
Saat jam istirahat selesai.
Kaya masuk ke ruangan Adrian atas perintahnya tadi siang dan dia heran melihat Nusa duduk di depan meja Adrian.
“Silahkan duduk kamu di samping Nusa!” perintah Adrian.
“Baik pak.” Kaya duduk di samping Nusa.
“Saya perhatikan kalian sering mengobrol di saat jam kerja?” tanya Adrian.
“Bukan salah Kaya, salah aku Ad yang suka ngajak dia sering mengobrol.”
“Nusa, walaupun kita ini akrab dan sudah berteman lama, bukan berarti kamu seenaknya kerja di sini dan sering
mengobrol dengan Kaya.” Tegas Adrian.
“Yaelah Ad, Kaya juga serius kerja. Dia cuman dengerin cerita aku doang.” Jawabnya santai membuat Adrian emosi, namun Adrian masih sabar menghadapinya.
Sabar Ad! Sabar! Ingat Nusa teman kamu yang aneh!
“Yah tetap saja aku enggak enak dengan karyawan di sini yang melihat kamu sering mengobrol dengan Kaya. Mereka pasti akan cemburu, iri dan merasa di anak tirikan, melihat sikap kamu yang seenaknya bekerja. Apalagi menjadi HRD?! Harusnya kamu mencontoh yang baik bagi karyawan di sini bukannya mencontoh yang buruk.”
Kaya yang mendengarnya tercengang baru kali ini Adrian berkata-kata mutiara seperti tadi.
Wow impersive sekali Adrian, ternyata dia bos yang pengertian terhadap karyawannya. Tapi kok ke aku kagak yah malah tadi bilang jangan telat lagi, padahalkan aku baru telat hari ini aja.
“Iya-iya,” ucap Nusa mengalah.
“Kay, kamu paham kan yang saya maksud?” tanya Adrian tegas.
“Iya pak,” angguk Kaya. Padahal dalam hati Kay, udah iya-iya aja biar cepat kelar!
“Udah, enggak usah ditanggapin Kay.” bisik Nusa.
“Nus,” Adrian mendengar bisikan Nusa.
“Iya-iya maaf.”
“Udah kamu balik Nus!” suruh Adrian.
Nusa berdiri dan berkata ke Kaya dengan senyum. “Semangat Kaya!”
Adrian melihatnya dengan sinis. “Iya-iya, ini mau keluar.” Sewot Nusa.
“Bye-bye sayang.” Nusa tersenyum sambil mengedipkan matanya membuat Adrian jengah dengan kelakuan Nusa.
“Kalo saya pak?” tanya Kaya bingung kenapa masih di sini.
“Saya masih ada perlu sama kamu, tunggu sebentar!” Adrian berkutat pada laptopnya.
“Baik pak.”
“Kamu ke sini!” suruh Adrian ke sampingnya.
“Iya pak,” angguk Kaya beranjak dan berdiri di samping Adrian.
“Kamu bisa jelaskan ini apa?” tanya Adrian menunjuk di layar laptop.
“Oh ini pak!” Kaya memegang mouse dan sedikit membungkuk ke samping Adrian sehingga mereka sangat dekat sekali.
Awalnya Adrian fokus ke arah laptop, namun entah mengapa ia malah ingin melihat wajah Kaya. Terus menatapnya, tanpa sepengetahuan sang empu bahwa dari tadi dirinya memperhatikan wajah cantiknya. Tanpa mengedip sekali dan tak memperdulikan suara Kaya yang sedari tadi menjelaskan panjang lebar.
“Pak,” ucapan Kaya menyadarkan Adrian.
“Eh iya Kay?” Adrian langsung menoleh ke laptop karena panik.
“Bapak kenapa menatap saya seperti itu?” tanya Kaya.
“Siapa yang menatap kamu?! Saya itu menatap kamu untuk dengerin suara kamu kok tadi!” elak Adrian. “Yaudah kamu balik sana! Saya sudah paham!” suruh Adrianyang sengaja agar malunya hilang.
