Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
129




Andre


"Apa yang kalian lakukan, bodoh?"


Dua orang pria masuk ke tempat Qia disekap kemudian melerai Somat dan Burhan. Mereka tak habis pikir, bisa-bisanya berkelahi di depan sandera.


Mendengar bentakan itu, Somat dan Burhan langsung menghentikan perkelahian. Wajah pucat seketika menghiasi mereka begitu mengetahui siapa yang datang.


"Kalian berdua, segera ke ruang pendisiplinan!" seru orang itu.


Somat dan Burhan tidak berani membantah. Dua orang yang baru masuk itu jabatannya lebih tinggi dari mereka.


"Semua gara-gara kamu, aku jadi ikut dihukum. Kalau saja ketololanmu bisa diredam sedikit saja, Pak Beny tidak akan menghukum kita," gerutu Burhan sambil melangkah mendahului Somat.


Tentu saja ia sangat kesal. Tadi ia sudah memperingatkan si Somat, tetapi tidak digubris. Sementara itu, Somat hanya diam. Ia menyesali kecerobohannya. Tiba-tiba saja bulu kuduknya berdiri. Jantungnya berpacu cepat. Ia tahu, seperti apa ruang pendisiplinan itu. Ruang itu terkenal dengan siksaan yang sangat berat.


"Ini semua gara-gara perempuan itu. Kalau saja ia tidak memancing amarahku, tentu aku tidak akan pernah dihukum seberat ini," pikir Somat takeu disalahkan. Karena itu, ia mulai memupuk rasa dendam pada Qia.


***


Sementara itu, lelaki yang bernama Pak Beny itu berjalan mendekati Qia diikuti oleh lelaki satunya. Namanya  Koko.


Melihat itu, Qia sedikit merasa takut. Dua lelaki itu memang terlihat cukup tenang, tidak sebringas penjaga sebelumnya. Namun, bukankah yang tenang juga tidak kalah bahayanya? Bukankah air tenang itu lebih menghanyutkan? Itu sebabnya, Qia mulai memasang sikap waspada.


"Halo, Nona," sapa Beny. Lelaki itu berjongkok tepat di depan Qia. Sudut kanan bibir orang itu tampak ditarik sedikit ke atas.


Qia yang terbiasa mengamati gelagat, gestur tubuh, ataupun mimik wajah seseorang untuk keperluan riset novelnya, tentu saja tahu kalau orang itu tidak sedang tersenyum ramah padanya, tetapi lebih tepatnya sedang menyeringai. Itu sebabnya, ia jadi bergidik. Meski begitu, ia tidak menjawab sapaan orang itu.


"Sayang sekali kamu tidak boleh disentuh. Padahal, kamu cukup memenuhi syarat untuk menemaniku bersenang-senang," kata orang itu, membuat perut Qia mual, rasanya ingin muntah.


Qia memalingkan muka. Ia betul-betul merasa muak. Apalagi, jarak antara dirinya dengan Beny cukup dekat, membuat istri Satrio itu betul-betul merasa tidak nyaman.


Namun, sikap Qia tersebut ternyata membuat Beny tersinggung.


"Kamu jangan sombong, Nona. Bos memang menghendakimu hidup-hidup. Namun, bukan berarti kami tidak boleh bersikap kasar kepadamu," bentak Beny kasar. Pernyataannya ini mirip dengan kata-kata Burhan.


Mendengar itu, Qia hanya bisa menghela napas.


"Lepas dari mulut singa, sekarang malah masuk ke mulut harimau," batin Qia.


"Sekarang katakan padaku, di mana kamu sembunyikan flashdisk itu?" bentak Beny keras.


Qia tidak merespon. Wajahnya masih tetap berpaling, tidak menatap Beny sama sekali. Ia juga tidak bersuara. Ia tampak acuh dan polos.


Melihat itu, Beny menjadi sangat kesal.


"Kau jangan menguji kesabaranku, Nona! Katakan, di mana kamu sembunyikan flashdisk itu?" Beny menggertak sekali lagi.


Namun, Qia masih bersikap seperti semula.


Beny semakin tidak sabaran. Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke Qia kemudian memegang dagu wanita itu dengan kuat dan memalingkan wajah cantik ke arahnya.


Saat itu, wajah Beny sudah terlihat sangat gelap karena amarah.


