My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 43 ~ Kehilangan Semuanya



~ Happy Reading ~


          Kaya dan ibunya duduk di ruang tamu menunggu kehadiran ayahnya pulang. Mereka terus berjalan mondar-mandir sambil melihat jam di dinding yang sudah menunjukan jam 11 malam. Mereka merasa khwatir terhadap kondisi Erlangga.


          Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari depan rumah. Kaya dan ibunya langsung bergegas menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.


          Kaya yang lebih dulu mendahului ibunya berjalan menuju pintu mendadak berhenti. Beberapa tetes air mata ia keluarkan melihat ayahnya masuk ke dalam rumah dengan kondisi mabuk.


          Ibu Kaya yang menyusul juga berhenti tepat di samping Kaya. Ada raut wajah sedih melihat suaminya mabuk tak karuan. Ia meneteskan air matanya melihat suaminya mabuk dengan raut wajah sedih.


           “Sayang kamu mabuk? Sini botol minumnya!” Ibu Kaya mencoba mengambil botol minum tersebut, namun Erlangga menghempaskan tangannya dengan kuat. Sehingga ia tersungkur di lantai dengan rasa sakit di pantatnya.


          Kaya yang melihatnya tidak tinggal diam. Ia langsung mendekatkan ayahnya dan mengambil botol minum itu secara paksa. Lalu membuangnya ke lantai sehingga terdengar suara pecahan botol. Ibu Kaya sontak merasa kaget mendengar pecahan botol tersebut.


          “Papa kalau bermasalah jangan melimpahkan ke minuman kayak gini. Papa lihat Mama! Dia dari tadi nunggu papa gelisah.” Kaya menunjuk ibunya yang tersungkur di lantai sambil menangis.


          Erlangga menoleh istrinya yang menangis dan dia juga ikut menangis. “Maafkan aku sayang.” Erlangga bersimpuh di lantai menghadap istrinya sambil menangis.


          “Pah, udah kita lupakan semua!” Ucap Kaya menangis melihat kedua orangtuanya.


          “Kaya, papa ini bodoh. Mau ditipu oleh teman sendiri.” Sambil memukul pipinya dengan tangannya sendiri.


          “Udah sayang, ini bukan salah kamu!” Istrinya menghentikan tangan Erlangga yang memukul pipinya sendiri. Lalu memeluk suaminya dengan erat dan mengelus pundaknya.


          Kaya yang melihat mereka sangat sedih dan tak kuat. Dia menghampiri mereka dan memeluknya juga.


          “Pah, udah pah. Kita akan lewati ini semua sama-sama.” Kaya menenangkan mereka dan melepas pelukannya, begitu juga dengan ibu Kaya yang melepaskan pelukannya.


          “Papa enggak tahu harus mulai dari mana?! Semua yang papa bangun hancur sudah direbut begitu cepat olehnya. Sekarang rumah ini pun akan disita bank untuk melunasi hutang dan membayar gaji karyawan.” Erlangga


menangis terisak.


          “Udah sayang, aku udah ikhlas jika semuanya disita.Tapi lihat Kaya, dia masih SMA! Kita harus bangkit lagi dan mencari uang dengan cara apapun.” Istrinya mengusap air mata suaminya dengan lembut.


          “Papa enggak usah pikirkan aku. Aku akan mencari uang dengan caraku sendiri.” Ucap Kaya dengan sedih.


          “Iya sayang, iya nak. Papa bangga punya kalian berdua.” Erlangga mendekatkan keningnya ke kening istrinya dan tangan kanannya mengelus kepala Kaya yang berada di samping mereka.


           “Iya pah. Aku juga bangga punya orangtua seperti kalian.” Kaya menangis terisak memeluk kedua orangtuanya. Mereka pun saling berpelukan dengan hangat.


****


Di Kamar Kaya.


          Kaya duduk sambil membuka laptop yang di letakkan di mejanya. Ia terus mengulang berita tentang kebangkrutan ayahnya di youtube. Di kepala Kaya terus terngiang-ngiang akan nama Wijaya Tama.


          Kaya duduk dengan laptop di mejanya. Dia mencoba mengulang berita yang tadi di youtube dan mengulangnya terus menerus. Di kepala Kaya terngiang-ngiang akan nama Wijaya Tama dan dia selalu menatap berita itu dengan sinis.


          Kaya selalu menatap sinis ke arah laptop tersebut. Matanya tak berkedip sekalipun melihat dan mendengar berita itu. Ia terus mengulang dan mengulang berita itu. Sampai akhirnya ia memutuskan mencari nama tentang Wijaya Tama di web dan menemukan artikel tentang Wijaya bersama Adrian.


