
Di ruang tengah lebih tepat ruang keluarga yang berada di Mansion itu,terdapat Ny.Park dengan keenam putranya serta Baby Carlissa yang tampak tenang di pangkuan Michael, dengan mainan kecil yang di pegangnya serta ocehannya yang tak ada henti. Tapi keributan yang di sebabkan oleh Baby Carlissa tidak menganggu mereka sedikitpun, bahkan Aidyen berkali-kali mencium pipi Baby Carlissa gemas hingga bayi kecil merengek tak suka.
Kemudian ia akan menatap Michael seolah sedang melaporkan hal itu pada Michael dengan tingkah gemasnya. Chaiden menatap adiknya kesal karna terus menganggu Baby Carlissa.
''Apakah kau tidak bisa diam?''tanya Chaiden kesal dengan tatapan tajam yang tertuju pada Aidyen.
Sedangkan adiknya itu hanya tersenyum dan menampilkan jajaran giginya dengan wajah yang seolah tak bersalah. Hal itu berhasil membuat Chaiden tak jadi marah dan akhirnya ia akan ikut tersenyum dengan tingkah bocah adiknya itu.
''Jadi bagaimana sekarang?"Tanya Ny.Park dan menatap anaknya satu persatu.
"Apa?" tanya Aidyen yang sepertinya tidak mengerti dengan pembicaraan mereka dari tadi.
"Darimana saja kau tadi,aku malas mengulanginya, mom." Ujar Brandon kesal dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
Akhirnya Ny.Park mengulangi pembicaraan mereka dari awal, Aidyen hanya mengangguk-angguk seolah mengerti. Entah apakah ia mengerti atau tidak yang penting ia mengangguk.
"bagaimana kalau tes DNA nya dengan mengambil sampel darah atau biar lebih pasti sum-sum tulang belakang kak Reivant." Akhirnya Chaiden bersuara setelah sekian lama ia berdiam diri.
Ny.Park menatap Chaiden tajam.
"Apakah kau gila Chaiden? Kau ingin membunuh putra Tampanku?" ucap Ny. Park dengan hyperbola, "Dan apa kau ingin di bunuh oleh kakakmu itu? sungguh tidak masuk akal. Ckckck!" decak Ny.Park lagi dan menggeleng kepalanya.
Saudaranya yang lain menatapnya dengan tatapan yang sulit di jelaskan sambil bertopang dagu dan ada juga yang ingin tertawa mengejek.
"Sungguh ide yang brilian."ujar Danien dan menepuk tangannya.
"Ide brilian dengan semua kepintaran yang di milikinya, Aku salut." Jawab Arthur yang sepertinya tak mau kalah soal membully kakaknya itu.
"Sebelum kau menjalani aksimu, mungkin kau akan di gantung di belakang rumah,kak." Brandon menatap Chaiden sambil menggeleng kepalanya dengan saran yang tidak masuk akal itu.
Setelah semuanya hening, terdengar suara tawa Baby Carlissa yang sepertinya suka jika Chaiden di ejek dan di bully. Dan semua mata tertuju menatap gemas pada baby itu.
"Apakah kau senang jika aku di bully, Sasa?"tanya chaiden dan mencium pipi Baby Carlissa penuh sayang.
"Rencana pertama, mommy anggap hangus, karna kecerdasan Chaiden yang haqiqi, yang tak tahu itu merupakan keturunan siapa? anak-anak Mommy tak ada yang sepintar dia." Ny.Park menatap Chaiden mengejek seperti yang di lakukan oleh putranya yang lain.
Tiba-tiba saja si bungsu membuka suara setelah sekian lama ia berdiam diri dan hanya menjadi penyimak yang setia.
"Bagaimana dengan sampel Kuku kak Chaiden eeehh.. upss maksudnya kakak Pertama."Nyengir Aidyen dan tersenyum kepada Chaiden yang sepertinya syok mendengar penuturannya.
"Hahahaha... Kak,apakah Baby Carlissa adalah putrimu?"Tanya Arthur sambil terus menertawakan kakaknya yang tampak kesal menatapnya.
"Mungkin itu benar, wahh,, bagaimana bisa kau menipu kami semua selama ini,kak??"sambung Michael yang sedari tadi sibuk bermain dengan Baby Carlissa.
"Tapi aneh,, kenapa Baby Carlissa tak menyukaimu,dek?"tanya Danien sambil tersenyum dengan mata yang menatap Chaiden yang diam tak balas membalas mereka.
"Stop..stop.. kita kembali ke topik pembicaraan."sela Ny.Park dan membuat Chaiden dapat bernafas lega karna ia berhasil di selamatkan dari kelima saudaranya itu.
"Sepertinya aku setuju dengan ide Aidyen." angguk Brandon dan menyetujui ide adik bungsunya itu.
