My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 98 ~ Hubungan Terlarang



~ Happy Reading ~


Keesokan harinya....,


          Kaya terbangun dari tidurnya dengan selimut putih yang terlilit di tubuhnya. Matanya dikucekan dan melihat ke sekelilingnya. Ia menatap ke samping dan ternyata Nusa, lalu dirinya kembali tertidur.


          Saat dia ingin menutup mata dan tak sengaja tangannya memeluk Nusa yang bertelanjang dada. Mata Kaya langsung terbuka lebar. Ia terbangun dari tidurnya dengan duduk.


          Matanya langsung menoleh Nusa yang tertidur tanpa baju. Setelah itu, ia menoleh ke bawah. Dirinya hanya dibalutkan selimut putih tanpa baju sama sekali. Kesadarannya langsung terbuka dengan mata membelalak seakan mau copot. Diambilnya selimut lagi dan menyelimuti dirinya.


          Kaya langsung turun dari tempat tidur dengan duduk di lantai dan bersandar di tepi tempat tidur. Dirinya mencoba bersikap tenang, agar tak mengganggu Nusa. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi padanya dengan Nusa, sambil memegang selimut.


          “Apa yang terjadi dengan diriku?” tanya Kaya menoleh ke samping, di mana Nusa tertidur tanpa selimut dan hanya menggunakan celana panjang. Karena selimutnya diambil oleh Kaya untuk menutupi tubuhnya lagi, padahal dia sudah dibalutkan selimut.


          “Apa aku melakukan sesuatu dengannya?”


          “Kalau itu benar, berarti aku sama dia abis berbuat sesuatu dong.” Wajah Kaya kini mulai panik.


          “Kau bodoh Kaya!” Kaya memukul kepalanya ke tempat tidur.


          “Dasar bodoh!” Kaya terus menerus memukul kepalanya ke tempat tidur. Nusa yang mendengarnya hanya tersenyum dan ternyata dia berpura-pura tidur.


          “Ayok dong ingat sesuatu Kaya. Dasar bodoh kau Kaya. Masa tidak ingat sesuatu.” Kaya memukul kepalanya ke tempat tidur terus-menerus. Nusa yang mendengarnya semakin tersenyum lebar.


Flash back....


Di Apartemen Nusa.


          Nusa meletakkan Kaya berbaring di tempat tidur. Matanya tertuju pada dress hitam Kaya yang terkena muntahan. Ia berjalan menuju telepon genggam dan menelepon seorang perempuan untuk mendatangkan seorang wanita yang suka mencuci baju di tempat apartemen tersebut. Lalu menutupnya dan duduk di samping Kaya yang tertidur lelap.


Ting..., Tong...,


          Seorang wanita paruh baya memencet bel apartemen Nusa dan Nusa membukakan pintunya.


          “Tuan ada yang bisa saya bantu?” tanyanya menunduk malu melihat Nusa yang telanjang dada.


          “Ada, masuklah! Nanti aku jelaskan!” Nusa mempersilahkannya masuk ke dalam.


          “Ibu bisa membukakan pakaian dia dan mencucinya secepat mungkin?” tanya Nusa menunjuk Kaya yang tertidur.


          “Bisa tuan,” jawab ibu itu.


          “Tolong saya yah bukakan bajunya dan cuci!”


          “Baik tuan.”


          “Kira-kira kapan selesai bajunya kering?”


          “Kalo tuan mau cepat bisa, jam 4 pagi sudah selesai.”


          “Baiklah, sekarang jam 12 malam, berarti jam 4 akan selesai.”


          “Iya tuan,” angguk ibu itu.


          “Yaudah kamu buka pakaiannya!” perintah Nusa.


          “Di depan tuan?” tanya ibu itu dengan heran.


          “Hehehe.., maafkan aku. Yasudah aku akan ke atas. Tolong balutin dia dengan selimut yah! Saya tidak mau tergoda olehnya,” Nusa berjalan ke atas.


          “Aneh, tidak mau tergoda, tapi malah enggak pakai baju. Jangan-jangan perempuan ini sudah diapa-apain lagi olehnya,” tuduh ibu itu. Lalu  membuka dress Kaya dengan ditutupin selimut.


          Setelah selesai ibu itu membalutkan badan Kaya dengan selimut putih yang berada di tempat tidur dan menyelimutinya lagi dengan selimut.


          “Tuan sudah selesai.” Ibu itu memanggil Nusa dengan kepala mendongakkan ke atas. Nusa pun turun dengan memegang sebuah gelas minuman alkoholnya.


          “Oh..., sudah selesai. Terimakasih,” senyum Nusa.


          “Iya. Pintunya tidak terkunci kok,” ucap Nusa dan ibu itu berjalan keluar pintu sambil membawa dress Kaya.


