
Pembicaraan mereka masih terus berlanjut, hingga jam makan siang dan itu membuat Reivant menelpon Agatha sekertarisnya untuk memesan makanan untuk mereka berempat.
"Terus kapan kak Rachel Bersama baby boy mulai tinggal di rumah?." tanya Brandon dengan antusiasnya
"Mungkin hari minggu saja, karena aku harus membereskan barang-barangku." jawab Rachel dengan asal.
"Tidak usah membawa pakaian yang banyak, nanti kita belanja saja untuk mu dan baby Axell." Ujar Reivant dan Rachel hanya mengangguk mendengar penuturan Sahabat plus Bosnya itu.
tock...tock
Tak berselang lama Agatha masuk dengan beberapa kotak makanan.
"Oh ya Tha,, kamu bisa jadwalkan saya terbang ke kota S untuk melihat perusahaan disana?." Tanya Reivant pada sekertarisnya itu.
"Iya Pak,,untuk itu saya sudah buatkan semua, dan jadwal bapak kesana hari kamis minggu ini, selama dua hari disana." Jawab Agatha sambil melihat Jadwal bosnya itu di Tabletnya.
"Dan, pergi Bersama kakak hari kamis ini, kita melihat perkembangan perusahaan disana." Ujar Reivant pada adiknya Danien
"Uhm, Baiklah kak." jawab Danien
"Ha, tunggu kota S?kenapa aku baru tahu jika kamu punya cabang perusahaan disana,Vant?" Tanya Rachel.
"Oh itu, aku membangunya baru setahun ini, Chell." Jawab Reivant sambil membuka kotak makan nya.
"Makanlah dulu, nanti kita lanjutkan pembicaraan kita." lanjutnya lagi
"Kota S, itu kan kota kelahiranku." pikir Rachel, karena ia benar-benar menutupi identitas aslinya dari sahabatnya itu, siapa keluarganya, walaupun Yeyenya mengatakan ingin bekerja sama dengan perusahaan Park tapi ia belum mengijinkan.
Setelah makan siang mereka selesai, Reivant melanjutkan pekerjaanya, begitu juga dengan Brandon yang sudah meninggalkan ruangan kakaknya Bersama Rachel menuju kantornya di sebelah.
dan untuk Danien ia masih Bersama kakaknya Reivant. Dengan terus berkutat dengan benda-benda perseginya itu.
"Dan,,apa sudah ada perkembangan lainnya tentang keluarga Rouwnd?" tanya Reivant
"Belum ada kak, aku ingin meretas perusahaannya tapi sepertinya jangan sekarang deh. " jawab Danien santai dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dan membuka kancing kemejanya sedikit, ia sangat gerah menggunakan pakaian formal itu selama seharian.
"Iya untuk sekarang fokuskan pada Shera dahulu." ujar Reivant mengingat istrinya itu.
"Apakah kamu tidak bisa mencari tahu nomor telponya,Shera?" tanya Reivant lagi pada adiknya itu.
"Uhm, itu sangat mudah kak, untuk ku dapatkan, kenapa kakak baru minta sekarang?." Ujar Danien dengan senyum simpulnya.
"Ck, kakak baru mengingatnya." jawab Reivant sambil berdecak menangapi adiknya itu
Entah apa yang di lakukan Danien pada benda persegi yang di pegangnya dari tadi, tak berselang lama.
Ting,,bunyi ponsel Reivant yang menandakan ada pesan masuk.
Dengan sigap Reivant membuka ponselnya dan matanya tampak berbinar menatap pesan yang tertera itu.
"Thanks, Adikku." Ujar Reivant karena itu adalah pesan dari Danien yang mengirimkan nomor Shera pada kakaknya.
"Tapi kak, sepertinya Ponsel Shera di sadap, jadi kakak tidak akan bisa menelponnya ataupun mengirimkan pesan." Ujar Danien
"Apa??" Pekikan tertahan dari Reivant, ia sudah senang mendapatkan nomor istri mungilnya, setidaknya ia bisa membuat janji dan bertemu, tapi apa sekarang pupus sudah harapannya. ia sedikit melupakan fakta jika istrinya ada dalam pengawasan Keluarga Rouwnd.
