
Lama ibu Tety berpikir, hingga membuat kedua anak muda depannya mengambil air mineral yang sudah di siapkan oleh pegawai ibu tadi, sepertinya mereka kehausan.
"Ayiaa,, terakhir Ny.Ar itu datang sekitar 6/7 tahun yang lalu."Ujar Ibu tety akhirnya, Setelah ia mengingat-ingat dalam waktu lama.
"Tapi putrinya tidak pernah ikut bersamanya."Lanjutnya lagi.
"Ny.Ar??." Gumam Brandon yang bisa di dengar oleh Ibu Tety dan Arthur,
"Apa ia tidak pernah Bersama seseorang jika datang bu?."Tanya Brandon lagi.
"Iya, kami di sini mengenal keluarga kaya itu dengan panggilan Tn.Ar dan Ny.Ar, Sedangkan anak perempuan mereka tidak ada yang tahu siapa namanya, hanya anak saya saja yang tahu karena mereka adalah sahabat, dan ia selalu merahasiakannya jika di tanya, anak saya akan mengatakan dengan sebutan Kakak." Ujar bu tety menjelaskan kembali.
"Iya Ny.Ar selalu datang sendiri nak, tanpa ada yang menemani seperi anaknya, tapi selalu ada 2-3 pria berbadan besar yang selalu mengikuti nya. mereka seperti pengawal begitu."Lanjutnya lagi sambil mengingat-ingat.
"Dan juga yang ibu tahu, setelah tahun itu, Ny.Ar tidak pernah datang hingga sekarang, putrinya juga , banyak desas-desus yang mengatakan jika suami Ny.Ar sudah meninggal jadi rumah itu di jadikan panti oleh Ny.Ar sendiri." Cerita ibu tety lagi.
"Terus sekarang siapa yang mengelolah rumah itu, ah maksud saya yang sekarang panti asuhan??." Tanya Arthur karena itu adalah titik terang mereka.
"Orang kepercayaan mereka, tapi ibu tidak tahu pastinya. Suami ibu yang tahu semuanya, tapi suami ibu sudah meninggal setahun yang lalu." Ujar ibu Tety
"Maafkan kami bu, kami turut berduka." Ujar Brandon seakan ikut merasakan kesedihan.
"Apakah orang kepercayaan Ny.Ar tinggal di panti itu juga bu??."Tanya Brandon
"Iya Nak, hanya sepertinya orangnya kurang jujur nak, kasian anak-anak panti yang sudah di rawat oleh Ny.Ar selama ini, seakan tak terurus, biasanya anak-anak itu datang kesini untuk sekedar mencari uang jajan dan makan,sungguh malang nasib mereka. " Cerita Ibu Tety mengingat keadaan anak-anak panti itu.
"Dan selalu ada anak-anak baru yang tinggal disana."Lanjutnya lagi
"apakah anak-anak itu ada yang di adopsi bu,,?"Tanya Arthur penasaran
"Kalau itu ibu kurang tahu nak,,"Jawab bu Tety
"Dari pada nak Brandon dan adiknya memberikan sumbangan, ibu saranin mending berupa makanan dan pakaian serta makanan ringan saja, karena jika berupa uang akan di manipulasi oleh pengurus panti itu,nak." Ujar Bu tety lagi dan sedikit memberi saran.
"Dari mana ibu tahu soal itu??" Tanya Arthur penasaran
"Iya,,gimana ibu gak tahu, lah istrinya sering belanja barang-barang mahal nak, sehari setelah ada yang memberi sumbangan untuk panti asuhan itu." Ujar ibu Tety,( hahah emak-emak gossip).
"Baiklah bu, jika seperti itu mungkin kami coba dulu yang sekarang, jika memang yang di katakan ibu benar, maka, kami yang akan mengurusnya." Ujar Brandon dengan tatapan yang sulit untuk di artikan oleh orang seperti ibu tety. Tapi, Arthur tahu arti dari tatapan mata kakaknya.
"Baiklah bu, kami pamit undur diri, jika ada kesempatan lagi kita akan bertemu kembali." Ujar Brandon sambil tersenyum dan keluar dari toko Atha.(Ciee,,si Brandon pamit sama emak mantu)ðŸ¤
"Baik nak, hati-hati." Jawab ibu tety masuk kembali ke toko
"Apa kita akan ke panti kak??" Tanya Arthur saat mereka sudah di depan mobilnya
"Iya, kita coba memainkan peran menjadi seperti orang idiot, hahaha." Ujar Brandon sambil tertawa
Arthur hanya bisa mengelengkan kepalannya melihat mode gila kakaknya kumat, tapi ia senang mereka akan bermian peran lagi.
