My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 66 ~ Kaya Muntah



~ Happy Reading ~


Makan siang...,


          Nusa mengajak Mila untuk makan siang di luar dan Mila malah mengajak Kaya ikut makan bersama dengan meraka. Kaya pun mengiyakan dan ikut bersama mereka.


          Mereka berjalan menuju restoran terdekat dengan kantor mereka. Saat sampai, mereka langsung duduk. Kaya duduk berhadapan dengan Nusa, sementara Mila duduk di samping Nusa. Mereka langsung memesan makanan dan menunggu makanan tiba.


          Makanan pun tiba dan ditaruh di meja oleh pelayan tersebut. Kaya memesan sphageti agia oleo, Mila memesan bistik lada hitam, dan Nusa memesan steak daging sapi. Mereka pun menyantap makanan tersebut.


          Mereka tidak berbicara sama sekali dan menikmati makanan tersebut. Nusa yang memperhatikan Kaya makan dengan berantakan mencoba ingin mengelapnya tapi dia menahannya. Saat Kaya melihat dirinya, Nusa langsung membuang muka ke arah Mila dengan senyum.


          “Mil,” panggil Nusa.


          “Iya pak,” jawab Mila yang mulutnya ada noda makanan.


          “Kamu gimana sih makannya berantakan?!” Nusa tersenyum sambil mengelap mulut Mila dengan tisu.


          Mila langsung kaget dan mematung. Di dalam hatinya dia merasa senang sekali Nusa perhatian dengannya.


          “Kamu makan berantankan sekali seperti anak kecil,” senyum Nusa yang selesai mengelap.


          “Makasih pak,” senyum Mila sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya.


          “Bibir kamu indah Mila,” puji Nusa tersenyum.


          “Bapak bisa aja,” Mila tersenyum malu.


          Kaya yang meperhatikan mereka ada rasa cemburu. Dia meletakkan sendoknya di meja dengan berbunyi, lalu meneguk minumannya.


          Mila yan mendengar hentakan sendok tersebut melirik Kaya. Ia merasa sikap Kaya sedang aneh saat ini.


          “Bu, hati-hati nanti keselak minum!” Mila perhatian terhadap Kaya yang minum terlalu terburu-buru.


          “Saya haus banget Mil.” Kaya meminum lagi airnya dan Nusa hanya tersenyum melihat Kaya.


          “Pelayan!” panggil Kaya dengan tangan ke atas dan melihat pelayan tidak jauh dari pandangannya. Pelayan itu menghampiri Kaya.


          “Iya bu?” tanya pelayan tersebut.


          “Saya pesan lagi minuman ini!” Kaya menunjuk gelasnya yang habis diminum.


          “Minuman apa yah bu?” tanya pelayan itu bingung.


          Minuman apa lagi tadi ini namanya, batin Kaya tiba-tiba lupa namanya.


          “Cocktail,” jawab Kaya. “Saya pesan lima yah!”


          “Baik bu,” angguk pelayan tersebut dan pergi.


          “Bu, enggak salah pesan minuman sebanyak itu?” tanya Mila melongo.


          “Enggak Mil. Hati saya soalnya panas.” dengan telapak tangan menunjuk dadanya sendiri.


           “Eh, maksudnya saya merasa kepanasan, belum lagi sphagetinya pedas.” Kelak Kaya yang keceplosan sambil menyengir.


          Hah? Pedas? Perasaan enggak pedas deh sphagetinya? pikuk Mila dalam hati.


          Nusa yang mendengarnya menggoyangkan minuman di gelas dan meminumnya sambil tersenyum dengan cool. Ia tahu Kaya telah cemburu.


          “Huh, panas Mil yah!” Kaya mengipas-ngipas menggunakan tangannya.


          “Masa sih bu? Perasaan ini restoran elit deh bu yang punya banyak AC?!” pikuk Mila bingung dengan Kaya.


          “Mungkin saya orangnya gampang gerah kali Mil,” nyengir Kaya.


          Pelayan itu datang dengan membawa minuman yang dipesan oleh Kaya dan menaruhnya di meja Kaya. Nusa yang memperhatikan Kaya dengan senyum,  mengambil satu gelas minuman Kaya.


          “Saya bagi satu, punya saya habis soalnya.” Nusa meminum air itu dan Kaya membiarkan Nusa mengambilnya.


          Kaya meminum lagi air yang dia pesan tadi dengan cepat. Dia menghabiskan tiga gelas sekaligus dengan cepat. Mila yang melihatnya heran dan bingung dengan sikap Kaya.


          “Bu hati-hati. Ibu banyak banget minumnya entar kembung loh?!” ucap Mila.


          “Enggak bakal Mil,” ucap Kaya meminum gelas terakhir.


