Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
83. Semua Karena Anita 1



Qia buru-buru mematikan ponsel dan memasukkannya ke saku gamis untuk berjaga-jaga. Siapa tahu, orang-orang jahat itu berhasil mengenalinya kemudian menangkap dan merampas tas miliknya.


Sementara, suara ketukan di pintu masih terdengar. Qia tetap bergeming. Semakin lama, ketukan itu terdengar semakin jelas, seperti tidak sabar. Qia jadi khawatir kalau-kalau orang itu jadi curiga karena ia berlama-lama ada di dalam. Karena itu, istri Satrio itu memutuskan untuk keluar.


Qia membuka pintu kemudian mengangkat gaun yang pura-puranya mau dicoba tadi tinggi-tinggi, seolah takut kalau menyentuh lantai. Padahal, maksudnya adalah untuk menutup wajahnya secara tidak mencolok. Setelah itu, wanita cantik yang mungil itu melangkah dengan wajar tanpa menoleh ke kiri dan kanan.


"Bukan," gumam orang yang mengetuk pintu setengah berbisik, tapi masih terdengar di telinga Qia.


Dari ekor matanya Qia masih bisa menangkap kalau orang itu memberikan kode pada temannya.


Qia mempercepat langkah. Ia tidak berani menoleh ke samping, apalagi ke belakang. Namun, belum ada tiga meter ia melangkah, tiba-tiba dari arah samping ada yang berteriak.


"B*d*h! Dia orangnya ... Cepat kejar." Ternyata orang itu mengenali Qia meski istri Satrio itu berganti baju dan juga memakai masker.


mendengar itu, serta-merta wanita muda bermata kelinci itu lari menuju eskalator. Maksudnya ingin turun ke lantai satu. Namun, karena di dekat eskalator ada pria berjaket kulit hitam yang juga merupakan komplotan orang tadi, maka ia berbelok dan menuju tangga ke lantai tiga. Di sebelah tangga manual, ada eskalator menuju lantai tiga juga dan di situlah kini Qia berada.


Sementara, orang-orang yang mengejar itu semakin dekat. Qia sudah sangat pasrah. Satu-satunya harapan hanyalah suaminya segera datang.


Qia berlari sambil sesekali melihat ke belakang untuk mengetahui sampai sedekat apa orang-orang itu. Saking takutnya Qia hingga ia menabrak orang yang ada di depannya.


"Maaf, Mbak, tadi saya tidak sengaja. Saya dikejar orang jah ...."


Qia tidak menyelesaikan kalimatnya. Wanita cantik itu sangat terkejut melihat siapa orang yang baru saja ia tabrak.


"Mbak Nita?" teriak Qia spontan.


"Kau?" Anita sontak melotot ke arah Qia. Wajah cantik itu terlihat marah begitu melihat saingan cintanya menabraknya hingga barang-barang belanjaannya jatuh semua.


Teriakan Qia dan Anita sama-sama cukup keras membuat orang-orang yang tadi mengejar Qia menoleh ke arah mereka.


"Itu dia. Tunggu apa lagi? Cepat tangkap dia!" teriak salah seorang dari mereka.


Dua orang pria langsung mendekat dan bermaksud menangkap Qia, diikuti beberapa orang yang lain.


Qia semakin ketakutan. Dalam hati ia sudah pasrah. Di belakangnya ada beberapa orang dengan wajah bringas, sementara di depannya ada Anita yang sangat membencinya. Lebih-lebih, setelah istri Satrio itu pernah mengusir secara halus ketika berada di rumah sakit. la hanya bisa berdoa semoga suaminya cepat datang.


Ketika para lelaki bringas itu sudah dekat dan bermaksud menyerang, tahu-tahu Anita menarik tangan Qia dengan keras dan menempatkan istri sah Satrio itu di belakangnya. Secara bersamaan, kaki jenjang Anita mengirimkan beberapa tendangan ke arah orang-orang bringas itu membuat mereka tumbang.


Qia terpana, hampir tidak menyangka dengan apa yang terjadi.


"Sialan. Jangan ikut campur, serahkan wanita itu!" teriak salah seorang.


"Kenapa aku harus menyerahkan pada kalian?" tanya Anita enteng.


"Dia ini orang kami. Ia baru saja melarikan diri dari kami, tentu saja kami harus menangkapnya kembali," jawab orang itu.


"Oh, ya? Coba saja kalau bisa!" kata Anita. Lagi-lagi dengan enteng, terkesan sangat meremehkan.


