Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
90. Jalan yang Kupilih 2



Hello Readers, Alhamdulillah, akhirnya hari ini berhasil update dua kali buat memenuhi permitaanmu.


jangan lupa like dan komen, ya, biar Author lebih bersemangat ❤️😘


***


90. Jalan yang Kupilih 2


"Ada apa?" tanya Adrian penasaran melihat perubahan di wajah Satrio.


"Tadinya aku mengira kalau nomor ponsel itu terdaftar atas nama Taqiya Eldiina. Nyatanya tidak begitu. Nomor ini memang terdaftar atas nama orang lain. Hanya saja, rasanya sangat janggal kalau Qia meminjam ponsel itu pada orang lain yang tidak dikenal, dua kali berturut-turut di tempat dan waktu yang berbeda," jawab Satrio.


"Bagaimana dengan CCTV-nya?" tanya Adrian lagi.


"Awalnya sudah dihapus oleh anak buah Jack, tapi Arka berhasil memulihkan. Memang ada adegan anak kecil menabrak Qia, persis yang ia ceritakan semalam. Namun, tidak terdeteksi apakah ada adegan pinjam ponsel atau tidak. Yang jelas, dalam CCTV Itu, ada kondisi dimana mereka saling mendekat," jelas Satrio.


"Yang di luar?" tanya Adrian lagi.


"Bagaimana, Ka?" tanya Satrio pada Arka karena di dalam berkas tidak ada penjelasan hal itu.


"Tidak terbaca, Bos. Saya rasa, saat itu Bu Qia berada di tempat yang tidak terjangkau kamera CCTV," jelas Arka.


"Kurasa, istrimu memang di luar dugaan," kata dokter Iman pada Satrio.


Kembali, mereka menemukan kalan buntu. Akhirnya mereka beralih ke kasus Kemilau Senja. Sebenarnya kesatuan mereka tidak menangkap adanya gelagat yang berbahaya atau mencurigakan. Hanya saja, ada pihak-pihak yang merasa gerah dengan ulah Kemilau Senja dan kawan-kawan. Kali ini kesatuan mereka betul-betul mendapat tekanan untuk mengambil tindakan.


"Bos, apa sudah baca postingan kemilau Senja yang terbaru?" celetuk Hendra tiba-tiba.


"Kenapa? Apa kamu sudah menjadi penggemarnya juga sekarang?" tanya Satrio sedikit mencibir.


"Yaa ... Gimana ya, Bos? Saya ini jomlo sejati. Tulisan dia banyak mewakili suara hati saya. "


"Kau ini prajurit. Kenapa melo sekali?" hardik Satrio jengkel.


"Ini kan bagian dari tugas, Bos. Saat mengikuti semua tulisan Kemilau Senja, jujur saya seolah digiring untuk membenarkan semua pendapatnya. Kadang dia itu konyol sekali, kadang galak dan tegas, kadang lembut dan penuh perhatian.


Yang jelas, semua jatuhnya di hati, hingga jiwa jomloku ini meronta-ronta. Rasa-rasanya diri ini sudah jatuh hati," ujar Hendra tak tahu malu. Matanya sedikit menerawang, membayangkan sesuatu.


Adrian mengambil koran di depannya, kemudian ia gulung. Tak menunggu lama gulungan itu sudah mendarat dengan manis di kepala Hendra.


"Plak! Kerja yang bener, jangan ngayal melulu," hardik Adrian.


"Siap!" seru Hendra dengan sikap sempurna.


"Itu dulu, Bos, kalau sekarang, mana berani?" sambung Hendra lagi.


Adrian yang dingin dan datar itu jarang marah. Namun, kalau sudah marah benar-benar menakutkan.


Berbeda dengan Adrian, Satrio menanggapi pertanyaan Hendra itu dari sudut pandang yang berbeda. Wajahnya jelas terlihat agak murung. Entah mengapa dia merasa ada korelasi yang sangat signifikan antara Taqiya Eldiina dengan Kemilau Senja. Namun, ia belum tahu apa hubungan antara keduanya. Karena dari akun mereka, untuk sementara mereka terdeteksi bukan orang yang sama.


"Kenapa?" tanya dokter Iman begitu menangkap perubahan di wajah Satrio.


Ditanya seperti itu, Satrio menghela napas, kemudian menatap kakaknya itu.


"Bukan apa-apa. Hanya saja, Qia juga berpendapat sama dengan Hendra soal Kemilau Senja," jawab Satrio tawar.


"Kak, kenapa aku merasa kalau Kemilau Senja dan kakak ipar adalah orang yang sama?" tanya Hendra hati-hati. Ia takut kalau orang di sampingnya ini tiba-tiba meledak, bisa-bisa sepasang sepatu berlars panjang itu melayang ke kepalanya. Itu sebabnya, ia mengganti sapaan formalnya dengan sebutan yang sangat intim, Kakak.


Bukannya terkejut, Satrio malah menatap Hendra dengan tatapan penuh makna.


"Sejak ditugaskan mengawasi Kemilau Senja, saya selalu mengikuti medsosnya. Saya merasa, gaya dia berkomunikasi sama persis dengan Kakak Ipar. Kadang dia tampak galak dan tegas. Itu terlihat dari tulisan opininya di berbagai media. Namun, puisi-puisi dan artikel ringan di medsosnya kadang mencerminkan kehidupan kalian," kata Hendra. Ia masih berusaha untuk hati-hati dalam berpendapat.


