
Reivant dan Brandon langsung pamit pada kakek Wilson dan paman Billy, sekarang sudah jam 21.30 malam dan mereka akan melakukan perjalanan sebentar lagi menuju kota B.
"Kakek, terima kasih."Ujar Reivant
"Iya cucuku, jangan lupa nanti ajak Shera dan kedua cicit kakek kesini ya."Ujar Kakek Wilson dengan senyuman di wajah tuanya.
"Iya kek, Rei pasti kesini bersama mereka."Ujar Reivant sambil mengengam jemari tua itu.
"Hati-hati Rei, Brandon."Ujar Paman Billy
"Siap Paman."Jawab Brandon dengan senyum di wajahnya.
Akhirnya mereka pamit masuk ke mobil untuk mengantarkan mereka ke bandara, di mana pesawat mereka berada. Perjalanan yang memakan waktu beberapa menit akhirnya mereka sampai.
"Reza, ingat apapun nanti yang ada di perusahaan disini, langsung hubungi Brandon."Ujar Reivant.
"Baik Boss, akan saya lakukan."Jawab Reza
"Mohon kerja samanya ya Za, terima kasih."Ujar Brandon dan tersenyum kepada Reza.
"Pasti itu."Jawab Reza dengan senyuman khasnya.
"Jangan lupa cari pacar sana, supaya tahu rasanya kencan."Ujar Brandon lagi, mengoda asistennya itu.
Dan kedua kakak beradik itu langsung naik ke pesawat, karena sebentar lagi pesawat yang mereka tumpangi akan take off. Kenapa Reivant memilih malam baru terbang agar sampai di kota B itu pada pagi hari nya.
"Selamat malam tuan, apa anda ingin dinner?."Tanya seorang pramugari itu dengan sopan.
"Saya menu biasa ya, dan minumannya seperti biasa."Ujar Brandon yang duduk di depan kakaknya itu.
"Baik tuan."Jawab pramugari itu
"Kak, makan gak?."Tanya Brandon pada kakak sulung nya.
"Biasa."Jawab singkat Reivant, dan langsung di iyakan oleh pramugari tersebut karena ia sudah tahu menu apa itu.
"Boss gede, makannya sederhana banget yah."Ujar pramugari yang satu pada temannya.
"Ya, bagus dong, itu makanan sehat."Balas temannya.
****
Hari ini Devi ijin tidak masuk, entah kenapa, Danien langsung tahu, sebentar ia akan kesana melihat Devi.
Danien mendial nomor Kantor Agatha, untuk membawakan laporan pada nya, dan setelah itu dia tampak membuka beberapa email yang masuk.
Ia teringat amplop yang itu kali pernah ia ambil dari meja Devi, ia mengeluarkan dari laci meja nya, disana tertulis nama Rumah sakit Daerah, ya rumah sakit itu milik pemerintah.
"Apa aku kesana ya."Gumamnya sambil membuka amplop tersebut dan tertulis disana apa yang membuat ia ingin membahagiakan Gadis itu.
Danien langsung menyambar jas dan tidak lupa Ipad yang tak pernah ketingalan, ia kebetulan hari ini membawa mobil sendiri.
"Eh pak, saya membawakan laporan yang bapak minta tadi."Ujar Agatha yang kaget karena CEO nya akan keluar dari ruangan.
"Simpan di meja dekat sofa Tha, saya pergi sebentar."Ujar Danien dan berlalu dari sana, hingga membuat Agatha hanya menghela nafasnya saja.
"Boss aneh, kemana ya, ah sudah lah."Ujar Agatha dan berjalan masuk ke ruangan CEO nya dan menaruh tumpukan map di meja sofa tersebut. Dan Agatha juga tahu jika hari ini Devi ijin, tapi ia sendiri tak tahu alasan temannya itu sering ijin.
Danien menekan lift menuju baseman, karena mobilnya ada disana, dengan cepat ia berjalan menuju mobil berwarna biru tua itu.
Tujuan nya saat ini adalah Rumah sakit Daerah tadi, dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota yang lumayan padat tapi tertib.
****
Tampak Axell yang bermain bersama Leon yang tadi datang atas permintaan Axell tentunya, eits mereka bukan main ya, melainkan melakukan pekerjaan yang seharusnya belum boleh mereka lakukan.
