
~ Happy Reading ~
Di kantor....
Nusa berjalan menuju ruangannya dan mencari Kaya, namun tidak ada sama sekali seseorang di ruangannya. Ia pun melangkah menuju resepsionis di lantai tersebut.
“Ina, Kaya ke mana?” tanya Nusa di depan meja resepsionis, sambil membawa tas belanjaan.
“Tadi, saya lihat dia sama pak Michael, tapi enggak tahu ke mana pak.” Jawabnya.
“Oh.., baiklah.” Senyum Nusa.
“Iya pak.”
Nusa berbalik badan sambil berpikir ke mana Michael mengajaknya dan dia mengingat tempat yang sering dikunjungi Michael di sini yaitu rooftop. Nusa langsung bergegas melangkah menaiki lift untuk ke lantai paling atas.
Setelah lift terbuka, Nusa menaiki tangga menuju rooftop dan ia pun melihat Kaya dan Michael sedang mengobrol sambil duduk di atas tembok tersebut. Nusa menghentikan langkahnya dan berdiam diri di pintu mendengarkan perbincangan mereka.
“Oh iya Kay, kamu mengenal ayahku dari mana?” tanya Michael.
“Ceritanya panjang Michael, kalau diceritakan bisa satu abad.” Canda Kaya dan Michael hanya tertawa.
“Kamu tidak takut Nusa akan membencimu, karena ayahmu ikut membantuku?”
“Tidak, aku tahu dia.” Senyum Michael.
“Karena dia sudah tahu semuanya Michael.”
“Aku sudah tahu itu.”
“Kamu sudah tahu dari mana?”
“Aku tahu siapa dia dan dia pasti mencari informasi dengan cepat.”
“Ohhh..., sepertinya kau mengenalnya sekali.” Gumam Kaya sambil memandang langit.
“Hah..., aku senang berada di sini menikmati langit.” Kaya merentangkan kedua tangannya dan menghembuskan nafas.
“Kamu bisa ke sini terus Kay kalo kamu mau, tapi aku sering keluar kota jadi jarang di sini.”
“Tidak apa-apa Michael. Jika kamu sudah datang, langsung panggil diriku. Kaya ayuk ke rooftop, otomatis diriku langsung datang secepat kilat.” Canda Kaya. Nusa yang mendengarnya merasa kesal dan menggenggam kantong belanjaan tersebut dengan erat.
“Baiklah,” tawa Michael. Mereka pun terdiam sejenak memandang langit.
“Kay, kamu mau minum enggak. Biar aku ambilin sekalian kita memandang matahari terbenam?!” tawar Michael dengan senyum.
“Emang kamu mau ambil minum dari mana?” tanya Kaya.
“Adalah rahasia,” bisik Michael dengan tawa.
“Dasar,” tawa Kaya. “Boleh deh,” senyum Kaya.
“Baiklah, aku turun dulu yah kamu hati-hati di sini!” Michael turun dari atas tembok dan berjalan menuju pintu. Nusa langsung mengumpat di belakang pintu dan Michael turun dari tangga.
Kaya yang bosen, berdiri dari tembok. Tangannya direntangkan dan berjalan menuju ujung tembok. Ia merasa senang dengan berjalan di atas tersebut dengan angin yang berhembusan tanpa ada rasa takut sama sekali.
Nusa keluar dari belakang pintu dan melihat Kaya berjalan di atas tembok. Ia langsung khawatir dan takut Kaya jatuh, lalu menghampirinya.
Saat Kaya sudah di ujung, Nusa menarik tangan Kaya yang direntangkan. Kaya yang ke tarik kehilangan fokusnya berdiri dan hampir mau jatuh ke belakang. Tapi Nusa langsung memegangnya, sehingga Kaya agak sedikit berdiri ke belakang. Pandangan mereka pun bertemu sejenak, tanpa adanya perbincangan.
