
Saat di lift....
Kaya terus memikirkan Nusa dan Mila. Dia takut mereka berbuat hal yang aneh.
“Pak Nusa, apartemennya bagus sekali yah?” Mila duduk di kasur Nusa.
“Iya dong,” jawab Nusa dengan senyum membuka jasnya dan menaruh di kursi.
Mila beranjak dari kasur menuju Nusa yang sedang mencoba melepaskan dasi. “Mari saya bantu pak!” Mila langsung mengambil alih dasi Nusa untuk melepaskannya.
“Bapak sangat tampan sekali, saya jadi ingin berduaan sama bapak terus?” Mila berhasil melepas dasi Nusa dan membuangnya ke sembarang tempat.
“Kamu juga cantik Mila,” puji Nusa balik. Mila mencoba membuka kancing Nusa. “Apakah aku boleh menginap di sini pak?” tanya Mila dengan genit.
Nusa memegang dagu Mila. “Tentu boleh sayang, apa yang tidak untuk kamu?!” Nusa memegang tangan kanan Mila dan menciumnya. Lalu mereka bertatapan cukup lama sambil tersenyum.
“Jadi bagaimana kalau kita menghabiskan waktu bersama?” ajak Mila dengan genitnya sambil membelai pipi
Nusa.
“Baiklah, jika itu yang kamu inginkan sayang.” Nusa mendorong Mila hingga terbaring di kasur. Lalu melepaskan semua kancing kemejanya dengan menatap Mila yang sudah tak tahan dengan dirinya. Setelah berhasil melepaskan kemejanya, Nusa merangkak di atas tubuh Mila dan mencoba menciumnya.
“TIDAK!!!!” Teriak Kaya dengan histeris. Untung saja Kaya hanya seorang di Lift, kalau tidak mungkin dia dianggap gila. Jadi semua hanyalah khayalan Kaya saja.
“Tidak boleh terjadi, aku harus ke apartemen Nusa sekarang!” dengan cemas menunggu lift terbuka.
***
Di Apartemen Nusa.
Kaya berdiri di pintu apartemen Nusa dengan keraguan, karena dia takut Nusa akan curiga kalau dia cemburu. Otaknya dipaksa bekerja untuk mencari alasan yang tepat datang ke apartemennya.
“Apa yah alasan aku ke sini?” gumamnya sambil menggigit kukunya karena bingung. Ia tak mungkin langsung memergoki Nusa dan bilang kalau dirinya cemburu, sementara dirinya sudah menolak Nusa tadi.
“Oh iya? Bilang aja ingin bertemu Mila, karena dia belum kasih filenya ke aku.” Usulnya dengan jari telunjuk ke atas. Kaya memencet belnya.
Nusa yang sedang membuka kemejanya berteriak. “Bentar!”
Kaya terus memencet bel dengan kesal, karena Nusa lama membukakan pintunya. “Apa dia sudah melakukannya yah?” gumam Kaya yang cemas.
Sementara di sisi lain, Nusa yang bertelanjang dada kesal dengan orang yang selalu memencet bel tersebut. “Enggak sabaran banget sih!” Nusa langsung menuju pintu dan membukakannya.
“Kaya?” Nusa menyerngit bingung sambil memperlihatkan badannya yang sixpack. Kaya yang melihatnya langsung negative thinking dan bertanya dalam hati. Apakah Nusa sudah melakukannya dengan Mila?
“Kamu mau ngapain ke sini?” tanya Nusa
“Hem...,” Kaya berpikir agak lama dan menjadi pelupa alasannya kemari.
“Oh iya? Aku ke sini mau ketemu Mila, soalnya dia belum kirim filenya ke aku.” Kelak Kaya dengan senyum.
“Hemmm...,” Nusa tersenyum ada maksud tertentu. Bagaimana aku kerjain aja dia, batin Nusa yang jahil. Sepertinya Nusa tahu alasan Kaya kemari. Itu terlihat dari wajah Kaya yang memperhatikan dirinya karena bertelanjang dada. Wajahnya terlihat cemas dan juga ada keraguan. Hal itu membuat Nusa berpikir jahil pada Kaya.