"its show time."Gumam Arthur dengan senyum tengilnya.
Mereka berdua berjalan meninggalkan toko itu, menuju panti asuhan yang menjadi tujuan Utama mereka dating ke tempat itu. Tapi, sekarang setidaknya mereka memahami maksud dari pengurus panti asuhan itu kenapa tidak melepaskannya, karena ia ingin tetap bermain dengan uang sumbangan yang di berikan para pendonasi.
Dengan sedikit merapikan kembali penampilan mereka, agar bisa menarik perhatian dari pengurus itu. Hampir 20 menit berjalan, mereka seharusnya tidak begitu lama dalam perjalanan menuju panti yang bahkan tak jauh dari Toko Atha. Tapi, karena mereka berjalan dengan santai, jadi 20 menit baru mereka sampai.
Disinilah mereka sekarang, depan pintu gerbang rumah itu, mereka menekan bell yang ada di samping, tak berapa lama seorang wanita paru baya sekitar 50 tahun tampak berdiri di depan mereka dengan senyum merekah.
"Selamat sore anak muda." Tanya nenek tua itu, ya sekarang waktu menujukan pukul setengah tiga sore.
"Sore Nek, maaf kami menganggu, kami ingin bertemu dengan pemilik panti, bisa??." Tanya Brandon dengan ramahnya.
"Silahkan masuk dulu, baru saya panggilkan tuannya." Ujar Nenek itu dengan wajah yang terlihat tidak bahagia, tadi ia menerima mereka dengan senyum, tapi saat kedua putra park berkata ingin bertemu dengan pemilik panti raut wajahnya langsung berubah.
Mereka berdua berjalan mengikuti nenek itu yang mengantarkan mereka ke salah satu ruang yang bisa di bilang ruang tamu, ternyata rumah ini sangat besar, asri dan penuh dengan bunga serta sungai buatan yang kecil tapi sayang tidak terurus sama sekali dan tampak sepi.
"Maaf nek, kemana anak-anak panti, kenapa terlihat sepi?." Tanya Arthur yang di angguki oleh Brandon, mereka penasaran dengan suasana panti itu,
"Oh jam segini ada yang masih istirahat dan bermain di kamarnya mereka masing-masing."Jawab nenek itu ( Tapi faktanya kita lihat saja nanti).
"Begitu ya, nek." Ujar Brandon agak curiga, entahlah.
Brandon dan Arthur langsung duduk, mereka berdua bersikap sangat sopan dan setelah nenek itu pergi Brandon berdiri dan mencoba melihat-lihat sekeliling rumah mewah ini, yang sudah beralih fungsi menjadi panti asuhan.
Tak berselang lama, suara langkah kaki seperti tergesa-gesa terdengar di telinga Brandon and Arthur sehingga membuat brandon kembali duduk berpura-pura tak melihat-lihat.
"kenalkan saya Ferdinan,pengurus panti ini." Lanjutnya lagi.
"oh iya pak, perkenalkan saya Dawon dan rekan kerja saya Rowon." Ujar Brandon yang sengaja tidak mengunakan nama asli mereka dan Arthur hanya menangguk menanggapi perkataan kakaknya..
"Ah tidak apa-apa pak, kami juga barusan sampai." Ujar Brandon lagi dengan basa basi, sedangkan Arthur hanya tersenyum, karena ia mendengar kakaknya tidak memperkenalkan nama mereka.
"Sepertinya permainan akan di mulai,,Kakak keempat sangat pintar dalam melakukan penyamaran seperti ini, pantasan saja Mami selalu memanggilnya Partner Boy. Karena dia sangat cocok melakukan pekerjaan seperti ini." Pikirnya dan memuji kakak keempatnya itu.
"Dan maksud kedatangan kami kemari, ingin menjadi donator untuk panti asuhan ini, dan ini juga kebetulan teman yang merekomendasikannya, katanya anak-anak disini ramah-ramah." Ujar Brandon lagi
" Ah Tuan bisa saja."Ujar Pria itu sambil menilai penampilan kedua anak muda di depannya ini, mungkin ia mempunyai rencana dan itu tak lepas dari pantauan Brandon maupun Arthur.
