My Target Is CEO

My Target Is CEO
Episode 47



Selama di perjalanan...


Kaya hanya terdiam saja di mobil dan Nusa sesekali


memperhatikan Kaya.


          “Kay, kok


elo diam?” tanya Nusa sambil menyetir.


          “Gue,


lagi enggak mood aja Nus.” Jawab Kaya.


          “Kenapa?


Karena perkataan Adrian yah?” tanya Nusa.


          “Bukan,”


jawab Kaya. Sebenarnya iya Nus. Gue merasa bersalah, seharusnya gue tidak


mempermainkan dia. Karena yang salah adalah Wijaya Tama bukan dia., batin Kaya.


          “Kalo


bukan karena Adrian, terus karena apa?”


          “Karena


gue enggak mood aja,” kelak Kaya membuang muka.


          Heh, elo bohong Kaya. Pasti elo merasa


bersalah, batin Nusa tersenyum sinis memandang ke depan.


          “Oh iya


Nus, elo kok enggak pernah bilang kalo elo punya perusahaan?” tanya Kaya


menoleh Nusa.


          “Gue itu


memang enggak punya perusahaan yang punya perusahaan itu Bokap gue Kaya.” Nusa


tersenyum.


          “Sama aja


Nusa, itu juga perusahaan elo. Elo kan anaknya, gimana sih?” desis Kaya.


          “Iya


perusahaan gue de,” nyengir Nusa.


          “Terus


Bokap elo kenapa sakit? Terus gue udah lama menanyakan ini. Kenapa elo enggak


tinggal sama Bokap elo?  Gue pengen nanya


itu, tapi enggak enak sama elo, Nus.”


          “Bokap


gue sakit karena di tipu sama orang. Kepercayaan Bokap gue menipu Bokap gue dan


memalsukan dokumen untuk meminta tanda tangan-nya.” Jawab Nusa.


          “Kasihan


banget Bokap elo Nus. Bokap gue juga pernah merasakan seperti itu Nus.”


          “Maksudnya


Kay?” tanya Nusa.


          “Iya,


Bokap gue pernah ditipu rekan bisnisnya sendiri.”


          “Ohhh...,”


gumam Nusa tersenyum.


          “Terus


Nus, Bokap elo gimana? Udah sehat?” tanya Kaya.


          “Udah,


tapi gue belum jenguk lagi.” Jawab Nusa.


          “Kenapa?”


          “Karena


gue banyak urusan.”


          “Ohhh...,”


gumam Kaya. “Terus elo kenapa enggak tinggal sama Bokap elo?”


          “Gue


waktu itu ada konflik dengan Bokap gue. Jadi gue berpikir untuk pergi dari


rumah itu.” Jawab Nusa tersenyum.


          “Ohh...,”


gumam Kaya tersenyum dan tidak menanyakan lagi karena tidak enak kepada Nusa.


          “Ohhh,


iya Kaya. Elo kenapa ingin jadi CEO di perusahaan Tama?” tanya Nusa.


          “Karena


itu tujuan gue Nusa dari dulu,” ucap Kaya dengan jujur.


          “Jika gue


punya perusahaan, apa elo mau jadi CEO di perusahaan gue Kay?” tanya Nusa tersenyum.


          “Hahaha,


elo kok nanyanya gitu sih. Yah mana mungkinlah gue mau jadi CEO di perusahaan


elo. Kan, udah ada elo. Buat apa juga gue menjadi CEO di perusahaan elo.” Tawa


Kaya.


          “Kan, gue


meminta elo Kay?” Nusa tersenyum.


          “Tetap


aja gue enggak mau Nus. Gue ingin jadi CEO di perusahaan ini karena ada tujuan


gue Nus.” Jawab Kaya dengan lirih.


          Elo enggak mau, tapi sudah merebutnya tanpa


gue meminta., batin Nusa tersenyum sinis.


Saat sampai rumah Kaya....


Mereka terdiam dan tidak saling bicara cukup lama di


mobil. Kaya pun tersenyum dan berkata. “Nus, gue pulang yah!” senyum Kaya. Nusa


hanya tersenyum dan mengangguk. Kaya yang hendak ingin membuka pintu di panggil


oleh Nusa.


          “Kay,”


panggil Nusa  tanpa menoleh Kaya dengan


memegang stir mobil.


          “Iya Nus,”


Kaya mengarah ke depan dan tidak juga menoleh Nusa. Dia merasa akan jauh dari


cowok yang dia suka nantinya.


          “Kalo gue


punya perusahaan, apakah elo mau berhenti di perusahaan itu dan elo bekerja di


          “Kenapa


elo bicara seperti itu?” tanya Kaya dengan heran menoleh Nusa.


          “Jika gue


punya segalanya, apakah elo mau meninggalkan tujuan elo itu?” tanya Nusa tidak


memandang Kaya sama sekali.


