PRINCESS DADDY'S

PRINCESS DADDY'S
144. Kantor Danien



Hal yang sama yang di lakukan oleh kedua kakak beradik di Yunna Entr. Siapa lagi jika bukan Chaiden dan Arthur yang baru tiba, karena tadi mereka melihat proses pembuatan iklan mobil sport keluaran terbaru.


"Wah kak, kakak benar-benar hebat bisa melakukan itu semua."Ujar Arthur bangga akan kakaknya itu


"Hmm, itu baru permulaan Ar."Ujar Chaiden dengan santainya


Ia baru duduk di kursi kebesarannya, saat Anna datang membawa beberapa laporan yang harus di periksa dan tanda tangan.


"Pagi pak."Sapa Anna sopan


"Pagi,,"Jawab Chaiden


"Pagi kak Anna."Ujar Arthur dan di balas senyuman dari Anna.


"Ini beberapa laporan yang harus pak Kai dan pak Arthur periksa Kembali."Ujar Anna dan menunjukkan beberapa berkas itu.


"Baiklah, letakan disana saja."Ujar Chaiden menujuk meja sofa


"Oh ya Pak, saya bisa ijin sebentar, hari ini anak saya ada pentas seni, harus ada orang tua."Ujar Anna sedikit ragu


"Jam berapa??."Tanya Chaiden, ia paham hanya ingin sekedar bertanya saja.


"Jam 10 pak."Jawab Anna pelan


"Dimana anakmu sekolah kak?."Tanya Arthur yang penasaran


"Di Tk Saint Angel Pak."Jawab Anna


"Ha, itukan Tk tempat Axell sekolah."Ujar Chaiden, ya karena ia pernah menjemput Axell tempo itu.


"Axell Aharon ya pak?."Tanya Anna, ya ia tahu anak itu adalah teman anaknya Leon, karena ia pernah bertemu dan berkenalan dengan anak tampan itu.


"Lah kamu kenal?."Tanya Chaiden lagi


"Iya pak, Axell dan anak saya Leon sahabatan."Cerita Anna dan membuat kedua pemuda itu manggut-manggut tanda mengerti dan Anna pamit keluar dari ruangan bossnya.


"Berarti kak Rachel juga ke sekolah dong."Gumam Chaiden dan ia mengambil ponselnya dan mendial nomor telpon Rachel.


"Hallo,,"Sapa Rachel dari line sebelah


"Kak Chell, hari ini ke sekolah Ell ya,,"Tanya Chaiden todepoint


"Oh iya lupa, ya jam segitu lagi ada meeting sama pemimpin dari kota M,,"Ujar Rachel dengan rasa bersalah pada anaknya tentunya. Axell tak pernah meminta ia ataupun kakaknya untuk kesekolahnya, karena Axell sangat mengerti mommy dan papinya,.


"Ya udah, biar aku sama Rena yang kesekolah, semoga ia bisa,,"Ujar Chaiden karena ia sangat menyayangi ponaannya itu


"Terima kasih Kai,,"Balas Rachel dan sambungan terputus


Setelah menutup telponnya, Chaiden menatap Arthur yang tampak sibuk dengan laporan di tangannya.


"Ar, hari ini kita tidak ada meeting kan?."Tanya Chaiden


"Emm, sepertinya gak ada kak, kenapa?."Ujar Arthur dan bertanya


"Kakak ingin kesekolahnya Axell jam 10 nanti."Ujar Chaiden


"Kamu bisakan Menghandel sebentar, kakak ingin menemani baby boy, kasian, kak Rachel ada meeting hari ini."Ujar Chaiden sambil menatap adiknya itu.


"Oh baiklah, percayalah, adikmu yang tampan ini sangat bisa di andalkan."Balas Arthur dengan tingkat kepedean yang tinggi.


Chaiden hanya mengelengkan kepalanya tandanya pasrah dengan tingkah adiknya, padahal ia juga sama.


Chaiden mengambil Kembali ponsel yang ia letakan di atas meja kerjannya tadi, dan mendial nomor kekasihnya. semoga saja kekasihnya tak sibuk


Panggilan terhubung dan tak berapa lama terdengar suara merdu yang sangat di rindukan oleh Chaiden, ya itu Sharrena.


Chaiden menanyakan pada kekaksihnya apa ia punya waktu jam 10 nanti, dan Rena mengatakan ia kebetulan tidak ada operasi jadi ia bisa menemani pujaan hatinya itu dengan senang Chaiden mengatakan menjemputnya bersama Anna, ya ia berniat mengajak Anna untuk pergi bersama.


***Park Company**


Rachel berjalan dengan pelan menuju ke arah ruangan Danien, ia berusaha menekan perasaan yang berkecamuk dalam hatinya, ingin rasanya ia menolak tapi ia tak mungkin melakukannya, karena ia memikirkan sahabatnya juga Reivant.


Rachel keluar dari lift yang tadi mengatarkannya langung ke ruangan Danien, pintu lift terbuka, dengan anggun tentunya Rachel berjalan menuju meja sekertaris Danien yaitu Devi.


"Pagi,,"Sapa Rachel, karena Devi masih sibuk dengan pekerjaannya hingga ia tak menyadari keberadaan sekertaris Brandon tersebut.


"Pagi Bu."Balas Devi yang kaget saat mendengar suara seorang yang menyapanya itu.


