
Brandon memposisikan duduknya dengan baik dan sedikit mendekatkan dirinya pada Agatha, gadis itu terkejut dan spontan menggeser kan badannya.
Lagi dan lagi Brandon di buatnya menahan senyum. Kalau seandainya ia tidak sedang menjaga imagenya di depan saudara-saudara nya dan juga sekretaris kakaknya itu. Mungkin sekarang gadis itu sudah di goda oleh dirinya.
"Kau pasti bertanya siapa yang mereka bahas. Michael? Dia adalah putra kedua dari bungsu Park dan juga salah satu bungsu kesayangan Mommy Park, itu Mommyku." Jelas Brandon dan Agatha menatapnya seolah sedang mencerna perkataan Bosnya itu.
"Kedua dari bungsu?? Emangnya Bapak berapa bersaudara?". Tanya Agatha yang sepertinya sangat penasaran.
"upss maaf pak, saya lancang menanyakan tentang keluarga pak,," lanjut Agatha saat sadar akan pertanyaannya tersebut.
"Tidak apa-apa,,Kami tujuh bersaudara." Jawab Brandon dengan senyumnya yang menawan.
"Tu-tujuh! Berarti Pak Reivant,pak Brandon,pak Danien,Pak Arthur dan kedua bungsu Park. Sepertinya kurang satu." Ujar Agatha tergagap dan menghitung satu persatu saudara Park.
"Ck, salah! Yang benar itu. Pak Reivant, pak Danien, Pak Chaiden, Pak Brandon eh itu aku, Arthur, Michael dan Aidyen." Jawab Brandon dan membuat Agatha melongo.
"Pak Chaiden? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu?." Ujar Agatha sambil berpikir.
"Dia sering datang ke kantor, Pak Reivant. Itu dulu, sekarang jarang bahkan tidak pernah.". Lanjut Brandon dan Agatha hanya menangguk mengerti.
Ia berpikir sejenak dan menatap keempat saudara itu, mereka saja setampan ini. Bagaimana dengan ketiga saudara mereka yang lain. Benar-benar taman bunga keluarga Park.
*****
Setiba mereka di restoran yang sudah di booking oleh Brandon, Arthur dan Danien langsung turun dari mobil. Karena Dari tadi Arthur mengeluh lapar dan terus mengatakan bahwa cacing-cacing di dalam perutnya sedang melakukan war yang sangat heboh. ( dasar Arthur)
Kemudian di susul Agatha yang di persilahkan Brandon untuk turun terlebih dahulu dan Arthur yang memanggil Agatha untuk cepat turun dan mengikuti nya.
Barulah Reivant setelah Brandon dan Rachel yang terakhir, karena ia harus mencari sepatu baby Carlissa yang jatuh entah dimana.
Reivant mengenal sebuah sosok yang sangat di rindukannya, Ia sangat mengenal Gadis itu. Gadis yang kini melintas di depannya dengan beberapa temannya.
Karena, restoran yang di Booking oleh Brandon tak jauh dari RS yang dulu tempat Reivant di rawat.
"Shera." gumam Reivant dan hendak mengejar Wanita itu.
Tapi, dengan cepat Brandon menahan tangan kakaknya dan menatap kakaknya sambil menggeleng.
"Tidak, kak! Tidak sekarang." Ujar Brandon dengan tatapan yang mengatakan jangan gegabah kak, ada yang sesuatu yang membahayakan jika kau salah langkah.
Dari tatapan Brandon membuat Reivant mengerti, ia mengurungkan niatnya dan berusaha menahan rindu yang membuncah di dadanya saat melihat istri yang sangat ia rindukan itu.
"Aku tau kakak sangat merindukan kakak ipar. Dari awal Aku dan Mommy sudah merencanakan sesuatu, karena ada yang tidak beres disini. Banyak kejanggalan yang terjadi di sekitar kakak ipar, Kalau seandainya kakak tahu, bahwa banyak yang mengawasi kakak ipar, itu akan sangat membahayakan kakak ipar dan juga Baby Carli kalau seandainya kakak melakukan kesalahan. Bertahanlah sedikit lagi kak, setelah itu semua akan kembali seperti semula, percayalah padaku dan Mommy. Kita akan kembalikan apapun seperti semula dan mengembalikan kebahagiaan kakak." Jelas Brandon panjang lebar.
Reivant hanya mengangguk dan benar ia merasakan ada kejanggalan disana. Banyak sekali yang mengawasi gerak-gerik gadis mungil nya itu. Itu pun ia lakukan demi bayi mungil nya.
Tanpa mereka sadari, bahwa Rachel yang berdiri di belakang mereka mendengar apa yang di bicarakan oleh kedua kakak adik itu.