"Kenapa kak Rei?. kita bisa meminta bantuan pada salah satu teman wanita, mungkin yang bisa menghubungi kakak ipar, supaya tidak ada kecurigaan dari pihat Rouwnd." ujar Danien memberikan solusi
"Tapi, tidak bisa Rachel, Agatha ataupun Devi karena wajah mereka sudah di kenal." lanjutnya lagi dan Danien hanya menangguk dan sedikit berpikir. Teman wanita? Dia tidak memiliki teman wanita satupun selain istri-istri perseginya itu.
"Uhm,,siapa ya?. Coba aku tanyakan Agatha saja, mungkin ia bisa membantu." jawab Reivant dan mendial nomor sekertarisnya itu.
"Tha, ke ruangan sekarang!''. Ujar Reivant saat panggilannya terhubung.
"Baik pak." jawab Agatha
Tak berselang lama, Agatha datang dengan beberapa Map yang akan di tanda tangani oleh Atasannya itu.
"Permisi pak, ada yang bisa di bantu? dan ini ada beberapa surat penting yang harus bapak tanda tangani." ujar Agatha sambil memberikan map itu
"Oh ya Tha, apa kamu mempunya teman wanita yang tidak bekerja disini?." Tanya Reivant sambil membaca beberapa laporan dan menandatanginya.
"Teman wanita pak??." Ujar Agatha seperti ingin memastikan bahwa ia tidak salah dengar akan permintaan Atasannya itu,Terdengar konyol menurutnya.
"Iya teman wanita Tha!. Karena kami membutuhkan." jawab Danien melihat wajah kebingungan dari sekertaris kakak nya itu,
"Jangan berpikir yang tidak-tidak Tha, ada satu dua hal yang membuat kita membutuhkan teman wanitamu itu." lanjutnya lagi dan tersenyum melihat wajah panik dan kebingungan di wajah Agatha.
"Kami hanya membutuhkan untuk bertemu seseorang yang sangat penting." Jelas Reivant,
"Karena tidak bisa kamu ataupun Rachel karena wajah kalian sudah di kenal mereka.". Lanjut Reivant lagi.
"Ada pak teman SMA ku dulu. Tapi, ia sudah berkeluarga pak." Ujar Agatha sedikit ragu, karena ia juga sudah lama tak bertemu temannya itu.
"Aku akan mempekerjakannya, apakah kamu bisa menghubungi nya sekarang Tha?" tanya Reivant lagi,
"Tolong ya, Tha! Saya benar-benar berharap padamu, sekarang." lanjut nya lagi
Agatha semakin kebingungan karena Atasannya benar-benar merendahkan diri meminta tolong padanya untuk seseorang yang Agatha yang tidak tahu, tapi ia akan berusaha untuk membantu.
"Baiklah pak, saya akan berusaha menghubungi dia." akhirnya itulah jawaban yang di berikan Agatha pada Atasannya dan ia pamit undur diri dari situ.
"Apakah ini akan berhasil,Dan?." tanya Reivant dengan wajah yang sedikit ragu
"Serahkan padaku kak, itu akan jadi pekerjaan ku." jawab Danien meyakinkan kakaknya, karena ini menyangkut gadis yang sangat di cintai kakaknya itu , ia tidak ingin mengambil resiko besar.
Danien menatap kakaknya lama dan membuat Reivant mengangkat wajahnya menatap balik Adiknya itu.
"Ada apa, Dan?". Tanya Reivant yang sedikit merasa ada yang aneh di wajah Danien.
"Kak! Ini menyangkut Michael." Ujar Danien sedikit hati-hati.
"Kenapa dengan adik kecilku itu?". Tanya Reivant yang sedikit penasaran dan juga bingung.
