
Kaya masuk ruangan dan menaruh tas sambil menghela napas seperti lelah.
“Pak Adrian lama-lama gila kerja kali yah? Selalu aja WA aku tentang kerjaan setiap malam.” Gerutunya sambil menunggu layar komputer menyala.
“Pagi Kayaku sayang.” Nusa masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu karena sudah terbiasa baginya.
“Pagi juga Nusaku sayang,” godanya kembali.
Nusa terlihat terkejut dengan balasan Kaya. “Apa coba ulangin lagi?” Nusa memajukan telinganya ke wajah Kaya.
“Kagak ada pengulangan yah!” ketus Kaya.
“Loh, kok gitu sih Kay?”
“Lagian kamu gombal melulu sih pagi-pagi!”
“Aku kan, memang selalu menggombal ke kamu Kayaku. Lagi pula kamu juga senang kan aku gombal terus?!” Nusa menggoda Kaya dengan memainkan alis matanya dan tersenyum lebar.
Kaya yang mendengarnya rasanya ingin memasuki Nusa ke karung karena sangking gemasnya melihat eksperesinya. Dan ingin rasanya memukulnya di dalam karung.
“Iya dah, aku memang selalu senang kalau di gombalin kamu.” Ucapnya pasrah. Sangking senangnya di gombalin terus ingin rasanya memuntahkan semua isi perut, lanjutnya dalam hati.
“Tapi aku senang dengan kamu yang begini! Waktu kamu masuk yah! Kamu itu sok cool banget, jawabnya singkat banget, udah itu kadang cuek banget sama aku. Habis itu, cerita aku paling juga, kamu keluar kuping kanan kuping kiri Kay.” Gerutu Nusa mengeluarkan semua isi hatinya.
Lah dia tau aja, kalau denger ceritanya aku enggak pernah dengar! Ternyata sadar diri juga nih orang!
“Aku kan jaga image dulu Nusa.”
“Yaelah ngapain sih jaga image Kay? Image kamu kan, emang udah bagus bahkan dari lahir kali.” Gombal Nusa.
Kaya yang mendengarnya tertawa lucu. “Nus-Nus, kadang aku merasa rileks sama kamu.”
“Iyalah, Nusa!” percayanya menepuk dada. “Kamu jangan kayak Adrian! Serius melulu dia!” Nusa menunjuk ruangan samping Kaya.
“Iya yah Nus? Dia serius melulu bahkan saat diluar kerjaan?!”
“Emang iya.”
“Udah ah, aku mau kerja dulu nih! Balik sana kamu ke asal Nus! Nanti kita di panggil lagi, gara-gara kamu kelayapan melulu ke ruangan aku?!” Kaya mengusir Nusa dengan tangannya.
“Jadi kamu usir aku nih Kay?” Nusa cemberut seperti anak kecil.
“Iya, sana!”
“Iya dah, yaudah deh. Dah Kaya sayang!” Nusa berdiri dari kursi dan tersenyum kepada Kaya.
“Hemm,” Kaya hanya bergumam sambil mengetik dan Nusa sudah keluar dari ruangan Kaya.
“Kadang-kadang dia ganggu aja!”
“Tapi emang iya sih? Adrian tak pernah rileks, kayaknya yang dipikirkan selalu kerjaan melulu?!” gumam Kaya.
“Tapi kenapa yah? Biarkanlah, gue yang akan buat dia rileks. Kita liat aja nanti!” ucapnya percaya diri dengan senyuman.
***
Saat istirahat kerja...
Kaya, Nusa dan Adrian seperti biasa makan siang bersama di sebuah restoran dekat kantor mereka.
“Kaya?” Adrian duduk menyilang menghadap Nusa.
“Iya pak?” jawab Kaya duduk di samping Nusa.
“Pekerjaan kamu sudah selesai belum?” tanya Adrian.
Di tempat makan aja nanyanya kerjaan! Dengus Kaya tak suka.
“Belum pak,” jawab Kaya tersenyum paksa.
“Nanti tolong cepat yah! Soalnya saya butuh!” perintah Adrian.
“Baik pak,” angguk Kaya.
“Ad makan aja nanyain kerjaan?!”omel Nusa.
“Kenapa emangnya?” tanya Adrian mengerutkan dahinya.
“Yah bukan apa-apa. Kan kita lagi makan?! Rileks dikit lah?!”
“Suka-suka aku mau ngomong apa Nus! Aku kan bosnya!” ketus Adrianyang menyebalkan.
“Udah, kita pesan makan dulu yah!” lerai Kaya agar tak berbuntut panjang pertikaian ini.
“Iya Kay, aku juga sudah lapar.” Nusa tersenyum mengarah Kaya, sementara Adrian sudah bete dengan ucapan Nusa.
