
Dimansion tujuh putra Park, tampak para maid sudah sibuk sedari subuh, untuk menyiapkan dan membersihkan mansion tersebut.
Tampak satu -satu penghuni rumah sudah bangun, Tuan Park tampak duduk di gajebo samping sambil membaca koran yang di bawakan oleh salah satu penjaga di rumah itu.
"Pagi Dad,,"Sapa Ny.Park yang datang membawa sebuah napan berisi teh ramuan dan sedikit camilan.
"pagi mom,,"Sapa Tuan Park pada istri yang masih tampak kuat dan modis itu, di usia yang yang begitu lanjut, Ny. Park masih tampak begitu cantik, anggun dan mempesona.
Tak heran jika anak-anaknya suka mengagumi dan mengangungkan Mommy mereka, serta selalu memuji mommy mereka, terlebih Arthur yang selalu menggoda Mommynya dan berakhir mendapat jitakan kecil dari sang Daddy.
"Apa anak-anak belum bangun?."Tanya Tuan Park dan menyeruput teh yang dibawa oleh istrinya.
"Kalau Rey dan Shera sudah, tadi ketemu mami di tangga, anak-anak yang lain belum to."Ujar Ny.Park
"Mom, daddy bangga anak-anak sudah besar dan mereka sudah bisa menghandle semua usaha bahkan punya usaha sendiri."Ujar Tuan Park dengan senyum di wajah tuanya.
"Iya Dad, mommy juga bahagianya hari tua."Ujar Ny. Park dengan tersenyum, hingga pasangan suami-istri muda Park menghampiri kedua orang tua mereka.
"Pagi mom, dad.."Sapa Reivant dan Shera hampir bersamaan.
"Pagi anak-anak mommy."Jawab Ny.Park sambil merentangkan tangan memeluk anak mantu tertuanya.
"Nah cucu daddy mana?>"Tanya Tuan Park karena Carli belum kelihatan.
"Kayaknya masih sama Stella dad." Jawab Shera
"Ya sudah duduk sini."Ujar Ny.park menunjuk bangku di sampingnya.
"Kapan kamu periksa lagi Ra?."Tanya NY.Park yang melihat perut anak mantunya yang sudah memasuki masa kehamilan tua.
"Besok mom."Ujar Shera sambil menuangkan Teh ke dalam cangkir untuk Reivant.
Setelah beberapa menit terlewatkan, Brandon datang bersama Carli dalam gendongannya, di susul Chaiden dan Arthur yang berjalan bersama Stella membawakan susu untuk baby Carli tentunya. Ya pagi ini mereka sarapan di Gajebo luar, itu permintaan Ny.Park kemarin.
"Lah Danien dimana?."Tanya Tuan Park yang belum melihat putra keduanya dan mencari keberadaan putra keduanya.
"Disini Dad,,Pagi Dad, mom, semuanya." Danien berjalan dari belakang adiknya Arthur yang memiliki tinggi melebihi dirinya.
"Tumben kak kesiangan."Goda Brandon tapi tak di gubris oleh Danien
Tapi rona cerah di wajah Danien terlihat nyata jelas, karena baru kali ini ada pancaran sepeti itu, sedari dulu tak pernah Danien menunjukan nya.
"Papa, telima kasih, Allie cuka boneka maccan."Ujar Carli dan terus menggendong boneka pemberian Papanya.
"sama-sama sayang."Balas Reivant mengambil Carli dari Brandon.
Mereka menikmati sarapan pagi ini tanpa kehadiran Michael dan si bungsu Aidyen ya karena mereka tidak ada di rumah.
"Kapan Mike pulang, Kai?"Tanya Ny.Park pada putra ketiganya, sepertinya Ny. Park merindukan Putra kelimanya, si muka datar.
"Paling lusa mom, hari ini babak final mereka."Ujar Chaiden sambil menyantap sarapannya.
"Kalian tidak ada yang bisa menontonnya, kita harus memberi dukungan kepada adik kalian?."Tanya Tuan Park menatap satu persatu anak-anaknya.