"Malam itu, saat Arthur mengatakan bahwa pria yang ada di samping Rouwnd adalah pelaku yang menyebabkan kakak terluka, Tatapan mata Michael sangat berbeda, kak! Dan aku melihat sangat jelas senyuman yang tidak pernah aku lihat pada Michael. Tatapan mata Michael seolah mengatakan bahwa ia akan membunuh pria itu, Karena dia telah menyakiti kakakku." Ujar Danien dan Membuat Reivant Cengo.
"Tidak-tidak! Kita harus mengambil tindakan sebelum Michael mendahului kita. Karena, kita membutuhkan informasi dari pria itu." Ujar Reivant dan memijat Keningnya.
"Hmm,,Baiklah! Aku tidak menyangka akan melihat senyuman jahat yang mengerikan pada wajah Michael." Sambung Danien lagi.
"Aku tau betul Michael. Dia tidak akan tinggal diam jika orang yang ia sayangi di sakiti." Jawab Reivant dan Danien hanya mengangguk.
*****
Jam sudah menujukan pukul lima sore, hari ini Reivant dan Danien pulang lebih awal karena Danien beralasan mencoba masuk ke akun kakak ipar nya tersebut.
Dan disini lah mereka sekarang, di kamarnya Danien yang sudah ada Michael dan Chaiden juga, sedangkan Arthur ia belum pulang karena hari ini ia Bersama Daddynya.
Danien masih sibuk mengotak-atik keyboard Pc nya itu, ya sekarang ia mencoba masuk ke akun Shera, untuk mencari tahu lebih tentang kakak iparnya itu.
COMPILCATED
"Saatnya bermain game, Mike." Ujar Danien pada adiknya itu dengan senyuman yang manis.
Michael menanggapinya dengan senyum, karena sekarang ia akan bermain game yang lebih menantang menurutnya, lebih menguji Adrenalinnya.
Dan sekarang tugas Michael untuk menelpon kakak iparnya mengunakan visual suara, ya itu ada rencana awal mereka untuk mengecoh penyadapan itu.
Telpon tersambung, agak lama menunggu di angkat
"Hallo, selamat malam." Sapa Shera dari seberang line
Suara merdu Shera yang terdengar membuat Reivant semakin merindukan istri mungilnya itu.
Ap,, perkataan Brandon terputus saat Danien menyuruhnya diam dengan meletakan jari telunjuknya di bibirnya.
Danien mengetikan beberapa kata pada Ipadnya.
Nomor Shera di sadap, jadi diamlah biarkan Mike yang beraksi, itulah isi pesannya.
Semuanyanya diam tak terkecuali Reivant yang sebenarnya ia sudah tahu. ingin rasanya ia merengkuh tubuh wanita mungilnya itu dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja, tapi untuk sekarang ia hanya melakukannya dalam angannya.
"Hallo malam! Apa benar ini dengan Shera?." Sapa Michael dan memastikan itu kakak iparnya dengan mengunakan suara wanita.
"Iya, saya sendiri. Maaf ini siapa?." Tanya Shera
"Ra, apa kamu lupa dengan teman lama mu." ujar Michael dan jangan lupa dengan mimik muka yang seakan kesal karena di lupakan oleh teman lama.
Reivant dan adik-adiknya hanya bisa cengo dan tersenyum dengan apa yang mereka lihat sekarang, seorang Michael memainkan peran dengan wajah yang sangat mendukung, ingin rasanya Brandon menyentil wajah adiknya itu, itu sangat mengemaskan menurutnya.
"Apa ini Hanny?" tanya Shera karena ia hanya mempunyai sahabat saat SMA dan lanjut kuliah bernama Hanny, itu satu-satunya temannya yang sudah lama tak menghubunginya.
"Ini nomor baru mu, Han?" tanya nya lagi
"Iya Ra, ini nomor baru ku, kamu kemana aja sih, kok ngilang?." tanya Michael yang berperan menjadi Hanny demi kakak iparnya, yang penting sekarang hanya kakak-kakaknya saja yang melihat bagaimana ia berperan dengan segala ekspresinya.
"Maaf Han, kapan-kapan kita bisa ketemuan." Ujar Shera lagi,
"aku save nomormu ini, ya!". Lanjut Shera lagi.
