
Reivant dan kedua adiknya hanya mengeleng melihat Brandon yang berjalan duluan karena malu, jangan tanya Agatha, ia hanya bisa tersenyum simpul menatap pria yang ia sukai itu berlalu melewatinya.
"Tha, pulang lah Bersama Danien dan Arthur."Ujar Reivant lagi pada sekertaris sekaligus adiknya, ia Sudah menganggap Agatha adiknya juga.
"Tapi kak, rumah saya jauh."Ujar Agatha, karena ia merasa tidak mungkin bossnya akan mengantarkan nya sampai di pinggiran kota
"Aku tahu dimana rumah mu Kak, jadi tenanglah kami akan mengantarmu."Ujar Arthur, ia memanggil Agatha dengan sebutan kakak, karena calon kakak iparnya.
"Baiklah, terima kasih kak."Ujar Agatha, pada bossnya, siapa lagi jika bukan Reivant dan saudara-saudaranya.
"Antarkan hingga ke rumah Dan, Ar."Ujar Reivant pada kedua adiknya yang di balas anggukan dari Danien.
"Siap kak, calon kakak ipar akan sampai di rumah tanpa kurang satu apapun."Jawab Arthur, sambil melirik kakaknya Brandon yang menatapnya seolah berkata -AWAS kau.-
"Hati-hati di jalan Dan, Jangan ngebut." Ujar Reivant pada kedua adiknya itu, karena Danien yang nyetir, dengan Arthur di sampingnya dan Agatha yang duduk di belakang.
"Iya kak, kakak juga hati-hati."Balas Arthur pada kedua kakaknya itu.
Dan mobil yang di bawa Danien berjalan meninggalkan perusahaan menuju ke rumah Agatha terlebih dahulu untuk mengantarkan gadis itu.
Begitu juga Reivant dan Brandon yang sudah dalam perjalanan menuju ke café untuk bertemu Stella.
"Pak, kita ke Café X ya."Ujar Brandon pada Pak yaya, yang sekarang menjadi sopir pribadi Reivant selain pak Agus.
Tapi, sekarang pak Agus bertugas untuk mengantarkan Tn. dan Ny.Park jika mereka akan pergi keluar yang di karenakan kesehatan pak Agus.
"Baik Tn.Muda."Jawab Pak Yaya
Mobil yang di tumpangi Reivant dan Brandon berjalan dengan kecepatan sedang menuju café X, tak memakan waktu yang banyak hanya sekitar 15 menit mereka sudah sampai di Café X.
"Pak pulanglah dulu, nanti saya hubungi kembali untuk menjemput kami."Ujar Brandon pada pak Yaya.
"Iya Tuan muda."Jawab Pak Yaya, karena ia juga harus mandi dulu.
Pak Yaya memarkirkan mobilnya di di depan cafe, dan tak lama Reivant dan Brandon keluar lewat pintu masing-masing.
Di cafe itu sudah banyak di padati oleh anak-anak muda yang sedang berkumpul, ada yang Bersama pasangan, ada juga hanya sekedar menikmati kopi sendirian.
Tampak beberapa mata menatap pada kedua putra Park tersebut, karena kedua manusia tersebut sungguh memanjakan mata.
Brandon berjalan berdampingan dengan kakaknya, tadi Brandon menanyakan keberadaan Stella dan gadis itu mengatakan ia sudah datang dan berada di lantai dua karena tadi Brandon memintanya memesan ruangan private yang di sanggupi oleh gadis itu.
Mereka berdua berjalan menaiki tangga yang menuju salah satu ruang private yang berdinding kaca itu tapi kedap suara, tampak disana Stella sudah menunggu kedatangan kedua putra Park.
"Sudah lama menunggu, Stella?"Ujar Brandon yang menyapa adik dari kakak iparnya itu, sedangkan Reivant berjalan begitu saja dan mendudukan diri di salah satu kursi.
"Belum lama, aku baru saja tiba."Jawab Stella dengan senyumannya, yang sebenarnya ia tujukan pada Reivant tapi lelaki itu tampak cuek saja.
"Pesanlah makanan."Ujar Reivant akhirnya bersuara.
Ia juga sebenarnya tidak tega pada gadis di depannya itu, tapi mau bagaimana lagi kebenaran haruslah di ungkap dan kejahatan haruslah mendapatkan ganjarannya.
"Baik kak."Jawab Brandon, ia memanggil salah satu pelayan yang menunggu di depan pintu.
"Ada yang ingin di pesan tuan?."Tanya pelayan itu dengan sopan.
"Iya!".Jawab Brandon sambil membuka buku menu yang sudah ada di meja tersebut dan ia menuliskan beberapa makanan untuk ia dan kakaknya.
"Stell, kamu mau pesan apa?."Tanya Brandon pada gadis di depannya itu.