          Mereka pun selesai makan dan minum. Nusa langsung meminta bill dan membayarnya kepada pelayan tersebut. Selesai membayar, mereka beranjak dari kursi keluar dari restoran menuju mobil.


          Mila duduk di samping Nusa yang menyetir, sementara Kaya duduk di belakang memperhatikan mereka yang mengobrol dengan tersenyum membuat Kaya panas dan emosi hati.


          “Ibu Kaya kenapa? Kegerahan?” tanya Mila melihat Kaya mengipas-ngipas dirinya dengan tangannya sendiri.


          “Hehehhe, iya Mil. Kayaknya AC mobil pak Nusa tidak berguna yah?!” Ketus Kaya melihat Nusa dari spion Kaca mobil atas.


          “Masa sih? Perasaan dingin kok?” pikuk Mila heran.


          “Kalo tidak berguna, pakai AC dari luar aja!” suruh Nusa melihat Kaya dari spion kecil atas kepalanya.


          “Ohh iya, pak Nusa benar.” Kaya membuka jendela mobil setengah dan membiarkan angin luar masuk.


          Selama di perjalanan Kaya merasa mabuk mobil. Dia ingin muntah tapi menahannya. Namun, Nusa sudah tahu Kaya mabuk mobil dan ingin muntah. Nusa terus memperhatikan Kaya dari kaca spion atas kepalanya, yang menahan muntah dengan tangannya.


          Mila terus berbicara kepada Nusa dan Nusa hanya mendengarkannya sambil memperhatikan Kaya. Mereka pun sampai dan Nusa memakirkan mobilnya di parkiran luar gedung. Lalu mereka turun secara bersamaan.


          “Aku duluan yah Mil,” Kaya berjalan terburu-buru sambil menahan muntahnya. Dia berlari masuk ke dalam gedung untuk menuju toilet.


          “Kenapa dengan ibu Kaya?” tanya Mila dengan heran melihat Kaya pergi terburu-buru.


          “Yuk Mil!” ajak Nusa menuju dalam gedung kantor.


          “Iya pak.” Mila mengikuti Nusa berjalan menuju kantor.


****


          “Kamu duluan aja naik lift!” perintah Nusa.


          “Bapak emang mau ke mana?” tanya Mila.


          “Saya ada urusan,” jawab Nusa.


          “Oh..., baik pak.” Senyum Mila berjalan masuk ke dalam lift.


          Nusa berjalan menuju kamar mandi perempuan dan menunggu Kaya keluar dari kamar mandi dengan menyender di tembok.


          Kaya yang masih di kamar mandi, memuntahkan semua makanan dan minuman yang dia makan di restoran ke dalam closet toilet. Dia mengeluarkan semuanya dan membersihkannya dengan memencet tombol air closet. Lalu Kaya menuju wastafel dan membasuh mukanya sambil mengumur air di dalam mulutnya.


          Setelah selesai dia mengelapnya dengan tisu yang ada di dekat wastafel. Lalu Kaya merapikan rambut dan bajunya. Kaya berjalan menuju keluar kamar mandi. Nusa yang melihatnya langsung menarik Kaya dan memeluknya.


          “Nusa lepasin! Nanti ada yang lihat!” Kaya mencoba melepaskan tangan Nusa yang melingkar di pinggangnya.


          “Kamu cemburu kan?” tanya Nusa terus terang.


          “Ngapain aku cemburu,” jawab Kaya dengan ketus.


          Nusa melepaskan pelukannya dan tertawa sinis. “Kay, kamu ngaku aja deh?”


          “Apaan sih Nusa,” desis Kaya.


          “Kalau enggak cemburu kenapa minum segitu banyaknya?” tanya Nusa.


          “Yah kan, aku kepanasan Nusa.” Kelak Kaya membuang muka.


          “Bohong,” ucap Nusa tersenyum.


          Kaya yang ingin menjawab tidak bisa karena ingin muntah lagi. “Kay kamu kenapa?” tanya Nusa melihat Kaya menutup mulutnya.


          Kaya hanya menatap Nusa dan meninggalkannya masuk ke kamar mandi lagi. Kaya memuntahkan lagi semuanya di wastafel. Nusa yang mendengar suara Kaya panik dan masuk ke dalam.


          “Lagian kamu sih, minum banyak banget, udah itu tadi membiarkan udara luar masuk. Jadi masuk angin kan?!” omel Nusa menepuk pundak Kaya.


          “Nus kamu ngapain di sini? Ini kamar mandi perempuan, nanti ada yang liat.”


          “Udah cepatan muntahnya!” Nusa terus menepuk pundak Kaya dengan pelan.


          Kaya pun mencuci mulutnya dan selesai muntah. Lalu dia mengelap mulutnya dengan tisu sambil menghadap Nusa. Melihat Kaya sudah selesai mengelap, Nusa langsung menarik tangan Kaya dan membawanya menuju ke ruangan lain.


~ Bersambung ~