PRINCESS DADDY'S

PRINCESS DADDY'S
157. Chapter Dua.



Michael menatap kedua kakaknya itu, dalam hati ia seakan bertanya angin apa yang membawa mereka kesini, apa karena merindukannya ataukah ada hal lainnya.


"Kak, apa kalian juga salah satu sponsor dari turnamen ini, selain Park company,,"Tanya Michael menatap lekat kedua kakanya.


"Hm, maybe yes and bisa juga No!."Jawab Arthur dengan asal


"Kakak tahu, aku merasa menjadi pusat perhatian karena kalian."Ujar Michael tak enak hati dengan sekitarnya yang menatap penuh kagum dengan kehadiran para pewaris putra Park.


"Biarkan saja Mike, oh ya kapan turnamen ini selesai?."Tanya Chaiden yang menilik salah satu hotel ternama ini.


"Lusa selesai kak, apa kakak pertama sudah pulang kak?."Tanya Michael, sambil menatap kesekelilingnya, sebenarnya dia tidak suka menjadi pusat perhatian. Namun, tanpa dia sadari wajah dan pesonanya sudah menjadi pusat perhatian.


"Mungkin malam mereka tiba."Jawab Arthur yang tampak tidak fokus, ia menatap ke arah pintu di mana tadi Chelsea dan Harld masuk.


"Baik lah sekarang sudah sore, kakak pamit dulu."Ujar Chaiden sambil menatap pada adik kelimanya yang tampak tak rela untuk meninggalkan tempat itu


"Saat Turnamen kau bisa menontonnya. Ayo kita pulang, aku sudah merindukan kekasihku."Ujar Chaiden pelan pada Arthur dan membuat Arthur tersenyum dengan girang, bahkan pria itu tidak menanggapi perkataan kakaknya yang terakhir.


"Bye-bye bungsu. Kakak tampanmu pulang dulu. Ah,, sampaikan salam ku kepada temanmu itu." Pamit Arthur dan hanya di tanggapi muka datar Michael.


"Kakak pulang yang dek." Pamit Chaiden dan Michael melambaikan tangannya kepada kakaknya.


*****


Setelah makan siang tadi bersama, Danien dan Devi tak langsung pulang tapi Danien mengajak Devi berjalan-jalan di taman, hingga saat ini matahari sudah hampir terbenam di ufuk barat.


Danien menatap wanita yang kini berstatus sebagai kekasihnya dengan tatapan dalam, pria itu menghela nafas dan memalingkan wajahnya ke lain tempat, hingga membuat Devi balik menatapnya.


"Ada apa, Dan?" Tanya Devi dan membuat Danien berbalik menatapnya.


"Tidak, pemandangan di sore hari ternyata sangat bagus." Jawab Danien dan tersenyum tipis.


"Hmm,, Aku ingin pulang." Pinta Devi pelan.


"Baiklah. Aku akan mengantarmu pulang." Danien bangkit dari tempat duduknya dan mengulurkan tangannya kepada Devi, dan membuat Wanita itu menatapnya bingung.


"Ayolah." Ajak Danien dan Devi meraih tangan pria itu.


Ada kehangatan yang selama ini tidak pernah ia rasakan dan dia dapatkan. Danien menggenggam erat tangan wanita itu dan menyusuri jalanan di sore hari itu menuju mobil mereka.


Sesampainya di mobil, Danien membukakan pintu untuk Devi dan perlakuan itu membuat Devi sedikit canggung.


"Masuklah,, biarkan aku melayani kekasihku." Ujar Danien dengan senyum tipisnya.


Devi masuk dan duduk di kursi samping kemudi, sambil memperhatikan Danien yang berjalan kearah sebelah  dan masuk ke dalam mobil duduk di samping wanita itu.


Mobil melaju dengan pelan membelah jalanan sore, Devi memilih untuk menatap keluar menikmati pemandangan sore, dan apakah nanti dia masih bisa menikmati keindahan itu.


"Besok kita akan ke RS, dan kamu tidak perlu ke Kantor dulu. Aku akan menjemput mu." Ujar Danien dan membuat Devi berbalik menatapnya.


"Baiklah." Jawab Devi pelan dan pasrah.


Akhirnya mereka sampai di depan rumah Devi, Devi menatap Danien yang masih mengetik pesan di ponselnya.


"Besok, ku jemput, aku sudah membuat janji dengan paman."Ujar Danien dan mengelus puncak kepala Devi.


