PRINCESS DADDY'S

PRINCESS DADDY'S
156. Holla,,, I'm Back dengan New Part.



Danien sudah keluar dari Rumah sakit tersebut, dia menuju kediaman Devi, entah lah apa yang membuat ia kesana. Apakah karena rasa kasian ataukah rasa sayangnya pada wanita itu, ia juga bingung (Lu bingung, apalagi author ).


Akhirnya dia tiba juga di rumah mungil milik Devi, ia keluar dari mobil mewahnya dan berjalan ke arah rumah mungil itu, disana ia berdiri di depan rumah itu, ada seorang ibu yang melihat seorang pria Tampan dan tampaknya kaya.


"Maaf mas, cari mba Devi yah?."Tanya seorang ibu-ibu, lebih tepatnya tetangga Devi, penjaga panti asuhan.


"Iya,,"Danien menjawab dengan singkat.


"Tunggu mas, saya panggil orangnya dulu."Ujar ibu itu lagi, dan ia mengetuk pintu rumah Devi.


Tak berapa lama pintu rumah mungil itu terbuka, seorang wanita keluar dari rumah mungil itu dan menatap tetangga yang sudah begitu dekat dan seperti keluarga bagi dia.


"Eh ibu, ada apa?."Tanya Devi setelah dia membuka pintu dan melihat tetangganya.


"Ada yang cariin kamu, nak."Ujar Ibu Mir sambil menujuk keberadaan Danien.


"Eh Pak, eh,,"Sapa Devi bingung karena Danien datang ke rumah kumuhnya itu.


"Boleh bicara sebentar."Ujar Danien dan menelengkan kepalanya, mengkode Devi untuk ikut dengannya.


"Iya, tunggu sebentar."Ujar Devi dan ia masuk lagi untuk berganti pakaian.


"Nak, pacarnya Devi ya?."Tanya Ibu Mir todepoint.


"Ya bu."Ujar Danien singkat dengan senyum tipis di bibirnya pada ibu tersebut.


"Jaga nak Devi ya mas, dia anak Yatim piatu."Ujar Ibu itu dan di balas anggukan oleh Danien.


Tak berapa lama Devi keluar dengan baju yang lebih baik dan tetap sopan, Danien hanya tersenyum tipis melihat penampilan sederhana sekertarisnya itu, sangatlah berbeda saat dirinya di kantor.


"Bu, Evi pergi dulu."Ujar Devi pada ibu yang memang ia yang selalu menemani Devi, semenjak Ibu kandung Devi pergi saat Devi masih duduk di sekolah menegah atas.


"Baiklah hati-hati ya nak."Ujar ibu Mir dan menatap kepergian kedua anak muda itu.


Danien masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi, tak lama Devi masuk dan duduk di sampingnya.


"Kita mau kemana."Tanya Devi bingung, karena seharusnya Danien di kantor jam segini.


"Mauku, kau mendengarkan ku, Dev."Ujar Danien, itu bukan sebuah pertanyaan tapi lebih tepat sebuah perintah.


"Kenapa?."Tanya Devi bingung


"Jangan pernah kamu sembunyikan lagi Dev, aku sudah tahu." Danien menatap lurus kedepan dan bahkan tidak melihat kearah Devi.


"Apa,, apa yang kamu ketahui?."Tanya Devi gugup, namun dia berusaha untuk tetap tenang di depan atasan yang juga kekasihnya itu. Yah,, seperti itulah hubungan ambigu mereka yang masih diragukan oleh Devi.


"Keadaanmu, kondisi mu saat ini."Ujar Danien dan menatap Devi singkat.


"Hm, aku ingin kita akhiri saja sampai sini."Ujar Devi, memalingkan wajahnya dan tak ingin melihat wajah pria itu.


"Siapa yang mengijikan mu untuk mengatakan itu, kamu.." Perkataan Danien terpotong, Pria itu menghela nafas dengan kasar.


"Tapi kondisi ku saat ini, sangat tidak memungkinkan untuk terus melanjutkan hubungan ini, Dan."Ujar Devi lemas, Sejujurnya disisi lain Devi tidak ini semua berakhir, dia baru saja merasakan kebahagian bersama pria yang dicintainya.


"Jalani, aku akan menemani mu berobat hingga sembuh."Ujar Danien menyakinkan Devi


"Tapi..."Ujar Devi terpotong lagi karena Danien memberhentikan mobilnya di pinggir jalan dan menatap ke arah wanita itu.


