Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
112. Tanpa Judul



Sebenarnya Bu Mirna ingin sekali bertemu dengan Qia karena ingin mengetahui keadaannya. Namun, Satrio meyakinkan mereka semua untuk menemui Qia besok pagi saja sekalian memberi kejutan untuk istrinya. Meski sempat ngotot, akhirnya mereka setuju setelah berulang kali Satrio meyakinkan bahwa Qia baik-baik saja.


Lagipula, mereka sendiri juga perlu istirahat setelah berjam-jam berputar-putar keliling kota.


Para orang tua akhirnya masuk ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri dan beristirahat. Setelah mengantar mereka, Satrio lalu beranjak menuju ruang pertemuan. Di sana sudah menunggu beberapa orang yang tadi bertugas menjemput rombongan Pak Zul dan Abi Kun.


"Kenapa lama sekali?" tanya Satrio menginterogasi mereka.


"Lapor, Bos. Kami diikuti dan diserang. Kami sudah berusaha mengecoh mereka, tetapi tetap terlacak juga. Ternyata mereka berhasil meretas ponsel kami, Bos. Itu sebabnya, kami putuskan untuk menonaktifkan semua ponsel, termasuk milik Bapak dan Ibu. Kami juga tidak berani menghubungi Bos atau yang lainnya, karena takut terlacak," jelas lelaki yang tadi duduk di sebelah sopir yang ternyata bernama Bobby.


"Tapi ini lebih dari tujuh jam, loh," kata Satrio lagi.


"Iya, Bos. Kami sengaja memutar biar lebih aman. Mata mereka ada di mana-mana. Kami khawatir ada yang mengikuti diam-diam atau melacak mobil yang kami pakai," jelas Bobby lagi.


"Tadi kami juga sempat beristirahat sebentar di markas singgah," si sopir menambahkan.


Sementara, kubu pengawal Abi Kun juga memberikan keterangan yang hampir sama. Sepertinya ada kesepakatan di antara mereka, bahwa dalam kondisi terdesak mereka tidak bisa langsung menuju markas agar lokasinya tidak terdeteksi. Mereka harus memilih rute lain, bahkan bila perlu mengambil arah yang berlawanan agar bisa mengecoh lawan. Bedanya, kubu ini tidak mampir ke markas singgah karena rute mereka memang berbeda. Hanya kebetulan saja mereka tiba di tempat dalam waktu yang sama. Karena itu, Satrio memaklumi keterlambatan mereka.   


"Baiklah, kalian telah melaksanakan tugas dengan baik. Terima kasih telah mengantar mereka dengan selamat," kata Satrio.


Ini yang disukai oleh anak buahnya. Lelaki datar dan cuek yang terkadang bicaranya sangat kasar dan menakutkan itu tidak pernah meremehkan mereka. Selama ini si Bos selalu menghargai kerja keras mereka, apa pun hasilnya, meski mereka awalnya bukan siapa-siapa. Mereka adalah orang-orang pinggiran dan anak-anak jalanan yang selama ini dipandang sebelah mata. Namun, Satrio berhasil mengentaskan mereka sehingga menjadi orang yang berguna.


"Sebaiknya kalian beristirahat, besok masih banyak hal yang harus kita kerjakan," perintah Satrio tegas.


"Siap, Bos. Terima kasih."


Mereka semua bubar, kecuali Satrio. Ia mondar-mandir di ruang rapat sebentar, kemudian berjalan menuju kamarnya untuk melihat keadaan Qia.


Wanita cantik itu memang ingin tidur lebih awal karena tidak ada yang harus ia kerjakan. Selain itu, entah mengapa tubuhnya cepat sekali merasa lelah akhir-akhir ini.


Satrio sengaja tidak memberi tahu kedatangan orang tua mereka karena mengira kelinci kecil itu sudah tidur. Jujur, ia sangat khawatir ketika istrinya itu bilang kalau ia kurang enak badan.


"Loh, kok belum tidur?" tanya Satrio begitu mendapati istrinya hanya duduk terpekur di depan meja rias.


Qia menoleh.


"Qia merasa lelah, tetapi tidak bisa tidur, Kak. Qia masih kepikiran sama Ayah dan Ibu, juga Abi dan Ummi," jawab Qia.


Andai ia tahu kalau orang-orang yang membuatnya galau itu sudah tiba dengan selamat di rumah itu, mungkin ia tidak akan segalau itu. Ia betul-betul tidak menduga dengan rencana sang suami yang akan mendatangkan mereka.


Satrio yang tadinya ingin memberi kejutan esok hari untuk istrinya jadi tidak tega. Lelaki itu mendekat kemudian memeluk istrinya dari belakang.


"Jangan cemas, Kakak sudah mendapat informasi tentang mereka," bisik Satrio lembut.


