Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
61. Kalau Itu, Sih, Biar Tambah Sayang!



"Kakak pakai dulu, Qia mau ke dapur sebentar," kata Qia sambil melangkah.


"Loh, gak bantu Kakak lepas dan pakai baju dulu?" goda Satrio sambil terkekeh.


Qia semakin bergegas keluar, dengan wajah memerah. Ia langsung ngeloyor pergi. Sekali lagi mukanya jadi seperti kepiting rebus.


Tadi ia berinisiatif melangkah keluar memang untuk mengindari pemandangan yang sudah pasti akan membuat dirinya canggung. Eh ... malah disuruh untuk membuka dan memakaikan.


"Dia pasti sengaja menggoda," gerutu kesal.


***


Setelah mengecek makanan yang ia siapkan di ruang makan, Qia lalu kembali ke kamar untuk memanggil Satrio.


Namun, sebelum ia membuka pintu, Satrio sudah muncul duluan.


"Kakak sudah siap?" tanya Qia sambil mengamati suaminya dari atas sampai ke bawah. Andai tidak memakai kerudung, pasti sudah ketahuan kalau dia menelan ludah.


Melihat itu, sudut bibir Satrio sedikit terangkat.


"Sudah selesai mengagumi Kakak? Apa suamimu ini bertambah tampan setelah memakai baju yang telah kau pilihkan?" Sekali lagi Satrio menggoda Qia.


Qia buru-buru berpaling kemudian menyeret tangan suaminya menuju ruang makan. Sementara, yang diseret dengan senang hati mengikutinya sambil terkekeh.


***


Qia mengambil dua piring, satu untuk Satrio, satunya lagi untuk dirinya. Melihat itu, Satrio mengeryitkan dahi.


"Kakak tadi kan sudah bilang, kamu tidak harus menunggu Kakak. Kalau lapar, kamu bisa makan duluan," kata Satrio.


"Gak apa-apa, Qia cuma merasa lebih menyenangkan kalau tidak makan sendirian," jawab Qia sambil mengambilkan nasi dan beberapa lauk di piring Satrio.


"Terserah kamu bagaimana nyamannya. Kakak cuma tidak ingin kamu telat makan dan kelaparan, asal kamu tidak sakit aja. Kalau kamu sakit, yang masakin Kakak nanti siapa?" kata Satrio sambil mencicipi potongan nanas yang ada di atas gurame di piringnya.


Sementara itu, Qia mengerucutkan mulut sambil bergumam tidak jelas. Satrio tertawa ringan.


"Memang beda, sih, rasanya, kalau makan sama orang tampan," kata Satrio lagi.


Ia kemudian makan dengan lahap, tanpa mengeluarkan suara lagi.


"Astaghfirullah orang ini. Narsis kok gak ada habisnya," gumam Qia pelan.


Sebagai orang yang terlatih, tentu saja pendengaran Satrio sangat tajam. Lelaki itu hanya menatap Qia sekilas, kemudian mulai makan.


Tadinya Qia mengira Satrio akan mengomentari masakannya setelah mencicipi, ternyata suaminya hanya menyombongkan ketampanannya.


"Kenapa tidak makan?" tanya Satrio tiba-tiba membuat wajah Qia memerah. "Kayaknya, kamu gak rela Kakak memakan gurame ini?"


"Kakak ... Kenapa bilang begitu? Qia hanya ingin memastikan, Kakak suka masakan Qia atau tidak?" Kali ini mulut Qia tambah maju setengah centimeter.


"Oh ya? Kelihatannya tidak seperti itu?" cibir Satrio.


Sementara itu, Qia semakin mengerucutkan bibirnya.


"Jangan cemberut kayak gitu. Kakak jadi terinspirasi pingin makanan penutup yang ...."


Satrio menggantung ucapannya. Qia buru-buru menormalkan kembali bibirnya karena tidak ingin pikiran suaminya traveling ke mana-mana.


Ia agak heran juga, akhir-akhir ini lelaki ini sering sekali menggodanya. Dulu dia sempat membayangkan kalau dirinya bakal menjalani kehidupan yang kaku dan serba tidak nyaman dengan suaminya. Ternyata tidak seperti itu.


Meski saat ini mereka tidak seratus persen menjalani biduk rumah tangga sebagaimana mestinya, tetapi ia sangat bersyukur karena apa yang dia bayangkan itu tidak terjadi di dunia nyata.


"Jangan cuma diliatin aja. Ayo, cepat habiskan makanannya. Mau Kakak bantu mengunyahkan?" tanya Satrio cuek.


"What? Bantu mengunyah bagaimana?"


"Ya, Kakak yang kunyah, kamu tinggal menelan saja," jawab Satrio santai.


Mata Qia membulat. Lagi-lagi wajah putih itu memerah.


"Yang bener aja! Jangan aneh-aneh, ah!"


"Kali aja kamu kesulitan. Kakak kan hanya pingin bantu."


"Gak gitu juga, kali ...." Qia bergidik, betul-betul tidak mau membayangkan.


"Kalau tidak segera dimakan, Kakak bakalan betul-betul mempraktikkan," ancam Satrio sambil melihat ke bibir ceri Qia. Kali ini wajahnya tampak serius, sama sekali tidak ada senyuman.


