
Harld sedari tadi sibuk dengan data yang ada dalam CD tersebut, yang ternyata itu adalah rekaman percakapan.
"Kak sepertinya ini seperti rekaman percakapan."Ujar Harld yang membuat semua mata menatapnya.
"Buka percakapan itu, Harld."Ujar Reivant, karena ia tahu pasti anak itu menunggu persetujuan dari Reivant.
"Baik kak."Jawab Harld dan ia mulai memplay salah satu track record.
*****
"Aku ingin semua perusahan mu, Arnold dan juga perusahaan Ramons."Terdengar suara Rouwnd yang berbicara entah dengan siapa.
"Apa kamu gila Wond, apa kamu benar - benar tak menganggap kami sahabatmu lagi?. Aku, Arnold, dan Ramons."Ujar Suara itu yang tak lain adalah ayah Gavin/Max yaitu tuan Alexander Han.
"Kamu terlalu naif Alex, apa selama ini aku benar-benar tulus pada kalian, jawabannya tidak!."Ujar Rouwnd
"Aku, sedari awal kuliah berteman dengan kalian karena kalian pintar."Lanjut Rouwnd lagi dengan kekehan.
"Apa kami kurang baik padamu wond, atau kami terlalu bodoh untuk mengenal musuh dalam selimut."Ujar Alex dengan nada marah.
"Aku ingin mengajakmu bekerja sama, jika kamu ingin selamat."Ujar Rouwnd dengan nada mengancam.
"Apa kamu ingin menghabisiku, jika aku menolaknya?."Tanya Alex memancing Rouwnd
"Mungkin bukan hanya kamu, tapi juga kedua teman idiot mu itu, mereka sangat bodoh sampai tidak sadar jika selama ini telah ku permainkan."Ujar Rouwnd dengan tertawa.
"Ah, seharusnya Ramons sudah mati beberapa tahun yang lalu, tapi ternyata Tuhan masih sayang pada dirinya, sebagai gantinya malah adik iparnya yang mati."Ujar Rouwnd dengan helaan nafas yang seolah menyesal. entah karena menyesal salah target.
"Maksud kamu apa Wond, apa kamu dalang di balik kecelakaan mobil Ramons yang di kendarai oleh adik iparnya?."Tanya Alex mengulangi terkataan Rouwnd.
"Mungkin, aku sendiri tidak tahu."Jawab Rouwnd dengan rasa bersalah, namun dalam sela perkataannya ada tawa yang seolah mengejek.
Rouwnd tak menyadari jika percakapan mereka di rekam oleh Tn. Alex, entahlah Alex merasa jika percakapan ini bisa menjadi bukti kejahatan Rouwnd dan ia juga akan menyeret Rouwnd ke penjara dengan ini.
"Dan kamu tahu bukan, jika aku menyukai Christella, tapi aku sangat membenci kenyataan itu."Ujar Rouwnd lagi
"Sadar Wond, kita sahabat sudah lama, susah senang sudah kita lewati Bersama, apa lagi yang kurang?."Tanya Alex berusaha menyadarkan sahabatnya itu.
"Dan juga Cristella sudah menikah dengan Arnold."Ujar Alex kembali menyadarkan sahabatnya itu pada kenyataan.
"Aku membenci kalian, karena usaha kalian berkembang pesat, sedangkan aku, hanya sebagai kacung saja."Ujar Rouwnd marah.
"Siapa yang menganggapmu begitu, bahkan selama ini kami juga membantu perusahaan mu."Jawab Alex, tak habis pikir dengan temannya itu.
"Kita tunggu saja."Ujar Rouwnd dan keluar serta terdengar bantingan pintu.
"Hufff,,kenapa ia jadi berubah, sepertinya aku harus memberitahu Arnold dan Ramons."Gumam Tn.Alex.
Dan percakapan terhenti sampai disitu
******
"Oh my God, aku tak menyangka jika paman Rouwnd manusia terkejam, selama ini aku menganggap ia sangat baik, ternyata ada yang terselubung."Ujar Brandon Panjang lebar.
