
~ Happy Reading ~
“Ini adalah ibu Kaya calon CEO cantik di sini dan ini adalah asisten pribadi saya. Ibu Kaya ini yang akan menilai kamu!” Nusa menunjuk mereka. Mila hanya tersenyum melihat mereka dan mereka membalasnya dengan senyum juga.
“Tolong perkenalkan diri kamu! Tapi saya maunya kamu berdiri karena saya mau lihat kecantikan kamu.” Nusa sengaja menggoda Mila untuk memanaskan hati Kaya.
“Bapak bisa aja. Baik pak.” Mila berdiri dari kursi.
“Perkenalkan, nama saya Mila Ardila biasa dipanggil Mila. Saya anak tunggal. Saya baru lulus dari sekolah administrasi. Tapi saya sudah punya banyak pengalaman belajar tentang sekertariat. Sekian dari saya.” Ucap Mila terlihat tegang.
“Baik kamu bisa duduk!” Nusa berdiri dari kursi dan bersandar di samping meja yang juga berhadapan dengan Kaya dan Mischa.
“Menurut ibu Kaya bagaimana dengan dia?” tanya Nusa dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam kantong celana.
“Menurut saya, ia cocok sekali menjadi sekertaris anda secara dia cantik dan sudah punya pengalaman menjadi sekertariat walaupun baru lulus. Apalagi penampilan dia sexy sekali dan sangat menawan.” Kaya tersenyum remeh memperhatikan Mila. Dalam hatinya Mila masih kalah jauh dengannya.
Kaya maju satu langkah untuk berhadapan dengan Nusa. “Mungkin saja dia akan cocok jadi mainan kamu, pak Nusa.” Bisik Kaya dengan senyum, lalu mundur satu langkah. Nusa tidak membalas bisikan Kaya, ia hanya tersenyum saja mendengarnya.
“Baiklah ibu Kaya yang terhormat. Saya akan mengambil keputusan, bahwa kamu Mila saya terima.” Nusa menunjuk Mila dengan senyum.
“Benaran pak Nusa?” tanya Mila antusias dan diangguki oleh Nusa.
“Terimakasih pak,” ucap Mila kegirangan.
“Kamu akan duduk di sebelah sana!” tunjuk Nusa ke arah depan. “Kamu di bawah perintah saya, jadi siapa pun yang memerintah kamu termasuk ibu Kaya harus kamu tolak.”
“Baik pak,” angguk Mila.
“Lagi pula, siapa juga yang mau memerintah sekertaris kamu!” sinis Kaya melipatkan kedua tangannya ke dalam dada, sambil memutar bola matanya malas.
“Mischa, tolong urus semua berkasnya dia. Hari ini dia akan masuk dan mulai bekerja!” Perintah Nusa.
Mila yang mendengarnya terkejut. Dalam pikirannya baru saja ia diterima, sekarang langsung bekerja. Bukankah ini terlalu mendadak baginya.
“Baik tuan muda.” Mischa langsung membawa Mila pergi meninggalkan ruangan.
“Nusa…, Nusa…,” Kaya menggelengkan kepalanya.
“Ternyata kamu enggak sabaran sekali, sampai-sampai dia harus bekerja hari ini?! Apakah kamu sangat menginginkannya, sehingga kamu menyuruhnya untuk bekerja hari ini?” Kaya mendekatkan dirinya ke hadapan Nusa dan membelai dada Nusa. Ia sengaja mengolok Nusa untuk membuatnya emosi.
Nusa bukannya emosi malah menjadi-jadi. Ia mendekapkan Kaya dan tersenyum menyeringai. Kaya sontak kaget, namun berusaha untuk tetap tenang.
“Kenapa emangnya? Apakah kamu cemburu?” tanya Nusa di depan muka Kaya yang sangat dekat sekali.
“Cemburu?” dengan mengangkat alis matanya. “Mana mungkin aku cemburu.”
“Masa sih?” Nusa memegang dagu Kaya dan mencoba mencium Kaya. Namun, Kaya menghindar dengan membuang muka. Nusa tersenyum menyeringai dan melepas dekapannya.
“Kenapa? Kamu takut denganku Kay?” tanya Nusa.
“Heh, aku enggak takut. Buat apa aku takut dengan musuhku sendiri.” Ketusnya.
“Musuh? Sekarang kamu udah menganggap aku musuh? Yah.., yah…, aku lupa bahwa papaku adalah musuhmu?!”
“Baguslah kamu udah tahu.”
