
~ Happy Reading ~
Flash back…
Saat perjalanan pulang, Nusa yang menyetir melirik Mila sekilas. Dirinya sebenarnya tidak ingin mengajak Mila ke apartemennya. Itu hanya alasan saja membuat Kaya cemburu. Nusa pun memutuskan untuk mencari alasan agar Mila tak jadi ke apartemennya.
“Mila sepertinya saya ada urusan nanti. Kamu pulang saja yah? nanti saya anter kamu di depan halte?”
“Iya pak. Berarti kita tidak jadi packing baju bapak?”tanya Mila dan terdengar ada nada kecewa juga. Ia berharap bisa berduaan dengan Nus, namun harapannya hanya imajinasinya saja.
“Tidak Mil, saya aja sendiri. Maafkan saya yah?! Soalnya saya juga mendadak di WAtadi?!” bohong Nusa.
“Iya pak, enggak papa.” Senyum Mila berusaha tidak menampilkan rasa kesal dan kecewanya.
“Nanti, kamu enggak papakan saya turunin di halte?”
“Iya pak, enggak papa.” Mila tersenyum dan Nusa hanya tersenyum membalasnya.
Flash back berakhir….
“Kau!” tunjuk Kaya di depan wajah Nusa. “Kau sengaja membuatku cemburu kan Nusa?” tanya Kaya dengan geram.
“Oh, jadi dirimu cemburu sayang?” tanyanya meledek. Kaya langsung tersadar dan dia menjadi kelagapan saat ngomong.
“Hem.., a-aku ti-tidak cemburu.” Kelaknya.
Nusa yang mendengar Kaya berbicara terbata-bata tersenyum menyeringai. “L-lalu ke-kenapa kau berbicara terbata-bata?”tanya Nusa mengejek Kaya dengan berbicara terbata-bata juga.
Kaya yang mendengarnya semakin geram dengan mengepalkan kedua tangannya ke dalam. Ia menatap Nusa yang tersenyum mengejek dirinya dengan sinis.
“Dengar yah Nusa!” tunjuk Kaya di depan wajah Nusa.
“Aku tidak cemburu. Hanya saja, aku penasaran dengan kalian. Siapa tahu kalian melakukan sesuatu?! Secara, kamu kan playboy dan suka mainin perempuan? Apalagi Mila sexy dan cantik, pasti kamu mau menikmatinya juga?!” tuduh Kaya dengan melipatkan kedua tangannya ke dalam dada.
“Maksudnya melakukan sesuatu?” tanya Nusa mengangkat alisnya.
“Seperti ini?!” lanjut Nusa mendorong tubuh Kaya hingga jatuh ke kasur. Dirinya menindih Kaya dan menekan kedua tangan Kaya dengan tangannya tepat berada diatas kepala Kaya.
“Nusa, apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Kaya yang gugup dengan tindakan Nusa.
“Aku hanya mempraktikan apa yang kamu katakan?!” bisik Nusa dengan senyum.
“Bukankah, tadi kamu bilang aku ini suka mempermainkan wanita dan kamu berpikir aku akan menikmati Mila karena dia cantik dan sexy?” tanyanya tersenyum memandang wajah Kaya dari dekat.
“Iya, tapi tidak usah kau praktikan juga Nusa!” sarkas Kaya.
“Kenapa? Bukankah kita pernah melakukan sebelumnya?” tanyanya tersenyum menyeringai.
Kaya memutar otaknya untuk mengerti apa yang dimaksud ucapan Nusa. Ia pun teringat dirinya pernah tidur satu ranjang tanpa pakaian, hanya tubuh yang dililitkan selimut. Namun, Kaya seratus persen yakin mereka tidak melakukan apa-apa.
“Kapan? Kita tidak pernah melakukannya?! Itu hanya akal-akalanmu saja Nusa?! Kau sengaja bilang itu untuk mengerjaiku bukan?”
“Benar juga. Waktu itu kau tidak sadar. Bagaimana kalau sekarang yang sudah sadar 100%?” Nusa tersenyum jahil dengan memajukan wajahnya menuju wajah Kaya.
“Nusaaaa! Awas saja jika kau berani berbuat macam-macam padaku!” Ancam Kaya dengan mata melotot.
“Kenapa?” Nusa menjauhkan wajahnya sedikit untuk melihat wajah Kaya.
“Kan, kita sudah melakukannya bukan? Ayuklah jangan munafik Kaya?!” Nusa terus menggoda Kaya dan matanya mengincar leher Kaya.
Kaya yang melihat Nusa langsung menyerang lehernya dengan memberikan kecupan singkat. Dirinya berubah menjadi geram, ia mencoba memberontak dengan badannya.
“Nusa..!”bentak Kaya.
“Tenanglah!” ucapnya menjauhkan wajahnya dari leher Kaya dan menghadap wajah Kaya.
“Minggir! Aku mau pulang Nus!”
“Kamu ingin pulang?”