Dan semua mengelengkan kepala karena hari ini masing-masing mereka ada urusan dan ada beberapa meeting yang tidak bisa di tinggalkan.
"Dad, gimana kalau mommy dan daddy yang kesana aja, Mommy ingin mendukung Mike secara langsung. Pasti Mike akan semangat jika melihat kita berdua disana"Ujar Ny.Park memberikan ide dan di angguk setuju oleh Tn. Park.
"Mom, apa Tella bisa ikut?". Ujar Stella yang selalu ingin keluar, selama ini ia benar-benar menghabiskan waktu di mansion.
"Boleh, kamu kan anak bungsu mommy dan Daddy."Ujar Ny.Park semangat
"Oke mom."Jawab Stella bersemangat dan tersenyum bahagia
"Jam berapa mereka mulai, Kai?"Tanya Ny.Park lagi dan memastikan jam agar mereka tidak terlambat.
"Sekitar jam 10 pagi mom."Jawab Arthur dengan wajah sedikit cemberut karena tidak bisa menonton babak final adik kelimannya, karena ada meeting penting yang tidak di tinggalkannya bersama kakak ketiganya.
Sebenarnya tujuan Arthur bukan ingin melihat adik kelimanya, tetapi gadis yang ada di sisi adiknya. (Ck, rasain lu Thur, ga bisa ketemu Chelsea.)
"Baiklah sudah waktu kami untuk pergi bekerja, Dad mom sampai kan salam kami untuk Mike."Ujar Reivant dan berdiri dari sana, begitu juga yang lainnya, Shera masih bermain bersama Carli dan pengasuhnya serta Vania anak.
Tn. Park dan Ny. Park kembali ke kamar mereka, bersiap diri untuk menonton sekaligus mengunjungi putra mereka. Sesaat kemudian Stella kembali dari kamarnya dan menghampiri kakaknya.
"Kak, aku pergi bersama mom dan daddy ya."Ujar Stella saat setelah berganti pakaian.
"Iya pergilah, jaga mom dan daddy."Ujar Shera menatap wajah cantik adiknya, ia berharap adiknya itu mendapatkan pendamping yang benar-benar setia.
"Bye kak, baby, kak amel jaga kedua kesayangan ku ya selama aku di luar."Ujar Stella dan berlalu pergi menuju ke dalam, mencari kedua orang tuannya., ya siapa lagi jika bukan Tuan dan Ny.park.
Shera hanya tersenyum akan tingkah adiknya itu, akhirnya sifat posesifnya kembali.
Di depan mansion sudah terparkir mobil sedan yang akan membawa Tuan dan Ny.Park serta Stella ke tempat turnamen di adakan.
"Mom, apa Tella cocok pakai baju ini?."Tanya Stella saat bertemu dengan Ny.Park.
"Itu sudah sangat bagus anakku cantik."Ujar Ny.Park tersenyum dan merangkul tangan Stella membawanya keluar karena Tuan Park sudah menunggu di mobil.
****
Ditempat turnamen, Michael, Harld dan Chelsea dan beberapa partner mereka sudah bersiap untuk menuju meja nya masing-masing, mereka satu team untuk melawan team sebelah yang adalah lawan yang cukup sepadan.
"Chel, ingat jangan gegabah, ikuti intruksi dari ku."Michael memberi arahan.
"Siap Capt."Jawab Chelsea dengan mengacungkan jempol.
"Untuk yang lainnya, mohon kerja samanya."Ujar Harld
"Baik Captain."Jawab yang lainnya, ya baik Michael dan Harld adalah pahlawan yang tangguh di team mereka.
"Kita akhiri semua ini dengan keberhasilan, Semangat teman-teman." Michael menyemangati teamnya.
Sebentar lagi pertandingan akan segera di mulai, semakin banyak penonton yang datang untuk memberikan dukungan untuk team yang mereka andalkan. Tak berapa lama tampak Tuan Park, Ny.Park dan Stella masuk ke ruangan tersebut, panitia disana sangat terkejut karena salah satu pihak sponsor datang langsung untuk melihat dan tentunya mereka juga tahu Michael Park.