“Baik pak,” senyum Kaya dan keluar ruangan.
Ah! Bilang aja dari tadi menatap aku terus!
***
“Kay pulang yuk?” ajak Nusa melihat Kaya berdiri di depan pintu ruangannya sambil memegang gelas yang berisi kopi.
“Cepet amat Nus? Aku masih ada kerjaan?!” Kaya melihat jam di tangannya.
“Yah kan, udah jam 6 sore.”
“Iya, tapi aku banyak kerjaan Nus. Kamu duluan ajalah!” tolak Kaya.
“Yaudah aku tungguin kamu deh?!”
“Yah jangan! Nanti kasihan kamunya pulang malam karena aku.” Gombal Kaya dengan senyum.
“Enggak kok Kay. Kok lama-lama aku suka dengan sifat kamu yang sekarang yah Kay?!” Tawa Nusa.
“Awas hati-hati jangan baper sama aku, karena aku gampang mematahkan hati orang.” bisik Kaya menahan tawanya.
“Enggak papalah asal kamu senang aja Kay.” Nyengir Nusa.
“Udah enggak papa, kamu duluan aja Nus!”
“Yakin nih? Mobil kamu kan mogok Kay?” tanya Nusa.
“Iya. Aku bisa naik angkutan umum atau taksi.”
“Yaudah deh, dah Kayaku!” Nusa melambai sambil berjalan.
“Dah,” lambai Kaya sambil minum kopi kembali.
****
Waktu berlalu dengan cepat, terlihat semua sudah sepi dan hanya menyisakan dua manusia berbeda jenis di ruangan yang berbeda namun bersampingan.
Kaya yang fokus ke komputer terkejut dengan waktu yang ia lihat di komputer, ternyata sudah jam 09.00 malam. Ia langsung mematikan komputer dan membereskan ruangan. Setelah itu melirik ke arah ruangan Adrian dan mengetuk pintunya.
“Iya masuk!” Teriak Adrian.
“Misi pak, saya mau pulang duluan. Bapak ada perlu lagi enggak sama saya?” tanya Kaya di depan pintu Adrian.
Hadeh, pakai nanya lagi? Yang ngasih kerjaan kan dia, yah jelas pulang malam juga karena dia! Bagaimana sih?
“Iya pak, saya ada kerjaan.” Jawabnya.
“oh iya? Mobil kamu mogok kan Kay?” tanya Adrian diangguki Kaya.
“Kalau gitu kamu bareng saya saja, lagi pula kita searah?” tawar Adrian.
“Enggak papa nih pak? Nanti saya ngerepotin bapak lagi?” tanya Kaya tersenyum.
“Enggak, lagian udah malam saya takut kamu kenapa-napa di jalan!”
Tumben nih orang perhatian ke aku?
“Baik pak,” Kaya mengangguk dan menunggu di depan pintu.
“Ayuk Kay!” ajak Adrian keluar pintu dan jalan.
“Iya pak,” ucap Kaya mengikutinya.
****
Saat di Lift…
“Kamu saya lihat rajin pulang malam akhir-akhir ini?” tanya Adrian di samping Kaya.
Iyalah kerjaan aku segudang yang kamu kasih?
“Iya pak, banyak yang belum saya kerjakan.”
“Oh,” gumam Adrian.
Ohhh doang lagi, bilang apa kek?
Lift terbuka dan mereka keluar dari Lift menuju parkiran mobil di basement. “Kay masuk!” Adrian membukakan pintu mobil untuk Kaya.
“Terimakasih pak.” Kaya masuk ke dalam mobil. Adrian pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
“Nanti kalau mobil kamu masih mogok. Kamu telepon saya saja!” ucap Adrian sambil menyetir.
Kaya yang mendengar perkataan Adrian langsung heran. “Enggak usah pak. Nanti, saya repotin bapak lagi?!” tolak Kaya padahal dalam hatinya senang.
“Enggak papa, dari pada kamu telat. Saya enggak suka liat karyawan saya telat!”
