
Saat akan kembali ke kamar kakak keduanya, Chaiden melihat Daddynya dan kedua kakek mereka duduk di beranda samping.
Kenapa Chaiden bisa melihatnya karena itu adalah kaca tebal yang menjadi pemisah ruang keluarga dan beranda.
Ia hanya melihat dan berlalu menuju kekamar kakak kaduanya, walaupun hari ini adalah hari wisudanya, sepertinya ia akan pergi sendiri karena Michael sekarang sangat sibuk.
"Kak, bagaimana?."Tanya Kai yang baru saja masuk.
"Tenanglah, sepertinya penjagaan di rumah Rouwnd sangat ketat."Jawab Danien.
Kenapa ia tahu karena sekarang layer komputernya menujukan aktivitas yang di lakukan oleh anak buah Rouwnd di rumah itu karena tadi Danien mencoba meretas system keamanan rumah Rouwnd dan ia berhasil walaupun tadi ada sedikit kendala , tapi ia tidak meninggalkan jejaknya disana. Siapa suruh system keamanan mereka sangat lemah.
"Hm, bagaimana Vant, sangat mudah untuk kita masuk sebenarnya kesana, tapi keselamatan Ai lebih penting saat ini."Ujar Rare yang melihat wajah sahabatnya yang sangat tidak bersahabat saat ini.
"Done."Ujar Michael dan Harld bersamaan.
"Kita tunggu saja, Rouwnd pasti akan menghubugiku, sebentar lagi."Ujar Reivant Yakin.
Setelah selesai dengan tugasnya, Michael tampak diam seperti sedang berpikir.
"Kak, Apakah Ai baik-baik saja?". Tanya Michael pada Kakaknya Arthur.
"Percayalah Mike. Ai pasti baik-baik saja, Kau tahu Ai seperti dirimu yang takkan tinggal diam jika di dalam bahaya." Ujar Arthur menenangkan Adik keenamnya itu.
"Baiklah. Mike percaya Ai pasti baik-baik saja." Ujar Michael berusaha tenang.
Tak berapa lama, ponsel pintarnya Reivant berdering menandakan panggilan masuk, Reivant menatap nomor baru yang tertera disana.
Ia mempunyai dua ponsel yang di gunakan sedangkan ponsel yang sekarang ia pegang adalah ponsel yang untuk kerjaannya, karena ponsel Pribadinya tak ada yang tahu selain keluarga, istri dan Rayn dan Rachel tentunya.
Nomor yang tempo hari pertama di telpon Rayn ya nomor ini, karena memang nomor pribadi Reivant hanya untuk keluarganya saja. dan itu di buat Khusus untuknya saja.
Reivant mengeser tombol hijau pada layar ponsel menerima panggilan itu, ia tahu itu pasti Rouwnd atau mungkin anak buahnya.
"Hallo."Sapa Reivant dengan suara yang berwibawa.
"Halo Rei, apa kabarmu?."Tanya penelpon dari line sebelah, yang bisa di dengar semua, karena Danien meretas ponsel kakaknya itu dan hal itu tidak di sadari oleh pihak sebelah.
"Ya, ada apa menelponku, biasanya paman menelpon daddy?."Tanya Reivant masih dengan kata-kata yang sopan, seolah ia tidak tahu masalah apa yang membuat Rouwnd menelpon nya.
"Haha, kamu masing ingat padaku rupanya Rei."Ujar Rouwnd dengan tawanya khasnya yang sungguh menyebalkan menurut Arthur. (Oh Arthur Againš¤£).
"Dimana Daddymu, tadi paman telpon tapi nomornya tidak bisa di hubungi."Ujar Rouwnd dan pura-pura bertanya, yang pasti sudah di ketahui oleh mereka di ruangan ini.
"Oh, Daddy masih keluar kota, ada apa paman, paman tahukan jika Rei bukan orang yang suka bertele-tele."Ujar Reivant todepoint, ia sedikit bosan bermain.
"Paman hanya ingin mengatakan jika adik bungsumu ada disini, paman hanya minta daddymu untuk bertemu denganku malam ini."Ujar Rouwnd dengan kekehan, tidak tahu kah ia jika sekarang anak muda yang ada di kamar Danien sekarang dalam mode iblis semua yang siap memangsa musuhnya. hahahah.
"Bagaimana jika Rei saja yang bertemu paman."Ujar Reivant memancing Rouwnd tentunya.
"Hahaha, baiklah!. kamu juga tidak apa-apa tapi paman minta kamu datang sendiri."Ujar Rouwnd yang masuk dalam jebakan Reivant dkk.