"Aku ingin membahagianmu."Ujar Danien, (walaupun aku harus merelakan kebahagiaanku),,"Lanjutnya di dalam hatinya, dan menatap Devi intens hingga membuat wanita itu tak bisa berkutik.


"Tapi aku sakit Dan, aku sakit."Ujar Devi dengan tangisnya yang sudah tidak tertahan lagi.


"Shutt,, jadi, mau kan kamu menjalani pengobatan."Ujar Danien, bertanya pada wanita muda di sampingnya itu.


"Iya aku mau."Jawab Devi, walaupun ia merasa hanya sia-sia tapi, setidaknya ia merasakan sedikit kebahagiaan.


Mobil yang membawa kedua pasangan itu menuju ke sebuah Restoran dengan menu makanan lokal terdekat untuk makan siang, karena sekarang sudah waktunya untuk itu.


Mobil mereka terparkir rapi di halaman luas resto tersebut, Danien dan Devi keluar dari mobil dan berjalan ke restoran.


Mereka berdua masuk kesana, dan mengambil tempat duduk yang agak sedikit ke pojokan dengan view yang berhadapan dengan danau buatan yang indah.


Seorang pelayan datang dengan buku menu di tangannya, ia mempersilahkan tamunya untuk memilih makanan mereka.


"Apa makanan Rekomended disini?."Tanya Danien pada pelayan itu.


"Ada banyak pilihan tuan, tapi yang paling rekomend disini ayam asam manis dan Gurame bakar dengan bumbu special dari nyonya pemilik resto."Ujar Pelayan tersebut dengan senyum menawarkan makanan tersebut.


"Baiklah, pesankan itu untuk dua porsi, tapi jangan pedas."Ujar Danien


"Baik Tuan, untuk minumnya?."Ujar Pelayan tersebut dan bertanya.


"Dev, kamu minum apa?."Tanya Danien pada wanita di depannya itu


"Aku minum ice lemon tea saja."Ujar Devi pada pelayan tersebut yang menatap Danien seolah bertanya tuan minum apa.


"Air putih saja."Ujar Danien yang tahu maksud tatapan pelayan tersebut. jawaban Danien membuat pelayan tersebut sempat diam, mungkin ia berpikir ini orang hanya minum air putih.


Mereka tidak tahu saja jika anak-anak tuan dan Ny.Park bukan tipe yang suka neko-neko dengan makanan dan minuman.


*****


Skipppp....


Berbeda di tempat lain tampak seorang pria muda yang sangat fokus ke layar Komputer tanpa berkedip sedikitpun.


"Mike.. Kau sudah memainkan game ini berkali-kali. Apakah kau tidak bosan?". Tegur Seorang gadis muda kepada Tuan muda keenam Park itu.


"Shutt,,, Diam Chel. Aku hampir menang, Yak Harld berikan aku jalan." Ujar Mike kepada Harld yang ada di sampingnya.


"Aku sudah memberimu jalan dari tadi. Apa yang kau lakukan di area itu, Bodoh." Umpat Harld dan membuat Chelsea yang dari tadi menemani kedua sahabatnya itu hanya bisa tertawa.


Ya, secara Michael adalah sahabat Chelsea, maka Harld juga sudah menjadi Sahabat Chelsea juga. Karena, mereka bertiga tampak begitu dekat dan akrab.


"Aku tidak habis pikir. Baru kali ini aku mendengar Tuan Muda Aharon mengumpat Tuan muda Park. Hahaha,  ini sangat lucu." Ujar Chelsea dengan terus menertawai kedua pria itu.


"Chel,, kecilkan suaramu. Aku tidak bisa fokus." Ujar Harld dan membuat Chelsea mengatup bibirnya rapat. Tapi, wajahnya merah menahan tawa.


"Michael Park ada yang mencarimu." Ujar Seorang pria yang mungkin salah satu anggota team mereka.


"Siapa?". Tanya Michael kepada Harld dan juga Chelsea. Tapi, mata tidak beralih dari layar PC nya.


Kedua manusia itu hanya bisa mengangkat bahu mengatakan bahwa mereka tidak tahu. Michael melepaskan Headphone nya dan berjalan kearah ruang tamu, diikuti oleh kedua sahabatnya tentunya.


Disana tampak berdiri dua pria muda dengan pakaian yang tampak santai tapi terlihat formal dan menawan tentunya.


"Kakak.. Apa yang kakak lakukan disini?". Tanya Michael dan menyapa kedua pria itu yang tak lain adalah kembar Park.