Mereka berdua membobol system keamanan kantor, termasuk kantor papinya Rayn, dan juga kantor daddy Reivant, tapi mereka tidak bisa membobol keamanan Danien (dasar anak kecil). Mereka saat ini ada di ruangan Harld.
"Ell, apa paman gak marah?."Tanya Leon yang sibuk dengan komputer.
"Lakukan saja Le, mereka tidak akan marah tapi mereka akan berterima kasih pada kita."Balas Axell santai sambil menyesap susu kotak yang tadi ia minta pada maid, dengan berbagai cemilan tentunya.
"Baiklah, eh ini apa Ell?."Ujar Leon dan bertanya pada Axell tentang map merah di atas meja komputer itu.
"Mana sini."Ujar Axell, dan Leon memberikan map merah itu pada Axell
"Hm ini map papi punya."Ujar Axell dan melihat isi dari map tersebut, ia sangat pintar jadi mudah untuk nya mengartikan semua arti tulisan tersebut.
"eh Ell, ada yang gak bisa dong."Ujar Leon menunjuk salah satu alamat IP
"Hm, itu pasti punya Daddy."Ujar Axell, ia tahu dan sangat tahu Danien bukan tipe orang yang ceroboh.
"Itu biarkan saja Le karena kamu tidak akan bisa, cukup perusahaan papi dan daddy Rei saja."Ujar Axell dengan santai nya.
"Ok boss."Balas Leon dengan senyuman, karena lirikan maut dari Axell.
"Wah bonekanya lucu."Ujar Leon yang melihat wallpaper di Iphone milik Axell,( ya selama ini Loen tak pernah melihat Iphone milik boss kecilnya itu).
"Is ini manusia Le."Ujar Axell datar
"Oh, siapa itu Ell, cantik."Balas Leon dengan mata berbinar.
"Kekasihku, boneka kecilku."Ujar Axell singkat, membuat teman kecilnya itu menyemburkan susu stroberi dari mulutnya, yang baru saja ia minum. (lah sama Le, aunti juga kaget to).
"Wahh, dia sangat cantik, aku mendukungmu Ell."Ujar Leon sambil tersenyum, dan Axell hanya menatap Leon datar.
Ok kita tinggalkan dua bocah Tampan itu yang sok dewasa itu,.( ampun, anak-anak gw dah pada Cinta-cintaan dah)
****
Danien tiba di sebuah rumah sakit dengan memakai masker dan kacamata putih membuat ia terkesan seperti seorang Dokter, dan kadar ketampannya masih bisa di lihat dan di rasakan oleh sekitar.
Beberapa petugas melihat kedatangan pria yang super cuek dan sangat tampan itu, Danien berjalan ke arah resepsionis dan menanyakan ruangan dokter spesialis kanker.
"Permisi."Ujar Danien menyapa petugas yang berjaga disana, membuat tiga orang yang disana menatapnya intes dan kagum akan makhluk ciptaan Tuhan yang ada di depan mereka saat ini.
"Iya Tuan, ada yang bisa di bantu?."Tanya salah satunya sopan. ia sebenarnya gugup tapi berusaha professional.
"Ruangan Dr. Armita dimana?."Tanya Danien, ia tahu dari surat tadi.
Dia tahu siapa itu Dr. Armita, tapi kan, ini bukan Michael Hospital yang bisa dengan sesuka hati ia terobos.
"Oh di lantai 2 Tuan, naik lift belok kanan, nanti ada namanya."Ujar resepsionis itu lagi.
"Baik, terima kasih."Balas Danien dan berjalan meningalkan meja tersebut.
"Wahh, di balik masker tersebut aku bisa merasakan aura ketampanan."Ujar teman dari resepsionis tadi.
"Eh cin, tahu gak wajah ku panas, saat ia melirik padaku."Ujar seorang pria jadi-jadian.
"Dih mulai kumat, kalau liat yang cakep-cakep."Ujar satunya, temannya hanya tersenyum. SKIP
Danien masuk ke salah satu lift yang mengantarkannya ke lantai 2, ia bersama seorang wanita yang mengunakan jas Dokter, yang juga melirik pada Danien, tapi Danien tak perduli itu.