"Anak buahku akan mengirimkan alamatnya padamu."Ujar Rouwnd lagi dan mematikan panggilan telponnya.
Setelah panggilan terputus, mereka semua saling menatap.
"Apa kamu akan pergi sendiriĀ Vant?"Tanya Rayn/Rare.
"Tidak, aku akan pergi Bersama Kai."Jawab Reivant langsung menatap adik ketiganya itu.
"Tapi, Kai tidak pergi secara langsung denganku tapi ia akan menyamar menjadi pemulung mungkin."Ujar Reivant yang langsung di pelototi oleh adik ketiganya, sepertinya ia tidak terima wajah gantengnya jadi pemulung.
"Kak, kok jadi pemulung sih, wajah tampan ku sangat ternistakan."Ujar Chaiden tidak terima.
"Kai, jika kamu pergi langsung Bersama kakak, itu sama saja kita mengantar diri kesana."Jawab Reivant menjelaskan pada adiknya itu.
"Oh, baiklah, tapi Kai butuh seorang wanita untuk itu."Ujar Chaiden
"Hah, siapa kak, disini tidak ada yang bisa, apa Stella aja."Ujar Arthur dengan ide brilian menurutnya yang langsung mendapat tatapan mematikan dari kakak-kakaknya.
"Apa kamu waras Thur, Rouwnd atau anak buahnya akan langsung tahu Stella."Ujar Brandon.
"Ah, siapa yang mau ngajak Stella, kan ada Kak Rachel yang akan ku ajak."Ujar Chaiden tanpa beban dan langsung ke luar tanpa melihat tatapan mematikan dari kakak keduanya Danien, entahlah Danien selalu sensitive jika mendengar nama Rachel.
"Dasar anak itu selalu semaunya."Ujar Reivant hanya mengelengkan kepala.
Tak berapa lama Chaiden datang bersama Rachel dan masuk ke kamar Danien dengan tampang tak berdosa.
"Kak, jelaskan pada Rachel juga bagaimana nantinya."Ujar Chaiden dan merangkul tangan Rachel. Sebenarnya, Chaiden sengaja melakukan hal itu, dia hanya mau melihat respon dari kakak keduanya.
(Dan alasan lainnya, kenapa Chaiden meminta Rachel yang menemaninya karena Rachel sangat hebat dalam beladiri dan bisa mengunakan berbagai senjata termasuk pedang).
Chaiden saja sampai kaget saat tahu sisi lain dari Rachel itu panteslah keluarga Mafia, yang Tahu sisi lain dari Rachel selain kedua saudaranya, yaitu Reivant dan Chaiden saja.
"Baiklah, Chell sebenarnya aku tak ingin melibatkanmu, tapi satu-satunya perempuan yang bisa, ya kamu."Ujar Reivant dengan sedikit nada bersalah.
"Kamu dan Kai ikut dengan ku tapi kalian akan menyamar, terserah kalian sesuaikan dengan keadaan disana."Ujar Reivant menjelaskan apa yang harus di lakukan oleh Rachel dan Chaiden.
"Hmm, Baiklah kalau begitu, aku pamit."Ujar Rachel, sebenarnya ia sedikit menghindar dari seseorang.
"Ya, nanti jam 8 malam, sekarang kita bubar lah, Don, Ar kalian urus kantor dulu, Kai pergilah wisuda dulu."Ujar Reivant memeintahkan adik-adiknya untuk bersiap.
Sedangkan Reivant, Rayn dan Danien dan Kedua anak gamers itu melanjutkan untuk menyusun strategi, sebenarnya Reivant bisa mengirimkan pesan pada adik bungsunya, tapi ia hanya menjaga-jaga, takutnya terbaca oleh Rouwnd dan antek-anteknya.
"Ting" Bunyi pesan masuk di ponsel Reivant menandakan Rouwnd sudah mengirimkan alamat dimana mereka akan bertemu.
"Arena pacuan kuda X."Ujar Reivant yang membaca pesan tersebut, dia tahu karena tempat itu milik Rouwnd.
"Hmm, aku tahu, jadi biarkan Rachel dan Chaiden turun di simpang yang tidak tergapai oleh anak buah Rouwnd."Ujar Rayn, sedikit tidak nya Ia tahu tempat itu, karena ia pernah kesana dengan rekan bisnisnya hanya untuk menyalurkan hobby.
"Baiklah, aku tahu adik bungsu ku akan baik-baik saja, tapi aku harus memastikan mommy dulu."Ujar Reivant dan keluar mencari daddynya.