Michael menatap kakak tertuanya seperti ingin menayakan, bagaimana,, itu gerakan mulut Michael.
Reivant mengangguk, dan menuliskan nanti Hanny yang menghubungi Shera.
"Oke baiklah Shera, nanti aku yang menghubungimu ya, supaya aku menyiapkan tempat yang bagus untuk kita reunian." Ujar Hanny alias Michael
"Ya dah, aku matiin ya, bye Ra." ujar nya lagi dan mematikan sambungan telpon itu.
( jangan Khawatir soal penyadapan, karena pekerjaaan yang di lakukan oleh Danien dan Michael sangat sempurna hampir tak ada cela).
Saat sambungan telpon terputus, Michael mengelus dadanya seakan ia merasakan sesak dan seperti memohon maaf pada kakak tertuanya.
"Tidak apa-apa mike, kakak bangga kamu bisa melakukan peran seperti tadi." Ujar Reivant saat melihat wajah bersalah pada adiknya itu.
"Tapi, aku sudah kurang ajar sama kakak ipar." jawab Michael dengan wajah memelasnya
"Kakak mengerti, kakak bangga padamu." jawab Reivant sambil mengelus pucuk kelapa adikknya itu.
"Dan sekarang pekerjaan kita beres, yah?" Ujar Chaiden tinggal bertemu dengan kakak ipar dong,," lanjutnya lagi
"Apanya yang beres,,ini baru permulaan Kai,,'' Jawab Brandon menyebut nama kakaknya tanpa panggilan kakak
"Ck, panggil aku kakak Don." sanggap Chaiden dengan sebalnya dan Brandon hanya menyengir seolah tak bersalah.
"Iya benar apa yang di katakan Brandon, sekarang aku dan mike harus mencari gadis bernama Hanny itu." Ujar Danien, memutuskan perseteruan dari kedua adiknya itu.
"Apa kita harus mencari informasi lengkap tentang Hanny itu ,kak?" Tanya Brandon
"Ia, harus karena disini Shera mengajak sahabatnya Hanny untuk ketemuan." Jawab Danien.
"Kenapa kita tidak gunakan Hanny saja untuk langsung ketemu kakak ipar." Ujar Chaiden memberikan solusinya.
"Ide itu juga tidak buruk, tapi kita juga tetap gunakan orang lain selain ),Hanny." Jawab Reivant yang daritadi hanya menjadi pendengar saja.
Danien berbalik menatap adiknya Michael yang tampak sibuk dengan Layar di depannya dan mulutnya yang tak berhenti menguyah.
"Mike, ada yang ingin kakak bicarakan." Ujar Danien dan Michael berbalik menatap kakak keduanya itu.
"Apa itu?". Tanya Michael dengan wajah kebingungan.
"Jangan menyentuh pria itu! Kakak tau kau pasti mengkhawatirkan kak Rei. Kita semua mengkhawatirkan Kak Rei, kakak Ipar dan keluarga kita. Tapi, kita butuh informasi dari pria itu." Ujar Danien dan membuat Brandon menatap Kakaknya Kaget.
"Baiklah! Aku tidak akan menyentuh pria itu, Selama dia tidak membuat kalian celaka atau terluka. Michael janji kak." Jawab Michael dan mengangguk..
"Tunggu maksudnya, apa ini?". Tanya Brandon yang penasaran begitu juga dengan Chaiden.
"Katakan pada kakak, Mic? Yah, jangan katakan kau akan membunuh pria itu?". Ujar Chaiden menebak.
"Ck,,mike tidak akan seperti itu kak, selama dia tidak mencelakai kakak dan yang lainnya." Jawab Michael dan berdecak melihat tatapan intimidasi dari Chaiden dan membuat Danien dan juga Brandon tertawa.
Reivant hanya tersenyum melihat tingkah adik-adiknya itu.
TBC
Hay kakak-kakak pembaca.
Terima kasih atas dukungannya.
Dukung terus Cerita ini dan ikuti terus,
jangan lupa Like,vote dan Dukungannya.
Terima kasih😊
***1915 kata***