"Iya Don, kakak juga tidak menyangka, ia sangat baik dalam menutupi kejahatannya selama bertahun-tahun."Jawab Reivant
"Tapi itu tidak akan bertahan lama lagi,,"Lanjut Reivant dengan nada marahnya.
"Tunggu, menurut kesimpulanku disini, itu tadi Rouwnd menyebut nama Alex, apa itu Alexander Han, ayah dari Gavin Alexander." Ujar Rayn yang menyimak dengan detail percakapan itu
"Bisa jadi Re, karena, mereka berempat sahabat selama kuliah hingga membuka usaha Bersama."Jawab Reivant sambil berpikir, ia harus bertanya pada ayahnya tentang hal ini nanti.
"Bisa jadi, Rouwnd membalikan Fakta tentang kematian kedua orang tua Gavin, Seolah yang membunuh mereka itu Daddy, karena hanya Daddy yang bertahan hingga saat ini." Ujar Brandon memberi pendapatnya.
"Hmm,,kita harus menyelidiki lebih lanjut, jika memang kematian kedua orang tua Gavin juga adalah perbuatan Rouwnd, kita harus bisa menarik Gavin ke sisi kita dan membuat dia bekerja sama dengan kita."Ujar Reivant.
"Dan, aku tahu kamu paling terpukul disini, tapi kakak akan menegakan keadilan buat paman dan bibi juga, Rouwnd harus menerima ganjaran yang setimpal."Lanjut Reivant lagi pada adik keduanya itu dan Danien hanya mengangguk menanggapi perkataan kakak pertamanya.
"Paman Rouwnd sangat kejam."Ujar Arthur yang sedari tadi hanya diam.
"Baiklah sekarang kita harus mengumpulkan semua bukti ini menjadi satu."Ujar Reivant
"Re, kami kembali dulu ke kantor, jika kakek berdua dan paman Billy sudah tiba, telpon aku."Ujar Reivant pada sahabatnya itu yang di balas anggukan dari Rayn/Rare.
"Baiklah, hati-hati di jalan." Ujar Rayn/Rare dan mengantar sahabatnya Reivant dan adik-adiknya kedepan pintu ruangannya.
Karena, dia tidak bisa mengantar mereka kebawah, karena Reivant melarang dirinya untuk mengantar mereka.
****
Sejak pulang dari kantor Rayn. Reivant, Danien, Brandon dan Arthur sibuk dengan urusan masing-masing, sekarang mereka menyiapkan semua bukti kejahatan Rouwnd untuk bisa menyeretnya ke pengadilan dan penjara tentunya.
Biar bagaimana pun Stella adalah adik kandung Shera, setidaknya mereka harus menarik Stella untuk menyadari perbuatan papinya. Walaupun mereka sedikit tak suka akan gadis itu.
"Nanti kakak akan menemuinya."Jawab Reivant, tanpa melihat wajah cengo ketiga adiknya yang menatap tak percaya.
"Apa kakak butuh teman, agar kakak ipar tak cemburu."Ujar Arthur memberi usul pada kakak pertamanya itu.
"Iya, itu juga bagus, siapa yang akan menemaniku?''.Tanya Reivant sambil melihat ketiga adiknya.
"Mungkin lebih cocok kak Brandon."Ujar Arthur lagi yang di setujui oleh Danien, karena Danien sangat sibuk sekarang.
"Hm, baik lah Don temani kakak bertemu dengan Stella nanti."Ujar Reivant menyetujui usul adik kelimanya itu.
"Sekarang kak??."Tanya Brandon yang tidak bisa menolak permintaan kakak pertamanya itu, padahal dalam hatinya sungguh memberontak.
"Iya, trus mau tahun depan?."Tanya Reivant menatap Brandon yang seakan berkata pertanyaanmu sungguh konyol,Don.
"Ah,,baiklah."Ujar Brandon pasrah dan menghela nafas panjang.
Reivant tampak menimang-nimang ponsel genggamnya, ia harus memberitahu kan pada istrinya jika ia ingin bertemu Stella atau tidak dan dia dilema.
