
Reivant dan Brandon hanya menatap dalam diam kepada Stella, ya mereka tahu pasti perasaan gadis itu hancur saat mengetahui bagaimana papinya.
Apa yang mereka harus memberitahukan kepada Stella, bukan hanya papanya Shera yang menjadi korban dari papinya. Tapi, sahabatnya yang lain juga jadi korban termasuk tante kandung Reivant dan suaminya yang notabene adalah orang tua kandung Danien.
"Apa kamu masih belum percaya, Stella?"Tanya Reivant, ia ingin mengetahui sikap gadis itu setelah tahu tentang kelakuan papinya.
"Entahlah, aku benar-benar bingung saat ini, bagaimana ini bisa terjadi."Ujar Stella dengan tatapan mata yang kosong.
"Jika kamu masih belum percaya, kami bisa menujukan bukti lainnya."Ujar Reivant lagi dengan datarnya, untuk sekarang ia harus membuat gadis itu bisa keluar dari bayang-bayang papinya.
"Aku akan bertanya pada papi, tentang ini."Ujar Stella dan akan berjalan meninggalkan café tersebut, sebelum suara Reivant menyuruhnya untuk ikut mereka.
"Ikutlah pulang dengan kami Stella, tapi kita makan dulu."Ujar Reivant itu sudah cukup menghentikan langkah kaki Stella.
"Kenapa?."Tanya Stella bingung dan menatap Reivant masih dengan tatapan kosong dan masih belum percaya dengan apa yang di lakukan oleh Papinya.
"Duduklah, makanlah dulu sebelum aku menjelaskan semuanya."Ujar Reivant lagi dan gadis itu kembali mendudukan dirinya.
Stella hanya menatap makanan itu, sedikitpun itu ia tak menyentuhnya, pikirannya berkelana mengingat video yang di tunjukan oleh Brandon padanya tadi, jika itu hanya Rekayasa, namun sangat tidak mungkin karena jelas-jelas itu wajah kakaknya Shera dan maminya.
"Mom, apa aku salah selama ini pada kakak, aku menjadi adik yang tak berguna selama ini."Gumamnya dan menatap piring makanannya tanpa menyentuh sedikitpun makanan yang ada.
Sedangkan Reivant dan Brandon mereka tampak menikmati makanan yang sudah di hidangkan.
****
FLASHBACK ON
Pelayan yang tadi melayani Reivant tampak jalan tergesa-gesa mencari keberadaan managernya.
"Apa kamu melihat pak manager?."Tanya nya pada teman kerjanya.
"Di ruangnya, baru saja masuk."Jawab temannya bingung, karena temannya itu tampak tergesa-gesa.
Pelayan itu berjalan ke arah meja managernya yang hanya tersekat oleh dinding.
"Permisi pak, ini ada pesanan dari ruangan VIP."Ujarnya saat tiba di depan manager tersebut.
"Hei, apa kamu tidak punya tata karma."Jawab manager itu kesal.
"Maaf pak, tapi ini.."Ujar pelayan itu memberikan kertas pada managernya.
Manager tersebut menerima kertas itu masih dengan raut wajah kesalnya, hingga tiba-tiba ia berdiri dan berjalan dengan cepat menuju dapur, membuat pelayan itu bingung, karena ia baru bekerja disini.
FLASHBACK END
*****
"Makanlah Stella, semua pikiran mu butuh tenaga."Ujar Brandon yang melirik gadis itu hanya mengaduk-aduk makanannya.
"Aku tak lapar."Jawab Stella dengan muka malasnya.
"Hei, aku hanya berbicara sekali, berpikir juga membutuhkan tenaga, dan tenaga itu di hasilkan dari makanan."Ujar Brandon lagi, ia tampak kesal juga. (sabar Don)
"Baiklah!."Jawab Stella dan ia menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya.
Reivant hanya melirik saja, tanpa mau repot-repot untuk berbicara, ia merindukan istrinya dan anak-anaknya.
Setelah mereka selesai makan, Brandon memanggil pelayan tadi dan meminta billing untuk membayarkan makanan itu dan pelayan itu memberikan billnya, Brandon akhirnya pergi menuju kasir untuk membayar.
Mereka menuju ke arah parkiran, karena pak Yaya sudah tiba, tak lama Brandon mengabarinya untuk menjemput mereka ternyata pak Yaya sudah dalam perjalanan menuju café X.
"Stella, apa kamu membawa mobilmu?."Tanya Reivant, ia sedikit tak tega pada gadis itu, sepertinya gadis itu tampak melamun sedari tadi.
"Umm,,ya Rei, tadi aku membawa mobilku."Jawab Stella sedikit terkejut dari lamunannya.
"hmm, baiklah."Ujar Reivant dan ia menyuruh Brandon membawa mobil Stella, tampaknya gadis itu takkan fokus jika menyetir sendiri dan di balas anggukan dari Brandon karena ia juga tak tega.
"Baiklah Stella, Brandon yang akan menyetir untukmu."Ujar Reivant dan masuk ke mobilnya tanpa menunggu jawaban dari Stella.
Setelah Mobil yang di tumpangi Reivant berlalu, Stella hanya terdiam seakan menatap kosong di depannya itu.
"Mana kunci mobilmu?."Tanya Brandon dengan menepuk pundak Stella, karena sedari tadi gadis itu tidak merespon pertanyaannya.
"In,,ini.."Jawab Stella memberikan kunci mobilnya pada Brandon dan mengikuti Brandon menuju mobilnya.
