PRINCESS DADDY'S

PRINCESS DADDY'S
159. Lonely. (Inggris dikit Nape. )



Brandon mengambil sebuah kotak makan yang terletak di atas meja dan membuka kotak makan tersebut, matanya berbinar saat melihat isi makan yang begitu ia sukai.


"Oh itu perpustakaan yang mau di renovasi kan kak?."Brandon membuka sebuah gambar, sambil memakan singkong rebus yang baru di bawa oleh Agatha, yang pastinya dari Shera, karena ia suka makanan seperti itu


"Iya, dan kakak minta kamu dan Danien yang menghandle nya." Reivant mengangguk menjawab pertanyaan adik keempatnya.


Mereka bertiga menikmati singkong rebus, jangan salah walaupun terkesan merakyat makanan itu adalah makanan elit yang bisa mengantikan nasi saat lapar.


"Wah, aku jadi ingat saat kecil dulu kak." Danien tersenyum mengingat masa kecil mereka dulu.


"Ah,,ingat paman Go,,". tanya Reivant.


"Iya kak, saat kecil kita di suguhi pisang goreng dan singkong rebus oleh istri paman Go." Danien menatap singkok rebus itu sejenak sebelum mendarat di dalam mulutnya.


"Aku salut kak Shera sangat sederhana, sampai makanan pun gak aneh-aneh, dan ini enak." Puji Brandon dan terus menguyah tanpa henti, sepertinya pria ini kelaparan.


Tak lama pintu ruangan Reivant terbuka, yang pelakunya adalah Arthur bersama Chaiden, kedua manusia kembar Park masuk kedalam ruangan dengan senyuman sumringah di wajah mereka.


"Pagi kakak-kakakku." Sapa Arthur riang, menghempaskan tubuhnya di sisi kakaknya Danien.


"Ya ampun Ar, bisa gak biasa saja."Ujar Chaiden yang terkadang gemas akan tingkah bayi tua itu.


"Hehe, kan biar rame kak." Balas Arthur tak mau kalah menatap kakak pertamanya, sepertinya ada hal yang ingin dia ketahui dari kakaknya itu, tapi dia memilih diam.


"Wahh kalian makan sendiri ya."Arthur mengambil garpu yang ada di tangan Brandon untuk mengambil singkong.


"Yak,, masih ada garpu bersih disana." Kesal Brandon menatap adiknya yang menunjukkan wajah polosnya seolah tidak bersalah.


Mereka tidak pernah memilih dalam hal makanan, selama itu higenis dan sehat pastinya, apalagi makanan dan kue-kue lokal yang selalu di suguhkan oleh mommy mereka.


"Ada apa kalian kesini?."Tanya Brandon yang kesal dengan adiknya itu, sepertinya dia belum iklas jika garpunya di rebut.


"Mau main saja kesini kak dan membawa ini,, eh amplop apa itu." Arthur menunjukan Map biru di tangan kirinya dan bertanya tentang amplop samping meja dekat Brandon.


"eh, itu apa Don?."Timpal Chaiden  yang juga melihat amplop coklat di samping Brandon


"Oh bukan apa-apa hanya surat dari prudential." Bohong Brandon,  membuat ketiga saudaranya bingung, tidak dengan Reivant karena ia tahu isi surat itu tanpa membaca juga.


"Oh sejak kapan kakak bergabung dengan aliansi-aliansi seperti itu?."Tanya Arthur yang kepo yang di angguki oleh Danien dan Chaiden karena mereka penasaran


"Ah,, belum lama, sebenarnya belum bergabung, hanya mereka mengirimkan surat penawaran saja dan aku sedang berpikir untuk bergabung atau tidak." Brandon berusaha meyakinkan mereka dengan raut wajah seolah berpikir.


"oh,,begitu." Chaiden mengambil minum air putih milik kakaknya Reivant.


"Apa itu laporan dari kota M?."Tanya Reivant yang sedari tadi hanya melihat tingkah konyol adik-adiknya


"Iya kak, dan juga ada yang sudah di kirimkan ke email kakak." Jawab Chaiden


"Itu tinggal kakak periksa kembali dan tanda tangan."Lanjut Chaiden lagi


"Hm,,"Hanya deheman yang menjadi jawaban Reivant.


"Oh ya, mana Rachel ?Don?." Kali ini Chaiden menyadari keberadaan Rachel dan mencari keberadaan wanita itu yang selalu ada jika ada perkumpulan anak-anak Park.


