
Satrio menambah kecepatan mobilnya. Sebenarnya ini sangat dilema baginya, mau turun untuk mengeksekusi mereka atau terus jalan. Keduanya sama-sama beresiko untuk Qia.
Untungnya di jalan depan sangat lengang, tidak ada kendaraan yang melintas. Satrio yakin kalau Hendra sudah memerintahkan anak buahnya untuk mengosongkan jalan.
"Duar!!! Pyar!!!" Satu tembakan lagi mengenai kaca depan bagian kanan.
"Kak!!!" teriak Qia cemas. Ia mengkhawatirkan keadaan suaminya.
"Jangan khawatir, Kakak tidak apa-apa. Kamu tetap merunduk, ya!" Satrio menenangkan Qia. Suaranya terdengar lembut membuat Qia merasa tenang.
"Ndra, lo lama banget!" teriak Satrio lewat alat komunikasinya.
"Bos, ini sudah mau sampai!" teriak Hendra dari seberang.
"Ayo cepat, ada kakak ipar di dalam mobil Bos Satrio. Mereka dalam bahaya," teriak Hendra lagi mengomando anak buahnya.
Qia mendengar itu, karena tanpa sengaja Satrio memencet tombol loud speaker. Gadis itu merasa sedikit tenang.
"Qi ... Kamu baik-baik saja, kan? Tetap merunduk, teman-teman Kakak akan segera datang," kata Satrio.
Sebenarnya, saat tembakan yang terakhir, pelipis Satrio terkena pecahan kaca. Sepertinya lukanya agak dalam dan besar. Namun, ia tetap bertahan dan pura-pura tidak terjadi apa-apa agar Qia tidak panik atau ketakutan, padahal darah terus merembes dari keningnya.
Akan tetapi, lama-lama, kepalanya terasa pusing dan pandangannya mulai kabur. Kalau ia berhenti, habislah mereka. Itu sebabnya, Satrio berjuang sekuat tenaga untuk bertahan sampai bantuan datang.
Qia yang sedang merunduk, tidak tahu apa-apa. Namun, ia bisa merasakan kalau kecepatan mobil mulai berkurang.
"Kak, Kakak baik-baik saja?" tanyanya cemas.
"Tentu saja. Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja," jawab Satrio sambil terus menatap lurus ke depan. Ia tidak berani menoleh karena takut kalau Qia melihat darah dari keningnya sebelah kanan.
"Beneran, Kakak tidak apa-apa?" tanya Qia lagi.
Satrio yang menangkap kecemasan dari suara Qia akhirnya kembali bersuara.
"Di depan ada pertigaan, Kakak sedang menimbang mau belok kiri atau kanan, itu sebabnya Kakak mengurangi kecepatan," jelas Satrio lagi.
"Bos, kita sudah sampai. Di depan ada pertigaan, Bos belok kanan. Di sana sudah ada tim yang menunggu. Di sini biar kami yang amankan."
Suara Hendra kembali terdengar. Anak buah Satrio itu agak panik. Pasalnya, tadi Satrio sempat menyalakan tombol kuning dan merah secara bersamaan. Itu artinya, si Bos sedang dalam bahaya, bahkan hampir sekarat. Namun, ia juga paham kalau dirinya tidak boleh bicara sembarangan karena khawatir istri bos menjadi ketakutan.
Sementara itu, Satrio yang sudah tidak tahan segera berbelok ke arah kanan. Benar juga, sayup-sayup di kejauhan terlihat dua mobil dan ambulance. Tanpa berpikir panjang, ia berhenti di depan mereka.
Satrio menoleh ke arah Qia. Maksudnya untuk mengajaknya turun. Namun, lelaki yang menurut Qia misterius itu sudah tidak punya tenaga. Kepalanya terasa sangat berat dan pandangannya semakin kabur. Pada akhirnya, ia tidak ingat apa-apa. Kepala pemuda itu terkulai di atas setir.
Qia yang melihatnya langsung panik.
"Kak ... Kau kenapa?" tanya Qia cemas.
Satrio bergeming. Qia mengguncang tubuh suaminya dan memeriksa keadaannya. Saat itulah ia menjadi histeris begitu melihat darah merembes dari kening lelaki itu hingga membasahi jaket dan bajunya.
"Kak ... Astaghfirullah, kau terluka parah."