PLAK


Satu tamparan yang mendarat di pipi Qia hingga di kulit putih itu terukir lima jari Beny. Sebelumnya, Qia sudah mendapat beberapa tamparan dari Somat. Ditambah tubuhnya sendiri juga sangat lemah dan lemas. Sekarang ia mendapat satu pukulan lagi dan rupanya sangat keras membuat wanita itu tidak sadarkan diri.


***


Sementara itu, di tempat terpisah.


Hari itu, Andre baru saja menyelesaikan rapat bersama dengan para guru. Karena tidak ada lagi yang harus dikerjakan, akhirnya ia hanya berputar-putar tak tentu arah. Pejero yang dia kemudikan terlihat menyusuri jalan tanpa tujuan.


Pemuda itu sedang gundah dan gelisah. Jujur, sampai detik ini ia masih memikirkan Qia. Gadis misterius yang berhasil mengobrak-abrik hatinya. Dialah cinta pertama dan mungkin terakhir baginya.


Sejak Qia menikah, Andre sudah bertekad untuk melupakan gadis itu, tetapi ternyata tidak mudah.


"Qi, kenapa kamu tidak bisa pergi dari pikranku?" batin Andre sedih.


Dulu sempat terpikir untuk merebut Qia dari suaminya. Andre berpikir, pemuda itu tidak bisa diandalkan. Qia berhak mendapatkan yang lebih layak.


Dan sekarang, pikiran itu semakin menguat, terlebih dengan adanya berita tentang Satrio yang sekarang menjadi buron, dan Qia menghilang.


"Sekarang kau ada di mana?" batin Andre.


Pemuda itu lalu berputar-putar tak tentu arah. Sebenarnya, ia ingin sekali mencari Qia, tetapi tidak tahu harus mencari ke mana.


"Apa sekarang kamu baik-baik saja? Apa sekarang kau sedang bersamanya?" Sekali lagi Andre membatin. 


Andre merasa sangat khawatir. Selain itu, ia juga merasa sangat rindu. Dulu, ia masih sering curi-curi pandang pada gadis itu. Apalagi saat rapat yayasan. Andre tahu, Qia tidak begitu antusias, apalagi paham dengan topik yang sedang dibicarakan. Namun, bagi Andre, itu tidak masalah, yang penting ia bisa menatap wajah ayu itu. Berdekatan dengan gadis itu membuat hati Andre selalu Happy, meski sekadar memandang saja.


Sekarang, semua itu tidak bisa ia lakukan. Jangankan bisa menatap, menelpon atau sekadar menulis pesan saja tidak bisa karena nomor Andre sudah lama diblokir Qia.


Andre masih berputar-putar di jalan tanpa tentu arah dengan pikiran setengah mengembara. Ia begitu terkejut karena tiba-tiba sebuah mobil memotong jalannya, sekitar tiga atau empat meter di depan pajeronya. Untung ia masih bisa mengendalikan mobil itu hingga bisa berhenti di posisi yang tepat, beberapa centi sebelum kedua bemper itu saling bersentuhan.


Belum hilang rasa terkejut Andre, sesosok tubuh kekar dengan wajah tertutup masker langsung menembak pintu mobil, tepat di bagian lubang kuncinya.


Sosok itu membuka pintu dengan kasar kemudian mencengkeram kerah baju Andre. Tanpa ba bi bu, orang itu langsung menyeret Andre keluar dari mobil, kemudian membawanya mendekati mobilnya.


"Siapa kalian?"


Andre mencoba untuk meronta begitu sadar dari keterkejutannya.


Orang itu tidak menjawab. Ia terus menyeret Andre, kemudian membuka pintu, lalu mendorong putra kesayangannya Wijaya Kusuma itu dengan kasar ke dalam mobil. Ia sendiri ikut masuk, kemudian menutup pintu mobil itu keras-keras.


Temperamen Andre sangat halus dan sopan. Tentu saja sikap kasar orang itu sangat mengganggunya.


"Apa yang kalian inginkan? Lepaskan saya!" bentak Andre. Sebenarnya auranya cukup kuat karena ia sendiri adalah tuan muda yang sudah terbiasa dituruti kemauannya. Hanya saja, di hadapan orang itu, auranya tidak berarti apa-apa.


Orang itu pun tidak menjawab. Ia hanya menodongkan revolvernya tepat di depan kening Andre, membuat pemuda itu diam. Ia tidak lagi berani berontak.