“Kay, kamu mau yang mana?” tanya Nusa.
“Kayaknya aku mau ini deh!” Kaya menunjuk menu yang dipegang Nusa.
“Aku juga deh. Kamu mau apa bro?” tanya Nusa.
“Samain aja,” jawabnya datar.
“Yakin Bro?” tanya Nusa lagi.
“Iya,” jawabnya singkat.
“Yaudah deh.”
Padahalkan ini pedas banget?! Ahhh, biarin aja sekali-kali ngerjain dia! Nusa terkekeh di dalam hati. Dia tahu Adrian tak menyukai makanan pedas.
“Mas?” panggil Kaya dengan melambai.
“Iya mbak,” Pelayan tersebut menghampiri Kaya.
“Saya pesan ini tiga yah!” ucap Kaya dan pelayan tersebut memandang Kaya dengan terpesona, sementara Kaya hanya tersenyum manis.
“Hello mas?” ucap Nusa dengan nada tinggi sambil melambai.
“Eh, iya pak maaf.” Pelayan itu sadar dan mengambil buku menu tersebut dari tangan Kaya.
“Kamu dengar enggak dia pesan apa?” tanya Nusa sewot. Ia tak suka Kaya dipandangi seperti itu, tapi urusannya dengan dirinya apa. Kaya bukanlah pacarnya dan juga istrinya.
Adrian yang melihatnya hanya melirik sekilas, lalu kembali lagi berkutat dengan ponselnya seperti orang penting, tapi memang penting sih. hehe...
“Dengar pak,” jawab pelayan tersebut.
“Yaudah jangan pakai lama!” ketus Nusa.
“Baik pak, permisi!” Pelayan itu langsung pergi namun masih tetap tersenyum ke arah Kaya.
“Kay bisa enggak kamu jutek dikit?!”
“Dih emang kenapa?” tanya Kaya.
“Kamuyah Kay!” tunjuk Nusa.
“Semua orang disenyumin, yang ada semuanya jatuh cinta sama kamu?!” Nusa seperti kekasih yang cemburu sekarang dan membuat Kaya terkekeh gemas melihatnya.
“Kan kamu sama aja kayak aku Nusa.”
Nusa hanya menghela nafas membalas ucapan Kaya. Sementara Adrian hanya terdiam dengan gayanya yang cool bermain ponsel. Mungkin ponsel itu lebih penting dari pada drama kecemburuan Nusa.
Makanan pun diantar oleh pelayan, lalu mereka memakan makanan dengan khidmat. Adrian yang mulanya diam menikmati makanan, lama-kelamaa merasa heran dengan makanan tersebut.
“Ya-iyalah pedas. Kan, itu level 8 bro!” Nusa sedikit tersenyum jahil.
“Kok enggak bilang?” tanyanya sinis.
“Lah, aku kan sudah tanya Ad? Yakin Bro?”
“Iya, aku kan enggak tahu Nusa! Kalau yang di pesan Kaya itu mie level 8.” Sinis Adrian.
“Iya kan, aku udah tunjuk bro makanannya di gambar!”
“Tetap saja, harusnya kamu bilang Nusa!” Adrian tetap mengotot tidak mengalah.
“Udah-udah pesan aja lagi pak!” Kaya melerai mereka.
“Enggak bisa kayak gini, makanan sayang kalau terbuang-buang.”
“Terus maumu apa Ad?” tanya Nusa.
Kaya merasa takut dengan mereka berdua yang masih mengotot soal makanan doang.
Hadeh, bagaimana ini?
“Yaudah pak, saya saja yang makan.” Tawar Kaya.
“Beneran kamu makan punya saya?” tanya Adrian mengasih makanannya.
“Iya pak,” jawab Kaya.
“Apaan? Kok di kasih ke Kaya? Enggak yah! Malah udah bekas lagi?” Nusa tak rela.
“Dia yang mau kok!” ucap Adrian cool.
“Sini Kay, aku aja yang makan!” Nusa menarik mangkuk tersebut dari hadapan Kaya, tapi Kaya menariknya kembali.
“Enggak papa kok pak Nusa,” senyum Kaya.
“Sini enggak!” Ucap Nusa dengan galak.
Buset Nusa bisa galak juga!
“Nih pak!” Kaya membiarkan mangkuk itu diambil oleh Nusa.
“Kalo gitu aku duluan yah! Kalian lanjutkan saja makannya!” Adrian berdiri dari kursi dengan gayanya yang cool.
“Iya pak,” senyum Kaya.
“Yaudah sana!” usir Nusa dengan sewot. Adrian pun pergi meninggalkan mereka dengan mendengus kesal melihat Nusa.
