio yang diucapkan dengan nada mengejek itu, tetapi mulutnya tertahan karena mendengar teriakan Anita di luar.
"Lepaskan! Jangan pernah berani menyentuh tangan saya!" bentak Anita sambil menghentakkan tangan Qia.
Qia tidak menggubris.
"Terima kasih sudah berkunjung Mbak Anita. Oh ya, tidak perlu repot-repot ke sini, karena besok kami sudah pulang," jawab Qia.
Anita mencak-mencak, tapi Qia tidak peduli. Dengan tenang, ia masuk kembang ke ruangan suaminya dan menutup pintu pelan.
Di dalam, tiga orang pria menatapnya dengan speechless.
"Ada apa? Apa ada yang salah?" tanya Qia, masih dengan mode polos.
"Tidak ada apa-apa. Sini ..." Satrio menggamit tangan Qia.
Qia menghela napas. Tentu saja ia tidak percaya mengingat tiga lelaki itu menatapnya dengan tidak biasa.
"Kenapa kalian menatap Qia seperti itu? Apa saya melakukan kesalahan?"tanya Qia lagi. Jujur, ia merasa tidak nyaman.
"Tidak apa-apa, Adek ipar. Kami hanya terkejut saja, ternyata kamu tidak takut sama Anita. Jujur, tadinya kami khawatir kalau-kalau kamu akan merasa tertindas. Kami kira kamu hanya bisa menangis," timpal dokter Iman.
"Kenapa harus takut? Suamiku mau diambil orang, aku tidak mungkin diam, kan?" ujar Qia santai.
Satrio, "???"
Adrian, "????"
Dokter Iman, "???"