Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
89. Jalan yang Kupilih 1



Hallo Readers, maafkan Author yang terlambat lagi. Karena memang jadwal Author padet banget. Semoga tidak mengecewakan.


Oh ya, Author selalu menyampaikan agar tidak ada salah paham, bahwasanya tulisan ini tidak bermaksud menyinggung siapa pun. Kalau secara tidak sengaja ada yang tersinggung, mohon dimaafkan, ya 😘😘😘


Selamat membaca, jangan lupa like dan komen ya, biar Author tetap semangat ❀️❀️❀️😘😘😘.


***



Jalan yang Kupilih 1



...Sungguh...


...Jalan ini tidak mudah...


...Setapak kaki melangkah...


...Seribu aral datang menyapa...


...Duhai .......


...Sanggupkah aku bertahan...


...Jika tombakmu siap menghunus di depan...


...Tuhan ......


...Aku ingin terus berjuang...


...hingga...


...Isy kariman au mut syahidan...


...............


...Kemilau Senja...


***


Pagi-pagi Satrio sudah berangkat kerja. Ada rapat tertutup yang hanya dihadiri oleh dirinya, Adrian, dokter Iman, Hendra, dan Arka. Selain membahas tentang pengamanan saat Qia ujian skripsi besok, mereka juga akan menganalisa rekaman hasil wawancara atau lebih tepatnya interogasi lunak pada Qia kemarin.


"Mungkin nanti Kakak pulang agak malam. Kakak juga tidak bisa makan siang di rumah, kamu tidak apa-apa, kan?" kata Satrio saat berpamitan.


Qia mengangguk. Meski masih agak takut sendirian di rumah, namun ia tidak bisa menghalangi suaminya untuk menjalankan kewajibannya di luar rumah.


Melihat tatapan yang masih tidak biasa itu, Satrio jadi merasa berat meninggalkan sang istri sendirian. Kemarin ia juga merasa seperti ini saat meninggalkan Qia di butik bersama dengan Aretha, dan siangnya betul-betul kejadian, ada yang berusaha mencelakainya.


"Kenapa, hem?" tanya Satrio lembut sambil mengusap wajah Qia.


Qia menggeleng.


"Qi ...."


"Malam sekalikah?" tanya Qia lirih. Mata kelinci itu berkedip-kedip menatapnya.


Satrio menghela napas panjang. Kalau sudah begini, mana tahan. Bahkan, orang sekaliber putranya Umar bin Khattab saja juga bisa lalai dari tugas dan kewajiban karena tidak tahan meninggalkan istrinya di rumah, apalagi dirinya yang baru saja memiliki Qia seutuhnya. Perasaan cinta dan sayang itu sedang berada di puncak-puncaknya.


"Kau ingin Kakak tinggal di rumah?" tanya Satrio lagi. Suaranya terdengar serak. Sepertinya kali ini ia terbawa suasana.


Sekali lagi Qia menggeleng. Meski hatinya terasa berat, ia tidak ingin menjadi penghalang bagi suaminya untuk melakukan kewajiban.


Ia berkaca pada dirinya sendiri. Andai berada pada posisi seperti itu, mungkin ia juga tidak mau. Artinya, ia juga merasa tidak suka jika dihalangi saat melakukan suatu kewajiban.


"Pergilah, Kak. Insyaallah Qia akan baik-baik saja. Toh, di luar sudah banyak penjaga," kata Qia akhirnya.


"Kakak usahakan bisa cepat selesai. Kalau ada apa-apa, cepat hubungi Kakak."


Qia mengangguk. Ia lalu meraih tangan sang suami, kemudian mencium punggung tangan itu.


***


Di Markas.


"Bagaimana perkembangan penyelidikannya? Apa sudah ada titik terang, siapa dalang di balik penembakan kami kemarin?" tanya Satrio di ruang khusus. Mereka hanya berlima, jadi bahasa mereka tidak terlalu formal.


"Belum, Bos. Mereka belum mau mengaku. Bahkan, salah satu dari mereka berani menggigit dan menelan racun yang memang disediakan khusus untuk mereka. Namun, saya bisa memastikan kalau yang itu tidak ada hubungannya dengan Jack." Kali ini Hendra yang berbicara.


"Apa menurutmu ini ada hubungannya dengan anak Wijaya Kusuma itu? Kabarnya ia sangat terobsesi sama Qia," tanya Adrian. Kali ini pertanyaan ditujukan pada Satrio.


"Kurasa tidak, Kak. Dia itu tidak seperti bapaknya. Dia terlalu pengecut untuk melakukan semua itu. Andai ia memiliki keberanian sedikit saja, tentu tidak akan memendam perasaannya terlalu lama," jawab Satrio sambil mendengkus kesal.


Adrian dan tiga orang yang lain agak terperangah. Bukan karena pandangan Satrio tentang Andre, tapi karena nada dan pilihan kata yang diucapkan. Meski tidak halus-halus amat, tetapi sejak menikah dengan Qia tutur kata Satrio memang tidak lagi kasar, terutama penggunaan panggilan lo dan gue pada dua kakak angkatnya itu. Itu sudah jarang sekali terdengar.