"Aku akan membantumu,Vant! Dengan caraku sendiri. Aku berjanji!". Gumam Rachel.
Reivant berusaha untuk bertingkah normal dan begitu juga dengan Brandon. Agar tidak menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.
"Dimana Kak Rachel?"tanya Brandon dan juga Reivant yang mencari kedua gadisnya yah bisa di katakan gadis kesayangannya.
"Papa!"suara Baby Carlissa dari arah belakang mereka dan Rachel melambaikan tangannya kepada kedua kakak adik itu.
"Kalian melupakan kami. Sungguh kejam." Ujar Rachel dan berjalan kearah kakak adik itu.
"Papa." Ujar Baby Carlissa lagi dan mengulurkan tangannya.
Reivant mengambil putri kecilnya dari pelukan Rachel dan sekarang ia harus menggendong kedua bayi dalam sekaligus.
"Tidak Vant, berikan Baby Axell padaku." Pinta Rachel.
"Tidak apa-apa,chel! Aku bisa menggendong kedua bayiku ini." jawab Reivant dan berjalan dengan santai.
"Kedua bayiku?". Gumam Arthur dan mengikuti perkataan kakaknya.
Arthur yang tadi sudah masuk harus kembali keluar mencari ketiga orang itu. Tapi perkataan Reivant barusan membuat Arthur ingin sekali menjahili kakaknya.
"Wah,, Daddy! Dia sangat cantik. Apakah boleh aku menciumnya." Ujar Baby Axell yang menatap Baby Carlissa.
"No baby!". Jawab Reivant
"Tapi,dia sangat imut,daddy! Apakah boleh?" tanya Baby Axell lagi.
"Tidak Baby Axell." geleng Reivant.
"Yah Daddy! Ayolah,,plisss". Kali ini Baby Axell mengeluarkan wajah Imutnya.
Reivant berusaha menahan diri agar tidak menggemas Bayi itu, Karena kedua tangannya harus menggendong kedua Bayi nya itu.
Baby Carlissa menatap Axell dengan tatapan tak suka,tapi tidak dengan Axell yang menatapnya penuh sayang. Seolah tatapan Baby Carlissa yang mengatakan.
'Ini Papaku. Kau tidak boleh menggodanya dengan wajah imutmu itu, dia my Papa'.
(Yah mungkin seperti itu🤔).
***
Kemudian mereka masuk dan semua mata tertuju pada Keempat manusia itu,terlebih pada Reivant karena ia menggendong kedua bayi yang sangat tampan dan cantik.
Rachel yang berjalan sedikit di belakang Reivant karena ia sibuk dengan handphone nya.
"Chel, apakah kau tidak bisa mempercepat langkahmu."Ujar Reivant dan Rachel mempercepat langkahnya menyamakan langkah di samping Reivant.
"Lihat. Kedua anak itu sangat tampan dan juga cantik. Sangat menggemaskan." ujar salah satu pengunjung di restoran itu.
"Apakah kau tidak lihat bahwa kedua orang tuanya juga sangat tampan dan juga cantik. Mereka sangat mirip dengan kedua orang tua mereka, gadis itu sangat beruntung memiliki suami yang begitu menyayangi mereka." sambung pengunjung yang lain.
"Tapi, kedua pria di depan mereka juga tidak kalah tampannya.". Lanjut yang lain dan seterusnya.
Seketika Restoran itu ramai dengan perbincangan para pengunjung yang begitu kagum dengan kehadiran manusia-manusia tampan dan cantik itu.
Rachel menggandeng tangan Reivant dan membuat Reivant menatapnya dengan bingung.
"Apa yang kau lakukan, chel?"tanya Reivant.
"Aku hanya sedang berperan seperti apa yang di katakan oleh mereka. Bukankah itu seru,Vant?". Ujar Rachel dengan senyum jahil yang tidak pernah hilang dari wajahnya.
Brandon dan Arthur berbalik dan menatap kearah Rachel dan juga Kakaknya Reivant.
"Kak Rachel, benar-benar mendalami perannya." ujar Arthur.
"Benar! Sungguh tidak pernah mengecewakan kalau dia sudah berakting. Aku sangat menyukai aktingnya.". Lanjut Brandon.
..
Di tempat lain, Shera berbalik dan menatap kearah pintu. Ia hanya melihat sekilas sebuah bayangan yang sangat familiar baginya, tapi ia hanya sempat melihat punggung seseorang yang tidak lain adalah Rachel yang menghilang dari balik dinding.
"Mungkin hanya ilusinasiku saja." ujar Shera dan melanjutkan makannya.
TBC.