"Panti asuhan ini sudah lama berdirinya, dan saya sebagai pengurus dan pemilik tidak terlalu bisa membawa kemajuan karena kurangnya donator." cerita pria bernama Ferdinan.
"Oh begitu ya pak, kedatangan kami berarti bisa sangat membantu kekurangan yang ada di panti ini,," Ujar Brandon. Arhur hanya diam saja, ia masih mengamati raut wajah dari Tn.Ferdinan itu.
"Ck,,masih ku pantau kau, Ferdinan."Gumam Arthur dengan raut wajah yang tampak tetap tenang.
Tn. Ferdinan tersenyum, ia merasa senang dalam hatinya ia berpikir ia mendapatkan jackpot. Tapi, ia tidak pernah tahu jika yang ada di hadapannya ini adalah manusia-manusia yang jauh lebih sadis dari dirinya.
"Baiklah pak Ferdinan, ini adalah donasi pertama kami, mungkin tidak banyak tapi semoga bermanfaat untuk panti asuhan ini." Ujar Arthur memberikan sebuah map merah.
"Silahkan tanda tangan untuk bukti terimanya pak." Lanjutnya lagi.
Setelah Tn.Ferdinan menandatangi tanda terimanya, Kedua kakak adik itu langsung pamit dan bangkit dari tempat duduk mereka.
"Terima kasih Tuan- tuan." Ujar Ferdinan sambil mengantarkan kedua pemuda itu keluar dari rumah.
"Kami permisi pak.Semoga bantuan kami dapat membantu anak-anak di sini." Ujar Brandon, ia berjalan pelan, tiba-tiba mata nya menangkap siluit tubuh kecil yang berjongkok di dekat pot Bunga yang lumayan besar menutupi sebagian tubuh mungilnya.
Brandon berbalik ia melihat jika Ferdinan sudah tak ada disana, dan ia berbelok ke arah pot itu sehingga membuat Arthur kebingungan.
"Kak, ada apa??."Tanya Arthur pelan bahkan nyaris berbisik
"Tunggu disitu." Jawab Brandon dengan pelan ia melangkah dan berjongkok di depan anak kecil itu.
"Kenapa kamu menangis adik kecil?."Tanya Brandon yang membuat anak kecil itu kaget dan menatap pria yang asing baginya.
"Jangan takut adik kecil, paman bukan orang jahat."Ujar Brandon lagi dan mencoba mengelus puncuk kepala anak kecil itu, yang hanya diam menerima perlakuan lembut dari orang asing itu.
"Siapa namamu,cantik." Tanya Brandon pada gadis kecil itu yang di perkirakan kelas 3 Sekolah Dasar.
"Lastri, paman." Jawab anak itu menyebutkan namanya.
"Ini untuk kamu." Ujar Brandon mengeluarkan permen yang kebetulan ia beli di toko tadi,
"Nanti paman akan selalu datang kesini." Ujarnya lagi.
"Jadilah anak yang baik ya, tapi kenapa kamu menangis,hmm??". Tanya Brandon dan mencoba untuk mendekati diri dengan gadis kecil itu.
"Lastri merindukan ibu, paman. Ia sudah lama meninggalkan lastri disini." Jawab anak itu dan menghapus air mata di sudut matanya.
"Baiklah, paman janji nanti paman akan kesini lagi, nah lastri bisa cerita sama,Paman." Ujar Brandon
"dan sekarang paman harus pulang dulu, karena paman harus kerja,yah." Lanjutnya lagi dan menujukan jari kelingkingnya dan tersenyum.
"Ingat jangan menangis lagi ya." Ujar Brandon lagi sambil menarikan kedua pipi anak kecil itu membentuk senyuman.
Brandon melangkah dengan berat meninggalkan panti ini, tapi mereka harus bisa mengambil alih panti ini dengan cepat, agar Benar-benar berfungsi selayaknnya panti asuhan yang layak untuk anak-anak yang kurang beruntung seperti mereka.
Mereka berharap anak-anak itu bisa mendapatkan kehidupan yang layak dan mengapai cita-cita mereka masing- masing.
TBC.
Â
***Brandon Park***
Â