"Iya, kalau begitu aku turun, hati-hati di jalan."Pamit Devi  tersenyum dan keluar dari mobil sedan tersebut.


Danien menatap Devi hingga wanita muda itu masuk ke rumahnya, dan ia keluar dari komplek perumahan tersebut.


Dia bingung dengan keadaan nya saat ini, hatinya ingin wanitanya, tapi perasaan ibanya membuat ia harus merelakan semuanya itu untuk saat ini, karena ia yakin jika jodoh pasti mereka akan bersatu.


Danien menjalankan mobil sedan nya menuju entah kemana, hati nya galau, pikiran nya kacau, apakah ia sanggup menjalani dan melewati ini semua, tanpa menyakiti salah satunya.


Akhirnya setelah 1 jam perjalanan, mobil yang membawa Danien seorang diri berhenti di sebuah pantai yang tampak ramai dengan lampu-lampu yang berwarna-warni, banyak kenangan yang Danien lewati saat kecil di pantai ini, sudah banyak perubahan setelah 20 tahunan.


Sudah banyak Cafe-cafe yang di bangun disana, ia keluar dari mobil nya dan berjalan menuju hamparan pasir yang masih tetap cantik di pandang mata, karena kebersihan sangat di terapkan di negara itu.


Pria muda itu berjalan dengan kaki kosong karena ia tak membawa sendal tidak mungkin ia mengunakan sepatu kantornya, setelah ia puas berjalan dengan menikmati senja, Danien mendudukan dirinya di salah satu meja sebuah cafe, sepertinya ia membutuhkan air karena haus.


"Permisi tuan,,"Ujar seorang pelayan dengan sopan


"Saya pesan air putih."Ujar Danien tanpa melihat bagaimana wajah bingung pelayan wanita tersebut.


"Maaf tuan, tapi disini tidak menyediakan air putih."Ujar Pelayan tersebut dengan pelan, jujur ia sangat terpana akan paras tampan pria di depannya itu.


"Kenapa tidak ada?."Tanya Danien seperti nya moodnya masih belum terlalu bagus, menatap pelayan itu dengan wajah datarnya.


"Disini ada minuman yang tidak terlalu manis tuan."Jawab pelayan tersebut agak takut melihat perubahan raut wajah pria tampan itu.


"Tolong bawakan saja."Ujar Danien, entahlah sepertinya perasaannya benar-benar kacau


"Hallo kak."Sapa Danien saat panggilang terhubung


"Dimana kamu Dan,," Ujar Reivant dengan nada bertanya,


Karena ia selalu memantau di manapun adiknya berada, itulah kelebihan Reivant yang terkadang membuat adik-adiknya merasa tetap di awasi, ya karena seperti itu adanya.


"Tunggu kakak disitu."Ujar Reivant lagi, yang tak mungkin di bantah oleh Danien, bukan maksud Reivant mengikuti atau memata-matai kemanapun adiknya, tapi karena musuh-musuh yang kapan saja bisa mencelakakan keluarganya. Termasuk juga ia tahu tentang keadaan Devi, karena orang suruhannya lah yang memberitahukan kepadanya.


"Baik kak."Ujar Danien dan panggilan terputus.


****


Dibandara, Reivant dan Brandon sudah turun dari jet pribadi milik mereka, disana sudah ada anak buahnya yang sudah menunggu.


"Don, kamu pulang duluan ke rumah, kakak masih ada urusan sedikit."Ujar Reivant dan membuat adik keempatnya menatapnya bingung.


"Ha, baby cantik pasti sudah menunggu mu kak."Ujar Brandon menatap kakaknya seakan bertanya ada urusan apa kak.


"Sebentar saja, jika di tanya katakan kakak masih ada urusan sedikit, oke."Ujar Reivant dan ia naik ke salah satu mobil jeep yang sudah di pesankan tadi.


Brandon hanya mengelah nafas melihat tidak biasanya kakaknya itu merahasiakan sesuatu, tapi ya sudah lah pasti nanti juga ia tahu.


Reivant hanya berdua bersama bodyguard merangkap sopir menuju dimana adik keduanya berada yaitu pantai pasir pink yang sangat terkenal dan merupakan tempat kenangan terakhir Reivant bersama kedua uncle dan aunty nya dulu.


Perjalanan yang tidak memakan waktu lama karena mereka lewat tol menuju pantai itu dari bandara tidak lah terlalu jauh sekitar 30 menit akhirnya mereka sampai.


"Kamu pulang saja duluan."Ujar Reivant kepada bodyguard tersebut.


