PRINCESS DADDY'S

PRINCESS DADDY'S
158. Please, Don't forget Me.



Rachel berbaring di samping Axell, entah ia melihat wajah damai anaknya yang membuat ia merasakan sedikit kepedihan dalam dadanya. Apakah akan terulang kembali kisah ini.


Apa yang harus ia lakukan, ya tadi saat pulang dari kantor, ia tidak langsung pulang tapi berkeliling menghilangkan penat dan sebenarnya ia melihat Danien dan Devi yang kebetulan keluar dari salah satu cafe.


Entahlah hatinya sakit tapi tak mungkin ia ungkapkan, karena ia sadar diri, dirinya dan Danien tak ada hubungan apapun hanya hubungan kerja sama yang menghasilkan rasa yang tak terhindar dari Rachel.


Harus ia lakukan sekarang, menghilang dan menghindar lebih baik daripada sakit nya lebih dan lebih,  dan itu adalah keputusannya sudah sangat bulat.


Malam semakin menanjak menuju puncak peraduan, Rachel akhirnya terlelap dalam mimpinya untuk esok hari bersama putra semata wayangnya.


Pada akhirnya, dia harus pergi agar semua baik-baik saja, sudah cukup kegagalan yang dulu dia alami dan dia tidak ingin semua terulang kembali. Dia harus memulai hidup baru bersama putra semata wayangnya.


****


Begitu juga dengan Danien, ia yang sudah merencanakan sesuatu untuk esok pagi, yang sudah ia pikir kan matang-matang. Dia akan mengambil sebuah keputusan yang sangat berat untuk nya, tapi itu yang harus ia lakukan untuk hatinya dan perasaannya.


Dikamar Reivant baru selesai mandi, karena tadi ia masih bercengkrama dengan istri mungilnya sedangkan putri kecilnya sudah tidur saat ia datang tadi.


"Sayang, belum tidur?."Tanya Reivant pada Shera yang menatapnya penuh kebahagiaan.


"menunggumu Pa."Jawab Shera dengan senyum mengembang di wajahnya menatap suami itu.


"Ayo tidur, tidak baik untuk kesehatanmu dan anak kita."Ujar Reivant yang sudah memakai piyama dan membawa istrinya menuju tempat tidur, ia memeluk istrinya yang membelakanginya.


Seluruh penghuni rumah indah itu sudah terlelap di dalam peraduan nya masing-masing, bermimpi berharap besok akan menjadi hari yang lebih baik.


****


Pukul 05.00 pagi, Rachel sudah terbangun dan ia membangunkan Axell yang tampak masih asyik dalam dunia mimpinya. Dia sudah memutuskan untuk pergi dari kota ini, bukan dia lemah tapi dia tahu, dia tidak pantas untuk menghancurkan perasaan sahabatnya dan juga perasaannya tentunya, bukan kota kelahirannya tempat yang ia tuju tapi ada kota lain.


"Boy, wake up."Panggil Rachel pada putranya itu


"Why mom, ini masih sangat pagi."Balas Axell saat ia melihat jam dinding di kamarnya


"Bangun, hari ini kita ikut paman Rayn ke kota seberang."Ujar Rachel dengan jelas dan merapikan kamar.


"Kenapa tiba-tiba mom?".Tanya Axell sambil menatap wajah maminya


"Nanti kamu akan tahu sayang."Ujar Rachel dan memeluk putranya erat.


"Dan untuk masuk sekaloh kamu disana saja, apa kamu ingin mengajak Leon bersamamu?."Ujar Rachel bertanya tentang sahabat anaknya itu dan melepaskan pelukan dari tubuh kecil putranya.


"Apa boleh mom, tapi apa mommy nya Leon setuju."Ujar Axell sedikit ragu


"Anak mommy pasti bisa." Senyum Rachel dan menyakinkan putranya, Axell Aharon pasti bisa melakukan hal kecil ini.


"Kita berangkat jam 9 pagi ini, jadi kamu masih ada waktu untuk berbicara bersama Leon dan ibunya."Lanjut Rachel meyakinkan Axell.


"Oke mom."Ujar Axell bernada lesu, ia langsung teringat akan boneka mungilnya


Axell mengambil air yang sudah tersedia di atas meja nya, dan meminumnya, itu yang selalu ia lakukan setiap pagi, karena itu baik untuk lambung. Setelah itu ia langsung menuju kamar mandi, ia akan mandi dan bersiap ke rumah Leon sebentar lagi.


