
~ Happy Reading ~
“Nusa lepasin! Kita mau ke mana?” tanya Kaya yang ditarik tangannya oleh Nusa.
“Diam aja!” Nusa terus menarik tangan Kaya dan membawanya ke sebuah ruangan yang terlihat bagus.
Ruangan ini adalah ruangan privasi yang dipakai Nusa dan keluarganya. Letaknya di lantai satu dan tidak ada yang boleh masuk kecuali keluarga mereka.
Ruangannya seperti ruangan tamu ada sofa, dapur kecil, kulkas, TV dan lain-lain. Bahkan ada permainannya juga seperti Billiard, PS dan tempat duduk untuk bermain catur.
Nusa melepaskan tangan Kaya dan berjalan menuju meja untuk mencari sesuatu di laci. Kaya hanya berdiam diri memandang ruangan tersebut, sambil mengusap pergelangan tangannya yang sakit akibat ditarik Nusa.
Nusa sudah mendapati yang dia cari yaitu kotak P3K. Ia pun menghampiri Kaya yang hanya berdiam diri. Nusa menarik tangan Kaya dan menyuruhnya duduk. Kaya pun mematuhi yang disuruh Nusa.
“Itu apa?” tanya Kaya melihat Nusa mengeluarkan obat dari kotak tersebut.
“Ini obat masuk angin,” jawab Nusa yang berdiri dihadapan Kaya.
“Aku enggak suka minum obat Nus,” tolak Kaya menggeleng kepala dan mencoba berdiri dari sofa. Namun, Nusa menahan pundak Kaya untuk tetap duduk dengan tenang.
“Kamu bisa enggak diam!” omel Nusa.
Nusa meninggalkan Kaya dan mengambil air minum di dapur. Lalu menghampiri Kaya kembali dan duduk di sampingnya sambil menaruh gelas di meja.
“Nih obatnya minum!” suruh Nusa menyodorkan obat yang sudah di buka plastiknya.
“Enggak Nus, aku enggak suka obat rasanya pahit.” Tolak Kaya.
“Buka enggak mulutnya!” perintah Nusa. Kaya malah menutup rapat mulutnya dan menolak.
“Kaya buka!”
Kaya tetap tidak mau membukanya dan terus menutup mulutnya dengan rapat. Nusa yang sudah capek, berdiri di hadapan Kaya dan mengunci Kaya dengan dengkul menumpu sofa.
“Nusa kamu mau ngapain?” tanya Kaya mendongak ke atas melihat Nusa di depannya.
Nusa mencekram dagu Kaya dan Kaya yang ingin memberontak tidak bisa karena Nusa sudah menguncinya dengan badannya. Kaya mencoba menyingkirkan tangan Nusa yang mencekram dagunya, tapi cengkramannya terlalu kuat.
“Nusa kamu mau ngapain?” tanya Kaya yang tidak begitu jelas karena dagunya dicengkram.
Nusa menaruh obat di mulutnya sendiri dan mengambil minum di meja menggunakan tangan kirinya. Ia meminum air tersebut tapi tidak menelannya, lalu memberikannya ke dalam mulut Kaya ketika Kaya ingin berbicara.
Kaya yang kaget langsung menelan obat yang diberikan melalui mulut Nusa dengan mata membelalak. Kaya langsung mendorong Nusa dan mulut mereka terlepas.
“Kamu udah gila Nus?!” Kaya mengelap mulutnya yang basah dicium oleh Nusa.
Nusa yang terdorong berdiri dihadapan Kaya, ia tertawa pelan. “Makanya kalau disuruh minum obat. Minum!”
“Tapi enggak usah dicium juga Nusa?!” omel Kaya.
“Kalau enggak gitu, kamu enggak mau minum obat. Tapi nikmat bukan?” tanya Nusa dengan senyum.
“Nikmat apanya?! Malah aku pengen muntah lagi.” Ketus Kaya.
“Heh, dasar bohong.”
Kaya berdiri dari kursi menghadap Nusa. “Minggir Nus!” perintah Kaya dengan sinis.
“Mau ke mana emangnya?” tanya Nusa dengan senyum.
“Aku mau keluar balik kerja, jadi tuan Nusa tolong minggir!” pinta Kaya dengan tangan memohon.
“Baiklah, silahkan ibu Kaya!” Nusa meminggirkan dirinya dan mempersilahkan Kaya pergi.
“Kay,” panggil Nusa saat Kaya berjalan menuju pintu.
Kaya berhenti dan menoleh ke arah Nusa. “Ini ciuman kita yang kedua, apakah ada artinya? Harusnya kamu berterimakasih kepadaku dengan memberikan imbalan, bukannya pergi begitu saja.” Nusa tersenyum menyeringai.
“Bagiku, apa pun yang darimu Nusa tidak ada artinya. Apakah anda puas? Dan untuk berterimakasih, buat apa aku berterimakasih. Kau malah memanfaatkan diriku.” Ketus Kaya berbalik badan lagi menuju pintu meninggalkan Nusa.
