
Mereka masuk ke lift yang khusus untuk ke ruangan kakak dan Daddy mereka,
"Sepertinya kakak sekarang lebih banyak berubah dan lebih dewasa." Ujar Arthur akhirnya saat melihat kakaknya itu tadi berjalan dengan coolnya tanpa tebar pesona seperti dulu.
"Baguslah, setidaknya aku tidak punya saingan lagi." lanjutnya lagi sambil memberikan dua jempolnya pada kakak keempatnya itu.
Brandon hanya tersenyum melihat tingkah usil adiknya itu.
"Siang Pak." Sapa Agatha saat melihat kedua adik dari Atasannya itu
"Iya siang kakak ipar,,upsss Agatha." jawab Arthur dengan senyum jahilnya dan Brandon hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
Agatha hanya balas tersenyum melihat adik dari bossnya itu sekaligus pria yang di kaguminya.
Deg, senyuman yang di berikan Agatha tadi memberikan dampak tak baik buat jantungnya Brandon yang berdetak tak karuan, di tambah lagi oleh tingkah Arthur yang tiada hentinya terus menggoda dirinya,
Dan itu tak luput dari tatapan adiknya Arthur yang sudah di depan pintu. Ia hanya tersenyum melihat kakaknya hampir salah tingkah dan hal itu membuat Arthur ingin terus menggoda kakak keempatnya itu.
"Siang kak." sapa Brandon dan Arthur bersamaan
"Ck, apa kalian berdua baru selesai melakukan paduan suara?." Goda Danien melihat kedua adiknya yang mengucapkan salam secara bersamaan.
"Siang." Balas Reivant
Arthur berjalan ke arah Dispenser, karena ia haus dan lapar yang bercampur menjadi satu.
"Kak, ini makanan untuk kita, ya?" tunjuk Arthur pada beberapa kotak makanan di meja depan kakaknya Danien
"Iya, kami menunggu kalian berdua untuk makan." Jawab Danien pada adiknya itu.
Brandon berjalan ke arah kamar yang ada di dalam ruangan kantor kakaknya Reivant, tujuannya ke Toilet untuk mencuci muka. Ya, kamar itu memang di desain sesuai kemauan Reivant karena dulu ia dan Brandon jarang pulang jika kerjaannya menumpuk. Sekarang ia sudah jarang mengunakan, paling hanya di gunakan oleh adik-adiknya saja untuk santai saat siang hari.
Reivant sudah bergabung Bersama kedua adiknya, masih menunggu Brandon yang tidak lama muncul dengan baju sedikit acak-acakan.
"Kak Don, apa itu style terbarumu?." Goda Arthur melihat penampilan kakaknya itu, karena tidak biasanya kakaknya acak-acakan seperti itu.
"Ck, Baju ku tadi Kotor saat kita melewati jalanan tadi." Ujar Brandon
"Aiyaa,, aku sedikit tidak percaya. Astaga, jangan katakan bahwa ini salah satu trik mu untuk menggoda Agatha. Wah,,satu langkah lebih maju." Ujar Arthur sambil menatap kagum kakaknya dengan tatapan jahilnya.
Brandon hanya memicingkan matanya menatap adiknya yang satu ini, Ia juga bersyukur karena tidak ada Kakak ketiganya. Mungkin dia juga akan habis-habisan di bully oleh kedua kembar Park itu.
"Setelah makan, pakai lah salah satu baju kakak di kamar, mungkin ada yang cocok buat kamu,Don." Ujar Reivant melihat sedikit noda di baju adiknya itu.
"Iya kak." jawab Brandon.
"Mari makan." Ujar Arthur heboh, sambil mengambil salah satu box makanan, karena ia sudah sangat lapar.
Mereka berempat makan tanpa ada pembicaraan yang serius, karena setelah makan baru mereka akan menyelesaikannya.
Setelah makan tadi, Brandon langsung beranjak dari sana menuju kamar kakaknya dan mencari kemeja yang pas untuknya, dan ia memakai satu kemeja berwarna biru dongker yang memang pas di badannya.
****
Reivant masih duduk di sofa dengan ketiga adiknya, ia menunggu informasi yang di bawakan kedua adiknya itu, Brandon dan Arthur. Begitu juga Danien yang juga sedikit penasaran, supaya ia bisa menentukan rencana berikutnya.
"Hm,,kak sepertinya untuk pertemuan antara kakak ipar dan Hanny tidak akan bias terealisasikan." Ujar Brandon membuka percakapan.
"Apa yang terjadi ,Don?" tanya Reivant pada adiknya itu
"Gadis bernama Hanny sudah meninggal beberapa bulan yang lalu, dan sepertinya kalau di telaah lagi, ia meninggal kecelakaan di bulan dan tanggal meninggalnya juga tepat sama dengan malam kak Rei kecelakaan Deh." Ujar Brandon dan bercerita panjang lebar dengan segala pemikirannya itu
"Maksudmu, apa ada yang terjadi saat malam kak Rei kecelakaan begitu Don." tanya Danien penasaran
"Bisa jadi kak, karena saya juga kaget saat lihat tanggal di kaca tempat persemayaman terakhir dari gadis itu." Jawab Brandon lagi.
"Apa mungkin gadis itu korban kecelakaan saat itu! Ar, mengingat dengan samar-samar saat kami melewati salah satu jalan disitu, sangat ramai." Ujar Arthur sambil mengingat kejadian hari itu.