Dimeja makan sudah ada Rayn, ia juga kaget saat semalam adiknya Rachel meminta ikut ke kota seberang dan ingin menetap beberapa saat disana. Rayn tak bertanya lebih, ia tahu jika adiknya meminta ikut berarti ada hal yang ingin ia hindari, seperti dulu saat adiknya itu berpisah dengan mantan suaminya, ia juga memilih untuk menghindar dan menghilang dari pandangan pria itu.


Rachel sudah rapi dengan pakaiannya, berjalan menuju meja makan, mereka sangat tidak suka terburu-buru jadi sedari pagi mereka sudah bersiap.


"Dimana Axel, Yue?."Tanya Rayn pada Rachel dan menduduki dirinya disalah satu bangku kosong di meja makan.


"Masih di kamarnya, Ye! hm, Ye, tolong jangan katakan apapun pada Reivant."Ujar Rachel yang tahu arti tatatpan mata kakaknya itu.


"Hm,,baiklah, kakak paham, jadi katakan sendiri padanya, kita berdua sama-sama sahabatnya."Ujar Rayn sambil tersenyum menatap wajah cantik adiknya yang sangat mirip dengan wajah ibu mereka.


"hem, iya kak, eh apa rumah disana sudah di isi maid?."Tanya Rachel dan menuangkan susu ke gelas putra kecilnya, sesibuk apapun dirinya, Rachel akan selalu mengutamakan putranya.


"Sudah, hanya 5 maid, cukup kan?."Tanya Rayn


"Lebih dari cukup, Ye. Disana juga aku hanya ingi beristirahat sebentar dan sepertinya aku ingin membuka usaha kecil-kecil."Jawab Rachel sambil menyendokan sayur untuk kakaknya itu.


"Ehm, kau yakin, Yue?." Tanya Rayn menatap adiknya dengan tatapan tanda tanya.


"Lihat saja nanti, kalau aku tidak sibuk." Senyum Rachel dan membuat kakaknya hanya menangguk kecil.


"Good morning uncle, mom."Sapa Axell yang baru turun dari lantai 2 


"Pagi boy."Balas Rayn, dengan senyum mengembang menyambut kedatangan Baby Boy nya itu.


"Boy, apa kamu akan ke rumah Leon selesai sarapan?."Tanya Rayn.


"Yes uncle, aku ingin mengajaknya, karena Ell yakin Leon pasti setuju."Ujar Axell panjang kali lebar


"Baiklah, tenang nanti Uncle siapkan guru yang bagus untuk latihan kalian disana."Ujar Rayn tersenyum bangga pada ponaannya itu.


"Okey Uncle, aku mempercayakan hal ini kepadamu." Axell tersenyum dan mengedipkan matanya kepada Unclenya, dia tahu Unclenya tidak pernah mencari semberang guru untuk dia dan sahabatnya Leon nanti.


Setelah menyelesaikan sarapan pagi ini, Rachel kembali ke kamarnya, sedangkan Rayn menuju ruang kerjanya dan Axell ia sudah berada di dalam mobil yang akan mengantarkan nya ke rumah Leon bersama seorang supir dan dua bodyguard.


"Hm,,"Hanya deheman sebagai jawaban Axell.


Dia sudah tahu tapi ia ingin menikmati perjalanan, hei jangan salah sebenarnya ia sudah menyiapkan jebakan-jebakan kecil jika orang yang mengikutinya melakukan tindakan lebih, tapi ternyata mobil itu tidak melakukan apapun, hanya mengikuti mereka hingga rumah Leon dan mobil itu terus berlalu. sepasang mata menatap pria kecil itu dengan senyum tipis dan sendu.


Axell keluar dari mobilnya, dan berjalan menuju bangunan sederhana yang tampak asri dengan bunga warna-warni.


"Pagi.."Sapa Axell dengan suara kecil yang lantang


"Tunggu."terdengar suara wanita dewasa dari dalam rumah tersebut.


Pintu terbuka, tampak wajah cantik seorang wanita yang Axell tahu itu adalah mommynya Leon


"Pagi aunty,,"Sapa Axell dengan senyum manis dan melambaikan tangannya.


"Pagi, tuan muda."Balas Anna tersenyum, ia sedikit kaget karena kedatangan tuan muda Aharon itu.


"Panggil Axell aja aunty."Ujar Axell dengan wajah yang terkesan lucu


"Oh,, baiklah nak Axell, ada keperluan apa hingga datang pagi-pagi?."Tanya Anna hampir tertawa melihat wajah lucu Axell.


"Leon dimana aunty?."Tanya Axell seakan berbicara serius saat Anna mempersilahkan masuk dan duduk di sofa.