"Jangan banyak bicara, buktikan saja kalau kamu memang bisa mengambilnya dariku," kata Anita sambil tersenyum meremehkan.


Tentu saja kata-kata itu membuat orang-orang itu semakin marah dan bermaksud menyerang Anita secara bersamaan.


Namun, sebelum itu terjadi, tiba-tiba suara tepuk tangan terdengar tak jauh dari tempat mereka.


"Ha ha ha, Anita ... Anita. Sudahlah, seorang gadis cantik yang sangat malang, tidak ada gunanya kamu bermain-main di sini. Apa kamu ingin menunjukkan pada si BangSat itu kalau kamu orang baik yang berjasa melindungi istrinya? Itu percuma, kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan dia.


Justru sekarang adalah kesempatan bagimu. Serahkan wanita itu, maka kau bisa memiliki si brengsek itu sepenuhnya," kata orang itu.


Qia membelalakkan mata. Ia kenal lelaki yang berbicara itu karena dulu pernah bertemu dengannya. Ia ingat betul hanya dengan melihat matanya yang mirip dengan mata suaminya saat menatap dirinya. Lebih terkejut lagi karena ternyata lelaki itu mengenal Anita.


Sementara itu, Anita yang mengetahui siapa orang yang baru saja bicara itu hanya menanggapi dengan santai.


"Oh, lo?" sapa Anita santai. Bibir tipisnya terlihat mencibir.


"Tentu saja ini aku. Kalau kamu sudah tahu, kenapa masih berpura-pura? Sudahlah, kamu sudah dicampakkan sama si brengsek itu, kenapa masih membela dia? Lagipula, wanita ini telah merebut si brengsek itu darimu. Kembalilah padaku, aku tidak akan pernah mengecewakanmu," kata lelaki itu.


"Ha ha ha, Jack ... Jack, ternyata lo masih punya nyali untuk menampakkan batang hidung lo. Lo tidak ingat dengan pertemuan terakhir kita waktu itu?" cibir Anita lagi.


"Ha ha ha. Tentu saja aku sangat ingat. Justru karena itu aku merasa kasihan padamu. Oh ya, tawaranku padamu waktu itu masih berlaku. Aku masih mau menerimamu kalau orang brengsek itu mencampakkanmu. Apalagi sekarang ada wanita ini.


Sudah kubilang, sekarang adalah kesempatanmu untuk membalas sakit hatimu. Kamu serahkan wanita itu padaku, dan kamu masih kuberi kesempatan untuk menjadi kekasihku, kita akan bahagia," kata Satrio.


"Ha ha ha. Jangan mimpi, Jack, lihatlah diri lo, apa lo pikir diri lo punya kualifikasi untuk itu?" ejek Anita.


"Lo hanyalah lelaki tidak berguna yang ditendang sana-sini karena tidak bisa apa-apa. Lo pikir bisa mengalahkan Satrio. Sampai kapan pun dia yang terbaik. Lo gak akan pernah bisa mengalahkan dia," ejek Anita sekali lagi.


Ternyata kata-kata itu cukup ampuh membuat hati Jack panas.


"Jangan banyak bicara, serahkan saja wanita itu padaku. Kamu sudah dikepung." Jack terlihat sangat marah.


"Kalau aku tidak mau, lo mau apa?'" jawab Anita enteng.


"Oke, jangan salahkan aku kalau begitu," kata Jack jengkel.


"Tunggu apa lagi, cepat ambil wanita itu darinya. Tapi ingat, jangan biarkan kekasihku terluka!" teriak Jack marah.


Mendengar itu, beberapa lelaki bringas itu langsung menyerang. Sementara, Anita langsung menyambut serangan itu.


Tiba-tiba, seorang pria mendekati Qia dan bermaksud menarik tangan istri Satrio itu. Melihat itu, Anita yang masih menghadapi serangan orang lain, mencoba menolong Qia dengan cara mendorongnya keras-keras sampai hampir terjungkal.


Sementara itu, setelah menerima telpon dari Qia, Satrio menyuruh Arka untuk melacak keberadaan Qia melalui nomor ponsel itu untuk mencari di mana posisi wanita itu sekarang. Setelah itu, tanpa membuang waktu, ia segera masuk ke tempat sesuai dengan arahan Arka.


Saat Qia terjungkal itulah, Satrio datang ke tempat itu dan melihat dengan mata kepala sendiri kalau Anita telah mendorong istrinya sampai hampir terjatuh.