Saat dalam mobil, Brandon hanya melirik adik dari kakak iparnya itu, gadis itu tampak lebih banyak diam sejak tadi, apa mereka salah memberikan video itu, tapi itu memang harus di lakukan.
Agar Stella bisa membuka matanya siapa ayahnya sebenarnya, walaupun Rouwnd seorang yang jahat, tapi ia tetaplah ayah buat anaknya.
"Kita akan ke rumah kami, jadi aku harap kamu tidak akan berbuat sesuatu yang salah."Ujar Brandon memecah kesunyian di dalam mobil.
"Iya, maaf."Ujar Stella.
"Hei, kau meminta maaf untuk apa?". Tanya Brandon bingung.
"Maaf karena papiku."Ujarnya lagi.
"Itu kau katakan pada kakakmu Shera dan keluarga besar saja, ok."Jawab Brandon
****
Sebuah Jet Pribadi mendarat di bandara, setelah tadi sudah mendapatkan perijinan dari pihak bandara.
Hal itu sempat membuat kedua kakek tersebut heran, tapi Rayn menyakinkan mereka untuk datang.
"Selamat datang kakek."Ujar Rayn yang datang menjemput kedua kakeknya dan pamannya.
"Dasar anak nakal, apa yang membuatmu menelpon kami untuk datang kemari."Ujar kakek Aharon sambil menjewer telinga cucunya itu.
"Aww,, ini sakit kakek."Ujar Rayn sambil menujuk telingannya yang di jewer kakeknya itu.
"Apa kamu akan menikah, Rayn?."Tanya kakek Wilson pada cucunya itu.
"Iss,,,kakek, Rayn belum punya pacar, jadi bagaimana aku akan menikah."Ujarnya, sedangkan paman Billy hanya bisa tertawa dengan kelakuan mereka.
Mereka berjalan menuju mobil limonsin milik Rayn yang di siapkan untuk menjemput kedua kakeknya dan pamanya.
"Intinya aku akan mengenalkan kakek pada seorang yang sangat special." Ujar Rayn pada kakek Wilson
"Oh benarkah, kakek tidak sabar untuk itu."Ujar kakek Wilson dengan sedikit bersemangat.
Kakek Wilson dan kakek Aharon dulu pernah tinggal di kota ini, saat itu bersama sahabatnya.
Tapi, itu dulu beberapa puluh tahun yang lalu, dan hari ini mereka menginjakan kaki mereka di kota ini lagi, kota yang membawa banyak kenangan untuk mereka.
"Ternyata sudah banyak berubah kota ini."Ujar kakek Aharon saat mobil yang membawa mereka membelah jalan kota B.
"Iya, benar katamu, Ron."Ujar Kakek Wilson yang ikut melihat sekitar.
"Dimana rumah mu, Rayn?"Tanya kakek Aharon, karena ia memang tahu Rayn punya rumah di sini.
"Sebentar lagi sampai kakek."Ujar Rayn pada kakeknya.
"Apakah Rachel dan cicitku ada di rumah mu, Rayn."Tanya Kakek Aharon lagi.
"Iya mereka tinggal Bersama Rayn kek, Axell juga sangat merindukan kalian"Ujar Rayn lagi.
"Paman Billy, kapan paman akan menikah?"Tanya Rayn pada pamannya.
"Ck, kapan-kapan saja."Jawab paman Billy asal.
"Ck, paman Sudah tua, bagaimana jika nanti saat paman menikah dan punya anak, anak paman akan memanggil paman dengan sebutan kakek."Ujar Rayn menggoda Paman nya, sambil tertawa.
"Dasar, paman tidak akan menikah."Ujar paman billy lagi.
Sebenarnya, dulu ia pernah punya pacar tapi wanita itu pergi meninggalkannya bersama pria lain dan itu membuat paman billy tidak mau menikah.
"Nah, kita sampai."Ujar Rayn, saat mereka tiba di rumahnya.
"Wah rumah mu besar sekali, Rayn."Ujar Billy, tapi masih besar rumah ayah Aharon.
Mereka keluar dari mobil dengan pelan kakek Aharon turun di bantu oleh Rayn, sedangkan kakek Wilson dengan Billy anaknya.
"Eyang.. " Teriak Axell saat melihat kedua Eyangnya datang, ya, ia juga sangat menyanyangi kakek Wilson.
"Axell, cicit Eyang sudah besar sekarang."Ujar Kakek Aharon pada cicitnya itu.
"Mana ibu mu, sayang?"Tanya kakek Aharon pada Axell.
"Mommy ada di dapur Eyang, katanya mau siapin makan malam buat kita."Jawab Axell dan menggandeng tangan Kakek Aharon.
"Kakek, Paman istirahat lah."Ujar Rayn pada Kakek Wilson dan paman Billy.
"Iya Rayn, kakek istirahat dulu."Ujar kakek Wilson.
Akhirnya kakek Wilson masuk ke kamarnya di antar oleh paman Billy, karena usia ayahnya yang sudah sangat renta di tambah perjalanan yang jauh tadi.
Sepeninggal kakek Aharon dan kakek Wilson, Rayn langsung menghubungi Reivant, ia memberitahukan jika kedua Kakek sudah tiba dan sudah ada di rumahnya, yang di balas Reivant jika besok ia ingin bertemu dengan kedua kakek itu dan langsung membahas tentang Papa Arnold anak dari kakek Wilson.
TBC
Hay-hay.
hmmmm,,Kali ini spesial pict,siapa yah?
.
.
.
.
.
.
.
.
hmmmm,,Paman Chaiden Park