“Iya,” ketusnya.
“Tapi dengan satu syarat?”
“Apa?” tanyanya dengan nada tinggi. Mulut Nusa mendekat ke arah kuping Kaya.
“Aku ingin engkau…,” Nusa menggantungkan ucapannya dengan senyum. Lalu mendekati leher Kaya dan mengisapnya.
Kaya langsung membuka matanya dengan lebar seakan mau keluar, ia tak menyangka Nusa akan kembali menyium lehernya. Namun, ini berbeda. Ini bukan kecupan, ini sebuah kiss mark dan membuat Kaya mengerang kesakitan.
“Nusa...!” Kaya berteriak kesakitan, karena Nusa bukan hanya mengisapnya tapi menggigitnya. Kaya mencoba memberontak dengan tubuhnya, namun kekuatan Nusa sangat besar. Nusa malah menekan tubuh Kaya dengan kuat dan memperdalam gigitannya hingga menimbulkan kemerehan seperti di kerok.
Kaya terus berusaha memberontak dengan sekuat tenaga sambil berteriak kesakitan. Mendengar itu, Nusa melepaskannya dan kedua tangannya beralih di samping tubuh Kaya. Ia sengaja melepaskan tangan Kaya, karena dirinya tadi menekan terlalu kuat tangan Kaya. Sehingga akan menimbulkan kemerahan di pergelangan tangannya.
“Kau benar-benar kurang ajar Nusa?! Minggir kau! Aku mau pulang sekarang juga!”bentak Kaya yang masih melihat Nusa berada di atasnya.
Nusa pun membiarkan Kaya dan berdiri di samping tempat tidur. Begitu juga Kaya berdiri di samping Nusa sambil merapikan pakaian dan rambutnya. Tanpa basa-basi Kaya langsung melangkah ingin keluar, namun Nusa mencegahnya dan menarik lengan Kaya menuju kaca.
“Lihat! Bagus bukan hasil karyaku Dirgantara?” Nusa menggeser rambut Kaya dan memperlihatkan tanda merah di lehernya.
“Dasar sinting kau Nusa!” ketus Kaya dan melepaskan tangan Nusa dilengannya.
“Kau sudah gila Nusa! Lama-lama kau itu berotak mesum!” tunjuk Kaya dengan ketus, lalu berjalan menuju meja.
“Kaya sayang…,” Kaya menghentikan langkahnya dengan tetap tidak berbalik badan.
“Kau ini jangan marah-marah terus! Bukankah kau menyukainya juga sayang?”
Nusa sinting!
Kaya mengambil tasnya yang ditaruh di meja tadi, sebelum ia menarik selimut yang ternyata bantal bukan Mila. Lalu kakinya melangkan menuju pintu.
“Sayang jangan kabur! Aku di sini ingin sekali melakukan banyak hal untukmu?” goda Nusa.
Kaya yang mendengarnya sangat jijik sekali dan dia menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan. “Dengar Nusa! Aku jijik sekali dengan tingkahmu hari ini! Kau seperti pria hidung belang yang ada diluar sana!” tunjuk Kaya ke arah Nusa yang masih berdiri di dekat kaca.
“Tapi kau suka kan sayang?” Nusa terus saja menggoda Kaya.
“AKU TIDAK AKAN PERNAH SUKA PADAMU!” kelak Kaya dengan tegas dan berjalan kembali menuju pintu.
“Kau akan mengatakannya sayang nanti!” teriak Nusa tersenyum melihat Kaya mencoba membuka pintunya, tapi tidak bisa karena terkunci.
Kaya kembali menuju Nusa. “Mana kuncinya?” pinta Kaya dengan tangan mengadah.
“Ambil aja sendiri!” Nusa menujukann kuncinya berada di kantong celananya dengan mata.
“Kau! Sudah tidak memakai kaos dan sekarang kau menyuruhku untuk mengambil kunci di kantong celanamu!”
“Heh.., kau ini dapat dari ajaran mana Nusa? Apakah ayahmu yang pemabuk itu? Atau kau memang diajarkan untuk menjadi bajingan juga?” Kaya mengatai ayah Nusa tanpa sadar.
Kay, kenapa kamu mengatakan itu, batin Kaya tersadar akan ucapannya.
Nusa yang mendengarnya berubah menjadi geram. Niatnya ingin mengerjai Kaya tidak jadi. Pikirannnya berkecamuk ingin marah sekarang.
“Nus…, a-aku…,” Kaya menyadari kesalahannya dan ingin minta maaf tapi dia takut kepada wajah Nusa yang sekarang.
Nusa yang geram menggendong Kaya ke atas bahunya dan tas Kaya terjatuh ke lantai. Kaya memberontak dengan memukul pundak Nusa, sambil meminta tolong untuk diturunkan. Tapi Nusa tidak ingin mendengarnya dia terus membawa Kaya menaiki tangga menuju kamar atas.
~ Bersambung ~