"Bisa jadi seperti itu, jadi sekarang adalah Plan A yang harus saya gunakan kak Rei." Ujar Danien
"Tunggu berarti, Shera tidak tahu jika sahabatnya itu sudah meninggal?." Tanya Reivant
"Iya kak, kakak ipar tidak tahu, jadi saat kita telpon dia langsung bilang kalau Hanny yang nelpon, dan sekarang gimana, apa rencana keduanya kak??." tanya Brandon pada kakaknya Danien
"Uhm,,baiklah Dan kita pake rencana awal." Ujar Reivant
"Kak Rei." panggil Arthur sambil melihat kakak pertamannya itu dengan wajah memelasnya
"kamu kenapa Thur, apa kamu sakit?" Tanya Reivant khawatir melihat wajah adiknya itu
"Ar tidak sakit kak, tapi Ar boleh minta bantuan kakak gak??." Tanya Arthur lagi
"katakanlah, apa itu." Ujar Reivant sambil menatap adiknya itu
"Tadi pas kami lewat dari jalanan di perkampungan itu, ada satu panti asuhan yang sangat tidak terurus kak, apa boleh Arthur dan kak Brandon mengurusnya dan membantu panti asuhan itu?." Jelas Arhur dan bertanya pada kakak pertamannya.
"Haha,,Ar, Ar,,kakak kira kamu sakit, ternyata itu toh yang buat kamu ragu dari tadi ngomong sama kakak." Ujar Reivant sambil tertawa melihat tingkah adiknya itu
"Don, urus lah panti itu, bila perlu jadikan kita sebagai pendonasi tetap, dan Renovasi juga jika memang bangunannya tidak layak huni, cari tahu siapa pemilik panti itu, ambil alih semua asetnya." Ujar Reivant Panjang lebar, dan berjalan menuju kursi kebesaran, saat melewati Arthur ia sedikit mengusak kepala adiknya itu.
"Kak, Ar bukan anak kecil lagi." ujar Arthur dengan wajah cemberutnya, sambil merapikan rambutnya yang berantakan ulah kakak pertamanya itu.
"Lihat wajah mu Thur, itu yang di bilang bukan anak kecil,hahaha." Goda Brandon melihat adiknya, Arthur hanya memanyunkan bibirnya.
"Baiklah kak, kami akan urus semua, terima kasih kak,. Ujar Brandon menatap kakaknya sambil tersenyum di balas anggukan dari Reivant.
"Kak, apa Agatha sudah menghubungi temannya itu?." Tanya Danien pada Reivant
Saat Reivant akan berbicara, terdengar bunyi ketukan pintu, tak berapa lama Agatha masuk Bersama beberapa Map.
"Siang pak, maaf menganggu." Sapa Agatha
"Iya Tha, apa ada yang harus saya tanda tangani." Ujar Reivant sambil melirik Map yang ada di tangan sekertarisnya itu
"Iya pak, ini beberapa Proposal kerja sama yang harus bapak pelajari dahulu." Ujar Agatha
"Dan untuk yang bapak minta beberapa hari kemarin, saya sudah menghubungi teman saya." Ujar Agatha seakan berpikir
"Apa ada masalah??." Tanya Reivant sambil menatap sekertarisnya itu
"Begini pak, teman saya mau tapi suaminya melarangnya untuk bekerja." Ujar nya Ragu
"Baiklah, buatkan Janji antara saya dan juga temanmu beserta suaminya,," Jawab Reivant,
"Besok di restoran REZT, jam makan siang." lanjutnya lagi
"Jadi bapak mau bicara langsung sama mereka??" Tanya Agatha dengan bingungnya.
"Seorang Pembisnis besar seperti pak Reivant mau merendahkan dirinya untuk bertemu temannya yang bukan siapa-siapa." Pikir Agatha lagi.
"Ya, katakan lah, aku yakin mereka tidak akan menolaknya." Ujar Reivant lagi dengan senyuman yang Agatha sendiri baru melihatnya sekarang.
Atasannya sungguh sangat tampan jika tersenyum seperti itu, pantesan adik-adiknya juga semua tampan.
"Baik pak, saya pamit undur diri." Ujar Agatha berlalu dari ruangan Atasannya itu.
"Kak Rei, mau bertemu dengan siapa??". Tanya Arthur antusias saat mendengar pembicaraan antara kakaknya dan Agatha tadi
"Temannya Agatha, kakak meminta tolong pada nya, dan itu rencana awal saat sebelum Hanny itu." Jelas Danien menjawab pertanyaan Arthur.
"Apa besok kakak akan bertemu dengan mereka Bersama Agatha??." tanya Brandon entah apa yang di pikirkannya dengan raut wajah yang seperti cemburu.
"Ck, Don dia sekertarisku Don, jadi hilangkan wajah jelek mu itu." Ujar Reivant berdecak melihat wajah adiknya itu
Tak, bunyi pukulan kecil pada kepala Brandon dan pelakunya adalah Danien dengan mengunakan buku yang ada di tangannya, entah ia dapat dari mana, karena ia tidak habis pikir dengan adiknya itu.
"Hahahah,,,, Kak Don, astaga wajahmu sangat menggemaskan. Bisakah kau mengulanginya lagi dan aku akan memotretnya,kemudian akan ku tunjukan pada Agatha." Ujar Arthur yang tak mau diam dalam hal membully kakak keempatnya itu.
"Ini pekerjaan bukan kencan Don,," Ujar Danien dengan tersenyum,
"Ternyata jatuh cinta membuat orang gila, yah." lanjutnya lagi dan di selingi oleh Arthur yang tertawa dengan kencangnya.
"Ck,,aku hanya bertanya,kak!." Bela Brandon melihat kedua kakaknya dan adiknya yang tertawa terus melihat ke arahnya.
"Aku kembali ke kantor ku saja." Ujarnya lagi dan bangkit dari duduknya.
"Bye kak, jangan nyasar ke lain hati ya." goda Arthur, Sebelum Brandon menghilang dari balik pintu.
TBC.