"Sebaiknya kakak telpon kakak ipar, lebih baik ia tahu, daripada ia salah paham."Usul Brandon yang melihat kebimbangan di wajah kakak pertamanya itu.
Akhirnya Reivant memilih menelpon istri kecilnya, dan ia mengatakan jika ia akan menemui Stella untuk membicarakan tentang papinya, dan Shera setuju.
Karena, Shera tahu Adiknya Stella adalah anak yang baik, tapi karena dokrin yang selalu di tanamkan dalam otaknya hingga ia membenci Shera.
Tapi, ia tetap lah Stella yang baik, karena dalam darahnya mengalir darah wanita anggun, Christella ibu mereka.
Setelah menelpon Shera, Rievant tampak mencari nomor ponsel Stella, ia berharap semoga anak itu bisa di ajak bekerja sama, setidaknya ia bisa memahami perkataan Reivant nanti. Tapi, ia tak menemukannya karena memang Reivant tak pernah menyimpannya.
Reivant tampak diam menatap ketiga adiknya yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, pikirannya menerawang kemana-mana.
Ia tak habis pikir dengan kejahatan yang di lakukan oleh orang yang dulu ia sudah anggap seperti paman sendiri.
"Don, telpon Stella sekarang, katakan padanya untuk bertemu denganku di café X "Ujar Reivant pada adiknya itu.
"Ya baik kak."Ujar Brandon pasrah.
Ia juga berharap semoga Stella bisa menerima semua ini dan bisa menjadi gadis yang baik seperti kakaknya.
Akhirnya Brandon menelpon Stella, dengan cepat gadis itu mengiyakan jika menyangkut Reivant, entahlah sepertinya Stella belum bisa membedakan antara mencintai atau hanya terobsesi dengan Pria itu.
"Kak, sekarang sudah pukul lima Sore, sebaiknya kita pulang." Ujar Danien yang melihat jam tangannya.
"Iya, kalian pulang lah terlebih dahulu, karena kakak dan Brandon akan ke café untuk bertemu Stella."Ujar Reivant.
Mereka bersiap untuk pulang, Reivant dan ketiga adiknya keluar dari ruangan disana Nampak Agatha baru membereskan tasnya untuk pulang juga.
"Tha, pulang lah Bersama Danien dan Arthur."Ujar Reivant pada sekertarisnya itu.
"Tidak apa-apa pak, saya bisa pulang sendiri."Jawab Agatha sedikit gugup,karena ada Brandon tentunya.
"Apa kamu lupa jika kita sendiri, panggil saya seperti kamu memanggil istriku."Ujar Reivant.
"Kenapa begitu, kak?"Tanya Brandon pada kakaknya dengan wajah bingungnya, karena kakaknya menyebut kakak iparnya.
"Ah iya, kamu belum tahu ya, jika Agatha adalah sahabat kecilnya Shera kakak iparmu."Ujar Reivant menceritakan hal itu, karena Brandon dan Arthur belum tahu akan hal itu.
"Jadi Ibu Tety adalah ibumu?, ya ampun sekarang aku tahu, kamu adalah gadis kecil yang di Photo itu?."Tanya Brandon membuat wajah Agatha semakin memerah.
takkk... bunyi jitakan maut yang di berikan Danien pada adik keempatnya itu karena ia seperti melupakan sesuatu saat ini.
"Au sakit kak."Rengek Brandon sambil mengusap kepalanya yang di pukul kakaknya mengunakan Ipad itu, ia melupakan jika masih ada Agatha.
Sesaat ia terdiam menatap kedua kakaknya dan juga Arthur dan ia sedikit melirik ke arah Agatha, ia sangat malu sekarang.
Hingga suara tawa dari ketida saudaranya membuat ia semakin malu dengan Agatha yang tersenyum pada nya.
"Maksud kamu Don apa, photo kecil, ah jangan bilang kamu menjadi stalker Agatha ya?."Tanya Danien memicingkan matanya.
"Tidak bukan begitu, ah nanti aku jelaskan."Ujar Brandon dan berjalan duluan meninggalkan ketiga saudaranya dan juga Agatha.
TBC.
Bonus Pict.. Hmmm🤔
Papi Raynald Aharon...