Hah? Jadi maksud dia berkata itu biar aku enggak telat gitu?
“Bapak perhatian yah sama karyawan bapak.” Kaya menyengir dengan hati kesal.
“Oh iya pak, saya boleh tanya enggak?”tanya Kaya.
“Tanya apa?”
“Bapak sama pak Nusa kok akrab banget yah? Ada hubungan apa yah pak?”
Sebenarnya Kaya sudah tahu dari karyawan yang suka bergosip tapi dia ingin lebih tahu.
“Saya sahabatan sama Nusa dari kecil,” jawabnya.
“Oh, pantesan akrab gitu.”
“Iya, kedua orang tua kami dulu kolega bisnis dan kami bertema sejak kami diperkenalkan dalam sebuah hubungan bisnis. Saat itu umur saya 7 tahun, lalu kami menjadi akrab sampai sekarang. Kami juga sekolah bersama sampai kuliah.”
“Oh gitu pak, pantesan pak Nusa terlihat biasa saja kalau dibilangin bapak.” Nyengir Kaya.
“Nusa itu emang begitu Kay, dia terkadang enggak menurut orangnya. Tapi saya tahu dia baik orangnya. Terkadang banyak yang bilang dia playboy padahal dia tak pernah menjalani percintaan dengan wanita. Dia hanya suka akrab
aja dengan semua wanita.”
Lah ini orang kok jadi curcol (curhat colongan) tentang Nusa yah?
“Iya pak, saya tau dia orangnya begitu.” Senyum Kaya.
“Baguslah kamu mengerti! Jadi kamu harus hati-hati sama dia!”
Kenapa emangnya? Bilang aja cemburu kan, kalau aku dekat sama dia?
“Kenapa kamu menyengir?” tanya Adrian menoleh Kaya.
“Enggak pak, saya hanya mengingat kelakuan pak Nusa saja.” elak Kaya.
“Kamu suka emangnya sama Nusa?” tanya Adrian.
“Enggak kok pak, saya hanya teman saja.”
“Suka juga enggak papa. Dia itu, sebenarnya setia orangnya kalo udah dapat yang dia inginkan.”
“Oh, saya hanya temen kok pak. Tadi bapak sendiri yang bilang harus hati-hati sama dia?”
“Iya kamu harus hati-hati sama dia. Soalnya dia banyak yang dekatin.”
“Maksudnya pak?” tanya Kaya bingung.
“Iya semua cewek di perusahaan saya banyak yang mau dekatin dia, karena kelakuannya yang genit dan tebar pesona. Jadi, semuanya banyak yang baper (bawa perasaan) dan ingin menjadi pacarnya Kay. Dan saya takut jika
kamu suka sama Nusa. Kamu akan jadi bahan perbincangan mereka atau kamu tidak disukai oleh mereka.” Jelasnya panjang lebar.
“Oh, bapak tenang saja! Saya sama pak Nusa cuman berteman. Kalo pun ada yang suka sama pak Nusa silahkan saja pak. Saya tak keberatan!” Senyum Kaya.
“Bukan soal suka atau tidak suka sih sebenarnya. Saya enggak mau kamu ada gosip yang enggak-enggak, soalnya kamu adalah bos mereka juga.”
Kenapa emangnya kalo di gosipin, bapak cemburu yah?
“Bapak tenang aja. Saya tidak akan ada gosip yang aneh-aneh dengan pak Nusa!” senyumnya.
“Baguslah. Soalnya saya enggak mau kamu sama kayak karyawan saya yang suka mengejar Nusa! Apalagi kamu manager, yang ada kamu nanti saya pecat jadinya!” tegasnya.
Buset deh galak amat nih Adrian. Aku kira dia cemburu ternyata dia hanya takut sama pekerjaan doang. Pantasan semua karyawan cewek segan deketin dia! Kaya membuang nafasnya kasar.
“Iya pak,” ucap Kaya datar menoleh ke arah jendela.
~ Bersambung ~