Saat ia keluar dari kamar Danien tampak Shera mengendong Carli yang sedikit kerepotan, ia langsung melangkah kakinya ke arah istri dan anaknya itu.
"Sayang, kan sudah ku bilang jangan gendong baby dulu."Ujar Reivant saat sudah di dekat istrinya yang membuat Shera langsung menatap suaminya yang berdiri di sampingnya.
"Baby Rewel daritadi Pa."Jawab Shera, ya daritadi Baby Carli seperti kurang nyaman membuat ia menangis, entah apa yang baby itu rasakan.
"Biarkan baby denganku."Balas Reivant dan mengambil baby Carli dari istrinya.
"Papa, papa, Den main ama Cali."Celoteh baby Carli pada papanya.
"Iya baby, nanti kita main sama paman Aidyen yah."Ujar Reivant sepertinya ia tahu kenapa anak sulungnya itu menangis.
Tak berlama lama Axell datang dengan sebotol susu yang di buat oleh Ny.Park untuk Ia dan Carli. Di belakangnya ada Vania dan Amel yang membawa makanan untuk ketiga anak-anak itu tentunya.
"Baby main dengan Vania yah."Ujar Reivant pada anaknya itu yang di balas anggukan dari baby imut, hal itu membuat Reivant mencium gemas anaknya dan menurunkannya di samping baby boy Axell.
Saat ia ingin berbicara pada istrinya, dering ponselnya mengurungkan niatnya itu, padahal tadi ia ingin mencari daddynya.
"Sayang istirahat yang banyak, kasian dede bayi, ia capek."Goda Reivant pada istri mungilnya itu membuat Shera malu.
"Telpon mu itu bunyi Pa, angkat, mungkin itu penting."Ujar Shera yang di balas senyuman suaminya dan Reivant berjalan ke arah ruang kerja daddynya sambil mengangkat telpon yang ternyata dari paman Dikynya.
"Hallo paman, tumben telpon Rei, ada apa?."Tanya Reivant saat panggilan terhubung
"Paman dengar hari ini kamu akan menangkap Rounwd, ada yang ingin paman sampaikan padamu tentang Rouwnd."Jawab Dr.Diky dari line seberang
"Hm, apa itu paman?."Tanya Reivant
"Apa kita bisa bertemu." Ujar Diky
"Hm,,jam berapa paman."Tanya Reivant lagi dan menatap jam tangannya.
"Sekarang. Paman tunggu disini."Jawab Diky.
"Baiklah, Rei siap dulu."Ujar Reivant dan mematikan sambungan telponnya.
Dari seberang line Diky mengumpat habis-habisan ponaan tak ada akhlak itu, sesuka hati mematikan telponnya.
****
Michael Hospital.
"Dasar anak itu."Gumam Dr.Diky dan meletakkan handphone nya di atas meja kerjanya.
Sedikit cerita pertemuan antara Rouwnd dan Diky saat Rouwnd yang akan memeriksa kondisinya itu, entahlah sepertinya ia sakit parah mungkin.
FlashBack
"Pagi Tuan, ada yang bisa saya bantu?."Tanya Dr,Diky saat Rounwd dan seorang gadis masuk ke ruangannya.
"Begini Dok, akhir-akhir ini saya selalu merasakan kelelahan dan kehilangan nafsu makan."Jawab Rouwnd dengan masih santai.
"Baiklah saya akan memeriksa tuan dulu, dan saya akan melakukan beberapa tes dengan mengambil sampel darah tuan."Ujar Dr,Diky dan mulai memeriksa Rouwnd, semoga ia tidak salah diagnose.
( ye Diky lu kan Dokter specialis berani lu salah diagnose gw cabut ijin praktek lu -Author belikeš).
"Ini saya masih kurang yakin, tapi saya harus memastikan diagnose saya,,mari biar suster yang akan mengambil sampel darah Tuan."Ujar Diky pada pasiennya itu.
"Papi saya sakit apa Dok?."Tanya Gadis yang bernama Stella itu.
Diky menatap gadis kecil di depannya itu, wajahnya mirip anak mantunya siapa lagi kalau bukan Shera istri Reivant.
"Papinya nona hanya kelelahan dan sedikit banyak pikiran."Jawab Dr.Diky entahlah ia tak tega pada gadis kecil itu.
Gadis itu menatap Papinya dengan tatapan yang sulit di artikan. Melihat Itu, Dr.Diky merasa iba kepada gadis itu, jika apa yang di diagnosakannya benar, ia benar-benar merasa kasihan pada gadis itu.
TBC.