"Dia pasti punya alasan, kenapa sampai begitu lama belum mau mengungkapkan. Padahal, ia punya banyak kesempatan," gumam Adrian pelan, tetapi masih bisa didengar oleh yang lain.


"Apa ini sebuah pembelaan?Kuharap ini bukan curhatan," ledek Satrio sambil mencebik.


Pasalnya, sampai saat ini, Adrian masih saja belum mengungkapkan perasaannya pada Anita. Ini sama persis dengan Andre. Sekarang, setelah gadis itu ada yang punya, ia jadi kelabakan.


Diledek sedemikian rupa, bukannya marah atau tersinggung, Adrian malah tenang-tenang saja. Dia masih tetap dingin dengan raut muka datar-datar saja.


Jujur, ia memang sangat mencintai Anita, tetapi ia juga punya alasan tersendiri kenapa sampai saat ini belum juga ia utarakan.


"Jangan kelamaan, Kak. Jangan sampai si Hendra menyerobot duluan," ledek Satrio lagi.


Namun, seperti sebelumnya, Adrian masih tetap bergeming. Justru Hendra kini yang merasa tidak kepanasan. Jujur, memang ia juga menyukai Anita. Namun, ia belum gila alias masih waras sampai harus bersaing dengan orang pertama di kesatuannya.


"Bos, jangan membuat saya dipecat, dong," ujar Hendra memelas.


Ucapan itu ditujukan pada Satrio. Ia tidak habis pikir, bagaimana mungkin si Bos kedua mengatakan hal sevulgar itu dihadapan Bos Besar yang nyata-nyata juga menyukai orang yang sama? Untung saingan cintanya itu adalah Bos Besar.


Andai itu Bos Satrio? Entah apa jadinya dirinya. Orang sekadar memuji kakak iparnya saja sudah mendapat peringatan keras seperti itu, apalagi harus bersaing cinta dengannya. Mana sekarang si Bos sedang bucin-bucinnya.


"Memangnya kenapa? Kalian bersaing secara sehat. Kalah atau menang, bagiku sama saja. Satunya kakakku, satunya adikku. Aku tidak akan membela siapa-siapa," kata Satrio akhirnya membuat dua orang itu jengkel bukan main karena kalimat seperti itu diucapkan oleh Satrio seolah-olah tanpa perasaan.


"Dasar Adek durhaka!"


"Dasar Kakak durhaka!"


Kedua kalimat itu diucapkan oleh Adrian dan Hendra secara bersamaan. Namun, Satrio menanggapinya enteng saja.


Sementara, Arka yang orang luar hanya terbengong-bengong menyaksikan ulah mereka. Biasanya ia berhubungan dengan tiga orang itu secara resmi, dalam forum yang resmi pula.


"Sudah ... sudah. Kalian ini kalau bertemu selalu begitu. Bisakah kita serius sedikit? Kasus ini cukup berat, loh." Kali ini yang bersuara adalah dokter Iman.


"Oke, kembali ke persoalan utama. Kasus pertama masih terus dalam penyelidikan, begitu juga denganΒ  penculikan pada Qia kemarin siang," kata Adrian.


"Si Jack belum mau mengaku, Bos. Dia cuma mengatakan kalau kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bosnya sekarang. Mungkin maksudnya ada orang besar yang tidak bisa kita singgung.


Satu lagi, Bos. Ternyata Jack dan anak buahnya bukanlah pemain tunggal. Informan mendeteksi adanya pergerakan tak kasat mata yang mendompleng aksi si Jack kemarin. Saya bisa memastikan kalau mereka berasal dari kubu yang berbeda," jelas Hendra.


"Masalahnya menjadi semakin rumit. Dari awal kita sudah menduga bahwa kasus Pras ini melibatkan banyak orang. Artinya, ada banyak orang yang terganggu dengan keberadaan Qia," kata dokter Iman.


"Baiklah, kalau begitu, perketat lagi penjagaan saat ujian skripsi besok. Aku yakin, mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Lakukan dengan rapi agar tidak membuat dosen dan para mahasiswa panik," titah Adrian.


Kemudian mereka membagi tugas masing-masing. Satrio sendiri yang akan memimpin misi tersebut dibantu Hendra.


"Oh ya, bagaimana dengan berkas-berkas yang kuminta kemarin?" tanya Satrio pada Arka.


Tanpa menunggu lama, Arka segera memberikan berkas-berkas berisi data-data tentang pemilik ponsel yang kemarin dipakai oleh Qia untuk menelponnya.


"Apa ini sudah lengkap semuanya?" tanya Satrio lagi.


Arka mengangguk.


"Lengkap, Bos."


Satrio yang sangat penasaran langsung membaca berkas-berkas itu dan seketika membelalakkan matanya.