"Di samain aja Don, untuk minumnya aku mau es lemon tea."Jawab Stella.
Brandon memberi kertas pesanan itu pada pelayan tersebut dan tidak lupa ia memesan pada pelayan tersebut untuk memberikan kertas tersebut pada managernya.
"Saya permisi tuan, apa masih ada tambahan?"Ujar pelayan sebelum ia pergi untuk mengurus pesanan mereka.
"Tidak ada lagi."Jawab Brandon
Dan pelayan itu undur diri untuk menuju ke managernya, karena itu pesan dari Brandon, ia sampai bingung siapa orang- orang di dalam ruangan itu, yang dia tahu pasti orang kaya.
"Apa ada yang penting, hingga kak Rei meminta bertemu, atau kak Rei kangen sama aku."Ujar Stella, dengan tingkat kepedaannya sangat tinggi.
"Don, tunjukan pada stella video itu."Ujar Reivant tanpa basa-basi, yang di angguki oleh Brandon.
Karena ia hanya ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat tapi tepat sasaran dan Brandon mengambil Ipad nya yang tadi sudah di kirimkan video pembunuhan yang di lakukan Rouwnd pada papanya Shera.
*****
Mobil yang di kendarai ole Danien membelah sunyi nya jalan yang mereka lewati saat ini, karena sekarang mereka sudah masuk ke area pinggiran kota perkampungan tempat Agatha tinggal dan tempat keberadaan panti asuhan Ar.
"Tha, apa setiap hari kamu selalu berangkat dari sini untuk bekerja?."Tanya Danien karena menurutnya ini lumayan jauh.
"Iya pak, saya tidak tega meninggalkan ibu sendiri disini."Ujar Agatha menjawab pertanyaan Danien.
"Apa kak Agatha tidak berniat pindah dengan ibu ke kota?"Tanya Arthur yang dari tadi ingin bertanya.
"Ibu sudah nyaman disini, dan ini juga rumah peninggal ayah, jadi ibu tidak mau pindah."Jawab Agatha lagi
"Terus, setiap hari kamu kerja pakai apa?."Tanya Danien, karena ia tak melihat jika gadis itu mengunakan kendaraan sendiri.
"Saya pakai kereta pak, jadi lebih cepat sampainya."Jawab Agatha
"Dan kalau malam begini, apakah disini aman, ini sangat sepi jika kamu melewatinya sendiri."Ujar Danien lagi yang merasa sedikit kuatir pada gadis itu.
Ia melihat sekeliling, ya disini tampak sepi, apa karena banyak yang sudah pindah.
"Ibu selalu menjemput saya mengunakan sepeda motor pak."Jawab Agatha
"Oh ini tidak baik, nanti aku harus berbicara pada kak Brandon."Gumam Arthur, karena ia juga merasa seorang gadis setiap hari pulang kerja sampai rumah sekitar jam tujuan malam itu sangat bahaya menurutnya.
"Kak, di depan ada belokan, dan pas di simpang ada "ATHA KIOS, itu rumah kak Agatha."Ujar Arthur mengarah jalan kepada kakaknya Danien.
"Maaf , jika saya boleh bertanya dari mana pak Arthur mengetahui rumah saya?."Tanya Agatha, karena ia tidak tahu jika Brandon dan Arthur bahkan pernah ke rumahnya.
"Oh, kami ada urusan disini kak Atha, dan jangan panggil aku pak, aku belum tua, dan kak Agatha kan calon kakak ipar saya, jadi panggil aku Arthur saja."Ujar Arhur Panjang lebar dan juga senyum di wajahnya.
Danien hanya tersenyum menanggapi sikap konyol adiknya itu sedangkan Agatha hanya menjawab ia karena sekarang wajahnya memerah malu.
Dengan perkataan Arhur yang menyebutnya calon kakak ipar, sedangkan Brandon saja belum mengungkapkan perasaannya pada Agatha, (dasar emang Arthur).
*****
Café X
"Apa ini, kenapa begini, ini tidak benarkan, kalian menipuku kan?."Tanya Stella beruntun seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat di Ipad milik Brandon.
"Itu Nyata Stella, ia bukan rekayasa, kamu bisa melihat tanggal kejadiannya, dan itu pas tanggal ulang tahun mami kalian."Jawab Reivant dengan wajah datarnya.
"Kenapa papi, ahhhhkkk aku tak menyangka papi bisa berbuat seperti ini."Ujar Stella lagi.
Air matanya mengalir tak terbendung, entah lah antara ia sedih karena apa yang di alami kakaknya dan ibunya, ataukah karena ia kecewa pada papinya yang selama ini ia anggap sebagai ayah terbaik.
TBC.
hmmm🤔.. Nothing
.
.
.
.
.
.
Uncle Brandon Park