          Nusa kembali duduk di samping Kaya yang tertidur sambil minum. Ia duduk menyender di sandaran tempat tidur dan mengelus rambut Kaya.


          Nusa yang mulai mengantuk menaruh gelasnya di meja lampu. Ia menarik selimut untuk masuk ke dalamnya dan tidur menyamping menghadap Kaya.


          Nusa terus memperhatikan wajah Kaya dan dia mendongakkan kepalanya ke atas. Sebuah kecupan mendarat di kening Kaya. “Good night my girl,” ucapnya dan tidur lurus ke depan menatap langit-langit. Dia masih mengingat kejadian Kaya yang mabuk.


          Aku kan cuman sukanya sama satu orang yaitu kamu.


          Ada senyuman yang tersirat di wajah Nusasaat mengingat ucapan itu. Perlahan-lahan matanya tertutup dan tertidur sambil tersenyum.


          Jam demi jam telah lewat dan sekarang pukul 4 subuh. Sebuah bel berbunyi dengan keras, sehingga membangunkan Nusa. Dirinya melihat Kaya masih tertidur dengan pulas dan tidak bangun. Itu membuat dirinya sedikit lega. Nusa keluar dari selimut dan menuju pintu untuk membukakannya.


          “Tuan ini  bajunya sudah selesai.” Ibu itu menyodorkan dress yang sudah rapi dilipat dengan tangannya dan Nusa menerimanya.


          “Baiklah kau bisa pergi! Terimakasih,” senyum Nusa.


          “Baik tuan,” angguk ibu itu dan Nusa menutup pintunya. Lalu berjalan menaruh dress Kaya di meja lampu samping Kaya.


          “Kenapa tadi aku enggak suruh dia pakaikan lagi yah?” gumam Nusa.


          “Yasudahlah, mending aku berbaring lagi. Biarkan saja dia begini,” Nusa kembali tidur di samping Kaya.


Flash back  berakhir.....


          Akan ku kerjai dirimu Kaya, batin Nusa tersenyum.


          “Kaya ayok dong inget sesuatu! Apa yang terjadi kemarin?!” Kaya terus memaksakan dirinya untuk mengingat sesuatu. Namun yang ia ingat hanya saat dia muntah di kemeja Nusa.


          “Perasaan aku ingatnya muntah di kemeja Nusa. Terus kenapa jadi begini?” Kaya bertanya pada dirinya sendiri.


          “Bodoh kau Kaya!” Kaya terus mengulang ucapan yang tadi.


          Kaya menoleh ke samping meja lampu dan melihat dressnya di meja. Dia langsung mengambil dressnya dan pergi ke kamar mandi, sambil memegang erat selimutnya.


          Nusa melihat Kaya yang bingung dan bersalah tersenyum bangun dari tempat tidur. Kaya pun keluar dari kamar mandi dengan memakai dress hitamnya semalam. Dia berjalan menuju pintu dan tidak melihat Nusa sudah bangun duduk di tempat tidur.


          Nusa langsung berdiri dari tempat tidur dan memeluk Kaya dari belakang.


          “Mau ke mana sayang?” tanya Nusa menempelkan dagunya dibahu Kaya.


          “Nusa lepasin, aku mau pulang!” ucap Kaya dengan sinis.


          “Kau harus tanggung jawab dulu dengan apa yang kita lakukan di sini!” Nusa tersenyum menyeringai. Kaya langsung berbalik badan menghadap Nusa.


          “Tanggung jawab apa? Emang apa yang terjadi pada kita?” tanya Kaya yang berpura-pura tidak tahu.


          Nusa langsung memegang pinggang Kaya dan Kaya memegang dada Nusa untuk tidak terlalu dekat dengannya. “Bukankah kita kemarin melakukan suatu hubungan terlarang,” senyum Nusa dengan penuh meyakinkan Kaya.


          “Hubungan terlarang? Maksudnya apa sih Nusa? Udah deh enggak usah sok merasa paling dirugikan?!” ucap Kaya.


          “Harusnya diriku yang minta tanggung jawab ke kamu. Kemarin kamu apain aku?” tanya Kaya.


          “Yah begitulah. Kan, kamu yang duluan bikin aku begini.” Nusa melepaskan pelukan di pinggang Kaya dengan tersenyum.


          Kurang ajar dia! Apa benar aku melakukan sesuatu dengannya, batin Kaya menatap Nusa dengan sinis.


          “Kenapa kau malah hanya diam sayang?” tanya Nusa.


          “Sudahlah, aku mau pulang!” Kaya mengalihkan pertanyaan Nusa dan berbalik badan menuju pintu.


          “Oh iya Kaya. Terimakasih untuk semuanya yah..., aku menikmatinya sekali.” Tawa Nusa melihat Kaya dengan kesal membanting pintu.


~ Bersambung ~