****
Rayn, Rachel, Axell dan Leon yang tadi langsung ikut keluar dari mobil, sesaat lagi akan take off menuju negara seberang, yang akan merubah kehidupan Rachel dan Axell.
Untuk saat ini Axell belum bisa bertanya kenapa mommy nya memilih untuk meninggalkan negara ini, pasti ada alasannya.
Sejujurnya ia ingin sekali berpamitan dengan mama dan papanya serta boneka kecilnya, tapi mau bagaimana, mereka tak punya waktu hanya sekedar berpamitan, tapi ia sudah meminta papi Rayn untuk menempatkan beberapa orang untuk memantau keadaan boneka kecilnya, karena mungkin ia akan datang lagi setelah dewasa.
"Leon apa kamu akan bertahan?."Tanya Rayn pada sahabat ponaannya.
"Pasti bisa, dan harus bisa papi. Leon pasti bisa karena ada Axell dan Mommy Rachel."Jawab Leon dengan memanggil Rayn papi sesuai keingin Rayn dan juga memanggil Rachel atas perintah Mami anak satu itu.
Rayn mengusap kepala bocah berusia 7 tahun itu, ada rasa bangga karena anak sekecil itu berani dan percaya pada orang lain yang bukan keluarga dan meninggalkan ibunya.
Wajah Leon seakan familiar untuk nya, tapi ia lupa dimana ia melihat wajah serupa itu, ah otaknya kali ini benar-benar tak bisa di ajak kompromi.
Lain hal nya dengan Rachel, berat rasanya tapi ia harus pergi, perasaan nya kali ini benar-benar menyiksa nya, jadi ia memilih untuk menjauh mungkin nanti ia bisa melupakannnya, tapi ia tidak tahu ternyata jalan ini adalah awal dari rindu yang menyiksa.
****
Di Park Company, Brandon baru masuk ke ruangannya, ia bingung biasanya Rachel sudah ada di mejanya, sudah jam segini tapi Rachel belum juga datang, tanda-tanda Rachel sudah datang juga tak ada, ia mencoba mendial nomor milik Rachel tapi ternyata di luar jangkuan.
"Hm, kok tumben nomor kak Rachel gak bisa di hubungi ya."Gumam Brandon sendiri sambil menatap kontak di ponselnya.
Sebenarnya Rachel sudah menitipkan surat pengunduran dirinya lewat sopirnya tadi, tapi sepertinya sopirnya belum datang.
Dan ia juga sudah menghubungi Reivant dan memohon untuk tidak mengatakan pada siapapun, tentang kepergian mendadaknya tapi ia tak memberitahukan kemana ia pergi, ia benar-benar ingin mendamaikan hatinya. Tapi bukan Reivant jika tidak mengetahui kemana sahabatnya itu pergi.
FLASHBACK
"Hallo Yu."Sapa Reivant saat melihat ID penelpon adalah sahabatnya
"Hai Vant, sorry ganggu pagi-pagi."Ujar Rachel dari line sebelah (baru jam 6.30)
"Vant, aku pamit ya, maaf mungkin ini terkesan buru-buru dan tak ada persiapan, tapi ini yang bisa ku lakukan."Ujar Rachel dengan menghela nafas yang panjang.
"Apapun itu Yu, aku hanya berharap ingat perjanjian kita."Ujar Reivant sambil tertawa tapi sebenarnya ia sedih, setelah sekian tahun bersama akhirnya Rachel memilih kembali ke negaranya.
"Oh tenang Vant, anak itu sudah menyiapkan orang kepercayaannya yang akan bekerja di rumahmu."Ujar Rachel, dengan sebuah senyum kecil di sudut bibirnya.
"Hahaha, baiklah, hati-hati disana, sering-seringlah kesini."Ujar Reivant dan menatap layar handphonenya yang sudah kembali hitam.
