My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 115 ~ Ke Bali



~ Happy Reading ~


          Hari ini adalah jadwal keberangkatan Kaya, Nusa, Mila, dan Jessica ke Bali. Kaya berdiri di depan kaca memperhatikan dirinya. Sesungguhnya dia malas sekali berangkat mengingat kejadian Nusa yang tega melecehkan dirinya.


          “Dasar Nusa sialan!” kesalnya memandang lehernya yang banyak tanda merah.


          Kaya melihat lebih lekat lagi di kaca dan memandang lehernya. Ia memegang lehernya dan mencoba menghapusnya, namun ternyata memang tidak bisa di hapus secepat itu.


          Kaya pun pasrah dengan menghembuskan nafasnya. Lalu dirinya mengingat akan pergi ke bandara dan tak mungkin ia akan menampilkan lehernya yang penuh tanda merah akibat Nusa. Ia akan merasa malu, jika ada yang tahu.


          Kaya melangkah ke lemari pakaian dan memperhatikan baju apa yang akan dipakainya. Ia mengambil baju turtleneck lengan pendek berwarna putih dan cardigan panjang berwarna coklat sampai ke betis.  Lalu beralih ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


          Kaya kembali ke kaca dengan pakaian yang sudah digantinya di kamar mandi  tadi. Ia memandang dirinya di kaca dengan pakaian serba tertutup semua.


          Kaya berpikir mungkin dia akan dianggap orang sakit nanti karena pakaiannya. Namun apa boleh buat, itu semua akibat ulah Nusa dan jika orang mengetahuinya, maka dia akan lebih malu dibanding memakai baju seperti orang sakit.


          Kaya pun duduk di kursi dan mendandan dirinya di depan meja rias. Setelah selesai, ia beranjak mengambil kopernya yang sudah disiapkan dan keluar dari kamar menuju pintu rumah.


          Kaya memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil dan setelah itu ia masuk ke dalam mobil untuk menyetir. Kaya sengaja menggunakan mobilnya sendiri menuju bandara, karena nanti ada yang akan mengambil mobilnya. Dia sudah menyuruh Boni dari jauh hari untuk memanggil seseorang mengambil mobilnya nanti.


****


          Kaya yang fokus menyetir, mendengar suara getaran ponselnya di bangku samping, ia pun mengambilnya.


          “Halo…,” jawabnya sambil menyetir.


          “….”


          “Aku masih di jalan xxxx, bentar lagi sampai.” Jawabnya kesal.


          “….”


          “Iya sabar pangeran khayangan, aku terlambat itu juga karena dirimu!” decaknya.


          “….”


          Kaya menutup teleponnya dan melemparkan ponselnya ke bangku samping dengan kesal. “Dasar Nusa sialan! Bukannya merasa bersalah malah memarahiku!” desisnya.


****


          Nusa yang sedang berdiri di dalam pesawat melihat sekeliling bangkunya. Matanya mencari sesosok perempuan dan tak ada, yang ada hanya Jessica dan Mila. Lalu ia berjalan menghampiri Mila yang sedang duduk bersama Jessica.


          Sebenarnya Nusa sudah mengatur semuanya. Nusa tidak ingin jauh dari Kaya dan duduk di sampingnya. Oleh karena itu, dia menyuruh Mila untuk duduk di samping Kaya dengan alasan ada pekerjaan yang


harus dibicarakan dengannya.


          Jessica yang awalnya menolak pun mengerti dan mengalah, makanya dia duduk di samping Mila. Kalau tidak, Jessica pasti sudah mengekor Nusa terus.


          “Mila telepon Kaya!” titah Nusa.


          Mila langsung mengangguk dan mengambil ponsel di dalam sling bagnya. Lalu menekan nomor Kaya dan meneleponnya. Saat tersambung Mila yang baru mengucapkan halo direbut oleh Nusa.


          “Halo tuan putri, engkau berada di mana sekarang?” tanya Nusa mengolok Kaya.


          “…..”


          “Cepatlah tuan putri kami sudah menunggumu! Sebentar lagi pesawat akan lepas landas!” Mila yang mendengar penuturan Nusa terkekeh, sedangkan Jessica cemberut dari tadi karena duduknya tidak bisa bersama Nusa.


          “….”


          “Yaudah cepatan!” decak Nusa menutup teleponnya dan mengembalikan ponsel tersebut ke Mila tanpa berkata apapun. Lalu dirinya kembali ke tempat duduk paling depan. Jadi Nusa sengaja mengatur kursi mereka. Nusa berada paling depan sedangkan Mila dan Jessica berada 3 kursi dari Nusa.


***


          Kaya pun sampai dan menaiki pesawat tersebut. Ia melihat Nusa sudah duduk di sana. Kakinya pun melangkah menuju kursi yang bersampingan dengan Nusa.


          Nusa yang melihat Kaya mengarah padanya menatap dengan penuh keheranan. Pasalnya cuaca diluar sangat panas dan berpikir kenapa Kaya memakai baju serba tertutup.


          “Heh, ini juga gara-gara perbuatanmu semalam.” Decak Kaya sambil duduk.


          “Apakah kau tidak kegerahan memakai baju tertutup?” bisik Nusa di kuping Kaya.


          Kaya langsung menoleh mengarah Nusa. “Apakah kau tidak merasa bersalah sama sekali tuan Tama?” Nusa hanya menggedikkan bahunya dan kembali menatap kaca.