Di tengah ketakutan dan perasaan bingung itu, tiba-tiba pintu mobil dibuka paksa dari luar. Sorang pria berpakaian medis masuk. Di belakangnya ada seorang lagi yang berpakaian medis juga dan dua pria berpakaian serba hitam.
"Tenanglah, Bu, Kami akan menyelamatkannya."
"Tapi lukanya sangat parah." Qia tidak dapat menahan tangisnya.
"Ibu tenang, ya. Pak Satrio pasti baik-baik saja."
Petugas itu langsung mengangkat tubuh Satrio dan meletakkannya di atas brangkar yang sudah disiapkan, kemudian dimasukkan ke dalam ambulan.
Qia mau masuk ke dalam ambulan untuk mendampingi suaminya. Akan tetapi, seorang pria berpakaian serba hitam melarangnya.
"Ibu masuk ke mobil yang ini saja," kata orang itu.
"Bu, tempat Anda di sini!" seru orang itu lagi sambil meraih tangan Qia.
Qia menghentikan langkah sambil mengibaskan tangan, kemudian menatap orang itu dengan tajam.
"Jangan pernah menyentuh tangan saya, atau Anda akan menyesal!" bentak Qia dengan penuh amarah.
Orang itu tercekat beberapa saat. Entah mengapa ia merasa terintimidasi dengan tatapan mata perempuan yang kelihatannya lemah dan polos itu. Sejenak ia merasa seperti berhadapan dengan Satrio.
Qia tidak mau membuang-buang waktu. Ia hanya menatap tajam pria itu sambil melangkah masuk ke dalam ambulan. Lelaki yang tadi melarang itu akhirnya diam, tidak bisa berbuat apa-apa. Begitu juga dengan yang lainnya. Dengan terpaksa, akhirnya mereka membiarkan Qia masuk ke dalam ambulan.
Di dalam mobil, petugas medis sudah siap dengan pertolongan pertama. Satrio kehabisan banyak darah. Itu sebabnya, ia butuh transfusi darah.
Sepanjang jalan Qia terus memegangi tangan kiri Satrio, sementara tangan kanan lelaki itu dipasang jarum infus. Gadis itu tidak mengeluarkan suara sama sekali, tetapi matanya tak henti meneteskan air mata sampai mata kelinci itu berubah menjadi merah.
Ambulan melaju dengan kencang, terlebih yang sedang terluka adalah bos mereka. Di depan, satu mobil mengosongkan jalan untuk memudahkan ambulan itu lewat. Sementara, mobil yang di belakang mengawal dan melindungi mereka. Karena jalan sudah dikosongkan, sepuluh menit kemudian mereka sampai.
Qia tidak memperhatikan, di rumah sakit apa Satrio dirawat. Sedari tadi, perhatiannya hanya fokus pada suaminya. Sungguh, ia sangat mengkhawatirkan lelaki itu.
Tiba-tiba, bayangan saat jenazah Pras didorong di atas brangkar rumah sakit terpampang di depan mata. Sungguh, ia tidak ingin kejadian serupa dialami oleh Satrio.
"Bertahanlah, Kak, kau harus kuat!" bisik Qia sambil terus memegangi tangan Satrio.
"Maaf, Anda mengantar sampai di sini saja, biar kami yang menanganinya," ujar seorang petugas rumah sakit.
Satrio dibawa masuk ke saya IGD untuk diberi penanganan cepat. Sementara, Qia terpaksa menurutinya. Ia hanya bisa mondar-mandir di depan IGD dengan pasrah.
"Kau memang pembawa sial, Q!"
"Dasar pembawa sial!"
"Lihat saja, setiap lelaki yang menikahimu pasti akan ketiban sial."
Kata-kata itu dari tadi berseliweran di benak Qia.
"Ya Allah, aku tidak boleh seperti itu. Aku tidak boleh berprasangka buruk sama Allah."
Qia sangat memahami bahwa prasangka adalah bagian dari doa. Karena keputusan Allah berdasarkan prasangka hambanya. Ia tidak ingin berprasangka buruk karena ia tidak mau kalau Allah mencatatnya sebagai doa. Karena itu, ia hanya berprasangka yang baik-baik saja.
"Tolong suamiku, ya Allah. Selamatkanlah dia," doa Qia khusuk.