
Di Rumahnya Rouwnd, lebih tepatnya di kamar yang di tempati oleh Aidyen tampak sepi, anak itu hanya menatap keluar jendela yang terdapat banyak anak buah yang berjaga, ia bukan anak bodoh yang tidak tahu situasi apa yang ia alami saat ini, ia menatap cincin yang ada di jari kelingking nya itu.
"Hm,,aku harus tenang dan santai."Gumamnya pada diri sendiri.
Aidyen sudah menganti pakaiannya, karena tadi maid mengantarkan pakaian ganti untuknya setidaknya Rouwnd memperlakukannya dengan baik jadi ia ikuti saja permainan ini.
Ia tahu saudaranya pasti sudah punya rencana untuk itu, tapi ia hanya berharap mommynya tidak tahu masalah ini karena itu akan mengacaukan semuanya.
"Ah, aku lupa bukannya Kak Danien pernah memasukan sesuatu pada jamku."Gumamnya sambil melihat jam yang sekarang ia pakai.
Terlihat simple, tapi tak ada yang tahu jika itu bisa memunculkan layar kecil sebenarnya. (Wah canggih), tapi ia hanya melihat saja tanpa ada pergerakan berarti.
Saat itu ia main di kamar kakak keduanya dengan iseng Danien meminta ia melepaskan jam adik bungsunya dan mengotak-atik jam itu dan membuat tombol kecil ada tiga disana.
"Apa bisa ku gunakan jam ini, tapi.."Aidyen bergumam ragu, takutnya terdektesi oleh system keamanan di rumah ini.
"Tapi aku penasaran dengan kegunaan tombol-tombol ini."Ujarnya sendiri dan ia melihat sekeliling kamar itu apa ada CCTV tersembunyi.
"Apa ada CCTV disini."Gumamnya pelan Pura-pura mengigit jarinya padahal ia berbicara pada jamnya yang tak lama muncul seperti gambar peta di layer kecil jam itu yang menunjukan tanda merah itu CCTV.
"Wah kamu canggih, thanks ya."Ujarnya lagi, tapi tetap dengan tenang dan tak ada pergerakan yang mencurigakan.
"Hm baiklah aku akan berpura-pura tidur saja lah."Gumamnya lagi dan berbaring membelakangi vas bunga dan Ac tentunya.
"Kak, aku baik-baik saja."Gumamnya pada jam tangannya, ia tahu pasti pesannya terkirim pada kakak keduanya.
****
Mansion Tujuh putra Park
Danien tersenyum menatap pada Ipadnya, ia tahu adik bungsunya mengirimkan sesuatu melalui jam tangan itu.
"Hm, kakak tahu kamu baik-baik saja, tunggu kakak." isi pesan Danien yang berupa angka dan hurup hanya jam itu saja yang tahu artinya dan pemakainya tentunya.
"ada apa kak, kenapa tersenyum sendiri?."Tanya Michael yang melihat kakak keduanya tersenyum menatap IPadnya itu.
"Tak ada, kakak hanya tersenyum adik bungsu sangat pintar yang bisa mengerti dengan kegunaan jam yang sudah kakak modif untuk dirinya."Ujar Danien Panjang lebar.
"Haha, kakak jangan meragukan adik bungsuku."Balas Michael tersenyum
Chaiden sudah rapi dengan dengan setelan jas nya karena ia akan ke kampus dan langsung ke kantornya sebentar dan setelah itu ikut wisuda.
"Daddy, mommy, Chaiden pergi dulu."Ujar Chaiden pamit pada kedua orang tuanya.
"Dimana kakak pertama?."Tanya nya lagi karena tak melihat kakak pertamanya, ia tahu kakaknya tidak pergi ke kantor.
"Oh, Rei sudah pergi ke rumah sakit tadi, Kai."Jawab Shera yang juga ada di ruang keluarga.
"Ha, apa kakak sakit, apa ia periksa kesehatan dulu, tapi kakak sakit apa?."Chaiden bertanya tanpa jeda membuat mereka yang di sana hanya menatapnya jengah.
"Ck, Kai pintarmu itu kemana?"Tanya Ny.Park tak habis pikir dengan anak ketiganya itu.
"Hehe masih ada disini, mom."Jawab Chaiden asal dan pergi, sebenarnya ia hanya ingin mencairkan suasana, ia tahu pasti kakaknya ada urusan lain.
Setelah Chaiden pergi di ruang tamu tinggal Tuan dan Nyonya Park beserta Shera, sedangkan Kakek berdua ada bersama kedua cucu mereka di taman belakang dan paman Billy entah dimana, kamar mungkin, dan kedua wanita lain yaitu Rachel dan Stella masih berkutat dengan kue-kue di dapur tentunya.
