My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 134 ~ Wijaya dan Kasih menikah



          Mina yang sedang membawa koper untuk keluar rumah di tahan oleh Erlangga. Ia menahan Mina dengan memegang tangannya dan bersimpuh di lantai sambil memohon.


          “Kumohon jangan tinggalkan diriku Mina!” ucapnya sedih.


          Mina yang membelakangi Erlangga hanya terdiam. Satu tetes keluar dari matanya, lalu dengan cepat ia menghapusnya agar tidak di lihat oleh Erlangga.


          Erlangga masih memegang tangan kiri Mina dan memohon padanya. “Kumohon jangan tinggalkan aku!”


          Mina berbalik badan menghadap Erlangga. “Apa yang membuatku harus tetap di sini dan tak meninggalkanmu?” tanya Mina.


          Erlangga menunduk terdiam dan tak bicara membuat Mina semakin yakin untuk pergi dari rumah itu. “Aku tahu kau masih mencintai Kasih Er, katakanlah padanya! Aku adalah wanita yang sudah hancur! Aku putus kuliah, tidak kaya dan pasti akan selalu menyusahkanmu!”


          “Jadi kejarlah dia sebelum direbut oleh sahabatmu sendiri! Lagi pula penghalang yang membuatmu bersama Kasih sudah tidak ada.” Mina kembali berbalik badan menyembunyikan air matanya.


          Mina kembali membawa kopernya tanpa peduli pada Erlangga yang bersimpuh terdiam. Erlangga langsung mengejar Mina yang sudah di depan pintu rumah. Ia langsung menghentikan Mina dengan berdiri di depannya.


          Erlangga perlahan bersujud kepada Mina. “Maafkan aku yang telah menghancurkan segalanya! Aku adalah pria yang buruk bagimu! Tak pernah ada di sisimu saat kau membutuhkannya!”


          “Aku juga selalu membuatmu sakit hati. Maafkan aku Mina!” Erlangga terlihat sedih dan membuat Mina iba melihatnya. Ia tak pernah melihat Erlangga sesedih ini.


          “Kenapa kau bersujud padaku? Bangunlah!” titah Mina dan Erlangga menolak dengan menggeleng. Ia mengangkat wajahnya melihat wajah Mina.


          “Aku ingin kita tetap bersama dan kau menjadi ratu di rumah ini!”


          Ratu, pikir Mina. Apa maksud Erlangga?


          “Kenapa aku harus menjadi ratu di rumah ini sedangkan kau mempunyai ratu di hatimu?”


          Erlangga terdiam. “Katakanlah Er! Jika kau masih mencintai Kasih aku ikhlas, lagi pula hubungan ini di bangun karena anak kita dan sekarang dia sudah tiada. Buat apalagi kita bertahan, mungkin aku akan kesepian tapi itu hanya sementara.” Mina tersenyum miris.


          “Tapi suatu saat aku juga akan bahagia. Jadi kau tak perlu berusaha membujukku karena merasa bersalah. Aku sudah tak marah denganmu. Mungkin Tuhan mengambilnya agar dia membuka jalan bagimu!”


          Erlangga menggeleng sambil menangis. “Aku tahu kau hanya merasa bersalah. Jadi ku harap kau akan bahagia dengannya Er! Aku akan mengirimkan surat cerai kepadamu secepatnya!” Mina kembali berjalan membawa kopernya.


          Erlangga berdiri dan langsung memeluk Mina dari belakang. “Jangan pergi! Aku memang bersalah, tapi bukan itu alasanku. Entah sejak kapan, aku sudah mulai mencintaimu.” Ucapan Erlangga membuat Mina terdiam membeku hingga melepaskan tangannya dari gagang koper.


          “Di saat waktu dirimu merasakan kehilangan anak kita dan kau merasa sedih. Itu membuat hatiku sakit dan sesak. Maafkan aku baru menyadarinya.” Ucap Erlangga dengan sedih.


          “Buka hanya itu saja, saat kau mencemaskanku yang belum pulang membuatku merasa senang. Kau selalu tertidur di sofa menungguku dan aku selalu menggendongmu untuk ke tempat tidur.”


          “Diam-diam aku selalu memperhatikanmu dan membelai wajahmu. Aku pikir ini hanya rasa kasihan namun malah kebalikannya. Ternyata aku mencintaimu dan Kasih, aku hanya kasihan padanya. Dia selalu sedih karenaku dan membuatku merasa bersalah padanya.” Mina meneteskan air matanya mendengar ungkapan Erlangga.


