
Hari ini adalah hari terakhir Kaya bekerja di perusahaan ini. Kaya menghampiri ruangan Adrian dan duduk di depan meja Adrian. Kaya memberikan beberapa berkas serah terima laporan kepada Adrian dan Adrian menerimanya. Kaya beranjak dari kursi dan berjalan membelakangi Adrian menuju pintu, tapi terhenti karena Adrian memanggilnya.
“Kay,” panggil Adrian menatap Kaya dari belakang. Kaya hanya berdiam diri membelakangi Adrian.
“Apa benar kamu menjadi CEO di perusahaan itu?” tanya Adrian.
Kaya mendengarnya sontak kaget, karena dia hanya menceritakannya kepada Nusa. Apa Nusa yang menceritakannya, batin Kaya.
“Bapak tahu dari mana?” tanya Kaya menoleh ke arah Adrian.
“Saya tahu dari Nusa.” Jawab Adrian.
“Yah, bapak benar.”
“Di perusahaan apa?” tanya Adrian.
“Nanti bapak juga tahu sendiri. Kalau gitu saya pamit dulu pak Tama.” Kaya tersenyum sinis dan meninggalkan Adrian.
“Apa maksudnya Kaya? Kenapa dia memanggil nama saya pak Tama? Bukankah pak Tama adalah ayah Nusa?” gumam Adrian bingung dengan perkataan Kaya.
Kaya keluar ruangan Adrian dan bertemu dengan Lena beserta Desi di depan ruangan Adrian.
“Hai ibu Kaya,” sapa Lena dan Kaya hanya tersenyum.
“Ibu, saya dengar ibu menjadi CEO yah?” tanya Lena.
Kenapa semua orang mengetahuinya? tanya Kaya dalam hati.
“Iya,” senyum Kaya.
“Oh, selamat yah bu.” Desi memberi jabat tangan dan Kaya membalasnya.
“Iya, selamat yah bu.” Kini giliran Lena menjabat tangan. “Ibu ternyata hebat yah, udah bisa punya perusahaan sendiri.” Senyum Lena.
“Iya, makasih yah semuanya.” Senyum Kaya.
“Yaudah yah bu, saya balik ke tempat duduk dulu yah sama Desi. Pokoknya selamat buat ibu. Kita pasti akan datang ke acara perpisahan Ibu nanti.” Ucap Lena.
“Iyalah pasti datang. Kan di traktir pak Nusa.” Sahut Desi sambil menyengir.
“Dasar, maunya gratis makan melulu!” celetuk Lena dan Kaya tersenyum melihat mereka berdua.
Mereka pun kembali ke tempat duduknya. Sementara Kaya berjalan menuju ruangan Nusa dan masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu, lalu duduk di depan meja Nusa.
“Nus, kamu beritahu semuanya kalau aku keluar ingin menjadi CEO?” tanya Kaya dengan serius.
“Iya,” jawab Nusa singkat sambil berkutat pada komputernya.
“Tapi kenapa Nus?” tanya Kaya.
Nusa menghentikan berkutatnya dan menatap Kaya dengan serius. Agar semua orang tahu kenapa kamu keluar, batin Nusa.
“Yah, emangnya kenapa sih Kay?” tanya Nusa balik.
“Aku enggak mau aja orang pada tahu kalau aku keluar jadi CEO. Karena…,” Kaya menghentikan perkataannya.
“Karena apa Kay?” tanya Nusa.
Karena aku merebutnya dengan cara menipu, batin Kaya.
“Karena aku merasa canggung dengan pujian mereka semua.” Kelak Kaya.
“Yaelah Kay, santai aja. Justru bagus mereka tahu dan senang karena kamu udah setara dengan Adrian.” Ucap Nusa tersenyum.
“Kamu bisa aja, kalo muji Nus.” Senyum Kaya.
Aku sengaja memberi tahu mereka Kay, agar ke depannya mereka tahu siapa kamu sebenarnya, sinisnya dalam hati dengan tersenyum melihat Kaya.
“Kalau gitu aku ke ruangan dulu Nus!” Kaya beranjak dan Nusa hanya mengangguk. Kaya berjalan menuju pintu ruangan.
“Kay,” panggil Nusa.
Kaya menghentikan langkahnya, lalu berbalik ke arah Nusa. “Iya Nus,” ucap Kaya membelakangi pintu.
Nusa beranjak dari kursi melangkah ke depan meja. Lalu bersandar di meja tersebut dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam kantong celana.
“Kamu menjadi CEO di perusahaan apa?” tanya Nusa.
Aku enggak mungkin menceritakan perusahaan yang aku akan dapatkan ini adalah perusahaan papanya Adrian, batin Kaya.
“Aku akan beritahu kamu nanti Nus,” jawab Kaya dengan senyum.
Nusa berjalan menghampiri Kaya dan mengelilingi Kaya dengan sikap coolnya. “Apakah perusahaan itu Tama grup Kay?” tanya Nusa dengan cool dan berhenti di hadapan Kaya.
Kaya langsung kaget mendengar ucapan Nusa. Dari mana dia tahu kalau aku menjadi CEO di perusahaan Tama? batin Kaya memperhatikan Nusa tersenyum sinis padanya.
Apakah Adrian sudah mengetahuinya dan memberitahu Nusa? Tapi kenapa tadi Adrian masih menanyakan perusahaannya? Kaya bertanya dalam hatinya dan mencurigai Nusa.
“Dari mana kamu tahu Nus?” tanya Kaya menyipitkan mata di depan wajah Nusa.
Kamu pasti berbohong Nusa, batin Kaya melihat Nusa tersenyum aneh kepada dirinya.