"Tapi,bagaimana caranya kita mendapatkan kuku kak Reivant?"tanya Chaiden dan membuat mereka mengangguk.
"Ckckc,,Mommy berpikir hanya Chaiden yang pintar ternyata Arthur juga. Bahkan Mommy tak berani mengganggu manusia itu jika ia sedang tidur." Decak Ny.Park dan menggeleng kepalanya.
"Tidak ada yang berani menganggu macan itu kak, apalagi jika dia sudah tidur." Sela Michael dan mengedik ngeri.
"Ide siapa tadi?"tanya Arthur yang tak mau di salahkan. (Dasar si Arthur)
"Aidyen."tunjuk Chaiden kearah Aidyen yang sibuk bermain dengan Baby Carlissa.
"Ada apa dengan diriku?"tanya Aidyen yang kebingungan.
"Kau harus mendapatkan sempel itu bagaimanapun caranya." tunjuk Brandon dan membuat Aidyen terperanjat kaget.
Apakah ia tak salah mendengarnya, Aidyen menyerngit keningnya dan raut wajahnya berubah menjadi memelas sambil menatap Ny.Park memohon bantuan kepada Mommynya. Sedangkan Ny.Park seolah tak melihat anaknya yang sedang membutuhkan bantuannya itu.
"Berarti sampai disini meeting kita hari ini, Mommy mau ke salon dulu dan Aidyen bertanggung jawab atas idenya. Bye anak-anak tampannya Mommy." Ny.Park bangkit dari tempat duduknya berjalan dengan santai ke kamarnya.
"Mom..."panggil Aidyen dengan suara memelas.
Kemudian di susul oleh yang lain dan berjalan kekamar mereka masing-masing dan Michael menggendong Baby Carlissa menuju kamarnya. Karena, ia malas untuk berjalan ke lantai dua menaiki anak tangga menuju kamar Baby Carlissa.
Tinggal Aidyen seorang diri yang masih kebingungan dan menyesal sudah memberi ide kepada mereka. Ia menggerutu tak jelas dan ingin mengumpat mereka semua.
Chaiden tersenyum mengejek kearah adiknya yang tampak gelisah dengan wajah kesalnya.
Ahaaaa,,,,terlintas ide di kepala si tampan bungsu itu, ia tersenyum sepertinya ia bisa mengunakan ide itu nanti saat Bersama dengan kakak pertamanya.
Malam pun tiba, semua keluarga Park duduk Bersama di meja makan menikmati santapan malam dengan tenang tidak ada yang bersuara hanya terdengar bunyi dentingan sendok dan piring. Selesai makan mereka berkumpul di ruang keluarga tanpa terkecuali Tn. Park dan Reivant yang sambil mengendong baby Carlissa. Karena ia sangat merindukan putri kecilnya itu, begitu juga sebaliknya dengan baby Carli yang tidak mau beranjak dari papanya sepulang dari kantor, sehingga semua mata tertuju pada dua makhluk yang asik bermain.
"Bagaimana meeting mu di kantor cabang Rey," tanya Tn Park pada Reivant.
"Seperti yang Dad tahu, tidak pernah mengecewakan ," jawab Reivant.
Tn. Park tersenyum bangga. Ia tahu Putranya akan selalu mengerjakan dengan baik dan akan menghasilkan sesuatu yang patut di banggakan. Memang putra kebanggaannya itu tak pernah mengecewakannya soal pekerjaan.
Aidyen turun dari lantai dua tepatnya dari kamarnya dengan wajah yang terlihat tegang namun menggemaskan, Reivant menyerngit kening penasaran. Ada apa dengan adik kecilnya itu, pasti ada sesuatu yang ingin ia bicarakan namun tak berani ia ungkapkan. Aidyen duduk di sebelah Reivant dan matanya terus menatap jari tangan dan kaki kakaknya.
Dari sana terlihat Brandon,Arthur dan juga Chaiden yang tampak semangat dan memberi dukungan pada Aidyen untuk semangat dalam menjalankan misi mereka. Sedangkan Ny.Park tampak tenang ia yakin bahwa misi mereka pasti gagal dan tak berjalan sesuai rencana.
Melihat adiknya yang tampak aneh,Reivant menatap Aidyen curiga.
"Ada apa, Den?"tanya Reivant curiga.
"oh,kak! Aidyen boleh meminjam tanganmu, kak?"ujar Aidyen ragu-ragu.
Tanpa berpikir Panjang Reivant menyodorkan tangannya yang lain kearah Aidyen, tapi tangan kecil Baby Carlissa menarik kembali tangan Papanya dan membuat Aidyen cemberut kesal, hampir saja misi mereka berhasil dan ketiga sejoli itu tampak kesal dan seolah tim bola yang didukung mereka kalah.
TBC.