Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
38. Pesta Penyambutan



Tidak seperti biasa, mulai pagi kediaman Qia sudah cukup ramai. Beberapa anak buah Satrio tampak mondar-mandir mempersiapkan segalanya. Mereka bukan wedding organizer. Namun begitu, mereka mempersiapkan semua dengan sepenuh hati. Bukan sekadar untuk melaksanakan tugas, tetapi demi Satrio.


Bagaimanapun, hari itu adalah hari yang paling bersejarah bagi atasan mereka tercinta. Karena itu, mereka ingin membuatnya berkesan.


Pukul sebelas tepat, semua sudah beres, tinggal menunggu kedatangan Satrio dan rombongan.


Diapit Aina dan Ningrum, Qia duduk di atas karpet di ruang tengah. Ia terlihat sangat cantik dengan gamis putih yang dilapisi brokat berwarna perak. Begitu juga dengan kerudungnya. Tadinya ia ingin mengenakan gaun pemberian Pras. Namun, karena gaun itu menyimpan suatu rahasia, maka ia tidak jadi memakainya.


Ingat tentang flashdisk itu, Qia jadi kembali gelisah. Bahkan, semalam ia tidak bisa tidur. Qia bingung, mau diapakan flashdisk itu enaknya. Sempat kepikiran untuk memberikan benda itu pada Satrio, tetapi ia masih khawatir tentang lelaki itu, meskipun dalam hitungan menit, mereka akan segera menikah.


Melihat apa yang dilakukan Satrio akhir-akhir ini, Qia jadi bertanya-tanya, siapa Satrio sebenarnya? Kenapa ia tahu banyak hal? Kenapa ia begitu ngotot ingin menikahinya? Kepada siapa ia berpihak? Dan masih banyak pertanyaan yang berseliweran di benak Qia tentang calon suaminya itu. Jujur, ia belum percaya sepenuhnya, meski alasan pernikahan mereka dipercepat adalah agar Satrio bisa melindunginya.


Mau cerita sama ayah dan ibunya, Qia juga ragu. Apalagi pada Umi Silmi dan Abi Kun. Menurutnya, akan lebih aman kalau mereka tidak mengetahui rahasia itu. Semakin banyak yang mengetahui rahasia itu, maka semakin banyak pula yang terancam jiwanya, seperti halnya dirinya. Itu sebabnya, Qia tidak berani bercerita pada siapa pun. Biarlah ini menjadi rahasia dirinya, rahasia Taqiya. Bahkan, dirinya sendiri sebenarnya tidak berani membuka flashdisk itu. Ia takut, jangan-jangan saat benda itu dibuka, seseorang bisa memantau atau mendeteksi keberadaannya.


"Kamu kenapa, Qi? Kenapa gelisah sekali?" tanya Aina melihat kegelisahan di mata Qia.


"Kelihatan sekali, ya?" Bukannya menjawab, Qia malah balik bertanya.


"Iya, Qi, kamu terlihat begitu cemas. Jangan khawatir, sebentar lagi mempelai pria akan segera tiba. Tadi ayahmu sudah memastikannya."


Kali ini Ningrum yang berbicara. Ia mengira kalau Qia gelisah karena calon pengantin pria belum datang sampai sekarang.


"Syukurlah kalau mereka segera tiba. Soalnya Pak Penghulu sudah datang dari tadi, kan gak enak," jawab Qia. Ia sengaja membiarkan teman-temannya salah paham dengan apa yang dia pikirkan.


"Tidak usah cemas, Qi. Ayah bilang, sepuluh menit lagi insyaallah mereka sampai. Tadi memang ada sedikit kendala. Syukurlah, sekarang sudah bisa diatasi."


Bu Mirna yang baru datang dari luar langsung duduk di dekat Qia. Ningrum agak bergeser sedikit untuk memberi tempat, kemudian pindah di sebelah Ustazah Kamila, tak jauh dari tempat Qia.


Di ruangan itu juga ada kerabat dan beberapa tetangga wanita yang datang.


