
Reivant dan Shera berjalan juga menuju sofa, ruangan itu sangat besar jadi tidak masalah untuk mereka.
"Kenapa kamu tak mengabariku emm??."Tanya Reivant lagi pada Shera saat mereka sudah duduk.
"Aku tak punya Rencana untuk datang."Jawab Shera jujur,karena memang ia tak berencana.
"Tapi aku merindukanmu."Ujar Shera lagi hingga membuat Reivant Tersenyum dan Rena Terbatuk-batuk, hingga Danien memberinya air mineral gelas yang memang selalu tersedia disana.
Reivant berpikir tumben istrinya bisa dengan blak-blakan mengatakan jika merindukanya,( kemajuan nie).
"Bagaimana pemeriksaanmu tadi, apa kamu baik-baik saja??."Tanya Reivant dengan nada khawatir
"Aku sehat pa, sangat sehat bahkan."Ujar Shera pasti,
"Tapi aku ada hadiah untukmu."Lanjutnya lagi sambil mengeluarkan sebuah amplop dan memberikannya pada Reivant
Dengan bingungnya Reivant menerima amplop tersebut, ada perasaan takut akan hasil pemeriksaan istrinya, takut penyakit berbahaya, tapi jika ia melihat istrinya, wajahnya tampak berbinar dengan senyum cerah yang menghiasi bibir mungilnya.
Tanpa mau berpikir Panjang ia membuka amplop tersebut, tapi hatinya dag-digdug, dengan pelan Ia mengeluarkan selembar kertas disana, dan ia membaca dengan teliti setiap kata yang tertera di kertas tersebut hingga ia menemukan tulisan yang membuat ia tersenyum bahagia.
Dengan cepat ia memeluk istri mungilnya itu dengan ucapan terima kasih yang membuat Shera membalas pelukan suaminya.
Walaupun ini anak kedua setidaknya ia akan menjaganya dengan ketat kedepannya, ia tak mau istrinya mengalami hal seperti dulu.
Karena, hingga sekarang ia sangat menyesal saat istri mungil nya menderita sendiri saat hamil anak pertamanya, Carlissa Reivanette Park. untuk yang sekarang ia akan menjaga 24 jam.( ck ada bae lu Vant).
"Terima kasih sayang, terima kasih banyak."Ujar Reivant tanpa melepas pelukannya itu.
"Selamat ya kak, akhirnya ponaan cantiku punya adik lagi."Ujar Rena yang ikut tersenyum, melihat kedua suami istri yang sudah ia anggap kakaknya sendiri.Karena, ia anak tunggal.
"Jadi baby Cantikku punya adik nie, wahhh bahagianya, selamat ya kak."Akhirnya Danien mengerti apa yang membuat kakak pertamanya tadi mengucapkan terima kasih sebanyak itu.
"Kak Danien harusnya kita rayakan dong."Ujar Rena pada Danien.
Awalnya Danien merasa Rena anaknya SKSD tapi saat Rena memanggilnya dengan sebutan kakak, ia yakin anak ini baik dan tak menganggapnya lebih seperti kebanyakan wanita di luar sana.
"Itu ide bagus."Jawab Danien dan juga setuju dengan ide Rena.
"Kalian berdua ini, kita cukup mengucap syukur, jangan di buat pesta."Ujar Shera memberitahukan kepada kedua manusia itu.
"Baiklah tunggu baby boy lahir saja,baru kita rayakan."Ujar Rena asal ceplos
"Bagaimana kamu tahu jika itu baby boy, sedangkan kehamilan Shera masih awal??."Tanya Danien bingung
"Apa kak Danien mau taruhan dengan ku, aku dokter loh."Ujar Rena dengan gaya sok tengilnya itu, ya ia sedikit tomboy sebenarnya.
"Baiklah, apa taruhannya jika aku kalah."Jawab Danien tak mau kalah.
Tingkah kedua adiknya itu membuat Reivant hanya bisa mengeleng-gelangkan kepalanya tandanya ia pusing tapi dalam diam ia tersenyum bahagia.
"Traktir aku dalam sebulan kak, pake delivery aja, jika kakak kalah."Ujar Rena
"Tapi jika kakak menang, aku yang traktir."Ujar Rena lagi dengan wajah tengil nya.
Manusia berdua ini sangat konyol jika di lihat, baru kenal tapi seakan sudah akrab dan Danien juga sudah menganggap Rena adiknya yang tengil seperti Chaiden versi cewek.
"Sudah-sudah, sampai kapan kalian akan berdebat."Ujar Shera jadi penegah kedua manusia itu, ia juga heran dengan Danien yang biasanya cool sekarang malah cerewet.
"Kak, papa menyuruh Rena pulang nie."Ujar Rena menujukan Chat papanya yang menyuruhnya pulang,karena harus merawat ibunya yang stroke sudah beberapa tahun ini.
"Baiklah, pulang lah , sampaikan salam buat paman dan bibi ya."Ujar Shera dan ia juga mengucapkan terima kasih karena Rena sudah mau menemainnya.
"Ren, terima kasih ya, sudah menjadi adik yang baik untuk istri kecilku."Ujar Reivant juga
"Siap boss, kak Shera adalah saudaraku dan juga kakak tersayang ku."Jawab Rena dengan senyum nya dan berjalan keluar.
Sebelum keluar ia sempat mengatakan kalimat pada Danien, bahwa jangan lupa taruhan mereka yang di balas lambaian tangan dari Danien.