“Milanya sedang tidur di kasur karena dia kelelahan menghadapi aku Kay.” Nusa tersenyum menyeringai.
“Kenapa kamu terlihat terkejut Kay?”
“Eh..., enggak. Maksudnya apa tidak bisa dibangunkan?”
Apa secepat itu mereka melakukannya? Bukankah hanya beda 15 menit saja dari ku saat keluar? Tanya Kaya dalam hati.
“Sepertinya tidak. Akan ku tanyakan nanti setelah dia bangun yah?!” Nusa ingin menutup pintunya langsung dicegah oleh Kaya dengan tangannya.
“Ehh.., Nusa!”
Nusa tersenyum menyeringai. “Ada apalagi Kay?” tanya Nusa membukakan lagi pintunya setengah.
“Hem, tidak bisakah sekarang? Soalnya kan, kamu tahu besok kita sudah ke Bali, jadi filenya harus di kirim sekarang?!” pinta Kaya dengan muka melas. Padahal hatinya sudah gondok melihat kelakuan mereka.
Saat ku masuk akan ku maki Mila, jika memang dia dan Nusa melakukan sesuatu?!, desis Kaya dalam hati.
“Huh.., kau mengganggu ku saja Nona Kaya?! Padahal aku ingin melakukan ronde kedua!” ucapnya sengaja memanasi Kaya.
Mendengar hal itu muka Kaya berubah menjadi kepiting rebus ingin rasanya dia membanting Nusa karena telah berbuat sesuatu dengan Mila.
“Apa? Ronde kedua?” Kaya mengepalkan kedua tangannya ke dalam. Nusa yang melihatnya ingin sekali tertawa, namun dia menahannya agar tidak ketahuan.
“Boleh panggilkan Mila!”
“Kalau gitu kamu saja yang panggilkan Kay!” Nusa membuka pintunya dengan lebar. Kaya langsung masuk dengan penuh emosi dan menuju tempat tidur Nusa.
Nusa menutup pintu apartemennya dan menguncinnya. Kaya berdiri di depan kasur Nusa dan melihat seperti ada seseorang dalam selimut tersebut. Ia yakin di dalam selimut itu pasti Mila. Hatinya berkecamuk ingin sekali memukul Nusa dan Mila.
Kaya yang sudah geram dari tadi membuka selimutnya dengan kasar dan ternyata hanya bantal yang ada di dalam selimut tersebut. Ia yang tadinya geram menjadi bingung kenapa Mila tak ada.
“Apakah Mila ada di kasur Kayaku tercinta?” tanya Nusa yang sudah berdiri di samping Kaya dengan wajah tersenyum jahil. Dirinya ingin sekali tertawa melihat Kaya yang menahan emosinya dari tadi dan berpura-pura tidak cemburu.
Flash back…
Saat perjalanan pulang, Nusa yang menyetir melirik Mila sekilas. Dirinya sebenarnya tidak ingin mengajak Mila ke apartemennya. Itu hanya alasan saja membuat Kaya cemburu. Nusa pun memutuskan untuk mencari alasan agar Mila tak jadi ke apartemennya.
“Mila, sepertinya saya ada urusan nanti. Kamu pulang saja yah? Nanti saya anter kamu di depan halte?”
“Iya pak. Berarti kita tidak jadi packing baju bapak?” tanya Mila dan terdengar ada nada kecewa juga. Ia berharap bisa berduaan dengan Nusa, namun harapan itu hanya imajinasinya saja.
“Tidak Mil, saya saja sendiri. Maafkan saya yah?! Soalnya saya juga mendadak di WA tadi?!” bohong Nusa.
“Iya pak, enggak papa.” Senyum Mila berusaha tidak menampilkan rasa kesal dan kecewanya.
“Nanti, kamu enggak papakan saya turunin di halte?”
“Iya pak, enggak papa.” Mila tersenyum dan Nusa hanya tersenyum membalasnya.
Flash back berakhir….,
~ Bersambung ~