Nusa langsung menarik tangan Kaya dan jatuh tepat ke dada Nusa. Kaya otomatis reflek merangkul leher Nusa dan melingkarkan kakinya di pinggang Nusa. Mata mereka saling mengunci.
Nusa yang menggendong Kaya dari depan terdiam dan memandang matanya yang indah, sambil memegang tas belanjaan baju. Mereka sama sekali tidak berbicara dan menikmati momen ini. Dengan suasana angin yang berhembusan mengenai mereka dan matahari yang mulai turun ke bawah membuat suasana semakin romantis.
Michael yang berdiri di pintu terkejut melihat mereka, dengan membawa dua kaleng minuman dingin. “Apa yang sedang mereka lakukan?”
Angin yang berhembus tiba-tiba sangat kencang dan membuat rambut Kaya bergeser menutupi mukanya. Lalu Nusa menggendong Kaya dengan satu tangan dan tangan yang lainnya menggeser rambut Kaya dengan lembut.
Kaya membiarkannya dan terus memandang mata Nusa. Mereka sama sekali tidak bicara dan selalu saling menatap. Nusa menangkup dagu Kaya.
Cup!
Satu kecupan mendarat di bibir Kaya dan membuat Kaya sadar. Lalu melepaskan lingkaran kakinya dan Nusa menurunkan Kaya dengan perlahan.
Sementara Michael menjatuhkan kalengnya, ia terkejut dengan tindakan Nusa. “Apakah Nusa menyukai Kaya? Bukankah mereka saingan dan saling dendam?” tanya Michael sendiri dengan bingung.
“Maafkan aku Nus,” ucap Kaya yang kikuk menunduk ke bawah dan bingung mau ke arah mana jalannya. Nusa yang melihatnya hanya tersenyum dan memegang pundak Kaya.
“Kenapa harus minta maaf?” tanya Nusa.
“Hem...,” ucap Kaya bingung. “Karena tadi aku digendong mu,” jawabnya yang menunduk tidak memandang Nusa sama sekali.
“Hei, jika seseorang bertanya. Kau harus melihat matanya!” Nusa menangkup dagu Kaya.
Ah..., kenapa tiba-tiba diriku jadi linglung. Apakah karena kecupan dari Nusa membuat diriku bingung? Harusnya dia yang minta maaf karena mengecup diriku bukannya aku?
“Ayok ikut aku! Ada yang ingin aku tanyakan tentang proyek di Bali?!” ajak Nusa menarik tangan Kaya dan Kaya terikut terpaksa.
“Nusa lepasin! Aku bisa jalan sendiri!” Kaya mencoba melepas genggaman tangan Nusa. Tapi Nusa terus menarik Kaya.
Saat di pintu Nusa dan Kaya melihat Michael berdiri di depan pintu. Nusa berhenti sejenak bersama Kaya. “Michael aku ada urusan dengan Kaya. Jadi tidak apa kan jika aku membawanya?” tanya Nusa dengan senyum.
“Tidak apa bro,” senyum Michael. Nusa kembali menarik tangan Kaya dan mereka menuruni tangga.
“Nusa bentar dulu! Aku mau bilang sesuatu sama Michael,” ucap Kaya dan Nusa tidak mendengarkan ucapan Kaya terus menariknya menuruni tangga.
“Michael aku ke bawah sama Nusa dulu yah! Kapan-kapan kita ke rooftop lagi memandang langit sambil minum,” teriak Kaya dengan senyum yang masih melihat Michael dari tangga. Sedangkan Michael hanya tersenyum saja.
Nusa terus menggandeng Kaya berjalan menuruni tangga. Lalu mereka menaiki lift hingga lantai bawah dan Nusa terus menggandeng Kaya menuju ruangan pribadinya yang di bawah.
Mereka pun masuk ke dalam dan Nusa menyuruh Kaya untuk duduk di sofa. Kaya pun menuruti Nusa dengan muka cemberut.