"Ck,,anak itu sungguh anak yang unik."Ujar Danien saat Rena sudah keluar.
"Ya begitulah, saya mengenalnya saat ia masih duduk di bangku SMA."Ujar Shera,
"Dia anak yang lincah dan baik, dan sedikit tomboy, dia salah satu adikku juga."Ujar Shera lagi
Flashback on
Shera baru pulang dari Rumah sakit, karena ia harus memulai pratikumnya disana dengan pelan ia memacu mobil tua peninggalan ayahnya menyusuri pinggiran jalan sempit itu, dan pinggir jalan itu tampak seorang gadis kecil berpakaian seragam SMA duduk menangis.
Entah apa yang membuat gadis kecil itu menangis, Shera merasa kasihan karena di luar juga sedang gerimis.
Ia menepikan mobilnya dan mengambil payung lipat di jok belakang yang sudah ia siapkan, perlahan ia membuka pintu mobil dan membuka payung nya, Shera berjalan ke arah remaja tersebut yang duduk menekuk dengan kepala yang bertumpu di kedua lututnya.
"Apa yang kamu lakukan hujan-hujan begini?." Tanya Shera sambil memayungi ia dan gadis SMA itu.
"Nanti kamu sakit loh."Lanjutnya lagi saat tak mendapat Respon dari anak itu
"Ka,,kamu siapa?." Tanya anak itu sambil mengangkat kepalanya melihat wanita yang berbicara padanya.
"Aku melihatmu duduk di tengah hujan begini, jadi aku menghampirimu."Ujar Shera lagi dengan senyuman.
"Aku bingung kak, mau pulang uangku kurang."Ujar Gadis itu jujur dengan mata yang berkaca-kaca. Tampak seperti gadis kecil yang sedang mengadu sesuatu pada ibunya.
"Mari kakak antar."Ujar Shera sambil membantu gadis remaja itu berdiri, sepertinya ia kesemutan karena terlalu lama menekukan kakinya, hingga ia berdiri agak kurang seimbang.
Dan Shera juga belum melepas jasnya saat pulang tadi, karena sebenarnya ia terburu-buru untuk masuk kerja di kafe, ya ia bekerja di kafe tersebut di mana nanti ia ketemu Reivant.
Ia kerja hanya untuk membantu orang-orang yang menurutnya kesulitan, karena sebenarnya ia selalu punya uang yang di kirimkan Rouwnd setiap bulannya walaupun banyak yang di pangkas.( korupsi nie si Rouwnd),dan sebenarnya uang itu tak pernah ia gunakan.
Shera dan gadis SMA itu berjalan menuju mobil, Shera membuka kan pintu sebelah kemudi menyuruh gadis itu masuk dan ia berjalan ke pintu kemudi.
"Kak mobilmu jadi basah."Ujar Anak itu merasa bersalah.
"Tak apa-apa, ini mobil tua, siapa namamu?." Ujar Shera dan bertanya nama anak itu.
"Nama saya Rena kak, Sharrena."Jawab anak bernama Rena itu.
Mobil yang membawa mereka berjalan dengan pelan dan bunyi perut Rena membuat Shera tersenyum anak itu lapar
"Kita makan dulu."Ujar Shera, dan menepikan mobilnya di kedai sederhana milik warga sekitar.
"Tapi kak, saya tidak punya uang." Jawab Rena sedikit ragu
"Kakak yang traktir."Jawab Shera dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajahnya.
"Nama saya Shera, panggil saja saya Kak Shera."Ujar Shera sambil mengenalkan namanya pada Gadis berseragam SMA yang bernama Sharrena itu.
Mereka masuk ke kedai itu dan duduk di salah satu meja yang kosong, pemiliknya datang dan menanyakan makanan apa yang mereka pesan, dan Shera menujuk beberapa menu yang mereka makan dan ia akan membungkusnya juga untuk anak itu nanti.
"Dimana orang tua mu?."Tanya Shera dengan hati-hati
"Ayah saya hanya seorang guru, ibu saya hanya pedagang sayur keliling kak."Ujar Rena menceritakan keluarganya,
"Saya anak kedua dari dua bersaudara, tapi kakak saya meninggal saat masih bayi."Lanjutnya nya lagi
Shera menatap dalam diam dan mendengar dengan seksama cerita Rena itu, ia merasa iba dengan anak itu.
"Apa kakak Dokter?."Tanya Rena saat melihat jas yang di pakai Shera.
"Kakak baru mahasiswa belum dokter, ini jas kakak pinjam dari teman kakak, karena baju kakak sedikit Kotor."Jawab Shera
"Wah aku juga mau kak, jadi dokter, supaya Rena bisa merawat kedua orang tua Rena nanti." Ujar Rena dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Jika seperti itu, berjanjilah sekolah yang rajin dan jangan seperti tadi, oke!."Ujar Shera.
"Iya kak, Rena Janji."Jawab Rena dengan semangat.
Jadi singkat cerita Shera lah yang membayar uang kuliah dari Rena karena saat Rena ingin melanjutkan kuliahnya.
Ibunya jatuh sakit dan gaji ayahnya tidak lah cukup untuk biaya kuliah Rena dan juga biaya Rumah sakit istrinya.
Jadilah Shera yang menyekolahkan Rena hingga ia menjadi dokter seperti sekarang ini dan karena itu Rena sudah menganggap Shera kakak kandungnya sendiri.
TBC.