          “Maksud


elo apa sih Nusa?” tanya Kaya dengan heran.


          Nusa


mengunci mobilnya dan menoleh ke arah Kaya. “Heh,” Nusa tersenyum sinis. “Elo


enggak usah berpura-pura? Gue udah tahu semuanya. Elo hanya mengincar kekuasaan


dan harta aja kan?


          “Nusa


kayaknya elo udah mulai mabuk, sebaiknya elo pulang! Gue pulang dulu yah!” Kaya


mencoba membuka pintu mobil tapi tidak bisa karena terkunci.


          “Nus,


buka Nus!” Kaya menoleh kembali  ke arah


Nusa.


Nusa tersenyum dengan sinis menatap Kaya. “Gue akan


berikan elo mobil Kay, Rumah, dan perusahaan yang lain.” Ucap Nusa.


          “Nusa,


elo apaan sih mulai enggak jelas.” Desis Kaya.


          Nusa


langsung memajukan dirinya ke wajah Kaya dan mereka saling menatap. “Kay,


kenapa elo harus memilih perusahaan itu?” tanya Nusa. “Elo lebih baik keluar


dari perusahaan itu selagi bisa. Karena gue enggak tahu apa yang akan terjadi


dengan elo?!” Nusa menatap Kaya dengan tajam.


          “Nusa,


elo minggir dari hadapan gue. Elo udah mabuk kayaknya.”


          “Gue


mabuk, hahaha. Gue enggak akan pernah mabuk Kaya.” Tawa Nusa dengan sinis.


          “Kayaknya


elo udah gila Nusa,” Kaya heran dengan telunjuk jari di jidatnya.


          “Gue


gila, iya gue gila karena elo.” Nusa duduk tegap kembali sambil tertawa.


          Ada apa


dengan Nusa, apakah maksud dia sebenarnya?, batin Kaya heran.


          Nusa


mendekatkan lagi wajahnya ke wajah Kaya. Mereka saling memandang. Nusa memegang


bahu Kaya dengan ke dua tangan-nya dan memundurkan Kaya.


          “Nus, elo


mau ngapain gue?” tanya Kaya mencoba mendorong Nusa dengan ke dua tangan di


bahu Nusa.


          “Kenapa


elo menjadi CEO di perusahaan itu?” tanya Nusa mencoba mencium Kaya. Tapi Kaya


membuang muka dan terus mendorong Nusa.


          “Nusa


lepasin gue!” teriak Kaya dengan kesal dan terus mencoba mendorong Nusa.


          “Kenapa


Kaya? Gue akan beri yang elo mau dari harta, jika elo melepasnya.” Nusa terus


bertanya dan mencoba mencium Kaya.


          Kaya


terus menolak di cium dengan menyingkirkan wajahnya dari wajah Nusa dan mencoba


mendorong Nusa. “Nusa, hentikan!” bentak Kaya. Nusa mengabaikan perkataan Kaya


dan terus mencari celah untuk menyium Kaya. Tapi Kaya terus menolak dan


mendorong Nusa.


Nusa terus mencoba mencari celah untuk menyium Kaya


dengan paksa, sambil menekan bahu Kaya. Hingga akhirnya, Kaya tidak suka dengan


perlakuan Nusa. Dia mendorong Nusa dengan sekuat tenaga dan menampar pipi Kaya


dengan keras.


Nusa langsung memegang pipinya yang ditampar oleh Kaya


dan dia masih tersenyum sinis, sehingga membuat Kaya heran.


           “Heh,” Nusa tersenyum sinis dan mengelus


pipinya. Lalu dia menoleh ke Kaya.


          “Nusa,


gue minta maaf. Gue reflek Nus,” ucap Kaya merasa bersalah.


          “Elo


menampar gue Kaya?”


          “Gue


enggak sengaja Nusa,” jawab Kaya dengan kesal.


          “Benar-benar


hebat tamparan elo ini,” tawa Nusa.


          “Elo


kenapa sih?” desis Kaya. “Buka kuncinya!”


          Nusa


membuka kuncinya dan membiarkan Kaya keluar dari mobil. Nusa pun ke luar dari


mobil dan berdiri di depan pintu mobilnya sendiri.


          “Kaya,”


panggil Nusa melihat Kaya sudah berjalan membelakanginya.


          Kaya pun


berhenti dan tidak menoleh Nusa. Dia hanya berdiam diri.


`        “Jangan


harap ini berlalu Kaya. Kita akan bertemu lagi nanti. Elo liat saja, apa yang


akan gue lakukan kepada elo!” teriak Nusa tersenyum sinis.


          Apa maksud Nusa?, batin Kaya menoleh ke


arah Nusa. Tapi Nusa sudah masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya dengan


cepat.