Sementara itu, di ruang tamu, Penghulu juga sudah duduk manis di atas karpet ditemani Pak Zul dan Ustaz Hanif. Beberapa kerabat dan tetangga juga tampak di sana. Ruangan itu terlihat sangat luas karena semua kursi telah dikeluarkan.


Tidak banyak tamu yang datang karena memang acara itu dadakan. Acara walimah sendiri akan diadakan nanti malam, mengundang warga sekitar.


Penjagaan memang sangat ketat. Satrio yakin, musuh-musuh tak kasat mata pasti sudah tersebar di sekitar tempat itu. Mereka harus senantiasa waspada karena tidak menutup kemungkinan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, terutama dari musuh bebuyutan Satrio, Jack. Lelaki satu itu terkenal sangat brutal dan rada ngawur. Kalau bertindak, sering kali tanpa perhitungan. Menurut Satrio, orang seperti itu malah sangat berbahaya karena lebih mengandalkan emosi daripada akal sehat. Meski telah gagal menghalangi Satrio di tengah jalan tadi, Satrio yakin kalau Jack tidak akan berhenti sampai di situ. Ia pasti sudah membuat rencana cadangan. Dan apa yang diperkirakan Satrio itu ternyata menjadi kenyataan.


***


[Semua sudah siap?] tanya Jack dari kejauhan. Sementara, beberapa anak buahnya sudah siap di beberapa tempat.


[Siap, Bos]


Acara pernikahan itu sangat mendadak, jadi mereka tidak mempunyai banyak waktu untuk menciptakan kekacauan. Mereka memang tidak sempat memasang bom waktu. Selain tidak ada kesempatan, hal itu terlalu beresiko karena pasti dengan mudah Satrio dan anak buahnya bisa mendeteksinya. Karena itu, Jack nekat memerintahkan kepada anak buahnya membawa granat. Sekali lempar ,"Duar." Meledak semua. Betul-betul gila dan sangat kejam. Bayangkan saja, hanya untuk menggagalkan pernikahan, ia bahkan tidak mempedulikan banyaknya nyawa yang melayang.


[Bersiaplah, iring-iringan sudah terlihat. Kita akan melakukan pesta penyambutan] Jack memberi peringatan. Seringai tipis muncul dari sudut bibirnya. Andai ada yang melihat, pasti akan merasa ngeri dan ketakutan.


[Siap] Kali ini yang bertugas melontarkan pertama kali adalah anak buah Jack yang menyamar sebagai kerabat tetangga depan.


***


Ternyata benar. Tak berapa lama, Rubicon yang dikemudikan Arga tiba, kemudian disusul oleh mobil Satrio yang dikemudikan oleh Hendra. Dilihat dari sudut mana pun, mobil itu terlihat tidak baik-baik saja. Kaca bagian tengahnya hancur karena terkena tembakan. Untungnya, orang-orang yang berada di sekitar tempat itu adalah anak buah Satrio sendiri. Mereka sudah tahu apa yang sedang terjadi. Sementara, dua mobil yang lain masih tertinggal tidak jauh di belakang.


Seperti perkiraan, mereka tiba pukul sebelas lebih sepuluh menit. Lima menit kemudian dua mobil di belakang baru menyusul.


Hendra keluar dan membukakan pintu untuk Abi Kun dan Umi Silmi, kemudian disusul oleh Satrio. Pemuda itu lalu berjalan beriringan dengan kedua orang tuanya menuju rumah Qia. Sedangkan Raka dan yang lainnya mengikuti dari belakang sambil terus waspada.


Sementara itu, Jack sudah bersiap-siap untuk memerintahkan anak buahnya memulai seremonial penyambutan. Sekali lagi, ia menyeringai kejam hingga wajah tampannya terlihat menakutkan.


Sementara itu, Satrio dan rombongan sudah sampai di teras. Pak Zul yang tadinya duduk bersama dengan Pak Penghulu dan Ustaz Hanif, kini berdiri dan menyambut kedatangan mereka.


[Hitungan ketiga, laksanakan!] Jack mulai memberi aba-aba. Si anak buah sudah siap dengan granat nanasnya untuk dilemparkan.


[Satu ... Dua .... ]