“Yah, kamu benar aku hanya memanfaatkanmu Kaya Aqila Naya Raya.” Nusa tersenyum sinis dan berjalan menuju dapur.
Nusa mengambil alkohol di dalam kulkas dan menuangkannya ke dalam gelas. Nusa duduk meminum alkoholnya sambil tersenyum.
Kaya yang berjalan menuju lift mengomel-omel sendiri. “Dasar Nusa! Mencari kesempatan dalam kesempitan. Argghhh...! Kenapa aku mau sih ikut dia tadi. Kan, jadi begini?!” Kesalnya sendiri sambil berjalan.
Lalu ada dua perempuan melihat Kaya kesal sendiri dan memperhatikan Kaya.
“Apa kalian lihat-lihat saya?!” ketus Kaya menatap dua perempuan tersebut yang jalannya berpapasan.
Dua perempuan tersebut langsung kaget Kaya mengomel mereka dan takut. Mereka langsung jalan cepat dan tidak berani melihat Kaya.
“Ibu Kaya galak bangat ternyata,” ucap perempuan tersebut.
“Iyah, galak banget dia. Matanya kaya mau nerkam kita.” Sahut sebelahnya.
“Iya benar. Ihh...., kita jangan dekat-dekat dia!”
“Iya kamu benar.” Sahutnya.
Kaya masuk ke dalam lift dan menuju lantai 21. Lift terbuka dan Kaya langsung menuju ruangannya dengan muka kesal. Ia masuk ke dalam ruangan dan meneplak meja dengan keras, sehingga membuat Mila yang sedang memperhatikan foto Nusa di ponsel terkaget.
“Bu..., ibu kenapa?” tanya Mila heran.
“Saya lagi kesal Mil.” Jawab Kaya duduk dengan melipatkan kedua tangannya ke dalam dada.
“Kesal kenapa bu?” tanya Mila lagi dengan hati-hati agar Kaya tidak marah.
“Udah Mil, kamu diam aja! Saya mau sendiri dulu!” desis Kaya.
“Iya bu,” Mila langsung kicep dan kembali bekerja.
“Bisa-bisanya dia melakukan ini ke aku?!” Kaya mengomel sendiri sambil meneplak meja dan membuat Mila yang mengetik kaget lagi. Mila langsung menoleh ke arah Kaya.
Hadeh! Ibu Kaya kalo lagi kesal kayak macan betina keluar dari kandang, batin Mila kembali lagi bekerja.
“Kurang ajar banget dia!” Kaya meneplak meja lagi dengan keras.
“Eh buset, siapa yang kurang ajar.” Mila melatah sendiri dan memperhatikan Kaya lagi.
“Arggghhhhh....! Kenapa dia harus lakukan itu sih?!” Kaya teriak sendiri dengan meremas rambutnya sehingga berantakan.
“Eh buset deh, ibu Kaya kenapa sih!?” gumam Mila pelan memperhatikan Kaya kayak orang stress. Mila yang ingin menenangkannya malah takut dan membiarkannya.
Nusa masuk ke dalam ruangan dan berjalan menuju tempat duduknya. Melihat Nusa masuk, Kaya langsung memasang muka sinis kepadanya.
“Dasar pria tak berdosa,” gerutu Kaya pelan.
“Ibu Kaya, rambut kamu kenapa?” tanya Nusa dengan senyum.
Pakai nanya lagi, udah tahu gara-gara kamu yang buat aku stress!
“Bu Kaya dari tadi kesal sendiri pak, makanya rambutnya diberantakin sama dia.” Celetuk Mila dan membuat Kaya menatap Mila tajam.
Ini lagi satu, segala bilang, batin Kaya kesal.
Nusa beranjak dari kursinya menghampiri Kaya dan duduk di depan mejanya. “Kesal kenapa?” tanya Nusa.
Pakai nanya lagi?!
“Kesal karena ada orang yang coba mencari kesempatan.” Ketus Kaya.
Nusa memajukan wajagnya ke arah kuping. “Kesal karena aku cium? Bukannya kalau kamu cium aku Kay tidak ada rasanya karena enggak cinta? Sekarang kenapa kesal?” bisik Nusa.
“Pak Nusa ngapain sih bisik-bisik ibu Kaya?” ucap Mila pelan dengan kesal.
Kaya langsung menoleh muka Nusa yang dekat dengan pipinya. Kaya menatap Nusa dengan sinis. “Kamu benar Nusa,” senyum Kaya.
Nus menjauhkan wajahnya dari wajah Kaya dan kebali duduk normal. “Benerin dulu gih rambut kamu yang berantakan! Masa calon CEO rambutnya acak adul.” Ledek Nusa dengan senyuman.
“Makasih loh pak Nusa sudah perhatian dengan saya.” Kaya tersenyum sinis beranjak dari kursi dan pergi menuju pintu meninggalkan Nusa yang duduk.
~ Bersambung ~