"Ada apa, Leon ada di kamarnya?."Tanya Anna penasaran dan menatap Axell dengan tatapan selidik.


"Tunggu, aunty panggilkan dulu ya."Ujar Anna dan berlalu ke belakang menuju kamar anaknya


Sedangkan dua bodyguard berdiri di samping tuan muda mereka, dan sopirnya di tetap berada di dalam mobil untuk melihat situasi.


"Ell,,"Sapa Leon yang seperti biasa saja pada sahabatnya sekaligus atasannya mungkin kelak.


"Hai,,"Sapa Axell santai sambil melihat sekeliling rumah sahabatnya yang walaupun kecil tapi unik.


"Apakah ada angin topan yang membawa mu pagi-pagi kesini."Tanya Leon bercanda karena ia juga kaget karena sekarang mereka kan baru mau masuk SD jadi masih masa santai.


"Aunty duduklah."Ujar anak berusia 7 tahun itu santai


Anna tak bisa menolak permintaan tuan muda Aharon itu, karena walaupun ia bekerja di bawah kuasa keluarga Park tapi keluarga Aharon bukanlah keluarga yang kecil.


"Baik."Jawab Anna dan duduk di depan Axell berselebelahan dengan Leon anaknya.


"Aunty santai saja."Ujar Axell melihat wajah tegang dari ibu Leon itu


"Aku kesini hanya ingin mengajak Leon ikut bersamaku aunty."Ujar Axell todepoint


"Kemana Ell?."Tanya Leon penasaran


"Ke negara seberang."Ujar Axell tanpa babibu, ia sengaja tak menyebutkan nama negaranya untuk sekarang nanti ia baru memberi tahukan kemana mereka.


"Apa boleh aunty, aku hanya percaya Leon yang berdiri di sampingku hingga kami besar nanti."Tanya Axell dengan tatapan mengimidasi yang membuat Anna kesusahan menjawab.


"Bu, apa Leon boleh ikut, Leon ingin bekerja supaya bisa membahagiakan ibu kelak."Ujar Leon memohon dan menatap Ibunya yang tampak sedang berpikir.


"Baiklah, ibu percaya kalian akan baik-baik saja disana."Ujar Anna akhirnya, ia tidak ingin mengekang apapun keinginan anaknya dan ia percaya Axell akan membawa Leon menjadi pribadi yang pemberani.


"Aku akan mengirim orang untuk aunty disini."Ujar Axell tersenyum karena ia akhirnya bisa membawa Leon bersamanya.


"Apa kamu sudah mandi Eon?."Tanya Axell yang tentu saja mendapatkan tatapan maut dari Leon.


"Ok, aku tahu jawabanya, sekarang kita berangkat, jangan bawa apapun."Ujar Axell tentu saja Anna kaget karena anaknya langsung di bawa pergi.


"Tapi, apa kalian,,"Tanya Anna yang tak habis


"Tenang saja aunty, semua kebutuhan sudah di siapkan mommy."Ujar Axell dan bangun dari tempat duduknya.


"Kalau begitu kami pergi sekarang aunty, karena mommy dan uncle pasti sudah menunggu sekarang."Ujar Axell dan menunggu  Leon berpamitan pada ibunya.


"Bu, percaya pada Leon."Ujar Leon dan berjalan menuju mobil dimana Axell sudah menunggu disana.


Anna hanya bisa terpaku menatap anak seumuran mereka tapi pikiran mereka sangat dewasa, makan apa ya anak-anak itu, ampun seperti nya Anna lupa bahwa salah satunya adalah anakya.


Leon dan Axell melambaikan tangan nya pada Anna dan di balas oleh ibu muda itu, dengan senyum dan mata yang mata yang berkaca-kaca.


Mobil sedan mewah itu berjalan pelan keluar dari pekarangan rumah Leon dan perlahan menghilang dari pandangan Anna, tak berapa lama sebuah motor matic muncul dan berhenti tepat di depan Anna yang tentu saja membuat Anna kaget yang ternyata adalah adiknya.


"Kamu ini membuat kakak kaget saja."Ujar Anna dan menatap adiknya kesal.


"Itu mobil siapa kak?."Tanya adiknya sambil memarkirkan motornya.


"Mobil tuan muda Axell."Jawab Anna dan berlalu dari sana, ia sedih tapi ia harus kuat karena permintaan tuan muda Aharon mutlak.


"Ohh,, baiklah." Jawab adiknya Anna dan berlalu memasuki rumah kecil mereka.


TBC.