“Kalo gitu selamat yah Kay. Aku mau keluar ruangan dulu ada tamuku di depan kantor!” Nusa tersenyum pura-pura dan meninggalkan Kaya di ruangannya. Sedangkan Kaya masih terheran-heran dengan pernyataan Nusa dan masih belum percaya kalau Nusa hanya menebak saja.
Kaya pun kembali ke ruangannya dan duduk sambil memikirkan ucapan Nusa yang janggal di dalam hatinya. Dia mengambil ponsel di tasnya dan menelepon Boni.
“Halo,” ucap Boni di telepon.
“Halo Boni,” ucap Kaya di telepon.
“Iya bu Kaya,’ jawab Boni.
“Tolong carikan saya informasi tentang Nusantara Gemilang Raya!” perintah Kaya.
“Baik bu,” jawab Boni.
“Sama satu hal lagi, tolong carikan juga informasi tentang Adrian Pratama! Apakah dia memang anak dari Wijaya Tama?”
“Sepertinya iya bu, karena Adrian Pratama memegang saham kedua setelah pak Wijaya Tama.” Jawab Boni.
Kenapa aku merasa ragu yah? Kaya bertanya dalam hatinya.
“Yaudah kamu cari tahu lagi! Kalau sudah dapat, infokan ke saya!”
“Baik bu,” jawab Boni.
Kaya menutup teleponnya dan berpikir keras tentang ucapan Nusa. Dia melihat ekspresi Nusa tidak wajar saat mengucapkannya.
“Apa maksud dari ucapan Nusa yah? Kenapa dia bisa mengetahuinya dan kenapa Adrian tidak? Apa Adrian berpura-pura?” Kaya bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
“Sudahlah lupakan saja, sekarang aku harus fokus pada satu tujuan.” gumam Kaya.
Kaya mengambil kertas di lacinya. Ia bersandar pada kursi sambil menatap kertas tersebut di atas wajahnya. Matanya sangat sinis sekali melihat kertas tersebut. Seperti ada kebencian yang sangat mendalam di bola matanya.
“Pak Wijaya Tama sekarang kamu akan mengalami sakitnya kehilangan perusahaan, sama persis yang keluargaku rasakan saat itu. Targetku adalah menjadi CEO di perusahaanmu dan sekarang sudah tercapai.” Sinisnya.
~
Casting Adrian
Adrian Pratama seorang CEO yang cukup terkenal. Ia mengembangkan perusahaan ayahnya. Perusahaannya bernama Pratama Corp, yang bergerak di bidang jasa kirim, automotive dan properti.
~
Kertas yang di pegang Kaya adalah sebuah artikel tentang Wijaya Tama yang di sampingnya Adrian Pratama. Kaya mengingat kembali saat dia dulu kehilangan semuanya.
Flashback….,
Kaya sedang asyik berjalan menuju rumah, lalu dia mendengar teriakan histeris dari ruang tamu. Kaya langsung buru-buru menuju ruang tamu tersebut dan mendapati ibunyahisteris melihat berita dengan menjatuhkan remote ke lantai.
“Mama? Mama kenapa Mah?” Kaya memegang bahu ibunya dengan kedua tangannya, sambil menatap ibunya dengan tatapan bingung.
“Papa bangkrut Kay,” jawabnya mulai meneteskan air mata.
“Mama tau dari mana?” tanya Kaya.
“Itu di berita Kaya,” tunjuk ibunya dengan sedih.
Kaya yang mendengarnya sontak kaget dan melepaskan tangannya dari bahu ibunya. Lalu mengambil remote TV dan mengencangkan suaraTV tersebut.
Seorang pengusaha terkenal bernama Pak Erlangga Dirgantara telah mengalami kebangkrutan. Dia merugi hingga milyaran rupiah dan kini bisnisnya diambil alih oleh Pak Wijaya Tama. Namun, Pak Erlangga harus mengganti seluruh kompensansi kerugiannya tersebut.
* Pak Erlangga Dirgantara masih dalam ke adaan trauma dan banyak karyawan menuntut gaji mereka di depan Perusahaanya. Karyawan terus mendemo Pak Erlangga dan mereka tak henti mengunjuk rasa. Sedangkan Pak Erlangga sendiri, belum ada konfirmasi darinya.*
Bla…., bla…,
Kaya yang mendengarnya kaget dan menjatuhkan remote ke lantai. Sementara ibu Kaya sudah tersungkur di lantai memeluk kaki Kaya sambil menangis tersedu-sedu.
“Kaya bagaimana nasib kita Kay?” tanya ibunya yang masih menangis.
“Kaya? Bagaimana dengan nasib kita nanti?” tanya ibunya terus yang menangis.
Kaya yang mendengarnya tidak tahan dan mulai mengeluarkan air mata. Ia berjongkok memegang pundak ibunya sambil menatap ibunya dengan penuh kasihan.
“Mah, tenang ada Kaya. Kita tidak akan kenapa-napa.” Kaya mencoba menenangkan ibunya.
“Tapi bagaimana nanti, kamu masih sekolah sayang belum kuliah. Nanti kamu gimana kuliahnya?” tanya Mama Kaya menangis tersedu-sedu.
“Mah, Kaya bisa cari uang sendiri nanti.” Kaya mendekapkan ibunya ke bahu Kaya sambil mengelus pundak ibunya.
Kaya mulai memeluk erat ibunya yang menangis dan Kaya meneteskan air matanya perlahan-lahan. Ia tidak kuat melihat ibunya menangis kesakitan mendengar semua ini.
Perusahaan yang selama ini dibanggakan ayahnya kini hancur berkeping-keping dan Kaya khwatir terhadap ayahnya. Ia berharap agar ayahnya kembali ke rumah dengan selamat.
~ Bersambung ~