
Selama di perjalanan...
Kaya hanya terdiam saja di mobil dan Nusa sesekali
memperhatikan Kaya.
“Kay, kok
elo diam?” tanya Nusa sambil menyetir.
“Gue,
lagi enggak mood aja Nus.” Jawab Kaya.
“Kenapa?
Karena perkataan Adrian yah?” tanya Nusa.
“Bukan,”
jawab Kaya. Sebenarnya iya Nus. Gue merasa bersalah, seharusnya gue tidak
mempermainkan dia. Karena yang salah adalah Wijaya Tama bukan dia., batin Kaya.
“Kalo
bukan karena Adrian, terus karena apa?”
“Karena
gue enggak mood aja,” kelak Kaya membuang muka.
Heh, elo bohong Kaya. Pasti elo merasa
bersalah, batin Nusa tersenyum sinis memandang ke depan.
“Oh iya
Nus, elo kok enggak pernah bilang kalo elo punya perusahaan?” tanya Kaya
menoleh Nusa.
“Gue itu
memang enggak punya perusahaan yang punya perusahaan itu Bokap gue Kaya.” Nusa
tersenyum.
“Sama aja
Nusa, itu juga perusahaan elo. Elo kan anaknya, gimana sih?” desis Kaya.
“Iya
perusahaan gue de,” nyengir Nusa.
“Terus
Bokap elo kenapa sakit? Terus gue udah lama menanyakan ini. Kenapa elo enggak
tinggal sama Bokap elo? Gue pengen nanya
itu, tapi enggak enak sama elo, Nus.”
“Bokap
gue sakit karena di tipu sama orang. Kepercayaan Bokap gue menipu Bokap gue dan
memalsukan dokumen untuk meminta tanda tangan-nya.” Jawab Nusa.
“Kasihan
banget Bokap elo Nus. Bokap gue juga pernah merasakan seperti itu Nus.”
“Maksudnya
Kay?” tanya Nusa.
“Iya,
Bokap gue pernah ditipu rekan bisnisnya sendiri.”
“Ohhh...,”
gumam Nusa tersenyum.
“Terus
Nus, Bokap elo gimana? Udah sehat?” tanya Kaya.
“Udah,
tapi gue belum jenguk lagi.” Jawab Nusa.
“Kenapa?”
“Karena
gue banyak urusan.”
“Ohhh...,”
gumam Kaya. “Terus elo kenapa enggak tinggal sama Bokap elo?”
“Gue
waktu itu ada konflik dengan Bokap gue. Jadi gue berpikir untuk pergi dari
rumah itu.” Jawab Nusa tersenyum.
“Ohh...,”
gumam Kaya tersenyum dan tidak menanyakan lagi karena tidak enak kepada Nusa.
“Ohhh,
iya Kaya. Elo kenapa ingin jadi CEO di perusahaan Tama?” tanya Nusa.
“Karena
itu tujuan gue Nusa dari dulu,” ucap Kaya dengan jujur.
“Jika gue
punya perusahaan, apa elo mau jadi CEO di perusahaan gue Kay?” tanya Nusa tersenyum.
“Hahaha,
elo kok nanyanya gitu sih. Yah mana mungkinlah gue mau jadi CEO di perusahaan
elo. Kan, udah ada elo. Buat apa juga gue menjadi CEO di perusahaan elo.” Tawa
Kaya.
“Kan, gue
meminta elo Kay?” Nusa tersenyum.
“Tetap
aja gue enggak mau Nus. Gue ingin jadi CEO di perusahaan ini karena ada tujuan
gue Nus.” Jawab Kaya dengan lirih.
Elo enggak mau, tapi sudah merebutnya tanpa
gue meminta., batin Nusa tersenyum sinis.
Saat sampai rumah Kaya....
Mereka terdiam dan tidak saling bicara cukup lama di
mobil. Kaya pun tersenyum dan berkata. “Nus, gue pulang yah!” senyum Kaya. Nusa
hanya tersenyum dan mengangguk. Kaya yang hendak ingin membuka pintu di panggil
oleh Nusa.
“Kay,”
panggil Nusa tanpa menoleh Kaya dengan
memegang stir mobil.
“Iya Nus,”
Kaya mengarah ke depan dan tidak juga menoleh Nusa. Dia merasa akan jauh dari
cowok yang dia suka nantinya.
“Kalo gue
punya perusahaan, apakah elo mau berhenti di perusahaan itu dan elo bekerja di
“Kenapa
elo bicara seperti itu?” tanya Kaya dengan heran menoleh Nusa.
“Jika gue
punya segalanya, apakah elo mau meninggalkan tujuan elo itu?” tanya Nusa tidak
memandang Kaya sama sekali.