Ia tak punya hak untuk menahan sahabatnya itu, ia punya kehidupan yang harus ia jalani kedepannya. Tapi bagaimana dengan adik bodohnya itu. Apakah semua akan berakhir disana dan sudah tidak ada harapan lagi kah untuk Mereka?.
Akhirnya panggilan terputus, karena baik Rachel maupun Reivant mulai sibuk dengan pekerjaan mereka.
FLASHBACK END
Sesaat setelah Reivant menerima laporan dari Agatha, tak berapa lama Brandon muncul dengan wajah yang terkesan entahlah kaget bercampur dengan memegang sebuah amplop berwarna coklat.
"Kak, apa maksudnya ini?."Tanya Brandon yang langsung nyelonong masuk saja.
"Hm, ada apa Don, apa yang terjadi?"Tanya Reivant seolah dia tidak mengetahui apapun.
"Kak Rachel apa ia mengundurkan diri?."Tanya Brandon lagi dan menunjukkan amplop coklat kepada kakaknya.
"Mungkin, carilah sekertaris baru untukmu."Ujar Reivant dengan santai, sedangkan Brandon mengerutkan keningnya.
"Kak, tapi kenapa,?". Tanya Brandon yang merasa tak ada jawaban pasti dari kakak pertamanya itu
"Iya Rachel kembali ke negaranya, karena kakek Aharon memintanya untuk meneruskan perusahaan disana."Jawab Reivant. Sebenarnya ia juga tahu kemana Rachel, ia hanya mengarang bebas saja.
Diruangan Danien, tampak memegang sebuah kotak kecil, entah apa isi nya karena hanya ia yang tahu .
"Pagi pak."Sapa Devi saat masuk keruangan Danien.
"Pagi Dev."Jawab Danien sedikit kaget, karena sepertinya ia tidak mendengar ketukan pintu, karena ia pernah berpesan pada Devi jika ia tak menjawab masuk saja.
"Ada apa Dev?."Tanya Danien berusaha menormalkan keterkejutaannya.
"Bapak di panggil ke ruangan Presdir."Ujar Devi, ia juga bingung ada apa dengan Dengan atasannya itu, karena tadi Brandon menelponnya karena Danien tak menjawab panggilan telponnya.
"Oh,,"Hanya itu yang di ucapkan Danien dan ia memeriksa ponselnya benar saja ada 3 panggilan dari nomor Brandon.
"Baiklah, kamu boleh keluar, saya akan ke ruangan kak Rei, sekarang." Danien meletakkan kembali kotak kecil di laci mejanya dan berdiri dari kursinya serta mengambil jasnya.
Devi keluar terlebih dahulu, tak lama Danien keluar dan langsung menuju lift yang akan membawanya ke lantai 40.
"Ada apa ya, tumben kakak menyuruh ia datang, kan hari ini tidak ada meeting."Gumam Danien sendiri.
"Hallo Tha,,"sapa Danien
"Pagi Pak."Ujar Agatha sopan
Danien masuk ke ruangan kakak nya, tampak disana sudah ada Brandon, yang tumben pagi-pagi sudah ada di ruangan kakak pertama.
"Pagi kak,,"Sapa Danien yang di balas anggukan dari Reivant
"Pagi kakak ganteng."Sapa Brandon entah kesambet apa, namun tidak dengan wajahnya yang masoh cemberut, dia sedang berpikir siapa yang akan cocok menggantikan posisi Kakak Rachelnya nanti.
Danien hanya menatap jengah akan tingkah usil adiknya yang terkadang terlalu aneh.
"Apa kita ada meeting sepagi ini ka?."Tanya Danien sambil mendudukan dirinya di sofa
"Tidak ada, kakak hanya ingin membahas proyek pembangunan perpusatakaan kota."Ujar Reivant, tanpa menyingung tentang Rachel.
Danien hanya mengangguk dan mengambil posisi duduk di hadapan Brandon yang terus menatap kakak keduanya, dengan sorotan mata yang tampak sedang berpikir.
TBC.