
Tidak seperti yang dibayangkan oleh Wijaya, meski sudah diblow-up dengan berita lain, tetapi berita tentang dirinya tidak pernah padam, bahkan semakin bergulir bagai bola liar.
Tentu saja tim IT milik Satrio yang paling andal. Begitu ada blow-up opini baru, tim Satrio selalu memunculkan fakta lain tentang kejahatan Wijaya Kusuma yang berhasil mereka kumpulkan.
Selain itu, bagai luka yang tersiram cuka, ternyata ada anonim lain yang memunculkan skandal antara Wijaya Kusuma dan Wandira, juga dengan beberapa perempuan lainnya.
Bisa ditebak, itu adalah pekerjaan Areta. Ini menambah daftar panjang keburukan Wijaya Kusuma.
Sudah tidak bisa mengelak lagi, akhirnya kasus yang melibatkan Wijaya Kusuma ini segera ditangani. Apalagi, pihak keluarga Prayoga Iskandar juga menuntut keadilan dari meninggalnya pria itu.
Wijaya Kusuma ditangkap saat hendak melarikan diri ke luar negeri. Tanpa didampingi anak dan juga istri, lelaki itu dijemput paksa ketika berada di bandara.
Namun, saat persidangan berlangsung, Andre selalu datang untuk mendampingi papanya. Bagaimanapun, sang papa kini telah hancur, dan butuh dukungan. Kalau bukan Andre, siapa lagi yang bisa diharapkan. Mama Areta yang masih sakit hati tentu masih enggan untuk memaafkan.
***
"Hari ini adalah sidang terakhir dan pembacaan keputusan kasus Wijaya Kusuma," kata Satrio saat ia sedang duduk di ruang makan bersama dengan keluarganya.
"Semua yang jahat pasti akan mendapatkan balasannya," ujar Pak Zul.
"Sebenarnya kasihan juga, tapi kalau mengingat apa yang dia lakukan pada keluarga kita, rasanya Qia masih tetap marah," kata Qia.
"Dia sudah mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya," ucap Abi Kun ikut menimpali.
"Lagipula, kejahatannya sudah sangat melampaui batas. Jika dibiarkan, akan semakin banyak korban yang berjatuhan. Semoga pengadilan nanti memberikan keputusan yang seadil-adilnya," ucap Satrio.
"Betul itu," kata Umi Silmi.
"Apa kita juga akan datang ke sana, Kak?" tanya Qia.
Di sidang-sidang sebelumnya, Qia dan Satrio selalu didatangkan sebagai saksi. Apalagi, untuk kasus pembunuhan Prayoga Iskandar, Qia dan Satrio adalah saksi kunci, meskipun mereka tidak menyaksikan kejadian itu secara langsung.
"Ya, kita akan datang," jawab Satrio.
Akhirnya, yang lainnya pun memutuskan untuk datang juga. Ini adalah hari yang bahagia bagi mereka. Dengan dijatuhkan hukuman bagi Wijaya Kusuma, maka nama Satrio dan Qia juga dibersihkan. Status Satrio sebagai buronan akan dihapus dan status sebelumnya sebagai seorang perwira terbaik dan penuh penghargaan akan dipulihkan.
***
Di luar tempat persidangan, Andre berpapasan dengan rombongan Satrio. Di sidang-sidang sebelumnya, ia berusaha untuk menghindari tatapan dengan wanita itu meskipun untuk pertemuan tentu tidak bisa mengelak. Ia terlalu malu. Wanita yang sangat dia cintai ternyata selama ini sangat menderita, justru karena ulah papanya.
Namun, di sidang terakhir ini, Andre ingin minta maaf atas nama papanya.
Karena itu, saat rombongan Satrio melintas di depannya, Andre berusaha menghentikan mereka.
"Tunggu!" cegah Andre sambil menggamit tangan Satrio.
Rombongan itu menghentikan langkah.
Andre tampak ragu. Ia menatap Satrio dan Qia secara bergantian, kemudian mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Maaf!"
Hanya itu kata yang terucap dari bibir Andre, kemudian ia melangkah masuk diikuti oleh pengacara papanya.
***
Hakim ketua memasuki ruangan sidang.
Di bangku paling depan, tampak Qia dan keluarganya menanti dengan harap-harap cemas.
"Semoga hukuman yang dijatuhkan betul-betul adil, sepadan dengan kejahatan yang dilakukan," bisik Qia.
Di kursi pesakitan, Wijaya Kusuma menatap Qia dan suaminya dengan penuh kebencian. Tentu saja masih ada keinginan dari dalam dirinya yang sangat kuat untuk membalas dendam. Dalam hati, ia mulai merancang strategi untuk diteruskan ke anak buahnya.