“Kenapa? Katanya mau ngomongin proyek? Kok kamu bawa aku ke sini?” tanya Kaya melipatkan kedua tangannya ke dalam dada.
“Nih!” Nusa mengasih tas belanjaan yang dibawanya dari tadi dan Kaya menerimanya.
“Apaan nih Nus?” tanya Kaya memeriksa dalam tas belanjaan tersebut.
“Lihat aja sendiri!”
Kaya melihat ada tiga pakaian kemeja yang berbeda warna yaitu merah muda, putih dan kuning. “Nus, kamu ngapain beliin aku kemeja? Malah tiga lagi?” tanya Kaya melihat kemejanya di depan mata.
“Buat gantiin pakaian kamu yang kotor,” jawab Nusa dan Kaya pun tertawa.
“Yaelah, enggak usah kali Nus. Aku juga mau pulang habis ini. Udah nih kamu ambil lagi, aku enggak butuh!” Kaya meletakkan tas belanjaannya di meja.
“Ambil enggak Kay! Kalo enggak kamu di sini terus!” ancam Nusa.
“Kamu kenapa jadi tukang ancam sih sekarang Nusa,” desis Kaya menatap Nusa yang sinis. Nusa hanya memberikan tatapan sinis menanggapinya.
“Iya ini aku ambil!” Kaya mengambil kembali tas belanjaannya.
“Ganti sekarang! Aku enggak suka lihat karyawan di sini kotor!” titah Nusa.
Daripada dia ngancam aku lagi mending aku pakai deh.
“Iya..., aku pakai. Tapi di mana makainya?” tanya Kaya.
“Di sini,” jawab Nusa.
“Kamu strees yah Nusa! Masa di sini?”
“Iya di sini?! Apa perlu aku pakaikan?” Nusa tersenyum menyeringai.
“Enggak usah” Kaya langsung menjawab dengan cepat.
“Udah balik badan dulu!” suruh Kaya dan Nusa melakukannya. Kaya pun mengambil satu kemeja warna putih dan memakainya, sambil duduk di sofa.
“Udah,” ucapnya berdiri memperlihatkan kemeja yang dipakainya. “Kamu gimana sih Nusa? Niat enggak sih beli aku baju? Masa kebesaran gini?” tanya Kaya dengan ketus.
Nusa yang melihatnya hanya tersenyum dan memegang lengan kemejanya yang kebesaran. “Maaf Kay. Aku enggak tahu ukuran kamu. Padahal itu ukuran L masa kebesaran yah? Lagian badan kamu kurus banget sih?!” tawa Nusa.
“Coba yang satunya lagi!” suruh Nusa.
“Yaudah balik badan sana!” Nusa pun balik badan dan Kaya mencoba kemeja warna pink.
“Udah,” Kaya kembali berdiri lagi dengan kedua tangan dilipatkan ke dalam dada. Lalu Nusa kembali berbalik badan.
“Ini cocok Kay,” Nusa tersenyum.
Kaya mengambil tas belanjaan dan hendak pergi. “Kalau gitu aku pulang dulu!”
Nusa langsung menarik tangan Kaya untuk berhadapan dengannya. “Aku enggak suka kamu dekat sama Michael!”
“Kenapa? Kamu cemburu emangnya?” tanya Kaya mengerutkan dahinya.
“Iya aku cemburu,” jawabnya jujur.
“Heh, kamu tuh udah punya Jessica. Terserah akulah mau dekat sama siapa?!” ucap Kaya dan Nusa melepaskan tangan Kaya.
“Kaya aku akan buat kamu menyatakan cinta dengan sendirinya!” teriak Nusa yang melihat Kaya berjalan menuju pintu.
Kaya tidak menanggapi Nusa dan keluar dari ruangan tersebut. Sambil berjalan dia memikirkan ucapan Nusa yang cemburu terhadap Michael.
Nusa jika kamu mencintai diriku kenapa kamu tidak mengatakannya, batin Kaya.
~ Bersambung ~