"Oh, masih ijin katanya, Kak." Brandon menjawab dengan cepat dengan wajah tetap santai seolah tidak terjadi apa-apa,


"Oh, oke lah, kak makan siang dimana?" Chaiden hanya menangguk, sambil menatap jam tangannya yang sudah menunjuk jam makan siang.


"Di tempat Aidyen, karena kakak ada peninjaun disana sebentar lagi."Jawab Reivant


"Loh, bukannya kakak bilang gak ada kerjaan kenapa sekarang ada." Protes Brandon dengan wajah bingungnya.


"Kan tadi, sekarang ya ada." Reivant bangkit berdiri menuju meja kerjanya sambil membawa map yang tadi di bawakan adik-adiknya. 


"Dan, apa kamu bisa ikut kakak?." Reivant melihat kearah adik keduanya yang tampak diam dari tadi.


"Kak, kenapa bukan Arthur saja." Rajuk Arthur, karena ia merindukan adik bungsunya itu.


"Tidak bisa Ar, kalian bertiga harus menijau perpustakaan tersebut,,"Ujar Reivant yang masih sibuk dengan beberapa map yang harus ia periksa dan tanda tangani


"Baiklah kak, padahal aku merindukan bungsu." Arthur menekukkan wajahnya dan bergumam di akhir katanya.


Membuat ketiga saudaranya hanya geleng kepala melihat akan tingkah seorang Arthur Park yang terkadang terkesan seperti seorang bocah ketimbang pria dewasa.


*****


Setelah perdebatan panjang tadi, akhirnya Reivant dan Danien sudah di dalam mobil menuju ke tempat AGY ENT, karena mereka ada meeting bersama Tuan Orlando tentang perusahaan tersebut tentunya dan sekalian melihat keadaan adik bungsu mereka.


"Bagaimana Dan, apa ada yang mulai mengusik perusahaan kita?."Tanya Reivant saat mereka dalam perjalanan menuju ke AGY ENT.


"Iya, kakak tahu untuk saat ini mereka masih berdiam diri, kerjasama hanya ingin mencari keuntungan itulah yang mereka lakukan." Reivant menghela nafas panjang dengan wajah yang tetap tenang, namun terkadang dia merasa gelisah tapi sebagai kakak pertama dia harus kuat demi keluarganya.


"Iya kak, kami takkan lengah."Jawab Danien mantap dan menyakinkan kakaknya.


Sepanjang perjalanan Danien merasa kehampaan, walaupun sedaritadi mata nya menatap Ipad tapi tidak dengan pikirannya yang berkelana kesana kemari.


Dalam diam dia merindukan Axel, pria kecil yang selama ini selalu mengusik hari-harinya, terutama ibu dari pria kecil tersebut, tapi ada wanita muda yang ingin ia selamatkan hidupnya, kebimbangan merasuki hati dan pikirannya untuk saat ini.


Terkadang dia harus mengalah demi sebuah kehidupan, yang berharap kebahagiaan di akhir kehidupannya yang ingin dijadikan sebagai kenangan terindah, dengan mengorbankan perasaan yang berujung luka dan kehilangan.


Entah apakah kelak mereka akan di pertemukan lagi oleh keadaan, takdir atau semua akan berakhir disana dan tidak memiliki kesempatan untuk di pertemukan lagi, dan semua hanya akan berakhir menjadi kenangan.


(Ahhh,, Danien dirimu terlalu melodrama, come on bro.. kau pasti bisa- Author kim menjulid di ujung jok mobil sambil menguyah sisa singkong rebus.)


Berbeda dengan mobil yang di tumpangi kedua putra tertua Park, dalam mobil yang membawa ketiga manusia rusuh, siapa lagi jika bukan Chaiden, Brandon dan Arthur yang akan menjadi berwibawa saat menghadapi pekerjaan.


"Kak, siapa arsitek untuk renovasi perpusatakaan tersebut?."Tanya Arthur yang melihat beberapa denah yang di kirimkan.


"Hari ini kita akan bertemu orangnya, ini bagus denah yang ia kirimkan." Brandon mengangkat sebelah alisnya, dikarenakan dia melupakan nama dari arsitek itu.


"Mr. Marvin." Jawab CHaiden yang saat ini berbalas pesan dengan Ayah dari Azura itu.


"Oh, iya Mr.Marvin kan salah satu Arsitek terkenal itu ya kak?."Tanya Arthur lagi.


Perjalanan yang tak memakan waktu yang lama, akhirnya mereka bertiga sampai di lokasi perpustakaan yang akan di renovasi tersebut, tampak beberapa alat berat dan bahan-bahan yang sudah ada di lokasi tersebut.


