PRINCESS DADDY'S

PRINCESS DADDY'S
63. Panti Asuhan



Setelah Brandon kembali ke kantornya tinggal lah ketiga manusia yang seakan sibuk dengan urusannya masing-masing. Reivant dengan beberapa proposal kerjasama di tangannya, hingga matanya menatap kedua adiknya yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


"Dan, besok pergilah Bersama kakak, untuk bertemu dengan keluarga itu." Ujar Reivant memecahkan keheningan di antara mereka


"Uhm, baik kak." jawab Danien


"Terus aku bagaimana kak??." tanya Arthur sambil menujuk wajah nya sendiri


"Ar, bukan kah kamu dan Brandon akan mengurus panti asuhan yang kamu bilang itu." Ujar Reivant seolah mengingatkan pada adiknya, tentang tugas mereka


"Oh iya! Ar,hampir lupa." jawab Arthur dengan wajah polosnya itu


Ponsel di meja Reivant berbunyi membuat ia merasa heran, dan dengan sigap ia mengambil poselnya.


"Daddy." Gumamnya saat melihat ID penelpon, yang adalah Daddynya, Ia mengeser tombol hijau untuk menjawab telponnya.


"Hallo Dad, selamat siang." Sapanya sambil mengucapkan salam


" Iya siang Rei, Daddy akan megirimkan beberapa laporan dari perusahaan kita yang di kota S, sebentar lagi Sekertaris Daddy akan mengantarkannya ke ruanganmu." Ujar Tn.Park


"Baik lah Dad, dua hari lagi aku dan Danien akan kesana, untuk melihat perkembangan perusahaan disana." Jawab Reivant dan menjelaskan pada Daddynya karena mereka akan kesana.


"Baiklah, Daddy tutup ya." Ujar Tn.Park


"Uhm,,apa Daddy sudah makan?." Tanya Reivant pada ayahnya, sesuatu yang tidak pernah ia tanyakan dulunya. Hal itu sukses membuat Tn.Park tersenyum dengan perubahan sikap putranya itu.


"Sudah Rei! baiklah Daddy masih ada urusan sedikit." Ujar Tn.Park dan mematikan sambungan telponnya.


****


Ruangan Tn.Park


"Dasar anak itu, terkadang seperti angin ribut." Gumamnya saat mengingat kembali pertanyaan Reivant tadi.


" Devi,tolong antar laporan ini ke Ruangan Reivant sekarang." Ujar Tn.Park pada sekertarisnya itu


" Siap pak." jawab Devi sambil tersenyum senang, akhirnya ia bisa melihat sang pujaan hatinya.


"Kamu ini, selalu bahagia jika di suruh ke ruangan Reivant." Ujar Tn.Park saat melihat wajah bahagia dari sekertarisnya itu.


"Pergilah, jangan lama karena pekerjaanmu masih banyak." Ujar Tn.Park sambil menekankan kata pekerjaan masih banyak.


Tn.Park sudah tahu jika sekertarisnya, Devi menyukai putra keduanya, dan ia tidak melarang, karena ia sangat tahu kepribadian dari seorang Devi itu, dan selama anaknya bahagia, mereka sebagai orang tua juga akan bahagia.


"Iya Pak, saya permisi." Ujar Devi undur diri dari ruangan Atasanya dan menuju ke lantai atas.


Ya, ruangan Reivant di lantai atas, karena alasan Daddynya tidak suka dengan tempat yang terlalu tinggi. itu ia lakukan dari sebelum adanya Reivant, karena katanya ia fobia ketinggian.(ck ada-ada aja nie daddy tua)hahha


Devi keluar dari lift yang mengantar nya ke ruangan Atasannya juga, anak dari Bos nya.


''Sore Thata." Sapa Devi saat ia sampai di depan meja Agatha


"Sore Devi, angin apa yang membawamu kemari??." Tanya Agatha dengan memiringkan kepalanya melihat Devi sahabatnya itu.


Ia Devi adalah sahabatnya, selain sahabat masa kecilnya dulu yang hingga sekarang masih ia rindukan.


"Angin rindu yang membawaku kemari." Ujar Devi sambil tersenyum,


"Pak Boss menyuruh saya mengantarkan laporan ini untuk pak Reivant." lanjutnya lagi


"Mari ku antarkan kamu ke dalam." Ujar Agatha sambil berdiri dari kursinya


Agatha mengetuk pintu, dan saat terdengar suara Atasannya untuk menyuruh masuk baru ia masuk dan di ikuti oleh Devi di belakangnya.


"Sore Pak,," sapa Agatha dan Devi berbarengan, karena sekarang sudah jam 3 sore.


"Sore." Jawab Reivant singkat


"Ini laporannya pak, dan semuanya sudah di tanda tangani, tinggal bapak pelajari lebih lanjut." Ucapnya dengan sedikit kurang fokus, yang di karenakan Danien yang menatapnya sedari mereka datang.


"Dan, pelajari laporan ini,,karena ini menyangkut perusahaan kita yang di kota S." Ujar Reivant sambil memanggil adiknya Danien.


