Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
124



Karena Qia sedang tidur, akhirnya Bu Mirna dan Ummi Silmi memutuskan untuk salat Duhah di musala setelah sebelumnya menitipkan pada penjaga.


Jam besuk sudah habis sehingga rumah sakit tidak begitu ramai, terutama di ruang VVIP. Entah mengapa saat itu anak buah Satrio tidak begitu waspada sehingga dua orang berpakaian seperti dokter dan perawat itu bisa leluasa masuk.


Singkat kata, Qia berhasil dibawa keluar oleh dua orang itu dalam keadaan tidak sadarkan diri.


***


Pada saat yang bersamaan, Satrio dan Andika berhasil melumpuhkan orang-orang yang ada di markas ilegal Wijaya. Karena status Satrio di dunia nyata masih buron, maka ia belum bisa menampakkan diri secara leluasa.


"Pakai ini, Pak," kata Andika sambil mengeluarkan beberapa barang dari ranselnya. Saat itu mereka berada di tempat tersembunyi, di sebuah bangunan kosong tak jauh dari markas ilegal Wijaya.


"Oke. Terima kasih," jawab Satrio. Ia akui, perwira muda satu ini cukup tanggap dan cekatan. Andika tahu apa yang harus dilakukan meski belum mendapatkan perintah. Ini mengingatkan Satrio saat awal-awal dulu.


Satrio lalu mengambil seperangkat peralatan itu, kemudian mulai menyamarkan wajah dan tubuhnya.


Luka di bagian wajahnya cukup parah setelah dihajar habis-habisan oleh Danang kemarin. Itu sebabnya, ia agak kesakitan saat memakai alat-alat itu. Namun, bukan Satrio kalau menyerah begitu saja.


Beberapa saat, penyamaran Satrio hampir sempurna. Kali ini ia seperti lelaki tua renta yang berkharisma.


"Kamu langsung menemui Bos Adrian, saya akan menyusul belakangan karena masih ada yang harus saya kerjakan!" perintah Satrio tegas.


"Siap, Pak!" jawab Andika tak kalah tegas


Namun, belum sempat mereka melangkah, tiba-tiba tanda berwarna kuning di pergelangan tangan Satrio berkelap-kelip, tanda ada bahaya.


[Ada apa, Kak? Kau sangat tidak sabaran, kami baru mau ke sana.] tanpa basa-basi, Satrio menggerutu kesal.


Namun, karena situasinya tidak memungkinkan, Adrian memutuskan untuk menunda amarahnya. Ia berjanji akan menjewer telinga adiknya itu saat berjumpa.


[Kita kecolongan. Qia tidak ada di kamar inapnya.]


[Apa? Bagaimana bisa, Kak? Kay sudah berjanji untuk menjaganya baik-baik?] Satrio berteriak marah.


Di dunia ini, satu-satunya kelemahannya adalah Qia. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, ia tidak akan bisa memaafkan semua, termasuk dirinya. Melindungi Qia adalah yang utama. Bahkan, alasan utama kebersamaan mereka dulu adalah karena ingin melindungi dan menjaganya.


"Tidak ada gunanya marah-marah. Sekarang kita sedang berusaha untuk melacak keberadaan mereka. Kita bertemu di markas Simpang Tiga.]


Adrian sudah menduga kalau Satrio bakal marah. Itu sebabnya, ia segera menutup sambungan mereka. Ia lebih suka berhadapan langsung dengan adiknya itu.


"Kenapa, Pak?" tanya Andika ikut cemas.


"Mereka membawa istri saya. Mereka pasti anak buah Wijaya!" seru Satrio marah. Tangannya terkepal erat.


"Apa kau tahu, di mana kira-kira mereka menyembunyikannya? Mungkin ada markas atau tempat lain yang dimiliki oleh Wijaya Kusuma?" tanya Satrio, masih dalam mode marah.


"Saya tidak tahu, Pak. Sesungguhnya saya belum lama direktur oleh Pak Wijaya. Saya memang diberi keleluasaan untuk memimpin pasukan di sini, tetapi ternyata hanya sebagai kamuflase. Itu sebabnya saya belum begitu mengenal mereka semua. Saya juga belum tahu di mana saja markas mereka," jelas.


"Baiklah, sekarang kamu cari informasi sebanyak-banyaknya tentang markas atau tempat yang sekiranya bisa dijadikan sebagai persembunyian milik Wijaya!" perintah Satrio.


"Siap, Pak."


Mereka berdua berpisah. Di luar gudang kosong itu sudah ada dua mobil yang menunggu mereka karena Andika memang sudah mempersiapkan semuanya.