Nusa ingin berkata lagi tapi terhenti, karena Mischa dan sekertaris itu datang menghampiri mereka.
“Tuan, saya udah urus semuanya.” Ucap Mischa.
“Baiklah,” ucap Nusa.
“Mila yang cantik, kamu udah bisa mulai bekerja di sini dan kamu duduk di sebelah sana. Sedangkan untuk ibu Kaya akan duduk di sebelah meja saya.”
“Baik pak,” angguk Mila.
****
Jessica memakirkan mobilnya di pinggir jalan dekat dari gedung perusahaan Tama. Iamemperhatikan gedung Tama dari kejauhan di mobilnya. Lalu datang seorang pria menyebrang jalan dan menghampiri Jessica.
Tok...., Tok...,
Pria tersebut mengetuk jendela mobil Jessica. Lalu Jessica membuka kaca jendela mobilnya dan melepaskan kacamata hitamnya.
“Apa yang kau ketahui?” tanya Jessica.
“Ternyata memang benar nona. Pak Nusa mempunyai perusahaan ini.” Jawab pria tersebut.
Berarti memang benar Nusa lebih Kaya dari Adrian, batin Jessica.
“Lalu apa lagi yang kau dapat tentang mereka berdua?” tanya Jessica. Mereka berdua yang dimaksud Jessica adalah Kaya dan Nusa.
~
Semenjak kejadian acara perpisahan di restoran Tama. Jessica yang mendengar ucapan Nusa bahwa ia akan menggantikan ayahnya yang sakit. Dari situ Jessica mencari tahu siapa Nusa. Ia menyuruh orang untuk mencari informasi tentang Nusa dan juga Kaya, karena ia juga penasaran dengan Kaya.
Jessica pun mendapatkan informasi tentang Kaya akan bekerja di perusahaan Tama dan di balik itu juga Nusa akan bekerja di perusahaan Tama. Oleh karena itu, dia bingung kenapa Kaya bisa bekerja di perusahaan Nusa. Maka dari itu, karena penasaran ia datang ke sana dan menyuruh orang untuk masuk ke dalam.
~
“Kaya juga mempunyai setengah saham dari perusahaan ini nona. Tapi desas-desus yang saya dengar, dia merebutnya dengan cara menipu ayahnya Nusa nona.”
“Heh, Kaya memang hebat dalam menipu. Tapi aku akan membuat Nusa menjadi milikku. Lalu membantu Nusa menyingkirkan Kaya, dengan begitu aku akan menjadi istri pengusaha kaya raya.” Tawanya.
“Kamu terus awasi mereka!” perintah Jessica.
“Baik bu.” Pria itu meninggalkan Jessica.
Jessica menutup kaca jendela mobilnya dan memakai kacamata hitamnya lagi sambil tersenyum. Dia melajukan mobilnya dengan cepat.
Jessica memang penggila harta dan kekayaan. Ia akan mendapatkan pria kaya yang ia mau walau itu harus dengan cara kotor. Itulah sifat aslinya.
***
Di ruangan Adrian.
Jessica duduk di depan meja Adrian. Ia datang untuk membicarakan sesuatu pada Adrian.
“Ada apa Jessica?” tanya Adrian melipatkan kedua tangannya seperti berdoa dan menumpu pada dagu.
“Aku mau bilang ke kamu Adrian?! Kalau aku memutuskan tunangan sama kamu!” tunjuk Jessica ke muka Adrian.
Adrian tertawa geli. “Emang sejak kapan kita bertunangan? Itu kan hanya anggapan kamu saja selama ini. Lagi pula kamu itu baru CALON TUNANGAN.” Tekan Adrian.
“Yah baguslah kalau baru calon tunangan. Soalnya aku udah dapetin cowok yang lebih kaya dari kamu Adrian.”
“Baguslah, jadi aku bisa lepas dari cewek MATRE seperti kamu. Lagi pula papaku saja yang bodoh memilih tunangan seperti kamu.” Sindir Adrian dengan ketus.
Jessica ingin marah tapi dia menjaga imagenya dan mencoba tetap tenang. “Yaudah hanya itu sih yang ingin aku katakan. Kalau begitu aku pulang dulu yah Adrianku!” ucapnya beranjak.
“Dah Adrian, jangan menangis yah kehilangan aku?!” Jessica tersenyum kepedean dan meninggalkan ruangan Adrian.
“Dasar cewek gila!” gerutu Adrian saat Jessica sudah keluar.
~ Bersambung ~