Mendengar itu, serta-merta wanita cantik itu mendongak, menatap suaminya, seolah ingin mendapatkan kepastian dan kejujuran di sana.


"Benarkah? Bagaimana kabar mereka, Kak? Mereka baik-baik saja, kan? Sekarang mereka di mana? Apa ada yang menjaga mereka sekarang?" cecar Qia.


"Kakak harus jawab yang mana dulu, hem?" goda Satrio sambil mencubit hidung Qia.


"Kaaak, Qia serius, nih."


"Sayang, Kakak juga serius. Lihat, Kamu baru saja memberondong Kakak dengan begitu banyak pertanyaan. Kalau itu peluru, sudah berapa kali Kakak harus menghindar? Kalau tidak sempat menghindar bagaimana? Duar!!! Kena, deh!" elak Satrio lagi.


"Ha ha ha, makin pinter, nih, godain Kakak."


Kalimat itu membuat Qia memonyongkan bibirnya satu centi, membuat Satrio bertambah gemas. Andai tidak malu sama pembaca, ia pasti sudah memberikan hukuman dari tadi.


"Jangan cemas. Kan tadi Kakak sudah bilang, mereka baik-baik saja," jawab Satrio.


"Tapi sekarang mereka ada di mana, Kak?" tanya Qia tak percaya.


"Ayah dan Ibu ada di kamar tamu utama, bersebelahan dengan kamar Umi dan Abi," jawab Satrio akhirnya.


Markas itu memang sangat besar. Ada banyak kamar di sana, juga beberapa kamar tamu utama. Keempat orang tua mereka ditempatkan di situ karena memang paling nyaman, di samping kamar utama yang sekarang ditempati Satrio dan Qia.


Awalnya Qia belum begitu mencerna kalimat Satrio karena memang tidak menyangka. Beberapa saat, ia baru tersadar kalau yang dimaksud dengan kamar tamu adalah di rumah yang sekarang mereka tempati ini.


"Tunggu tunggu tunggu, apa maksudnya mereka sekarang ada di rumah ini?" tanya Qia sambil berdiri, kemudian menghadap ke suaminya dengan mata penuh dengan bintang kejora.


"Yap!" jawab Satrio sambil mencubit hidung Qia sekali lagi.


Qia tidak berkata apa-apa. Ia juga tidak menghiraukan hidungnya yang sedikit sakit karena dipencet suaminya dengan gemas.


Wanita cantik itu cepat-cepat melangkah. Ia mengambil kerudungnya kemudian bergerak lincah menuju pintu. Namun, sebelum tangan lentik itu memegang gagang pintu, tangan kirinya sudah dipegang erat oleh suaminya.


"Mau ke mana?" tanya Satrio.


"Mau ke mereka," jawab Qia dengan wajah polos tanpa dosa.


"Mereka baru saja tiba, Sayang. Enam jam lebih mereka berputar-putar menghindari penyergapan, kamu gak kasian sama mereka? Mereka pasti capek banget. Biarkan mereka istirahat dulu," kata Satrio lembut, tapi tegas.


Qia menghentikan langkah. Tadi ia tidak berpikir ke arah sana. Ia sangat mengkhawatirkan mereka. Itu sebabnya, yang ada di benaknya hanyalah ingin bertemu dengan mereka dan memastikan kalau keadaan mereka baik-baik saja.


Dengan lesu, Qia kembali duduk. Kali ini di pinggir kasur. Satrio mengikuti, kemudian duduk di sebelahnya.


"Kamu juga istirahat, hem. Tadi katanya kurang enak badan?" bisik Satrio lembut sambil mengusap kepala Qia.


Akhirnya Qia mengangguk pasrah.


"Kakak tidak istirahat juga?" tanya Qia.


Maksudnya sebenarnya baik. Ia ingin suaminya istirahat karena beberapa hari ini lelaki itu banyak kerjaan. Belum lagi serangan demi serangan yang mereka terima secara beruntun.


Namun, rupanya pertanyaan Qia itu ditanggapi Satrio dengan berbeda.


"Kamu mengundang Kakak untuk berikhtiar sekarang?" tanya Satrio dengan tatapan nakal.


"Dasar otak mesum," seru Qia sambil memukul ringan lengan suaminya.


Sementara itu, Satrio hanya terkekeh. Ia tahu, andai saat itu dirinya meminta pun, Qia pasti tidak akan menolak. Hanya saja, ia sadar, bukan sekarang waktunya. Masih ada kerjaan yang harus ia lakukan.


Akhirnya, setelah memastikan kondisi Qia baik-baik saja, Satrio lalu keluar lagi dan berjalan menuju ruang kerjanya.


Hari ini ada tamu istimewa yang akan datang. Satrio sudah berpesan pada penjaga gerbang agar mengantar orang itu langsung ke ruang kerjanya jika sudah datang.