          Erlangga membalikkan badan Mina dengan perlahan. “Jadi ku mohon padamu, jangan tinggalkan diriku! Aku tahu kau pun mulai menyukaiku.” Erlangga mengusap air mata Mina.


          “Aku sangat mencintaimu! Aku berjanji tidak akan menemui Kasih lagi!”


          “Apakah kau sungguh mengatakannya?” tanya Mina dengan meneteskan air mata. Erlangga mengangguk tersenyum.


          “Aku tahu itu,” Erlangga membelai rambut Mina. “Aku juga sangat mencintaimu,” Erlangga meregangkan pelukan Mina untuk melihat wajahnya.


          “Jadi apakah kau mau membangun kembali hubungan ini bersamaku?” tanya Erlangga menatap manik Mina dengan dalam. Mina mengangguk tersenyum haru dan mereka berpelukan kembali.


          “Maafkan aku selama ini. Aku akan mengubah semuanya menjadi kebahagian dan tak akan ku biarkan dirimu sedih lagi. Makasih sudah mau menerima ku kembali.” Ucap Erlangga dengan lembut. Mina hanya bergumam menandakan iya.


Flash back bersambung....


          “Lalu kenapa Wijaya bisa bersama dengan Kasih?” tanya Kaya.


          “Saat papamu menyatakan cinta pada mama. Mama kembali bersamanya dan membangun hubungan dengannya dari awal seperti orang pacaran.” Ungkap Mina dengan tersenyum mengingatnya.


          “Papamu memutuskan untuk tidak menemui Kasih dan saat itu Kasih merasa seperti frustasi. Hal itu juga membuat mama bersalah pada Kasih, namun mama juga wanita. Jika mama terus membiarkan papamu bersamanya, mama juga akan sakit hati.”


          “Mama tak tahu apakah tindakan itu benar atau tidak dengan Erlangga bilang kepada Kasih untuk tak menemuinya lagi dan membangun hubungan hanya sebatas teman.”


          “Tapi inilah hidup terkadang kita harus melupakan dan bergerak ke depan. Dan saat itu, Kasih merasakan kesepian. Ia pun selalu datang kepada Wijaya dan menyuruhnya untuk menemaninya ke bar. Tentu Wijaya sangat senang.”


          “Hingga suatu hari, Wijaya menyatakan cintanya kepada Kasih. Namun Kasih belum menerimanya karena Kasih belum bisa melupakan Erlangga.”


          “Wijaya yang di tolak akhirnya mabuk berat dan tak sengaja ia datang ke apartemen Kasih sambil mabuk berat. Hingga suatu insiden itu terjadi.”


          “Insiden seperti mama dan papa?” tanya Kaya dan Mina mengangguk.


          “Wijaya mau bertanggung jawab dan menikahi Kasih. Namun Kasih seperti tidak rela dengan semua ini. Wijaya akhirnya menikahi Kasih. Kasih juga mengandung anaknya.”


          “Wijaya pikir Kasih akan berubah dan menerimanya setelah menikah. Namun Wijaya ternyata salah, Kasih sama sekali tak memandangnya dan selalu terdiam. Kadang Kasih tak mau makan dan selalu terdiam tanpa memikirkan kandungannya. Wijaya pun melampiaskannya pada minuman yang beralkohol.”


          “Ketika Kasih mengandung sekitar tujuh bulan. Kalau tidak salah mama mengandung dirimu juga. Wijaya datang dengan wajah frustasinya ke rumah dan meminta maaf atas semua yang ia lakukan kepada mama dan papamu.”


          “Lalu kenapa dia dendam pada kita? Apa yang membuatnya mengambil perusahaan kita dan membuat papa tidak di terima dimana pun?” tanya Kaya.


          “Itulah kelicikan Wijaya. Sebenarnya mama merasa kasihan padanya. Cintanya pada Kasih membuat dirinya buta dan akhirnya dia mengerti setelah sekian lama saat Kasih mengabaikannya.”


          “Cinta itu tak bisa dipaksakan dan jika kita tak bisa memilikinya sebaiknya kita merelakannya agar mudah kita menata ke depan. Jika kita terus melihat masa lalu mungkin hidup kita akan stuck begitu saja.”


          “Mama bisa puitis juga yah?!” puji Kaya dan Mina tersenyum.


          “Mama dan papamu awalnya begitu sayang, kita tak saling cinta. Namun, seiring berjalan waktu mama membuka hati begitu juga papamu hingga sampai saat ini kita masih saling mencintai.”


          “Lalu  apa yang terjadi? Kenapa dia dendam pada kita?” tanya Kaya.


Flash back kembali....,


~ Bersambung ~