         Wijaya Tama mempunyai saham utama di Grup Tama. Disusul dengan Adrian Pratama. Adrian Pratama juga memiliki saham yang lumayan banyak di Tama grup dan mempunyai perusahaan lainnya di Indonesia.


          “Apakah ini anaknya dari Wijaya Tama?” Gumam Kaya memandang kertas tersebut.


          Kaya mencoba mencari informasi tentang anak Wijaya Tama dengan mengetik di laptopnya, namun tidak menemukan satupun berita tentang anak Wijaya Tama.


          “Kenapa tak ada satupun informasi tentang anak dari Wijaya Tama. Apakah ini benar anak dari Wijaya Tama, karena nama belakang mereka sama yaitu Tama?” Gumam Kaya memandang kertas tersebut.


Keesokan harinya….


          Kaya bangun dari tidurnya dengan mengusap matanya. Ia mendengar suara sangat berisik di lantai bawah. Karena penasaran, Kaya beranjak dari kasur menuju lantai bawah.


          Kaya yang menuruni tangga terkejut melihat ibunya sedang memohon kepada seseorang yang ingin menyuruh keluarganya keluar. Ia langsung buru-buru turun dari tangga dan menghampiri kedua orangtuanya.


          Kaya memegang pundak ibunya yang menangis.“Mah, kenapa?” tanya Kaya.


          “Mereka ingin menyita rumah kita sekarang juga Kay.” Jawab ibunya sambil menangis. Sedangkan ayahnya hanya bisa pasrah dan tak tahu harus bagaimana lagi.


          “Sekarang juga kalian harus pergi dari sini! Karena rumah ini saya sita!” Ucap seorang pria paruh baya yang dikawal dengan dua pria berbadan besar.


          Kaya hanya bisa terdiam dan menatap mereka dengan sinis. Lalu dia memandang kedua orangtuanya. “Mah sudah, kita keluar aja sekarang.” Ucap Kaya.


          “Tapi kita mau tinggal di mana Kay?” tanya ibunya.


          “Mama tenang ada Kaya. Pah, ayuk kita kemasi barang kita!” suruh Kaya.


           Ayahnya Kaya memandang anaknya dengan penuh rasa bersalah. Dirinya sangat menyesal dan membuat kedua orang yang dia sayangi harus menderita. Tapi di sisi lain, ia tidak menyangka anaknya tumbuh menjadi dewasa dan tidak manja seperti anak orang kaya yang lainnya. Erlangga meresa bangga terhadap Kaya dengan mengeluarkan air mata terharu.


          “Iya, Kay.” Ucap  Erlangga merangkul istrinya untuk ke kamar mereka. Sementara Kaya masih diam di tempat itu. Dia menatap tiga orang di sana dengan sinis.


          “Kalian liat aja nanti! Akuakan buat hidup kalian menderita juga seperti ini!” ancam Kaya menunjuk mereka.


          Pria paruh bayaitu tertawa dengan sinis. “Kamu aja sudah miskin berani mengancam saya lagi.”


          Kaya tidak menanggapi perkataannya dan  berbalik badan menuju kamarnya untuk mengemasi bajunya. Ia mengambil koper dan menaruh semua bajunya ke dalam koper.


          Setelah semua baju dimasukkan ke dalam koper. Kaya mengingat sebuah artikel yang di printnya kemarin di dalam laci. Lalu diambilnya dan dimasukkan ke dalam koper tersebut. Ia pun membawa koper tersebut menuju ruang tamu.


          Kedua orangtua Kaya sudah berada di ruang tamu dengan membawa kopernya. Kaya menghampiri mereka dan mereka keluar pintu bersama.


          Ibu Kaya masih menangis melihat rumahnya yang begitu saja hilang sekejap. Iamenoleh ke belakang dan menatap penuh kekecewaan. Rumah yang dari dulu dia bangun dengan idenya kini hancur disita oleh orang tersebut.


          Kaya yang melihat ibunya berhenti menoleh kebelakang merasa kasihan. Tangannya memegang bahu ibunya dan berkata. “Mah, sudah mah. Ayuk kita keluar!”


          Erlangga merasa sangat bersalah. Ia hanya terdiam dan membendung air mata di pelupuk matanya. Dirinya tak tahan melihat istrinya yang meratapi kesedihan kehilangan semuanya.


~ Bersambung ~