"Dad, perasaan mommy gak nyaman ya, mami ingat anak bungsu mami."Ujar Ny.Park
"Mungkin hanya perasaan mommy saja, kan mommy tahu Ai lagi sibuk dengan latihannya karena persiapan konser mereka."Jawab Tn.Park
"Iya Dad, nanti saat konser mereka, kita ikut ya Dad, mommy ingin melihat penampilan Ai."Ujar Ny.park dengan semangat.
"Iya, itu harus, kita akan pergi menontonya."Balas Tuan Park
Tuan Park sebenarnya sudah tahu tentang anak bungsunya yang di culik oleh sahabatnya eh mantan sahabatnya itu, tapi Tuan Park berusaha tenang,
*****
FlashBack
Setelah Mematikan panggilan telpon dengan paman Diky, Reivant langsung masuk ke ruang kerja Daddynya, ia tahu pasti Daddynya disana, benar saja saat setelah bercengkrama dengan kakek Wilson dan kakek Aharon, Tuan Park langsung menuju ruang kerjanya.
"Pagi Dad."Sapa Reivant pada Daddynya yang duduk di sofa dengan sebuah map
"Iya Rei, pagi, ada apa, Rei?".Tanya Tuan Park dan meletakkan map itu di atas meja.
"Dad, ada yang ingin Rei sampaikan, ini menyangkut Rouwnd."Ujar Reivant yang sekarang sudah duduk di samping ayahnya itu.
"Bukannya kalian sudah merencanakan nya nanti malam?."Tanya Tuan Park lagi
"Iya, hanya ini menyangkut Ai juga Dad."Ujar Reivant sedikit ragu takut mommynya datang.
"Kenapa dengan Ai, sepertinya ada yang terjadi?."Tanya Tuan Park penasaran.
"Iya Dad, sekarang Ai ada di tangan Rouwnd, dan ia meminta untuk bertemu daddy, tapi aku mengatakan jika Daddy di luar kota, karena biar Rei yang bertemu dengan Rouwnd nanti."Ujar Reivant akhirnya menceritakan keberadaan adik bungsunya.
"Ai di culik Rouwnd tadi malam, dan salah satu bodyguard kita yang di tugaskan untuk menjaga Ai dan kawan-kawannya, ternyata berkhianat, jadi biar nanti Rei yang mengurusinya."Lanjutnya lagi
"Hm,,baiklah Daddy percayakan padamu, daddy yakin Ai anak yang pintar untuk memahami situasi."Ujar Tuan Park dengan tenang. walaupun sebenarnya ia khawatir apalagi ini anak bungsunya.
"Dad, jangan sampai mommy tahu, itu akan merusak semua rencana kami, karena Ai sempat telpon mommy juga tadi sebelum di culik."ujar Reivant pada Daddynya dan di balas anggukan dari Tuan Park, ia sangat paham seperti apa istrinya.
"Kalau begitu Rei pamit dulu dad, tadi paman telpon katanya ada hal penting." Ujar Reivant
"Baiklah temui pamanmu."Jawab Tuan Park
Sedangkan di ruangan Tn.Park menatap foto mereka berempat saat kuliah, disana Nampak senyum bahagia yang mereka tampilkan, tapi sekarang semua itu sirna karena kecemburuan.
"Wond, aku tak tahu apa yang membuat mu berubah, tapi aku berharap kamu tak menyakiti anakku."Gumam Tuan Park entah pada siapa.
****
Michael Hospital.
Sebuah Mobil sport Hitam Jenis Audi RS7 berhenti di lobby Rumah sakit itu, tak berapa lama keluar dua pria tampan yang mapan dengan setelan jas lengkap ya, itu adalah Reivant dan Rayn sahabatnya , tadi Reivant meminta Rayn untuk menemaninya.
Karena pamannya bilang ingin membahas tentang Rouwnd jadilah Rei meminta temannya itu untuk ikut.
Reivant memberikan kunci mobilnya pada salah satu security yang bertugas disana, dan security itu juga sudah mengenal Reivant pemilik dari Rumah sakit ini, jadi ia langsung menunggu mereka.
"Pagi tuan."Sapa security tersebut
"Ya pagi, tolong parkirkan mobilnya, terima kasih."Ujar Reivant dan berlalu dari sana.
"Baik Tuan."Jawab Security itu sambil tersenyum.
Security tersebut sangat senang karena boss mereka sangat ramah, walaupun desas-desusnya bossnya itu sangat dingin tapi menurutnya tidak sama sekali.
Reivant dan Rayn berjalan menuju lift yang khusus yang di gunakan oleh keluarga Park tentunya, menuju ruang pribadi di lantai 10 tempat Dr.Diky berada saat ini.
