
~ Happy Reading ~
Tok..., Tok...., Tok....
Kaya mengetuk ruangan pintu Adrian dan masuk ke dalam. Ia duduk di depan meja Adrian dengan membawa surat di tangannya.
“Ada apa Kay?” tanya Adrian dengan kedua tangan menumpu dagu.
“Kehadiran saya ke sini untuk mengasih surat pengunduran diri saya ke bapak.”
Adrian tertawa kecil. “Setelah kamu menolak saya, kamu ingin mengundurkan diri. Kamu itu enggak profesional banget sih Kaya.” Adrian menerima surat tersebut.
“Saya mengundurkan diri bukan karena saya menolak bapak. Tapi, saya sudah dapat pekerjaan lain dan ini tujuan saya. Nanti juga bapak akan tahu.” Kaya menyeringai tersenyum.
“Maksud kamu apa?” tanya Adrian bingung.
“Saya tidak akan beritahu sekarang. Nanti, bapak akan tahu sendiri.” Jawab Kaya.
“Kalau begitu saya balik ke ruangan saya dulu pak!” Kaya beranjak dari kursi dan berbalik badan menuju pintu.
“Kay,” panggil Adrian membuat Kaya berhenti melangkah.
“Kamu terakhir besok? Kenapa terburu-buru sekali?” tanya Adrian.
“Bapak nanti tahu kenapa saya terburu-buru keluar.” Jawab Kaya tanpa menoleh ke belakang dan berjalan keluar ruangan Adrian.
Kaya kenapa kamu menolak saya? tanya Adrian dalam hati sambil memegang kertas pengunduran diri Kaya.
Di ruangan Kaya.
Kaya sedang berdiri memandangi jendela belakang yang sangat besar dan menelpon seseorang di ponselnya. Dia tidak sadar Nusa ada di belakangnya sedang duduk di depan meja Kaya.
“Gimana pak, semuanya sudah siap?” tanya Kaya di telepon.
“Sudah bu Kaya,” jawab seseorang di telepon.
“Apakah semua berkas sudah siap,” tanyanya lagi.
“Sudah bu. Ibu tenang saja.”
“Oh oke, saya berterimakasih ke bapak selama ini membantu saya.” Senyum Kaya di telepon.
“Sama-sama bu,” jawab seseorang tersebut.
Kaya pun mematikan teleponnya dan berbalik badan. Kaya kaget melihat Nusa sudah duduk di depan meja.
“Nusa, sejak kapan kamu di sini?” tanya Kaya mengerutkan dahinya.
“Aku baru saja,” jawab Nusa.
“Oh…,” senyum Kaya berjalan menuju kursinya dan duduk.
“Kamu tadi telepon siapa Kay?” tanya Nusa.
“Oh…, aku tadi telepon sahabat ayahku.” Kelak Kaya.
“Oh..,” gumam Nusa.
“Eh Nus, kamu sekarang enggak pakai kacamata?” tanya Kaya menunjuk Nusa.
“Iya,” ucap Nusa tersenyum. “Bagus enggak?” tanya Nusa.
“Bukan bagus lagi, malah semakin ganteng Nus.” Puji Kaya.
“Kamu bisa aja Kaya,” senyum Nusa.
“Aku dengar dari Adrian katanya kamu mau keluar? Kenapa Kay?” tanya Nusa.
“Aku ada perlu Nus,” jawabnya.
Dasar tukang bohong!
“Ada perlu apa? Tapi kata Adrian kamu udah dapat kerjaan?” tanya Nusa.
“Iya aku ada perlu di perusahaan yang nanti aku kerja.” Jawab Kaya dengan senyum.
“Oh...,” gumam Nusa.
“Berarti kamu ninggalin aku nih Kay? Kok kamu tega sih Kay?” Nusa berpura-pura mengambek.
“Hahaha, kita kan bisa bertemu nanti diluar Nusa.” Tawa Kaya.
“Yah kan beda?! Aku kan jadi enggak bisa lihat kamu setiap hari deh,” gombal Nusa.
“Hahaha, kamu selalu aja gombal Nus.” Tawa Kaya.
“Aku senang lihat kamu tertawa Kaya?!” Nusa tersenyum memandang Kaya.
“Nus kamu ternyata tambah ganteng kalau lepas pakai kacamata.” Kaya tersenyum memandang Nusa.
“Kamu baru tahu Kay, aku ini ganteng kali dari dulu!” Tawa Nusa dengan kedua tangan dilipatkan ke dalamdada.
“Iya deh, kamu ganteng bahkan sebelum lahir Nus.” Tawa Kaya.
“Buset Kay, sebelum aku lahir?! Kamu lebay amat Kay?!” Tawa Nusa dan Kaya hanya tertawa. “Oh iya Kay, kamu kapan terakhir di sini?” tanya Nusa.
“Cepat banget, emang enggak bisa sebulan lagi?” tanya Nusa.
“Enggak bisa Nus, aku udah harus ke sana.” Jawab Kaya.
“Berarti aku akan bilang ke semua orang untuk mengadakan acara perpisahan buat kamu yah?!”
