My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 37 ~ Nusa tidak suka Kaya.



~ Happy Reading ~


Di ruangan Adrian.


          “Ada apa nih bro?” tanya Nusa yang tadi di panggil lewat telepon kantor dan duduk di depan meja Adrian.


          “Aku pengen nogomong sesuatu penting sama kamu bro.” Jawab Adrian.


          “Iya apa?” tanya Nusa.


          “Kamu kemarin lusa sama Kaya ke mana bro?” tanya Adrian.


          “Aku ke apartemen,” jawab Nusa.


          “Sama Kaya?” tanya Adrian.


          “Iya,” jawab Nusa.


          “Terus kamu ngapain aja sama dia?” tanya Adrian seperti mengintimidasi.


          “Enggak ngapa-ngapain, aku ngobrol aja, terus Kaya menginap di apartemen.” Jawab Nusadengan jujur dan sengaja membuat  Adrian cemburu.


          “Apa?” Adrian langsung kaget dan berdiri dengan emosi.


          “Emang kenapa?” tanya Nusa.


          “Kaya nginap di rumah kamu?”


          “Iya, emang kenapa?” tanya Nusa heran.


          “Kamu tidur sama Kaya bro?” tanya Adrian sinis.


          “Yah enggaklah bro, kemarin dia numpang makan dan tidur aja.” Jawab Nusa. “Kenapa? Cemburu bro?” tanya Nusa.


          “Iya, cemburu.” Jawab Adrian dengan jujur.


          “Ad, kamu suka sama Kaya?” tanya Nusa.


          “Iya, aku suka sama dia.” Jawabnya dengan Cool.


          “Kalo gitu ambil aja, aku enggak suka sama dia.”


          Kaya ingin membuka pintu Adrian tidak jadi karena mendengar suara Nusa dan Adrian sedang berbincang di dalam. Dia mengintip sedikit untuk mendengar pembicaraan mereka.


          Adrian pun duduk dengan heran terhadap Nusa. “Bukannya kamu suka sama dia Nus?” tanya Adrian.


          “Kagak, aku enggak suka sama dia. Kan, kamu tahu sendiri, aku enggak pernah serius sama cewek.” Jawab Nusa.


          Kaya yang mendengarnya langsung seketika mematung di depan pintu Adrian dan dia terdiam sejenak mendengar ucapan Nusa.


          ‘Kagak, aku enggak suka sama dia.’ Ucapan itu terngiang-ngiang di otak Kaya. Karena tidak tahan mendengarnya, akhirnya Kaya kembali ke ruangannya.


          “Tapi, aku tidak suka kamu mainin dia Nusa!” Ucap Adrian yang ditekankan.


          “Siapa yang mainin dia sih bro?! Aku hanya sebatas teman aja sama dia. Lagi pula dia enggak suka sama aku.”


          “Aku enggak tahu ucapan kamu itu bohong apa benar Nus?”


          “Kamu udah kenal aku berapa lama bro? Masa enggak tahu sifat asli aku!” Jawab Nusa tetap cool menanggapi Adrian.


          “Setahu aku, kamu itu selalu mainin cewek dan enggak pernah serius dengan satu wanita.” Ucap Adrian menumpu dagu dengan kedua tangan dan menatap Nusa dengan sinis.


          “Yah.., aku emang begitu. Sekarang, aku tanya kamu? Emang kamu serius menyukai Kaya atau kamu hanya suka untuk melampiaskan sakit hati kamu terhadap Lita Ad?” tanya Nusa dengan tangan dilipatkan ke dalam dada dan duduk menyilang.


          “Iya, aku serius menyukai dia.”Jawab Adrian dengan cool.


          “Kapan kamu suka sama dia? Waktu aku tanya kamu suka sama dia atau enggak, kamu bilangnya enggak.”


          “Awalnya aku enggak suka, tapi semenjak beberapa bulan dia cuek sama aku dan tidak seperti dulu lagi. Aku merasa mulai menyukai dia.”


          “Yaudah, kamu kasih tahu aja dia! Mungkin aja dia suka sama kamu bro?!” Ucap Nusa begitu simple.


          Aku merasa kamu bohong Nusa. Apa yang sebenarnya ada dalam pikiran kamu Nus? Apakah kamu benar


tidak menyukai Kaya? tanya Adrian dalam hati.


          “Aku akan bilang, saat di waktu yang tepat.”Jawab Adrian.


          “Ohh, yaudah semoga kamu berhasil bro. Kalau gitu aku keluar dulu yah bro!” Nusa beranjak dari kursi dan Adrian hanya mengangguk.


          Adrian menatap Nusa yang keluar dengan penuh curiga dan bertanya-tanya atas sikapnya yang biasa saja dan sama sekali tidak ada ekspresi marah, senyum, ataupun menyengir saat menjawab dari tadi. Tidak seperti


biasanya dalamkehidupan Nusa yang sehari-hari.


Di ruangan Kaya.


mengetahui bahwa Nusa tidak suka padanya dan tidak pernah serius dengan cewek. Perasaannya menjadi campur aduk, di satu sisi dia sedih, disisi lain dia harus kuat.