Akhirnya, saat itu tiba. Setelah melalui beberapa proses, kini tiba saatnya hakim ketua membacakan putusan.
Ternyata kejahatan yang dilakukan oleh Wijaya Kusuma tidak hanya pembunuhan atas Prayoga Iskandar. Setelah memeriksa bukti-bukti dan diperkuat oleh para saksi di perusahaan, lelaki yang kini terlihat kuyu itu dikenai pas berlapis atas banyak kejahatan yang lain.
Hakim memutuskan hukuman mati dan penyitaan atas aset-aset milik negara yang berhasil dikuasai secara ilegal.
Palu sudah diketuk. Banding yang diajukan pengacara Wijaya ditolak. Andre sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Begitu juga dengan Wijaya Kusuma. Apalagi, dengan disitanya aset-aset berharga miliknya menjadi milik negara, kekuatannya kini jauh berkurang.
Meski ia masih memiliki perusahaan yang ia rintis sendiri, itu tidak akan cukup untuk melakukan perlawanan. Untuk sementara, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Pun ketika petugas mengantar lelaki itu ke tempat tahanan, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya diam, bahkan ketika Andre berjalan mendekat ke arahnya. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap wajah tampan pemuda itu, yang saat itu juga menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Bagi Wijaya, Andre adalah kelemahannya. Pemuda itu adalah segala-segalanya. Sungguh, yang paling dia khawatirkan adalah apabila sang buah hati terluka. Dan sekarang, melihat anaknya yang seperti itu, hatinya juga ikut terluka. Rasanya, seperti ada tangan besar yang *******-***** jantungnya.
Itu sebabnya, ia tidak bisa berkata apa-apa. Saat matanya sendiri terasa panas, lelaki paruh baya itu segera berpaling, kemudian berjalan mengikuti penjaga.
"Pa!" suara bariton milik pemuda itu menghentikan langkahnya.
Namun, Wijaya tidak berbalik. Ia lalu melanjutkan lagi langkahnya.
"Pa!" suara itu terdengar lagi.
Kembali, lelaki paruh baya itu berhenti. Namun, kali ini tubuhnya diputar oleh sepasang tangan hingga berhadapan dengan pemilik sepasang tangan itu.
"Pa!" panggil pemuda itu lirih.
Beberapa saat, dua manusia ayah dan anak itu saling menatap. Entah siapa yang memulai, keduanya lalu berpelukan. Wijaya tidak bisa membalas pelukan itu karena kedua tangannya diborgol. Keduanya berpelukan erat seolah tak mau dipisahkan.
"Maaf!" lirih suara Wijaya.
Hanya itu yang bisa ia ucapkan.
"Maaf, sudah waktunya Pak!"
Seorang petugas melerai pelukan dua orang itu dengan sopan. Bagaimanapun, Wijaya dulu adalah orang penting yang sangat dihormati.
Wijaya Kusuma mengikuti petugas itu menuju mobil polisi yang sudah menunggu dari tadi. Rencananya, Wijaya akan ditempatkan di rutan khusus sambil menunggu eksekusi.
Saat melewati rombongan Qia, lelaki itu berhenti sejenak. Bukannya minta maaf, atau mengucap sepatah kata, lelaki itu hanya menatap Qia dengan tatapan tajam penuh ancaman.
Melihat tatapan yang mengerikan itu, tubuh Qia menggigil. Tangannya yang tiba-tiba terasa dingin, kemudian menggenggam erat tangan suaminya. Tentu saja ia takut diintimidasi seperti itu, meski hanya dengan sebuah tatapan.
Karena itu, saat Wijaya berpaling dan hendak melangkah, ia memberanikan diri untuk menegurnya.
"Pak Wijaya Kusuma. Sangat disayangkan, semua harus berakhir dengan cara seperti ini. Namun, dari tatapan Anda tadi, sepertinya Anda belum mau bertobat. Sayang sekali ....
Nama Anda sangat cantik, Wijaya Kusuma. Anda dan kehidupan Anda juga sangat cantik sebagaimana bunga aslinya.
Namun sayang, Anda tidak mau belajar dari bunga Wijaya Kusuma. Apa Anda tahu, bunga Wijaya yang sangat megah dan mengagumkan itu hanya bisa mekar dalam sehari semalam, setelah itu ia akan runtuh, jatuh, dan layu.
Begitu juga dengan Anda. Ketampanan, kakayaan, ketenaran, dan kekuasaan Anda kini sudah runtuh karena Anda tidak berhati-hati. Ini adalah kesalahan Anda sendiri. Semoga Anda bisa belajar dari semua ini."
Qia berkata dengan lembut, kemudian berpaling ke suaminya. Ia genggam erat tangan lelaki itu, kemudian mereka melangkah bersama.
Tamat