My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 23 ~ Bertemu dengan Michael



        Kaya menyudahi makannya dan ingin keluar restoran secara terburu-buru. Karena sangking buru-burunya ia tak sengaja menabrak seorang pria, sehingga pria tersebut jatuh tersungkur ke lantai.


          Buk!


          “Maaf yah mas!” ucap Kaya membuka maskernya. Pria itu masih menunduk memegang sikut tangannya yang terkena lantai.


          “Iya enggak papa,” tolehnya ke arah Kaya dengan posisi masih tersungkurdi lantai.


          “Michael?” Kaya terkaget melihat wajah pria yang tersungkur itu.


          “Kaya?” Michael juga ikut kaget dan mencoba berdiri.


          “Kamu ngapain di sini?” tanya Kaya.


          “Yah aku mau makanlah.” Jawabnya berdiri di hadapan Kaya.


          “Ohh iya, ini kan tempat makan!” nyengir Kaya.


          “Kay, apa kabar?” tanya Michael dengan senyum.


          “Baik, kamu juga apa kabar? Udah lama yah kita enggak ketemu?” tanya Kaya balik.


          Padahal tadi aku udah lihat kamu Mic di tempat gym lagi bermesraan dengan cowok bernama Boy itu. Ucapnya dalam hati.


          “Baik juga,” senyumnya.


          “Kamu makin cantik aja yah!” Puji Michael.


          Dari dulu kali aku cantik Michael! Kamunya aja buta,  selama ini, kagak pernah perhatiin aku! Malah suka sama sesama lagi kamu!


          “Makasih Michael. Kamu juga makin ganteng aja!” puji Kaya balik.


          “Makasih. Kamu mau makan juga apa sudah mau balik Kay?” tanya Michael dengan menunjuk Kaya.


          “Aku udah selesai makan sih! Ini mau pulang!” Senyum Kaya.


          “Ohhh, sayang banget.” Michael sedikit kecewa.


          “Emang kenapa?” tanya Kaya.


          “Aku mau ajak kamu makan di sini! Soalnya, udah lama kita enggak bertemu. Jadi ayok kita berbincang sebentar! Itu juga kalo kamu mau sih Kay?”


          “Hmmm,” Kaya berpikir sejenak.


          “Yaudah deh, aku temenin kamu makan. Tapi aku enggak makan yah, soalnya udah kenyang?!” nyengir Kaya mengelus perutnya.


          “Baiklah. Yuk!” ajak Michael untuk duduk.


          Kaya dan Michael duduk di tempat bekas Adrian dan Nusa duduk di mana posisinya dekat jendela.


          “Ohh iya Kay, sekarang kamu gimana,udah kerja?” tanya Michael.


          “Udah Michael.”


          “Ohhh, di mana?”


          “Di..,” Kaya belum sempat jawab. Pelayan restoran sudah menghampiri dan bertanya. “Mau makan apa pak?” tanya pelayan itu.


          Ini kan pelayan rese tadi! sinis Kaya dalam hati.


          “Saya pesan ini dan ini!” tunjuk Michael ke buku menu.


          “Kamu mau apa Kay?” tanya Michael.


          “Ini bukannya mbak yang udah makan tadi yah? Yang pakai masker sama topi?” tunjuk pelayan itu.


          “Hhehehe, iya mbak.”


          “Ohhh? Kenapa pakai masker sih mbak? Padahal wajah mbak cantik banget?” tanya pelayan itu.


          Kepo aja kamu mbak!


          “Tadi saya pakai masker karena abis perawatan.” Kelak Kaya tersenyum.


          “Ohhh,” gumam pelayan itu.


          “Saya pesen minum ini aja mbak!” tunjuk Kaya es teh manis.


          “Oke mbak.”


          “Makasih yah mbak,” senyum Kaya dan pelayan itu membalas senyum, lalu pergi.


          “Oh iya Michael, kamu sendiri gimana udah bekerja di mana?”


          “Aku kerja di perusahaan teman,” senyum Michael


          “Ohhh,” gumam Kaya bingung mau nanya apalagi.


          Pelayan itu datang membawa makanan. “Ini pak makanannya!” Pelayan itu menaruh makanan di meja.


          “Makasih yah,” senyum Michael.


          “Sama-sama pak ganteng,” goda pelayan itu.


          Yehhh, dasar genit! Kaya melihat pelayan itu dengan sinis dan pelayan itu pun pergi.


          “Kay, aku makan yah!” ajak Michael memegang sendok dan garpu.


          “Iya,” senyum Kaya.


          “Ohh iya Kay, kamu ingat enggak waktu SMA kamu pernah tawarin aku makanan?” tanya Michael sambil makan.


          “Iya ingat. Kamu nolak makanan aku kan? Terus kamu main pergi aja!”


          “Iya,” senyum Michael merasa bersalah.


          “Kamu tahu enggak? Kenapa aku nolak makanan itu?”


          “Enggak. Bukannya karena kamu enggak suka sama aku yah?”


          “Bukan karena itu. Karena yang kamu tawarin itu makanan yang bisa buat aku alergi, makanya aku tolak.”


          “Iya, udah itu kamu bilang. ‘Aku ini orang paling cantik yah! Kamu  nolak makanan aku dengan mudah! Kamu enggak tahu aku ini wanita yang paling banyak disukain oleh pria? Harusnya kamu beruntung aku bawain makanan ini!' sambil membentak meja. "Michael menirukan gaya bicara Kaya.