          Maksud perkataan kamu apa sebenarnya Nusa? Apakah kamu  memang selama ini tidak menyukai diriku? Lalu, perhatian kamu selama ini ke aku itu apa? Kadang kamu perhatian sama aku, cemburu sama aku bahkan kamu selalu bilang aku ada di dalam hati kamu. Apakah semuanya hanya sebatas kesenangan kamu saja Nus?Kaya selalu bertanya-tanya dalam pikirannya.


          Kaya yang masih melamun, tidak memperhatikan Nusa sudah masuk dan duduk di depan meja Kaya.


          “Hayo…, lagi ngapain kamu Kay?” Nusa memukul meja dan membuat Kaya kaget tersadar dari lamunannya.


          “Eh…, Nusa.” Seru Kaya tersadar dari lamunannya.


          “Kamu bengong aja Kay?” tanya Nusa.


          “Iya, aku sedang memikirkan sesuatu.” Kaya berpura-pura tersenyum.


          “Yaelah, kamu mikirin sesuatu melulu?! Ceria dong, semangat terus. Kan, kita udah gajian ini.” Nyengir Nusa.


          “Hahaha, iya ini akuceria kok.” Tawa Kaya berpura-pura padahal dalam hatinya ingin menanyakan langsung maksud perkataan Nusa kepada Adrian.


          “Nah gitu dong!” Nusa tersenyum dan Kaya hanya menyengir.


          “Nus,” lirih Kaya.


          “Iya Kay,”


          “Kamu pernah enggak punya pacar yang kamuserius sama dia dan suka banget sama dia?” tanya Kaya.


          “Kenapa, kamu nanyanya begitu?” tanya Nusa balik.


          “Enggak, aku pengen nanya aja.” Nyengir Kaya.


          “Oh..,” gumam Nusa. “Selama ini, aku enggak pernah pacaran.”


          “Masa sih, bohong yah?” tanya Kaya enggak percaya dan menunjuk Nusa.


          “Hahahah, serius Kaya. Aku enggak pernah pacaran serius maksudnya.” Nyengir Nusa dengan tawa.


          “Sue..! Makanya, masa iya cowok playboy kayak kamu enggak pernah pacaran Nus?!” desis Kaya.


          “Kenapa kamu enggak pernah serius Nus dalam pacaran?” tanya Kaya lagi.


          Karena wanita itu penuh dengan kepura-puraan, batin Nusa.


          “Yah, karena aku malas aja pacaran serius.” Jawab Nusa.


          “Masa iya? Emang, enggak pernah ada satu pun cewek yang kamusuka dengan serius?”


          “Aku belum menemukannya Kaya,” jawab Nusa.


          “Emang tipe ceweknya kayak gimana?”


          “Tipe aku enggak matre dan enggak suka berbohong, terus harus cantik, sexy, imut, manis dan menarik perhatianku.” Jawab Nusa.


          “Kayak aku yah Nus?” canda Kaya dengan memainkan alis mata kepada Nusa.


          Kamu penuh dengan kebohongan dan matre Kay, batin Nusa.


          “Hahahha, iya kayak kamu Kay.” Tawa Nusa.


          Nus, kalau aku jawab pertanyaan kamu kemarin. ‘Jika kamu suka sama aku. Apakah aku suka sama kamu?’ Apakah kamu akan menyukai aku Nus? Apakah kamu akan jujur dan tidak main-main dengan perasaan Nus?


          “Ohh iya Kay, aku balik ke ruangan dulu yah ada perlu soalnya!” Kaya hanya mengangguk tersenyum.


          Nusa beranjak dari kursi dan berbalik badan berjalan menuju pintu. Namun Kaya memanggil Nusa dan Nusa menghentikan langkahnya.


          “Nus, apakah kamu meyukaiku?” tanya Kaya terus terang.


          “Jika aku suka sama kamu. Apakah kamu akan menyukai aku Kay?” tanya Nusa tanpa menoleh ke belakang arah Kaya.


          “Bukannya tadi kamu bilang, kamu belum nemuin cewek yang kamusuka dengan serius.” Jawab Kaya.


          “Emang iya. Lalu, kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanya Nusa dengan senyuman sinis.


          “Aku bertanya hanya memastikan saja Nus. Soalnya aku enggak mau karena perasaan, pertemanan kita hancur.” Kelak Kaya padahal dalam hatinya. Aku hanya memastikan ucapan kamu benar atau tidak saat aku dengar di ruangan Adrian Nus.


          Kaya, Kaya, aku  tahu kamu akan mengelak dan aku tahu kamu itu hanya berpura-pura menanyakan itu, batin Nusa.


          “Kamu tenang aja Kayaku yang manis, kita kan satu tipe, enggak pernah serius suka sama orang.” Nyengir Nusa menoleh ke arah Kaya yang duduk.


          “Heheh, iya Nus.” Nyengir Kaya dan Nusa berbalik badan menuju pintu, lalu keluar ruangan.


 


~ Bersambung ~