
~ Happy Reading ~
Pagi hari....,
Kaya menyetir dalam perjalanan menuju tempat kerja. Ia mendengar ponselnya bergetar dan mengambilnya. Saat di buka, ia melihat pesan WA dari Adrian.
Adrian: Kay, apa kabar?
Adrian: Jika ada waktu. Mari kita berbincang sebentar nanti malam. Aku menunggumu Jam 07:00 malam di restoran Tama.
“Ada apa Adrian minta ketemuan? Apa ia ingin memarahiku lagi kayak kemarin?” pikuk Kaya.
“Apa aku ke sana saja yah?” pikir Kaya.
Kaya: Iya, aku akan ke sana.
Kaya menaruh ponselnya kembali ke tempat duduk samping. Ia kembali menyetir dengan serius menuju tempat kerjanya.
*****
Kaya sampai ke perusahaan Tama dan memakirkan mobilnya di parkiran luar gedung. Ia berjalan masuk ke dalam kantor dengan terburu-buru tanpa sengaja dia menabrak seorang pria. Sehingga orang tersebut menjatuhkan beberapa kertas di tangannya.
“Maafkan saya. Saya tidak sengaja,” Kaya membantu memungut kertas yang jatuh dan membelakangi pria tersebut.
“Iya enggak papa mbak, saya juga salah.” Ucap pria itu sambil memungut kertasnya juga.
Lalu sisa satu kertas lagi yang harus mereka pungut dan mereka memungutnya secara bersamaan. Mereka pun saling bertatapan.
“Kaya?” kagetnya.
“Michael?” Kaya menunjuk Michael dengan senyum. Mereka pun berdiri dan Kaya mengasih kertas yang dipungut ke Michael.
“Hei Kay, apa kabar?” tanya Michael tersenyum.
“Baik, Michael.” Jawab Kaya dengan senyum.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Michael.
“Aku kerja di sini,” jawab Kaya.
“Kerja di sini?” tanya Michael cukup kaget.
“Iya. Emang kenapa?” tanya Kaya.
“Enggak, aku cuman heran aja enggak pernah lihat kamu di sini.” Jawab Michael masih bingung.
“Ohh..., aku baru di sini Michael.” Jawab Kaya dengan senyum.
“Oh...,” gumam Michael. “Jadi apa Kay?” tanya Michael.
“Jadi...,” Kaya ingin berbicara dihentikan dengan Nusa yang muncul diantara mereka.
“Jadi calon CEO di sini Michael,” sahut Nusa memeluk pinggang Kaya.
“Apaan sih Nusa? Lepasin enggak!” Kaya menatap sinis Nusa yang disampingnya, sambil mencoba melepaskan tangannya.
“Hei bro, apa kabar?” tanya Michael berjabat tangan anak gaul dengan Nusa.
“Baik bro,” jawab Nusa. “Kamu udah selesai tugas keluar kota?” tanya Nusa.
“Udah, tapi minggu depan aku mau balik lagi keluar kota.” Jawab Michael dengan senyum.
Tugas keluar kota? Apa jangan-jangan Michael kerja di sini?
“Bokap kamu gimana bro?” tanya Michael.
“Baik,” jawab Nusa tersenyum.
“Baguslah, soalnya terakhir aku dengar papa kamu sakit. Tapi aku enggak bisa jenguk karena di luar kota.”
“Enggak papa bro,” senyum Nusa.
“Tadi kamu bilang Kaya menjadi calon CEO, maksudnya apa?” tanya Michael.
“Dia jadi calon CEO di sini,” jawab Nusa dan Kaya hanya tersenyum.
“Kok bisa?” tanya Michael heran.
“Yah bisalah bro, namanya juga....,” perkataan Nusa langsung dipotong oleh Kaya.
“Aku punya setengah saham di sini Michael,” sahut Kaya dengan senyum.
“Oh...,” gumam Michael dengan senyum.
“Tapi ngomong-ngomong kok kamu kenal Kaya, Michael?” tanya Nusa.
“Dia ini cewek yang pernah aku ceritain bro,” jawab Michael dengan senyum.
Apa maksud Michael pernah diceritain?
“Ohhh, cewek centil dan genit yang pernah bertaruh dengan temannya untuk mendapatkan kamu Mic?” tawa Nusa. Kaya langsung memicingkan mata ke arah mereka.
“Hehehe, maaf Mic aku lupa.” Nyengir Nusa. “Lagian kamu enggak pernah bilang namanya waktu SMA.”
“Iya juga sih,” nyengir Michael.
“Yaudah bro, aku pergi dulu yah! Soalnya aku ada meeting dengan orang lain.”