Ketiga putra Park tersebut keluar dari mobil mereka, dan sekarang mereka menggunakan sopir begitu juga dengan kedua putra Park tertua, karena mereka menghemat tenaga untuk pekerjaan yang menguras isi kepala dan isi dompet.


****


Disebuah hotel ternama dimana tempat di adakan turnamen game yang sangat di tunggu-tunggu, akhirnya mobil yang membawa ketiga manusia beda usia yaitu Tuan dan Ny.Park berserta Stella yang tampak antusias melihat betapa cangihnya layar-layar yang ia lihat.


Karena selama ini yang ia lihat hanya pakaian dan perhiasan dan makanan mewah, baru kali ini ia melihat alat-alat teknologi yang yang sangat memukau baginya.


"Mom apa seperti ini setiap pertandingan, Mike?"Tanya Stella antusias yang melihat banyaknya penonton dengan pengangum Team yang di pimpin oleh Michael Park.


"Iya Tella, mami dan saudara-saudaramu pernah ke kota M hanya untuk menonton pertandingan Mike."Ujar Ny.Park bercerita dan semakin membuat Stella terpukau melihat kesisi kiri kanannya.


"Wah aku sudah tak sabar melihat kepiwaian mereka Mi. Pasti adikku Mike sangat kerena, harusnya aku membawa sebuah spanduk untuk menyemangati Mike." Stella menghela nafas kesal, tapi wajahnya tak henti menunjukkan senyuman.


"Ayo kita masuk, sebentar lagi acaranya akan mulai." Ujar Tuan Park pada kedua wanita beda usia tersebut.


"Oke dadd. Let's go."Jawab Stella, dan ia berjalan sambil mengandeng tangan Ny.Park, karena ia sudah menganggap Tuan dan Ny.Park adalah orang tuannya.


*****


Dikota X, sebuah Jet pribadi mendarat dengan selamat, perjalanan yang memakan waktu sekitar 10 jam lebih, akhirnya mereka tiba dengan seamat. Beberapa bodyguard dan orang kepercayaan Rayn sudah menunggu dengan beberapa buah mobil yang terparkir rapi menyambut kedatangan atasan mereka.


"Ahh,,Syukurlah akhirnya kita tiba juga." Rachel tersenyum manis yang terpartri di bibirnya.


"Yue, mana Axell dan Leon?."Rayn mencari keberadaan ponakannya, karena dia tak melihat kedua pria kecil keponakannya itu.


"Hm,,aku tak melihat nya Ye." Rachel dengan santai mengangkat kedua bahunya menjawab kakaknya.


"Mungkin mereka sudah turun, karena mereka berdua sangat antusias sedaritadi." Ujar Rachel kembali, dan ia bersiap untuk turun dari jet.


Dan ternyata benar kedua pria kecil itu sudah berdiri di bawa tangga dengan bucket bunga di tangan entah dari mana mereka mendapatkannya. Itu adalah cara Axell untuk menyenangkan hati mommynya, ya pria kecil itu sedikit tidaknya ia peka akan keadaan ibunya.


"Wahh,,indah sekali." Senyum Rachel dan mengambil bucket bunga dari tangan anak semata wayangnya.


"Mom, semoga disini mommy bisa melupakan apapun yang terjadi dulu, tenanglah ada Axell yang akan menjaga Mommy dan juga ada Leon." Ujar Axell sok dewasa dan menyakinkan Mommynya, karena dia dan saudara barunya akan menjaga Rachel sebisa dan semampu mereka.


"Thank you boy."Ujar Rachel masih tetap dengan senyum walaupun dalam hatinya ia menangis


Leon memberikan sebuah kotak berukuran sedang, yang ternyata itu semua sudah di persiapakan oleh Axell dan Leon dengan bantuan paman mereka tentunya Rayn dan yang pasti di kerjakan oleh Bass beserta anak buahnya.


"Mom,, berbahagialah disini bersama kami." Ujar Leon dan membuat Rachel membawa kedua pria kecil itu kedalam pelukannya.


"Terima kasih Baby Boy. Mari kita hidup dengan bahagia dengan kisah yang baru." Senyum Rachel dan menggandeng tangan Axell yang juga memegang tangan Leon yang berjalan di sampingnya.


Diikuti Rayn dari belakang yang menyaksikan drama kecil yang di buat oleh kedua manusia kecil yang sangat menyentuh, tapi mereka terlalu mendrama, hingga tak sadar membuat Rayn tersenyum kecut, hatinya sakit melihat adik perempuan satu-satunya menjalani hidup yang begitu menyedihkan seperti itu.


Rayn berharap adiknya bersama putranya, bisa memiliki kehidupan yang lebih baik disini.


TBC