"Tentunya saja kami mengunjungi mu, karena aku sangat merindukan adikku ini." Ujar Arthur dan merentangkan tangannya seolah ingin memeluk adik keenamnya itu.


"Aku baru beberapa hari ini disini. Tapi tingkahmu kak, seperti aku sudah bertahun-tahun disini." Ujar Michael dan berjalan kearah Kakak ketiganya.


"Ck,, dasar adik jahat." Umpat Arthur dan mengacak rambut adik keenamnya yang berjalan di sampingnya.


Tak lama muncul Harld dan juga Chelsea yang langsung dibuat takjub dengan kakak ketiga Sahabatnya itu.


"Siang kak." Sapa Harld.


"Siang juga adikku yang ganteng." Ujar Arthur mendrama dan memeluk Harld.


Pria kecil itu hanya bisa diam dan pasrah menghadapi dramatis nya Kakak kelima Michael itu.


"Siang Kak." Sapa Chelsea dan terus menatap Chaiden terpesona.


"Siang. Siapa namamu gadis kecil." Tanya Arthur dan menatap lekat wajah Chelsea.


"Siapa namamu Kak. Apakah kita bisa berkenalan, namaku Chelsea." Ujar Chelsea dan berjalan kearah Chaiden. Arthur menatap kesal kearah adik-adik kecilnya yang terus mengabaikan keberadaannya, beruntungnya ada Harld yang masih menganggap keberadaannya.


"Namaku Chaiden, Kakak ketiga Michael." Jawab Chaiden dengan senyum di wajahnya.


"Ahhh,, Michael tak pernah menceritakan bahwa dia memiliki kakak setampan ini." Gumam Chelsea pelan dan masih bisa di dengar oleh Michael.


"Sebelumnya kau semakin menyukai kakak ketiga ku. Aku peringatkan kepada mu untuk tidak boleh lebih berharap, karena dia sudah memiliki Tunangan." Bisik Michael dan membuat Chelsea menatapnya tak percaya.


Gagal sudah harapannya. Memang benar, tidak mungkin pria setampan itu belum memiliki pasangan. Wanita itu sangatlah beruntung karena bisa menjadi pasangan dari pria yang kini berdiri di hadapannya.


Arthur yang merasa di abaikan kini berjalan kearah Chelsea dan menarik tangan gadis kecil itu.


"Perkenalkan Nama saya Arthur Park Kakak kelima Michael." Ujar Arthur dan melepaskan tangan Chelsea dengan wajah kesal yang dibuatnya agar mendapatkan perhatian.


"O. Baiklah. Mike aku kembali ke ruangan dulu, karena ada yang belum aku kerjakan. Kak Chaiden, Chelsea pamit dulu." Ujar Chelsea dan hanya berpamitan pada Chaiden.


"Wah,, baru kali ini aku di abaikan oleh seorang wanita dan wanita itu hanyalah gadis kecil ingusan." Ujar Arthur yang tidak percaya dengan apa yang di alaminya saat itu.


"Apakah kau menyukai Chelsea, Kak?." Tanya Harld todepoin.


"Hah. Aku tidak segila itu untuk menyukai anak di bawah umur." Jawab Arthur.


"Mulut bisa berbohong tapi tidak dengan Hati." Jawab Harld dan pamit masuk kembali ke ruang latihan mereka.


"Ck,,, tidak heran kalau dia adalah keturunan Aharon." Ujar Arthur yang hanya bisa menghela nafas kesal.


Chaiden hanya tersenyum dengan tingkah konyol adiknya itu. Mungkin yang di katakan Harld ada benarnya juga, karena baru kali ini Chaiden melihat adiknya yang inisiatif memperkenalkan dirinya kepada seorang gadis, dan berusaha menarik perhatian gadis itu.


Bisa saja Kalau Arthur menyukai Gadis kecil Ingusan seperti yang di katakanya tadi. Tapi, dia sedang menyangkal perkataannya, untuk menutupi harga dirinya yang sudah tersakiti.


TBC.


*Holla,, i'm back dengan new chapter. Maafkan aku yang sudah sekian abad menghilang,, ah sepertinya kakak-kakak readers sudah melupakan aku dan juga ceritaku. Tidak apa-apa kali ini aku akan terus menyapa kalian dengan kelanjutan cerita yang semakin menarik. Ikuti terus cerita ini yah..


Terima kasih😊🙏🙏*