Melihat itu, jantung Qia langsung berdegup kencang. Buru-buru ia menyendok makanan itu dan langsung memasukkan ke mulutnya.


"Dasar konyol. Selalu saja mengancam," gerutu Qia kesal.


Mendengar itu, Satrio hanya tersenyum sambil memperhatikan istrinya makan.


***


Akhirnya ritual itu selesai. Makan sederhana yang harusnya santai menjadi cukup menegangkan bagi Qia gara-gara lontaran-lontaran konyol suaminya.


Setelah itu, mereka mengobrol ringan di ruang keluarga.


"Tadi ada tamu, Kak," kata Qia membuka perbincangan.


"Tamu? Siapa?"


Satrio bertanya sambil menyeruput kopi hitam yang ada di depannya.


"Seorang wanita, namanya Anita," jawab Qia tenang sambil memutar tubuhnya menghadap ke Satrio. Ia mencoba mengamati wajah suaminya.


Di luar dugaan. Satrio yang biasanya sangat santai saat berhadapan dengan Qia, wajahnya agak berubah, begitu pun dengan matanya. Sebenarnya perubahan itu hanya sekilas, beberapa detik saja. Namun, mata kelinci Qia masih sempat menangkapnya.


"Kakak mengenalnya?" tanya Qia mencoba untuk bersikap tenang. Padahal, jantungnya mulai berdetak kencang.


Nalurinya sebagai wanita yang memilikinya secara sah tiba-tiba membunyikan alarm halus di benaknya.


"Dia bilang apa?" Satrio tidak menjawab pertanyaan Qia, tapi malah balik bertanya.


"Banyaklah .... Masak harus diceritain semu?" seloroh Qia.


"Yap ... betul itu," jawab Satrio sambil mencubit hidung Qia.


"Aduuh, sakit, Kak!" pekik Qia.


Satrio hanya terkekeh, sikapnya sudah kembali normal seperti biasa.


"Bila perlu, sampai sedetail-detailnya." Satrio membuahkan.


"Kenapa harus begitu?" protes Qia sambil cemberut.


"Biar Kakak lebih paham jadi bisa menilai dan mendudukkan persoalan. Dengan begitu, tidak akan ada salah paham di antara kita."


Satrio mengucapkan itu dengan sangat lembut. Qia langsung kembali menatap suaminya. Kali ini langsung ke manik mata elang itu. Jujur gadis duapuluh tiga tahun itu terkesima. Hatinya langsung tergetar.


"Ternyata dia cukup dewasa," pikir Qia.


Qia tahu di dunia ini banyak sekali pernikahan yang berakhir dengan perpisahan. Ada banyak pertengkaran tak kunjung usai yang menghiasi pasangan yang awalnya saling cinta.


Namun, ada juga pasangan yang sebelumnya tidak saling kenal, justru berhasil mengarungi bahtera rumah tangga dengan bahagia. Kuncinya cuma satu, komunikasi dan keterbukaan.


Komunikasi yang buruk bisa menghancurkan, sebaliknya komunikasi yang baik bisa untuk membangun suatu hubungan.


Sampai di sini, Qia masih bergeming. Perasaan bersalah mulai menyelimuti dirinya. Ia bingung, apakah dengan menyimpan rahasia dari Prasetyo justru bisa mengantarkan dirinya pada kehancuran, atau malah sebaliknya.


Tanpa disadari, pria di depannya ini telah mengangkat tangannya dan membelai lembut pipi Qia membuat pemiliknya merona.


"Kau tahu, hal yang paling menyenangkan adalah saat kau memandangi wajah Kakak seperti ini. Kamu tahu kenapa? Karena Kakak merasa sangat tersanjung."


Suara Satrio terdengar serak, sementara tangan besar itu masih membelai wajah Qia. Jarak mereka amat sangat dekat.


"Astaghfirullah, orang ini rasa percaya dirinya sudah level berapa?" teriak Qia. Namun, hanya sampai di tenggorokan saja. Saat ini ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa, hanya wajahnya yang terasa panas.


Qia betul-betul merasa canggung. Ia berpikir, bagaimana caranya membebaskan diri dari situasi semacam itu.


"Tapi gak harus cubit hidung juga, kali!"


Qia pura-pura melengos. Sejenak, ia merasa lega karena berhasil membebaskan diri dari belenggu suaminya tanpa menyinggung perasaan lelaki itu.


Namun, ....


"Kalau itu, sih, biar tambah sayang," jawab Satrio cepat sambil mencubit hidung Qia sekali lagi.


Kontan saja jawaban itu membuat Qia membulatkan mata. Mau tidak mau, ia kembali menatap suaminya.


"Kenapa? Kamu istrinya Kakak. Tidak bolehkah Kakak memupuk rasa sayang?"


Ini lagi. Betul-betul hari ini Qia merasakan banyak kejutan. Secara otomatis kata-kata Satrio itu membuat jantung Qia yang selama ini tidak pernah berhubungan dengan seorang pria tambah berdebar-debar.


Terlebih, kalimat itu diucapkan Satrio sambil merangkul erat Qia dengan penuh sayang.