"Kalau itu memang Qia, kenapa disembunyikan dari suaminya?" tanya Adrian. Pernyataan itu membuat wajah Satrio berubah kelam. Jelas ia tidak terima kalau istri kecilnya ini telah meragukannya.


"Berarti dia belum sepenuhnya percaya sama lo, Dek." Kali ini dokter Iman yang bersuara membuat wajah tampan di depannya semakin kelam.


"Maaf Bos, kalau saya salah. Ini hanya analisa saya. Saya rasa, Kakak ipar melakukan ini bukan karena tidak yakin kalau Bos Satrio akan melindunginya. Namun, Kakak ipar melakukan semua ini karena ingin melindungi teman-temannya," ujar Hendra.


Tiga orang di ruang itu langsung menatapnya tajam, membuat Hendra bergidik. Sementara, Arka hanya mendengar tanpa berani mengucap satu kata pun.


"Bagaimana kamu bisa seyakin itu?" tanya Satrio pada Hendra.


"Coba dengar puisi ini, Kak."


Hendra kemudian membacakan salah satu puisi Kemilau Senja.


...Jika aku adalah matahari, maka mereka adalah bintang. Saat badai datang menerpa, bisa saja aku berlindung di balik pekatnya malam. Namun, bagaimana dengan bintang-bintang? Tak mungkin kubiarkan mereka menjadi sasaran, bukan? Karena hakekatnya, matahari adalah bintang....


"Artinya apa, Hen?" tanya dokter Iman. Dia adalah orang eksak. Di antara mereka, hanya dokter Iman yang paling tidak mengerti romantis-romantisan. Namun, justru dia yang menikah duluan.


Tentu saja ini tidak ada hubungannya. Nikah adalah tuntutan naluriah. Semua orang memiliki kecenderungan itu secara fitrah, tidak peduli orangnya romantis ataupun tipe tembok baja.


"Kalau dari tangkapan saya, artinya Kakak ipar bisa saja berlindung di belakang Bos Satrio. Kakak ipar percaya dan yakin akan dijaga, apalagi Bos Satrio lagi bucin-bucinnya." Sampai di sini Hendra berhenti sejenak untuk mengetahui respon Satrio. Benar dugaannya, wajah sang Bos sudah merah karena marah


"Hanya saja, ia masih memikirkan teman-teman. Ia masih bertanya-tanya, apakah Bos Satrio juga akan melindungi mereka. Dan ...."


"Apa?" tanya Satrio cepat.


"Maaf, sepertinya Kakak ipar tahu kalau kalian sedang mengawasinya," ujar Hendra ragu.


"Apa maksudmu?" Kali ini Adrian yang bertanya. Sedangkan yang lain spontan mengerutkan dahi.


"Coba dengar yang ini. Kalau ini baru ia posting tadi pagi.


...Sungguh...


...Jalan ini tidak mudah...


...Setapak kaki melangkah...


...Seribu aral datang menyapa...


...Duhai .......


...Sanggupkah aku bertahan...


...Jika tombakmu siap menghunus di depan...


...Tuhan ......


...Aku ingin terus berjuang...


...hingga...


...Isy kariman au mut syahidan...


...............


...Kemilau Senja...


Kakak ipar tahu, kau sedang mengawasinya, Bos. Bahkan, saya yakin seratus persen kalau interogasi semalam tidak sesuai dengan yang kita harapkan," ujar Hendra jujur.


"Plak!" Satu lagi gulungan koran mendarat di kepalanya. Untungnya tidak keras.


"Kamu meragukan kemampuan interogasiku?" hardik Satrio jengkel. Namun, diam-diam ia membenarkan perkataan Hendra.


"Bukan meragukan, Bos. Sampai detik ini, Bos Satrio tetap yang terbaik. Itu tidak terbantahkan. Namun, Kakak ipar ini sungguh tak terduga," bela Hendra sambil sedikit menjauh, barangkali saja ada gulungan koran yang kembali menyasar.


Satrio terdiam. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Rupanya istrimu ini memang tidak biasa. Mungkin itu sebabnya Pras menitipkan sesuatu padanya," gumam Adrian.


"Lagian ya, Kak, kenapa Kemilau Senja bisa menulis kisah yang hampir mirip dengan kisah kalian? Kecuali kalau mereka adalah teman, atau mereka adalah orang yang sama," celetuk Hendra lagi.


"Kisah apa maksudmu?" tanya Satrio penasaran. Ia sangat tidak yakin tentang hal itu. Pasalnya, istri mungilnya itu adalah orang yang sangat menjaga marwah, tidak mungkin ia mengumbar kehidupan mereka di ranah publik.


"Itu, novel maraton Kemilau Senja, Kak. Tidak sama persis, sih, tapi garis besarnya mirip. Hanya saja, untuk yang ini saya tidak berani memastikan. Takutnya pendapat ini bersifat subyektif karena saya sangat berharap kalau mereka adalah orang yang sama. Kalau itu betul-betul iya, saya jadi tahu bagaimana pendapat Kakak Ipar tentang Bos," jawab Hendra sambil tersenyum nakal membuat wajah Satrio gelap


"Ka, coba retas sekali lagi akun Kemilau Senja, apa no ponsel yang terhubung sama dengan yang dipakai oleh Qia untuk menelpon kemarin?" perintah Satrio pada Arka.