
Saat Makan siang bukan lebih tepatnya makan malam dalam keadaan yang sangat lapar di selingi dengan canda dan tawa serta tingkah jahil dari para anak-anak Ny.Park yang mungkin tepatnya Brandon dan Arthur karena Danien dan Reivant hanya menjadi penonton setia, di tambah dengan Rachel yang mendukung perannya.
"Kak Rachel, jika ada audisi jadi artis sepertinya kak Rachel harus mendaftarkan diri." Ujar Arthur dengan senyum jahilnya.
"Ah,,iya sepertinya aku masih cocok memerankan karakter sebagai seorang istri yang sempurna." jawab Rachel dengan senyuman yang tak kalah jahil nya sambil menyuap Baby Carli dan Axell.
"Apa yang terjadi?." tanya Agatha yang sangat penasaran
"Seharusnya tadi kamu juga ikut berperan Thata." ujar Rachel menatap Brandon dengan sedikit menyipitkan matanya.
Brandon hanya bisa tertawa garing mendengar perkataan sekertarisnya itu. Begitu juga dengan Agatha.
"sudah cepat selesaikan makan kalian, masih banyak pekerjaan yang menunggu kita." Ujar Reivant menjadi penengah dalam hal pembulyan itu,tidak lebih tepatnya saling mengejek.
"ck,,kak Rei gak asyik ah." sanggah Arthur dengan wajah yang di tekuk
Danien hanya bias tersenyum melihat tingkah adiknya tersebut. Ternyata belum berubah juga anak itu, dengan wajah yang masih menekuk menatap kakak pertamanya dengan tatapan layaknya anak kecil.
Setengah jam kemudian mereka sudah menyelesaikan makan nya dan bersiap-siap untuk kembali ke kantor karena sekarang jam sudah menunjukan hampir pukul 4 sore, dan mereka harus menyelesaikan semua sebelum jam 7 dan mereka harus sudah pulang.
Mereka keluar dari Restoran tersebut, dan mereka selalu menjadi pemandangan yang indah untuk para pengunjung restoran tersebut, terutama kaum hawa, ada juga kaum adam yang kagum dengan kecantikan Rachel dan Agatha, tak sedikit yang iri dengan wajah tampan pria keluarga park tersebut.
*****
Agatha masih mengerjakan sedikit pekerjaanya dan saat ia mendengar peraduan antara sepatu dan lantai yang menciptakan bunyi yang sedikit menganggunya, ia mendonggak untuk melihat siapa tamu yang datang sore-sore tanpa reservasi terlebih dahulu.
"Selamat sore,," sapa Stella dengan angkuhnya.
"Apa Rei ada di kantornya?" lanjutnya lagi dengan wajah angkuhnya.
"So-sore Nona Stella,," jawab Agatha sedikit gugup.
"Katakan pada kak Rei,, stella ingin menemuinya sekarang." ujar Stella tidak ingin di bantah.
"Baik nona stella, saya telpon pak Reivant terlebih dahulu". Ujar Agatha dan menelpon bosnya itu.
"Hm,Baiklah, cepat,aku tidak suka menunggu lama." jawab stella lagi
setelah pulang makan siang tadi,, mereka semua berada di kantor tepatnya di ruangan Reivant, bunyi telpon di meja Reivant membuat mereka melihat ada apa, seperti itulah kira-kira wajah mereka.
"Hallo Tha." sapa Reivant karena ia tahu bahwa sekretarisnya yang menelponnya.
"Pak,,umm Nona Stella ingin bertemu." jawab Agatha dengan terbata karena ia tahu Bossnya itu sangat menghindar dengan gadis yang bernama stella itu.
"hmm,,tunggu lima menit." jawab Reivant akhirnya dan memutuskan sambungan telpon tersebut
Reivant menatap ketiga adiknya dan juga Rachel.
"Uhmm,,sepertinya kalian harus membantu ku." ujar Reivant dengan muka yang sulit di artikan
"Ada apa kak?." tanya Brandon pada kakaknya itu.
"Stella di luar sekarang!" jawab Reivant dengan wajah datarnya.
"Oh! Stella? Apa yang dia lakukan disini?". Tanya Rachel yang belum menyadari siapa yang datang.
"Hei,,gadis itu sungguh tidak pernah menyerah?." ujar Brandon lagi
"Bagaimana ini, apalagi saat ini ada baby carli dan Axell." ujar Arthur menatap kedua bayi mungil itu.
"Mainkan peran yang seperti kalian biasa lakukan." jawab Reivant.