“Maksud
elo apa sih Nusa?” tanya Kaya dengan heran.
Nusa
mengunci mobilnya dan menoleh ke arah Kaya. “Heh,” Nusa tersenyum sinis. “Elo
enggak usah berpura-pura? Gue udah tahu semuanya. Elo hanya mengincar kekuasaan
dan harta aja kan?
“Nusa
kayaknya elo udah mulai mabuk, sebaiknya elo pulang! Gue pulang dulu yah!” Kaya
mencoba membuka pintu mobil tapi tidak bisa karena terkunci.
“Nus,
buka Nus!” Kaya menoleh kembali ke arah
Nusa.
Nusa tersenyum dengan sinis menatap Kaya. “Gue akan
berikan elo mobil Kay, Rumah, dan perusahaan yang lain.” Ucap Nusa.
“Nusa,
elo apaan sih mulai enggak jelas.” Desis Kaya.
Nusa
langsung memajukan dirinya ke wajah Kaya dan mereka saling menatap. “Kay,
kenapa elo harus memilih perusahaan itu?” tanya Nusa. “Elo lebih baik keluar
dari perusahaan itu selagi bisa. Karena gue enggak tahu apa yang akan terjadi
dengan elo?!” Nusa menatap Kaya dengan tajam.
“Nusa,
elo minggir dari hadapan gue. Elo udah mabuk kayaknya.”
“Gue
mabuk, hahaha. Gue enggak akan pernah mabuk Kaya.” Tawa Nusa dengan sinis.
“Kayaknya
elo udah gila Nusa,” Kaya heran dengan telunjuk jari di jidatnya.
“Gue
gila, iya gue gila karena elo.” Nusa duduk tegap kembali sambil tertawa.
Ada apa
dengan Nusa, apakah maksud dia sebenarnya?, batin Kaya heran.
Nusa
mendekatkan lagi wajahnya ke wajah Kaya. Mereka saling memandang. Nusa memegang
bahu Kaya dengan ke dua tangan-nya dan memundurkan Kaya.
“Nus, elo
mau ngapain gue?” tanya Kaya mencoba mendorong Nusa dengan ke dua tangan di
bahu Nusa.
“Kenapa
elo menjadi CEO di perusahaan itu?” tanya Nusa mencoba mencium Kaya. Tapi Kaya
membuang muka dan terus mendorong Nusa.
“Nusa
lepasin gue!” teriak Kaya dengan kesal dan terus mencoba mendorong Nusa.
“Kenapa
Kaya? Gue akan beri yang elo mau dari harta, jika elo melepasnya.” Nusa terus
bertanya dan mencoba mencium Kaya.
Kaya
terus menolak di cium dengan menyingkirkan wajahnya dari wajah Nusa dan mencoba
mendorong Nusa. “Nusa, hentikan!” bentak Kaya. Nusa mengabaikan perkataan Kaya
dan terus mencari celah untuk menyium Kaya. Tapi Kaya terus menolak dan
mendorong Nusa.
Nusa terus mencoba mencari celah untuk menyium Kaya
dengan paksa, sambil menekan bahu Kaya. Hingga akhirnya, Kaya tidak suka dengan
perlakuan Nusa. Dia mendorong Nusa dengan sekuat tenaga dan menampar pipi Kaya
dengan keras.
Nusa langsung memegang pipinya yang ditampar oleh Kaya
dan dia masih tersenyum sinis, sehingga membuat Kaya heran.
“Heh,” Nusa tersenyum sinis dan mengelus
pipinya. Lalu dia menoleh ke Kaya.
“Nusa,
gue minta maaf. Gue reflek Nus,” ucap Kaya merasa bersalah.
“Elo
menampar gue Kaya?”
“Gue
enggak sengaja Nusa,” jawab Kaya dengan kesal.
“Benar-benar
hebat tamparan elo ini,” tawa Nusa.
“Elo
kenapa sih?” desis Kaya. “Buka kuncinya!”
Nusa
membuka kuncinya dan membiarkan Kaya keluar dari mobil. Nusa pun ke luar dari
mobil dan berdiri di depan pintu mobilnya sendiri.
“Kaya,”
panggil Nusa melihat Kaya sudah berjalan membelakanginya.
Kaya pun
berhenti dan tidak menoleh Nusa. Dia hanya berdiam diri.
` “Jangan
harap ini berlalu Kaya. Kita akan bertemu lagi nanti. Elo liat saja, apa yang
akan gue lakukan kepada elo!” teriak Nusa tersenyum sinis.
Apa maksud Nusa?, batin Kaya menoleh ke
arah Nusa. Tapi Nusa sudah masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya dengan
cepat.