Mereka juga menjadi pujaan para wanita yang ada disana entah Dokter atau perawat atau para keluarga pasien di sana, mereka menganggumi kedua sosok pria yang sangat tampan dan menawan itu dan yang pasti mapan. (Author juga mauuuuuu, kasian jiwa jombloku meronta-ronta., hahha).
"Wow, aku serasa menjadi artis jika seperti ini."Ujar Rayn/Rare sambil menipiskan bibirnya.
"Hm, sudah biasa."Jawab Reivant singkat, ia seperti tak berpengaruh dengan keadaan.
Sekarang mereka sudah berada di dalam lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai 10 Michael Hospital.
Setelah tiba mereka berdua langsung menuju ruangan Dr.Diky.
"Pagi paman."Sapa Rei saat ia masuk ke dalam ruangan Dr.Diky.
Nah, ini kebiasaan jelek dari seorang Reivant ia takkan mengetuk pintu jika tujuannya adalah ruangan yang berisikan keluarganya, (hm ruangan pribadi dan paman Diky belum punya pacar, kalau punya pacarkan bisa berabe).
"Pagi Rei, eh pagi juga Rayn."Sapa paman Diky yang sudah biasa dengan tingkah ponaan nya itu dan menyapa Rayn.
"Kamu nie Rei, kebiasaan gak ngetuk pintu, untung pamanmu ini masih jomblo."Ujar Paman Diky
"Pagi paman, sepertinya paman makin cakep aja."Ujar Rayn sambil tertawa dan mendudukan diri di salah satu sofa yang ada di ruangan itu, dan Reivant juga melakukan hal yang sama.
"Iss, kamu ada -ada aja Rayn."Ujar Diky
"Ha, memangnya jika paman gak jomblo lagi, kenapa?."Tanya Reivant dengan malasnya.
"Ya siapa tahu pas pacar paman datang kan, dengan kebiasaan kamu yang suka nyelonong saja to."Balas Diky gak mau kalah.
"Ck, emangnya pacar paman mana?."Tanya Rayn dengan sok polosnya.
"Kamu berdua, memang benar-benar ya, kalian sedang meledek paman."Ujar paman Diky kalah.
"Oke baiklah, paman mulai saja daripada bicara nglantur."Ujar nya lagi
"Hm,,"hanya deheman yang terdengar dari kedua manusia dengan nama Hurup R itu.
"Beberapa minggu yang lalu, Rouwnd datang Bersama putrinya,, ah iya ia sangat mirip dengan istrimu, Rey."Ujar Paman Diky.
"Iya itu Stella paman, adiknya Shera."Jawab Reivant dan menatap paman Diky lekat.
"Oh,, pantasan mirip." Ujar Paman Diky beroh ria.
"Rouwnd periksa kesini, dan dokter yang bertangung jawab itu paman, hasilnya sudah keluar dari seminggu yang lalu kalau gak salah, dan mereka belum pernah datang kesinil lagi, dari hasil yang tercatat Rouwnd terkena Leukimia stadium 3 dan ia tak pernah tahu tentang itu, ckckck."Cerita Dr.Diky sambil berdecak dan menggelengkan kepalanya, (seolah sangat menghayati ya,uncle).
"Ha? dan ia sibuk dengan memusuhi Daddy dan kami, kenapa tak memikirkan kesehatannya saja."Balas Reivant tak habis pikir dengan mantan sahabat Daddynya itu.
"Ya, paman tahu dia, karena paman pernah bertemu dengannya di rumah saat itu, tapi sepertinya ia lupa dengan paman, syukurlah."Ujar Diky lagi.
"Terus, paman suruh kami kesini buat apa, hanya untuk membicarakan itu saja."Tanya Rayn dengan wajah polosnya.
"Paman hanya meminta kalian jangan membunuhnya, biar bagaimanapun juga ia pasien paman."Ujar Diky
"Dan penyakitnya yang akan menyiksanya, itu karena perbuatannya juga, sepertinya dia pantas mendapatkan itu."Ujar Diky lagi dan menatap kedua manusia yang di hadapannya hanya menggeleng mendengar penuturan seorang Dokter Diky.
"Baiklah paman, tapi sepertinya aku harus menyembunyikan dari Stella karena sekarang ia sudah ada di rumah."Balas Reivant
"Oh, baguslah."Balas Diky singkat.
Mereka melanjutkan pembicaraan mereka hingga Reivant dan Rayn pamit karena mereka berdua akan pergi ke markas nya Raynald dimana para anak buahnya Sudah menunggu disana.
TBC.
Hay kakak-kakak pembaca yang selalu setia menunggu kelanjutan cerita ini.
Maaf yah, karena telat meng-up cerita ini.
Mohon dukungannya selalu yah,,,
Terima kasih.