“Enggak usah Nus, aku enggak mau semua tahu.” Tolak Kaya.
“Yaelah enggak papa kali Kay, aku enggak mau kita tidak mengadakan acara perpisahan. Secara kamu atasan dan orang tercantik di sini.” Tunjuk Nusa dengan senyum.
“Kamu bisa aja Nus. Yaudah terserah kamu Nus,” ucap Kaya.
“Okelah, berarti besok pulang kerja kita ke restoran terdekat dari sini. Nanti kamu bareng aku aja perginya!”
“Iya Nusa,” ucap Kaya.
***
Saat istirahat selesai, Nusa dan Kaya masuk bersama ke dalam kantor. Nusa menyuruh Kaya untuk berdiri di sampingnya, di tengah-tengah menghadap karyawan yang ada di sana.
“Perhatian semuanya!” Nusa berteriak memperhatikan semuanya yang sudah duduk.
“Besok adalah hari di mana Kaya terakhir bekerja di sini. Jadi saya mau mengajak kalian semua untuk mengucapkan salam perpisahan di restoran Tama.”
Kaya yang mendengar ucapan Nusa sedikit terkejut. Nusa memikirkan restoran Tama. Kenapa harus di restoran Tama? Tanya Kaya dalam hati.
Sementara semua karyawan berbisik. ‘Kenapa Ibu Kaya keluar’ dan ada yang berbisik lagi. ‘Jangan-jangan dia tekanan batin lagi sama pak Adrian.’ Bisikan mereka terdengar oleh Nusa dan Kaya.
“Semuanya diam dulu! Kaya keluar karena dia mendapatkan pekerjaan baru.” Ucap Nusa dengan lantang. “Kaya tolong jelaskan kenapa kamu keluar!”
“Saya keluar karena ada urusan di perusahaan ini, dan saya memang akan bekerja di perusahaan ini.”
“Ibu, ada urusan apa dan sebagai apa di sana?” tanya salah satu karyawan di sana.
“Saya tidak bisa beritahu sekarang,” jawab Kaya dengan senyum.
Adrian berdiri di belakang pintu ruangannya. Ia mengintip sedikit dari pintu yang terbuat dari kaca tak tembus itu. Urusan apa yang mengharuskan kamu pindah Kay.
“Udah kalian enggak usah banyak tanya! Pokoknya Kaya keluar demi kebaikan dia.” Sahut Nusa.
“Yah ibu, kita enggak bisa lihat Dewi Kecantikan lagi deh di sini!” sahut karyawan lain dengan muka lesunya.
“Iya. Kalau ada ibu kan, kita selalu senang bekerja.” Sahut karyawan lainnya.
Kaya hanya tertawa kecil dan tersenyum mendengar ucapan karyawan tersebut. “Maafkan saya yah. Tapi saya berterimakasih sama kalian selama hampir satu tahun ini. Saya di terima dengan baik dan di hormati oleh kalian semua.” Ucap Kaya.
“Sama-sama, ibu cantik.” Sahut karyawan lainnya.
“Udah kalian kerja lagi! Pokoknya besok pulang kerja kita akan adakan pesta perpisahan. Semua saya yang bayar!”
“Hore..,” sahut semua karyawan dengan gembira.
“Kay, kamu ke ruangan saya dulu yah!” perintah Nusa dan Kaya mengangguk. Mereka pun berjalan menuju ruangan Nusa, lalu duduk berhadap-hadapan.
“Kay, kamu tanda tangan dulu yah!” perintah Nusa mengeluarkan surat di atas mejanya.
“Ini apa Nus?” tanya Kaya.
“Oh, ini surat packlaring kamu buat besok.” Jawab Nusa.
“Oh, oke Nusa.” Kaya menandatangani surat tersebut dan mengasihnya ke Nusa.
“Oke Kay. Nanti, aku kasih besok yah, tunggu tanda tangan Adrian dulu.”
“Iya,” senyum Kaya.
“Oh iya, tadi kamu bilang mau traktir kita di restoran Tama. Kenapa harus di restoran Tama?” tanya Kaya.
“Kan, itu restoran kesukaan kamu Kaya.”
“Iya, tapi enggak kemahalan? Nanti aku ajalah yang bayar?!”
“Tidak usah Kay, aku dapat diskon kok. Tenang aja!” senyum Nusa.
“Kok bisa?” tanya Kaya.
“Aku kan, punya kenalan di sana.” Jawab Nusa.
Apa dia meminta Adrian untuk memberinya diskon?
“Yasudahlah, aku ikut kamu aja Nus.”
“Kay, sebenarnya kamu pindah ada urusan apa di sana?” tanya Nusa menatap Kaya dengan tajam.
Apa aku cerita aja ke dia, batin Kaya.
“Aku menjadi CEO di sana,” jawab Kaya.
Nusa yang mengetahuinya tidak kaget lagi dan dia malah menatap Kaya dengan tajam. Akhirnya kamu jujur juga walau hanya sebagian Kay, batin Nusa sambil tersenyum.
~ Bersambung ~