          “Aku menutupnya akibat perbuatanmu yang bejat itu! Bukannya merasa bersalah malah bertanya?!” ucap Kaya menjedanya sebentar, lalu melanjutkan ucapannya.


           “Oh iya, aku lupa. Kau kan bajingan?!” ketus Kaya membuat Nusa menatapnya dengan tajam. Begitu juga dengan Kaya, tak mau kalah menatap Nusa. Lalu Nusa memutuskan kontak mata dan berpaling memandang kaca sampingnya.


          Pramugari berdiri di tengah-tengah menjelaskan beberapa aturan di pesawat dan hal lainnya yang biasa dalam pesawat, karena pesawat bentar lagi akan lepas landas.


          Semua penumpang yang tadinya belum memasang sabuk pengaman jadi langsung memasangnya termasuk Kaya. Ia langsung tegang ketika mendengar penuturan pramugari bahwa pesawat akan lepas landas.


          Saat pesawat tersebut ingin naik, Kaya langsung menutup matanya dan memegang tangan Nusa yang berada di pegangan bangku. Ia merasa takut ketika pesawat ingin naik.


          Nusa langsung menoleh ke samping Kaya dengan tersenyum. “Kau bilang aku bajingan? Tapi kenapa malah memegang tanganku?” bisiknya.


          Kaya yang mendengar bisikan Nusa langsung membuka mata dan melepas genggamannya tanpa mengatakan apapun. Ia lebih memilih memegang pegangan kursi dengan erat.


          Pesawat akhirnya terbang di udara. Nusa sekali-kali melirik Kaya, namun Kaya sudah tertidur dengan pulas. Nusa merasa kasihan terhadap Kaya, karena dirinya dia harus memakai baju tertutup. Sungguh dirinya sangat


menyesal melakukan hal itu.


          Nusa memandang wajah Kaya yang tertidur dengan tersenyum. Ia selalu mengagumi sosok Kaya dari dulu. Jika bukan karena ulah ayahnya Kaya, mungkin Nusa akan menjadikan Kaya kekasihnya dari dulu. Dengan lembut ia mengusap wajah Kaya.


          Dia memang cantik, batin Nusa terpesona.


          Nusa terus membelai pipi Kaya dengan lembut, tanpa sadar dirinya ikut tertidur dengan tangan masih memegang pipi Kaya.


          Tak lama kemudian Kaya bangun dan melihat Nusa tidur di pundaknya. “Kenapa dia tertidur di pundakku dan memegang pipiku? pikuk Kaya. Lalu tangan Nusa dipindahkan ke pangkuan Nusa, tapi dia membiarkan kepala Nusa bersandar di pundaknya.


          Saat pesawat mendarat Kaya mencoba menyingkirkan kepala Nusa ke tempat bangkunya. Tak lama kemudian Nusa terbangun dan melihat pesawat sudah mendarat.


          “Ekhem,” Kaya berdehem. “Sepertinya tidurmu sangat nyenyak sekali tuan Nusa?”


          “Yah.., begitulah.” Jawab Nusa dengan senyum.


          “Apakah mimpimu tentang mesum?” tanya Kaya membuat Nusa melotot ke arahnya. Bagaimana tidak, pertanyaan Kaya membuat dirinya  berpikir. Apakah di mata Kaya dirinya dianggap cowok mesum.


          “Yah.., kau betul sekali nona Kaya. Kau mau tahu mimpiku?” bisik Nusa.


          “Sepertinya tidak usah, karena aku tahu mimpimu pasti memikirkan banyak cewek yang sexy.”


          Apakah baginya diriku ini seperti bajingan?


          “Kau salah nona Kaya. Aku mimpi tentang mu yang memakai bikini saja.” Nusa terkekeh berbisik di kuping Kaya.


          Kaya terkejut mendengar ucapan Nusa. Ia langsung menoleh dengan mendengus. “Kau benar-benar bajingan rupanya?! Sepertinya satu-persatu sifat aslimu ketahuan?” ucap Kaya pelan karena semua penumpang turun satu persatu.


          Nusa terkekeh mendengar ucapan Kaya. “Begitukah? Kurasa aku akan menunjukkan sifat asliku yang sebenarnya hanya kepadamu saja!” Kaya yang mendengarnya terdiam dan tidak menanggapinya lagi karena akan percuma saja, Nusa pasti akan bisa menjawabnya.


          Kaya beranjak dari kursi dan melihat Jessica menghampiri Nusa yang juga beranjak dari kursi. Jessica langsung menempel kepada Nusa. Ia menggandeng lengan Nusa dan mengajaknya turun.


          Kaya yang melihat meminggirkan badannya dan memberikan mereka lewat. Lalu Kaya ikut keluar juga bersama Mila  yang menghampirinya.


          Saat turun, Kaya bosan melihat pemandangan di depannya. Ia melihat Jessica yang terus menggoda Nusa dan membuatnya muak. Mungkin Kaya cemburu, namun ia tak sadar. Akhirnya Kaya berjalan melewati mereka dengan muka kesal.


          Nusa yang melihat Kaya berjalan melewati dirinya dan Jessica tersenyum. Aku tahu kau cemburu Kay, batin Nusa.


          “Huh, lebih baik aku sama ibu Kaya saja!” Mila berlari menyusul Kaya dengan melewati Nusa dan Jessica juga.


          “Ibu Kaya tunggu!” sambil berlari mengejar Kaya dan Kaya tidak menanggapinya, dia tetap melangkah dengan cepat.


~ Bersambung ~