"Ada apa sih? Kok kalian tampak panik?"tanya Rachel yang belum konek dengan keadaan.
"Stella! Gadis gila yang selalu mengejar-ngejar kakak, datang." jawab Arthur dan barulah Rachel sadar dengan keadaan. Dari tadi kemana Rachel?.
"kak, tidak bisa Brandon! karena Stella pernah melihat ku dan ia tahu aku belum menikah,," jawab Brandon dan Reivant menyerngit menatapnya.
"Aiya,, bagaimana jika kak Danien saja karena stella belum pernah bertemu kak Danien." lanjutnya lagi.
"Hm,,Baiklah jika seperti itu."jawab Danien pasrah dan tampak tenang.
"Hai Baby bisa kan nanti memanggil paman dengan sebutan Daddy." lanjut Danien menatap Axell yang sekarang duduk di pangkuannya. Karena Axell hanya nyaman Bersama Reivant dan juga Danien.
"Okey Daddy,," jawab baby boy Axell dengan semangat sambil menangguk kecil, karena ia merasa ia senang memanggil Danien dengan sebutan Daddy selain Daddy Rei,,pikirnya.
"Good job Boy!" Ujar Danien dan mengusap pucuk kepala Baby Axell.
"Buat apa gadis rese itu datang kesini,," tanya Rachel.
"Menganggu kenyamaan bayi-bayiku." claim Danien lagi dan menatap gemas pada Baby Axell.
"Intinya sekarang kak Rachel dan Kak Danien harus bermain peran untuk beberapa waktu kedepan." ujar Arthur yang di angguki oleh Brandon.
"Apakah sudah selesai! Baiklah." Reivant menelpon Agatha dan mempersilakan gadis itu masuk. Tapi, sebelum itu ia merapikan dulu pakaiannya dan mengenakan kembali jasnya.
"Aku takkan membiarkan gadis itu melihat gaya acak-acakkanku, dia akan tambah gila jika melihatnya." Ujar Reivant dan merapikan Dasi dan juga kemejanya.
Brandon hanya tersenyum melihat kakaknya itu, benar dia akui kakaknya akan terlihat sangat tampan dengan gayanya yang acak-acakkan.
Tak lama kemudian pintu ruangan Reivant terbuka dan muncul gadis yang tak inginkan kehadirannya di sana oleh siapapun. Apalagi Reivant.
"Kak Rei! Kenapa sangat lama menyuruh Stella masuk. Stla bete harus menunggu lama!". Ujar Stella dengan suara manja dan menatap Reivant dengan manyun.
Arthur bergedik ngeri melihat tingkah gadis itu. Andaikan saja ia tidak memikirkan kakaknya mungkin sudah ia unyel-unyel wajah nenek lampir itu.
"Ada perlu apa kau datang kemari?". Tanya Reivant dengan datar tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputernya.
"Kak Rei! Stella Kangen! Kenapa selama ini kak Rei hilang kabar." Ujar Stella dan melangkah sedikit mendekat ke arah Reivant.
"Daddy! Aku haus." Ujar Baby Axell dan menatap Danien dengan wajah mungilnya.
Stella memalingkan wajahnya dan menatap keempat tidak lebih tepatnya keenam manusia yang sedang menatapnya dengan tatapan risih.
"Kak Rei,kenapa tidak mengatakan bahwa ada orang lain disini?."tanya Stella dengan wajah yang sengaja di buatnya kesal.
"Kau tidak bertanya."Jawab Reivant singkat dan Arthur menahan tawa melihat nenek lampir itu.
"Thur, bisakah kau membantu kakak, untuk ambil kan minum untuk baby Boy." pinta Danien dengan pelan dan Arthur menangguk setuju.
"Daddy, Aku mau minum susu seperti Baby Cantik." Ujar Axell lagi.
"Baiklah, katakan pada Unclemu dan jangan lupa mengatakan minta tolong, okay." Ujar Danien dan di angguk oleh Baby Axell.
"Uncle. Aku mau minum susu seperti Baby Cantik, tolong!". ujar Axell dengan wajah imutnya.
Arthur hanya membalas dengan senyum dan mengacungkan jempol, Brandon menatap kedua bayi itu yang entah mendapat sihir dari mana mereka bisa mengikuti alur cerita dengan baik.
TBC.
Terima kasih atas dukungannya selama ini.
Tetap Dukung Princess Daddy dan
juga lupa Vote,like dan dukungannya.
Terima kasih.😊