"Hm..."Rachel hanya berdehem


"Ada yang bisa di bantu bu?."Tanya Devi dengan sopan, ya Ia tahu wanita di depannnya itu adalah sekertaris Brandon dan Ia juga pernah dengar dari Agatha jika sekertaris Brandon itu adalah sahabat Atasan mereka Tuan Reivant.


"Saya datang karena di minta oleh atasanmu untuk meeting Bersama."Ujar Rachel dengan senyum di bibirnya.


"Baik bu, silahkan saya antar ke ruangan pak Danien."Balas Devi sopan, ya iya belum tahu saja jika Rachel adalah manusia paling kocak.


Akhirnya mereka berjalan menuju pintu ruangan Danien, dan Devi mengetuk pintu itu hingga terdengar suara yang menyuruh masuk.


"Pagi pak."Sapa Devi sopan pada atasan sekaligus kekasihnya itu.


"Iya, apa Rachel sudah datang?."Ujar Danien dan bertanya dengan mata yang masih tertuju pada laptopnya.


"Pagi,,"Sapa Rachel, entah ia jadi kelu sendiri di hadapan pria tampan itu, tadi ia melihat tatapan Devi pada Danien tersirat rasa rindu dalam mata itu.


"Pagi Chell,,"Balas Danien dan ada sesuatu dalam tatapan mata Danien pada wanita muda itu, dan itu terpantau oleh Devi.


"Maaf aku memanggilmu, karena sepertinya kamu mengerti bidang yang mereka ajukan untuk kerjasama ini."Ujar Danien seolah bersalah, tapi sebenarnya ada kebahagiaan dalam hatinya.


"It's ok, oh ya apa kamu akan di temani tiga sekertaris hari ini."Ujar Rachel sambil bercanda dan melirik pada Devi yang tadi keluar dan baru saja masuk Kembali membawa minuman.


"Tidak, aku hanya di temani kamu dan Agatha, karena kak Rei menemani Shera untuk periksa kandungan."Ujar Danien


"Dev, apa laporan yang kamu cek sudah selesai?."Tanya Danien lagi pada sekertarisnya itu


"Iya pak, saya akan ambilkan."Jawab Devi dan berlalu keluar dari ruangan Danien untuk mengambil laporan itu.


Rachel menatap Devi dan Danien bergantian dan membuat Danien mengangkat wajahnya menatap wanita yang kini sedang berdiri di hadapannya. Danien hanya bisa mengusap dadanya sabar, mengapa Rachel bisa terus berdiri di hadapannya.


"Chel, mau sampai kapan kau akan berdiri disana, duduklah ada yang ingin ku bahas denganmu." Ujar Danien.


"Ah,,benar. Kakiku benar-benar pegal, bagaimana bisa hari ini aku harus memakai sepatu ini, jika saja Gavin tidak memintanya tidak akan pernah ku kenakan sepatu ini." Ujar Rachel dan membuat Danien melirik kearah sepatu yang menganggu pikirannya itu.


"Sepatu itu sangat tidak cocok di kakimu, Chell." Ujar Danien sambil menatap layer ipadnya.


"Tapi, ini sangat cantik. Gavin tidak salah memilihnya. Astaga, kenapa kita harus membahas soal sepatu ini. Katakan apa yang perlu kita bahas." Ujar Rachel dan duduk di kursi yang ada di depan meja Kerja Danien.


"Aku rasa proposal ini sangat bagus dan harus butuh revisi sedikit darimu, Chell. Makanya butuh bantuanmu disini." Ujar Danien dan menatap lekat wajah Rachel yang tampak serius membaca proposal kerja sama itu.


Tak lama Devi masuk membawa laporan yang di minta oleh atasannya tadi, Devi melihat tatapan Danien yang begitu dalam dan sulit di artikan kearah Rachel. Tapi, Devi berusaha menyingkirkan pikiran konyolnya.


"Permisi Pak, ini laporan yang tadi bapak minta." Ujar Devi dan membuat Danien sedikit gelagapan melihat kearahnya.


Rachel hanya melihat kearah Devi dengan sedikit tersenyum, Wanita itu Kembali sibuk membaca proposal kerja sama dengan serius.


"Dan,, proposal ini sangat bagus dan aku yakin ini akan menjadi kerja sama yang saling menguntungkan." Ujar Rachel.


Devi menatap Rachel yang tampak leluasa dan santainya berbicara dengan Danien, bahkan memanggil Danien dengan namanya langsung tanpa ada embel-embel Kata,"PAK."


Danien pun mengangguk setuju, tanpa menunggu lama Devi pamit permisi dari ruangan Kembali melanjutkan pekerjaannya dan terus berusaha menyingkirkan pikirannya konyol. Tak lama Agatha datang dengan beberapa proposal.


"Dev, apa pak Danien ada?".Tanya Agatha dan membuat Devi menatapnya.


"Ada di dalam Bersama sekretaris Pak Brandon." Ujar Devi dan menyambut Agatha dengan senyum.


"Baiklah Dev. Dev, apa kamu baik-baik saja?." Tanya Agatha dan memperhatikan wajah Devi.


"Aku baik-baik saja, Sana Masuklah mereka menunggu berkas itu." Ujar Devi dan Agatha pamit pergi.


Agatha sempat berbalik dan menatap Devi, sepertinya ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Sahabat sekaligus saudara baginya, tapi Agatha memilih untuk memikirkan pekerjaannya dulu, nanti baru dia berbicara dengan Devi jika sudah jam istirahat.


TBC.