“Kamu yah Kay! Kalau di depan Adrian aja sok cool, sok hormat, di depan aku aja nunjukin sikap menyebalkan.” Dumel Nusa.
“Beda Nus, dia kan atasan.”
“Iya dah atasan kamu. Terus aku bukan atasan kamu?!” sewot Nusa sambil menyantap semua makanan, sementara kaya hanya terkekeh melihatnya.
“Pelan-pelan Nus, nanti keselak lagi!”
“Iya aku keselak karena kecantikan kamu,” gombal Nusa.
“Kamu yah, masih aja bercanda?!” tawa Kaya.
***
Saat pulang kerja.
“Kaya, aku pulang duluan yah! Aku enggak bisa temenin kamu kerja sampai malam, soalnya aku ada urusan?!” Nusa berdiri di depan pintu ruangan Kaya.
“Sejak kapan kamu nemenin aku kerja sampai malam?” tanya Kaya mengerutkan dahinya. Pasalnya Nusa tak pernah pulang malam menemani Kaya.
“Oh iya yah?” tawa Nusa.
“Yaudah sana kamu pulang!” usir Kaya.
“Yaudah, dah Kaya!” Nusa melambaikan tangan dan menutup pintu ruangan Kaya.
Seperti biasa Kaya selalu sibuk dan pulang malam terus. Sesekali dia memperhatikan ruangan Adrian dan melihat ruangannya masih nyala.
Ketika sudah pukul 9 malam, Kaya menoleh ruangan Adrian dan ternyata lampu ruangannya sudah mati. Kaya merasa takut sendirian bekerja. Akhirnya mematikan komputernya dan bergegas pulang. Dia keluar pintu ruangan kantor dan menuju lift. Namun, saat berjalan menuju lift dia merasa ada yang mengikutinya.
“Siapa yang di belakang aku yah?” Kaya terus berjalan terburu-buru tanpa menoleh.
“Kaya?” panggilnya dengan suara sayup.
“Ih, aku merinding.” Kaya mengusap lehernya tanpa menoleh ke belakang.
“Kaya?” panggilnya dengan suara seperti tak ada tenaga.
“Siapa yang manggil aku yah? Akujadi takut?” Kaya merinding.
Kaya langsung memencet lift dan pria itu hampir dekat. Dia langsung masuk lift dan buru-buru memencet lantai bawah. “Ayok dong cepat ke tutup!” Ucap Kaya panik dan berkeringat dingin.
Pria itu langsung mengganjal tangannya ke pintu lift agar ke buka. Kaya langsung menutupi mukanya dengan tas.
“Ampun, ampun, ampun! Jangan ganggu saya! Saya tidak enak kok kalo di makan! Soalnya kurus kagak ada daging yang banyak.” Ucapnya ketakutan sambil menutup mata.
Pria itu langsung tertawa terbahak-bahak dan berdiri di samping Kaya, lalu pintu tertutup kembali.
Kok ketawa sih? Berarti bukan setan dong?
Kaya membuka matanya perlahan-lahan, sambil menurunkan tasnya dari muka. Matanya melirik dari kaki sampai wajah pria itu.
“Pak Adrian.” Kaya kaget dan Adrian masih menahan tawanya. “Bapak bukanya udah pulang yah?” tanya Kaya yang lega ternyata bukan hantu.
“Saya memang mau pulang. Tapi pas lihat kamu masih kerja, saya niatnya mau ke ruangan kamu. Namun, saya ke kamar mandi dulu sebentar dan saat saya cek, kamu sudah enggak ada. Terus, saya lihat kamu keluar dari pintu kantor dan saya ikutin deh.” Jelasnya.
“Ohh, berarti bapak tadi yang memanggil saya dong?” tanya Kaya.
“Iya, emang kamu pikir siapa?”
“Saya kira tadi ada hantu mau makan saya pak,” nyengir Kaya.
“Kamu ada-ada aja,” tawa Adrian.
Baru kali ini aku lihat Adrian tertawa lepas dan tersenyum.
“Lagian suara bapak mirip hantu tadi,” nyengir Kaya.
“Suara saya mirip hantu dari mana?” tanya Adrian menunjuk dirinya.
“Hehe, mungkin karena saya takut kali maka suara bapak mirip hantu di telinga saya.” Nyengir Kaya bingung
jawabnya.
“Yasudahlah lupakan! Oh iya? Mobil kamu masih di bengkel?” tanya Adrian.
“Iya pak,” jawabnya.
“Yaudah pulang bareng saya saja?” ajak Adrian dengan wajah cool-nya lagi.
“Baik pak, makasih yah.” Kaya kesenangan mendapat tebengan dari Adrian lagi.
Adrian yang melihatnya hanya tersenyum bergumam, ‘iya’.
~ Bersambung ~