“Iya bro,” ucap Nusa dengan cool.
“Kay, kapan-kapan kita mengobrol lagi yah?! Dah....,” lambai Michael kepada mereka.
“Iya Michael,” senyum Kaya.
Saat Michael pergi Kaya langsung berbalik badan dan berjalan menuju lift. Nusa pun mengikuti Kaya masuk ke dalam lift.
Saat di lift....,
Banyak orang yang naik lift sehingga Kaya terpojok dan merasa sesak. Ia berdiri di samping Nusa yang menyender ke belakang lift. Orang semakin bertambah masuk ke dalam lift dan membuat Kaya semakin menggeser dirinya ke belakang. Kaya pun terdorong dengan badan pria yang ada di depannya dan membuat Kaya terpaksa hampir mengenai badan pria di depannya.
Nusa yang meperhatikannya beranjak dari sandarannya dan menghadap ke depan Kaya. Sehingga punggung Nusa dan punggung pria itu yang menempel, dengan kedua tangan menumpu pada pegangan lift yang ada di belakang Kaya.
Kaya sebenarnya merasa canggung dengan adanya Nusa di depan mukanya. Ia membuang muka dan tidak berani melihat mata Nusa. Sementara Nusa hanya tersenyum melihat Kaya. Satu persatu orang keluar dari lift, hingga sudah sepi Nusa masih berdiri di depan muka Kaya.
Kaya memberanikan dirinya melihat Nusa dan memandangnya. “Nus, aku mau tanya. Apa Michael kerja di sini?” tanya Kaya.
“Iya, dia sebagai manajer marketing di sini jadi sering keluar kota.” Jawab Nusa.
“Ohhh...,” gumam Kay.
“Ternyata waktu SMA, kamu parah yah?! Suka mengincar pria-pria tampan. Apa teman yang suka bertaruh sama kamu itu Lita?”
“Iya,” jawab Kaya dengan singkat.
Berarti benar ucapan dia. Dia tidak memanfaatkan Lita karena papaku membuat dia bangkrut saat kelas tiga SMA, batin Nusa.
“Kamu kenal Michael dari kapan?” tanya Kaya.
“Sejak SMA,” jawab Nusa.
“Oh..., tapi kok Lita enggak tahu kamu dekat Michael?” tanya Kaya.
“Iya, karena waktu SMP aku sudah memutuskan semua hubungan keluarga dari papa.” Jawab Nusa dengan senyum.
Kenapa aku jadi cerita sama Kaya? Sadar Nusa dalam hati.
“Oh..,” gumam Kaya dengan senyum.
Ting!
Lift pun berhenti di lantai 21. Nusa langsung tersadar dan berbalik badan. “Silahkan ibu Kaya yang terhormat!” Nusa memperagakan tangannya untuk mempersilakan Kaya keluar duluan dari lift.
Perasaan tadi dia baik, sekarang kambuh lagi? pikuk Kaya lagi dalam hati.
Kaya dan Nusa berjalan bersama menuju ruangan dan di sapa oleh beberapa karyawan. Mereka membalasnya dengan senyum. Saat masuk ruangan, Kaya dan Nusa disapa oleh Mila yang berdiri di depan mejanya sendiri.
“Pagi pak Nusa dan ibu Kaya,” sapa Mila dengan ramah.
“Pagi Mil,” senyum Kaya dan Nusa hanya tersenyum.
“Kok kalian berdua bisa berbarengan sih?” tanya Mila bercanda.
“Kebetulan aja ketemu,” jawab Kaya dengan senyum menuju tempat duduknya.
“Ohhh,” senyum Mila kembali duduk dan Nusa duduk juga di kursinya.
“Mil,” panggil Nusa.
“Iya pak,” jawab Mila menengok ke arah Nusa.
“Nanti kamu tolong ke pak Danil, meeting ditunda dulu hari ini.”
“Kenapa di tunda?” sahut Kaya.
“Iya pak, kenapa di tunda?” tanya Mila juga.
“Soalnya saya ada urusan penting nanti,” jawab Nusa.
“Baik pak, nanti saya sampaikan kepada pak Danil.” Ucap Mila.
“Kenapa kau batalkan Nusa?” tanya Kaya yang juga akan ikut hadir dalam meeting itu.
“Tadi kau tidak dengar ibu Kaya, saya ada urusan.” Jawab Nusa dengan ketus.
“Merasa penting banget sih hidup kamu?!” gerutu Kaya pelan, namun Nusa masih mendengarnya.
“Iyalah penting. Aku ini punya banyak sekali perusahaan.” Sahut Nusa dengan sombong. Sementara Mila hanya heran melihat mereka berdua.
~ Bersambung ~