"Baik tuan muda."Jawab bodyguard tersebut, mematuhi perintah Bosnya.


Reivant keluar dari mobil nya dan berjalan menuju loket masuk untuk ke arah pantai, pemandangan masih sama hanya sudah banyak bangunan cafe yang berdiri di sepanjang jalan tersebut.


Beberapa muda-mudi yang berjalan disana, menatap terpana akan papa muda tersebut, tapi Reivant tak begitu meperdulikan karena istrinya jauh lebih menarik. Namun, Papa muda itu terus berjalan hingga ia melihat dimana adik keduanya berada.


Reivant mendudukan dirinya bertepatkan dengan seorang pelayan yang mengantarkan minuman untuk tamu pertama mereka tadi.


"Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam, bisa bertemu para pria-pria tampan ini."Iner pelayan tersebut.


"Apa itu minuman untukku?."Tanya Danien yang sedikit kesal karena pelayan itu menatap kakaknya seperti bertemu pangeran saja.


"Ah, iya Tuan, maafkan saya."Ujar pelayan tersebut dan meletakan minuman yang di pesan Danien, setelah itu ia langsung pergi.


"Ada apa Dan, setelah 20 tahun lebih baru kali ini kamu kesini?."Tanya Reivant todepoint


Danien menghela nafas seakan dia mengeluarkan beban berat yang di tak bisa di katakannya. Danien menatap kakaknya dengan wajah sendu.


"Kakak tahu apa yang kau alami, kakak juga tahu Devi sakit, apa kamu juga akan merelakan cintamu."Ujar Reivant dan menatap adiknya itu. Tak pernah dia melihat ekspresi adiknya seperti itu, biasanya dia akan berekpresi jika dia gagal bermain Game dengan adik kelimanya itu.


"Kakak tidak bermaksud ikut campur urusan asmara mu, kakak yakin apapun jalan yang kau pilih pasti  itu yang baik menurutmu, Kakak akan selalu mendukungmu, Dan. Tapi, kakak mohon untuk tidak menyakiti dirimu sendiri."Lanjut Reivant lagi.


"Kamu mencintainya bukan, Rachel?."Tanya Reivant menatap wajah adikknya itu


"Iya , jujur aku sangat menginginkan dia, hatiku untuknya, tapi kak,,"Ujar Danien yang tak di lanjutkan.


"Kak, aku tak ingin menyakiti salah satu dari mereka, tapi aku harus mengambil keputusan untuk itu."Ujar Danien pelan, dia menundukkan kepalanya tak ingin menatap kakaknya.


"Hei, tunjukan pada kakak mana Danien si jenius."Ujar Reivant sedikit bercanda.


"Kamu harus mengambil keputusan, lepaskan salah satunya, walaupun kakak tahu kamu keberatan. Ck, astaga adikku yang satu ini sangat egois."Ujar Reivant tenang dan kembali bercanda. Dia berusaha untuk mencairkan suasana yang sangat tegang tadi.


"Tapi kamu harus jadi seorang pria sejati, kamu adikku, kakak percaya padamu."Ujar Reivant memberi semangat pada adik kesayangannya itu.


"Iya kak, aku akan berusaha." Danien mengangkat wajahnya dan berusaha tersenyum.


"Ya sudah, hayuk kita pulang, sekarang sudah hampir jam 9 malam."Ujar Reivant, mengajak adik kedua nya itu pulang.


"Pasti ponaakamu mencari kakak." Reivant bangkit dari duduknya dan merapikan sedikit pakaiannya.


"Emmm, ponakanku apa istrimu yang mencarimu kak."Ujar Danien bercanda pada kakak nya, setidaknya ia merasa jauh lebih baik.


Danien memanggil waiters tersebut untuk membayar minumannya dan juga kakaknya yang tadi juga ia pesan. Setelah membayar, Reivant dan Danien berjalan beriringan menuju parkiran.


"Eh, kakak pulang dari kota S bukanya langsung pulang malah kesini."Danien berjalan kearah kemudi.


"Kamu kan tahu dari dulu kakak selalu memperhatikanmu, kakak tahu kamu Dan." Jawab Reivant dan masuk ke mobil di samping kemudi.


Danien hanya bisa tersenyum, ia jadi ingat saat ia SMP dulu, kejadian yang membuat kakaknya Reivant selalu waspada akan sekitar, karena masih ada orang lain yang menjadi dalang di balik kecelakaan kedua orang tuanya dan Rouwnd hanya salah satu pion saja.


TBC.