"Baik kak,," Jawab Danien sambil meletakan laptopnya di meja


Danien berdiri dari duduknya dan berjalan menuju meja kerja kakaknya, yang dimana ada Devi yang masih berdiri disana dengan keadaan yang sudah panas dingin.


"Tinggi banget,," pikirnya saat melirik Danien yang di sampingnya.


Agatha hampir tertawa saat melihat tingkah Devi jika sekarang mereka berdua sendiri, jika ia tertawa sekarang bisa-bisa ia langsung di pecat oleh Atasan kutubnya itu.


Reivant melirik pada Danien dan memberikan laporannya,


"Apa masih ada yang lain lagi,Dev?" tanya Reivant pada Devi


"Sekarang sudah tidak ada lagi pak, saya pamit undur diri." Ujar Devi dan pamit dari ruangan itu dengan hati yang berbunga-bunga tentunya, karena setidaknya ia melihat Danien


Agatha dan Devi keluar bersamaan dari Ruangan Atasannya itu.


*****


Di Ruangan


"Kak, sepertinya Devi benar-benar salah tingkah saat kakak berdiri di samping kak Danien tadi" Ujar Arthur mengoda kakaknya itu,


"ah sepertinya kakak juga mengalami hal yang sama, ya kan??." Godanya lagi sambil memainkan matanya.


"Apa sih, menjauh dari hadapanku,Ar." Ujar Danien mendorong wajah adikknya yang sudah sangat dekat dengannya.


"Hahaha",,Arthur benar-benar tertawa dengan puas karena sudah berhasil mengoda kakak keduanya itu. Jika saja ada kakak Keempatnya pasti akan lebih seru.


Reivant hanya tersenyum menatap kedua adiknya itu.


"Dev, kenapa wajah mu memerah begitu?." Goda Agatha sambil tertawa


"Isss kamu itu sahabat yang tidak mengerti hatiku saja." Ujar Devi yang hendak berlalu, tak berapa lama pintu lift terbuka menampilkan sosok seorang pria tampan lainnya itu adalah Brandon dan Devi tersenyum melihat ke arah Agatha.


"Sore Pak,," Sapa Devi pada Brandon


"Oh,, sore Devi." Jawab Brandon dan berlalu melewati Devi, Devi berbalik menghadap Agatha yang kebetulan melihatnya.


Ia mengisyaratkan tangan dan bibirnya mengerakan kata," kita impas" sambil tersenyum dan masuk dalam lift yang membawanya kembali ke ruangannya.


Tak berberapa lama, ponsel Agatha menampilkan pesan dari Devi.


"Tha, kita pulang bareng ya, ntar" isi pesan yang di kirimkan Devi, karena ia lupa tadi mengatakan langsung


Brandon masuk, tanpa mengucapkan kata apapun dan langsung mendudukan diri di samping kakaknya Danien.


"Hei, apa yang terjadi, kenapa wajah mu menekuk seperti itu ,Don?." Tanya Danien yang sempat melirik adikknya itu.


" Iya nie, kusut sekali kak wajahmu, seperti belum di seterika." Goda Arthur yang tak mau kalah


"Ada sedikit masalah kak, soal panti asuhan itu." Ujar Brandon mengabaikan kedua manusia yang mengodanya tadi dan lebih memilih berbicara dengan kakak pertamanya


"Masalah apa,Don??" Tanya Reivant


"Tadi Brandon sudah menyuruh orang-orang IT dan aku juga menugaskan beberapa staf untuk langsung datang ke panti itu." ujar brandon,


"Mereka mengatakan jika pemilik dari panti asuhan itu sebenarnya adalah seorang wanita yang tidak di ketahui namanya, dan aku menyuruh mereka mencari tahu bagaimanapun caranya?". Lanjut nya lagi


"Wanita??." Ujar Reivant dengan kening berkerut


"Iya kak, dan pengurus panti juga tidak mengatakan jelas, jika sebenarnya wanita itu sudah hampir 6 tahun tidak pernah mengunjungi panti itu, karena sebelumnya ia sangat rajin datang." Cerita Brandon lagi menjelaskan apa yang ia dengar dari stafnya. Cerita itu juga bukan di dapatkan stafnya dari pengurus panti tapi melainkan dari tetangga panti itu sendiri dan intinya banyak kejanggalan dalam panti itu sendiri.


"Cari tahu sampai ketemu." Ujar Reivant lagi,


"dan bila perlu buatlah kita sebagai pendonasi sementara, karena pasti masih ada pendonasi tetapnya kan, karena jika tidak ada lagi pasti panti itu sudah tutup,," ujar nya lagi


"Baik kak." Jawab Brandon pada kakaknya


"Ar, besok kita kesana." Ujar Brandon melihat adiknya yang di balas dengan anggukan dari Arthur.


"Bagaimana besok kakak jadi ketemu sama keluarga itu?." Tanya Brandon


"Iya, besok kakak dan Danien yang akan ketemu mereka, sedangkan kamu dan Arthur bereskan panti asuhan itu." Jawab Reivant.


"Dan juga Agatha karena ia yang mengenal mereka." sambung Danien dengan senyum dan melirik pada Brandon yang hanya berdecak.


TBC.