Saat pintu lift terbuka, dengan langkah Panjang Danien berjalan keluar lift dan mencari di mana ruangan Dr.Armita tersebut.
"Permisi, saya bisa bertemu dengan Dr.Armita."Ujar Danien pada seorang petugas kesehatan yang berjaga di luar konsultasi tersebut.
"Maaf pak, bisa saya lihat kertas pendaftarannya."Tanya petugas itu ramah
"Bukan saya yang konsultasi, tapi saya hanya ingin bertemu dengan Dr.Armita saja."Balas Danien Panjang kali lebar.
"Baik, tunggu sebentar pak."Ujar Petugas itu dan berdiri menuju ruangan Dr.Armita dan masuk ke dalam.
Tak berselang lama petugas itu keluar, ia melihat tamu entah pasien itu, ia juga bingung menyimpulkan karena tampak rapi dan seperti seorang pejabat itu.
"Maaf tuan, anda boleh masuk."Ujar petugas itu dan mengijinkan Danien untuk masuk, dan Danien melangkah menuju Ruang Dr. tersebut.
"Permisi Dr. Armita."Sapa Danien dan melepaskan maskernya, hingga membuat Dr. yang seumuran Ny.Park itu terkejut menatap tak percaya jika yang datang ke ruanganya, ia tahu pria di depannya itu, ya karena ia juga pernah, dan masih bekerja dengan Park Ramons hingga saat ini.
"Siang Tuan Danien Park."Sapa dari Dr.Armita.
"Terima kasih, saya merasa tersanjung anda masih ingat saya."Ujar Danien dengan senyum tipis.
"Ada apa Tuan muda kesini?."Tanya Dr.Armita Todepoint dengan tatapan bingung.
"Saya ingin menanyakan tentang pasien bernama Devi Maharani."Ujar Danien tanpa basa-basi lebih panjang.
"Devi Maharani?."Tanya Dr.Armita sambil menatap Danien.
"Hm,,"-Danien hanya berdehem
"Dia pasienku."Ujar Dr.Armita, karena ia tak mungkin bertanya kenapa pada tuan muda Park itu, dan tidak mungkin ia bertanya tentang hubungan antara tuan muda park itu dengan wanita bernama Devi Maharani, pasiennya itu.
"Sudah stadium berapa?."Tanya Danien memastikan.
"Stadium 3, tapi jika ia tak lekas mengikuti saran saya untuk melakukan kemoterapi, itu akan cepat bertambah parah."Ujar Dr.Armita lagi.
"Hm, terima kasih Dok."Ujar Danien dan berdiri.
"Kapan Kembali ke Michael Hospital?."Tanya Danien lagi membuat Dr.Armita melongo.
"Nanti saya pasti Kembali ke sana Tuan muda."Ujar Dr.Armita dengan senyum
"Baiklah, saya permisi."Ujar Danien dan berbalik dan keluar dari ruangan Dr tersebut.
Sepeninggal Danien, Dr.Armita menatap map pasien bernama Devi Maharani itu, ia tahu tak seharusnya ia menceritakan tentang Devi pada Tuan muda Danien, tapi melihat tatapan mengintimidasi dari seorang Danien membuat ia menceritakan saja.
Danien tak bertemu Devi karena, wanita itu sudah pulang ke kediamannya, setelah tadi ia melakukan pemeriksaan rutin.
***
Di sebuah rumah mungil milik seorang wanita muda, tampak disana wanita cantik itu menatap nanar kediamannya, ia merasa tak ada harapan lagi, tapi jika mengingat kekuatannya adalah karena Danien ia ingin sekali melakukan pengobatan.
Tapi karena kendala keuangan lah yang membuat ia mengurungkan niatnya itu, karena menurutnya anak-anak panti jauh lebih penting.
"Ibu, Ayah, Evi Lelah."Gumamnya sendiri menatap sebuah figura ketika ia masih bayi.
"Maafkan Evi bu, evi tak bisa memenuhi permintaan ibu."Ujarnya lagi dan menitikan air matanya.
Ada rasa sakit yang ia rasakan saat mengingat permintaan terakhir ibunya saat itu, ia bingung dengan hubungan nya bersama Danien Atasannya itu.
TBC.