          “Hahahha, aku jadi malu Michael.” Tawa Kaya.


          “Kamu yah bener deh Kay! Emang paling bisa buat cowok suka sama kamu!” Tawa Michael.


          Kaya langsung menghentikan tawanya dan menatap serius Michael. “Maksudnya?” tanyanya bingung dengan ucapan Michael.


          “Iya maksud aku, dengan gaya kamu yang begitu marah-marah, banyak yang suka sama kamu waktu itu!” Kelak Michael sambil minum.


          “Termasuk kamu juga Mic maksudnya?” tanya Kaya terus terang dengan memainkan alis matake arah Michael sambil tersenyum.


          Michael sontak langsung tersedak minum dan menyemburkan air ke meja. “Sory Kay, aku tersedak.” Michael menaruh minum dan Kaya hanya tertawa.


          “Kok kamu ketawa sih?” tanya Michael mengelap semburannya di meja.


          “Aku bercanda kali. Enggak usah panik gitu dengan pertanyaan aku Michael!” Tawa Kaya.


          “Kagaklah. Aku emang tersedak, ” senyum Michael.


          “Tapi kamu tahu enggak Michael. Kamu tuh orang yang cuek dulu dan banyak wanita yang nyerah sama kamu! Aku aja kadang bingung kenapa sekarang kamu beda gitu?” tanya Kaya.


          “Aku waktu itu karena…,” Michael ingin bicara tapi terhenti.


          “Karena apa?” tanya Kaya.


          “Adalah Kay,” jawab Michael.


          “Ohh oke lah,” senyum Kaya tidak ingin terlalu menanyakannya lagi.


          “Sebenarnya banyak hal di SMA yang ingin aku ulang lagi bersama kamu Kay.”


          “Maksudnya?”


          “Kamu ingat enggak waktu kamu di lorong kelas? Kamu jalan di depan aku dengan gaya yang cool dan sexy. Udah itu kamu pura-pura mau jatuh tapi enggak jadi karena aku enggak nangkap kamu .” Tawa Michael.


          “Iya aku ingat, kamu cuek menyebalkan banget waktu itu!” ketus Kaya.


          “Iya, aku sengaja Kay. Abis kamu ngapain tau jalan bagaikan model tapi berpura-pura mau jatuh lagi?” tanya Michael dengan tawa.


          “Yah kan biar ditangkap sama kamu Michael,” jujur Kaya tersenyum malu.


          “Kamu terus terang aja kali sama aku Kay,” senyumMichael.


          “Lah masa terus terang. Michael aku mau jatuh. Masa aku ngomong gitu. Kamu harusnya sebagai cowok peka dikit lah!” desis Kaya.


          “Hahhaha, iya juga sih. Aku minta maaf deh,” nyengir Michael.


          “Ngapain minta maaf, selow aja kali. Lagi pula udah masa lalu. Sebenarnya aku bersikap kayak gitu, karena taruhan sama Lita. So.., harusnya aku yang minta maaf Michael.”


          “Actually, aku sudah tahu kok.” Senyum Michael.


          “Hah? Kamu udah tahu?”


          “Iya. Aku denger perbincangan kalian kalo kamu mau taruhan sama Lita.”


          “Pantesan kamu cuek banget sama aku,” lirih Kaya sambil memainkan sedotan di gelas dan membuang muka.


          “Apa Kay?” tanya Michael yang tidak mendengar ucapan Kaya.


          “Hah, enggak.” Nyengir Kaya.


          “Iya aku tau semua. Makanya aku sengaja bersikap cuek banget sama kamu.”


          “Pantesan,” desisKaya.


          “Kalo sekarang kamu enggak taruhan lagi kan?” canda Michael.


          “Kagaklah,” nyengir Kaya.


          “Siapa tahu kamu masih taruhan lagi untuk mendapatkan aku!” canda Michael.


          “Pede gila kamu Michael. Masa iya sampai sekarang aku taruhan mendapatkan kamu melulu.”


          “Siapa tahu Kay, kamu masih mengharapkan aku!” goda Michael.


          “Hahaha, ternyata kamu anaknya bisa asyik juga. Aku pikir selama ini kamu itu serius melulu Mic.”


          “Iya sekarang aku udah berubah,” senyum Michael.


          “Berubah jadi power ranger maksudnya?” canda Kaya.


          “Hahhaha. Iya power ranger berubah,” tawa Michael dengan menirukan gaya power ranger.


Flash back berakhir…


          “Kay, berarti dia udah tahu semuanya dong?” tanya Lita.


          “Iya,” jawab Kaya.


          “Pantasan dia cuek yah sama kamu?”


          “Makanya itu, dia enggak mau kali jadi bahan taruhan makanya cuek!”


          “Iya juga sih, tapi itu kan masa lalu. Biarkan sajalah!”


          “Iya Lit,”


          “Oh iya Kay, kenapa kamu enggak tanya aja ke dia tentang dua cowok yang kerja di kantor kamu?”


          “Oh iya yah Lit, aku lupa. Tapi kalo aku tanya, takutnya dia marah lagi Lit, aku bilang gay. Kan biasanya cowok kayak gitu mengumpatkan jati dirinya.”


          “Iya juga sih,”


          “Yasudahlah, biarkan aja mereka pacaran. Semoga mereka bahagia menjadi pasangan segitiga dalam gay. Hahahha…,” tawa Kaya. Lita yang mendengarnya ikut tertawa dan mereka berbincang terus sampai malam.


~ Bersambung ~