
~ Happy Reading ~
Di Diskotik.
Michael memakirkan mobilnya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam diskotik tersebut. Setelah memakirkan mobil, kakinya melangkah masuk ke dalam dan mencari keberadaan wanita yang di teleponnya tadi.
Michael pun menemukan Lita yang duduk sambil berjoget dengan tangan di julurkan ke atas untuk di goyangkan. Ketika ia hendak ingin melangkah, ada seorang pria terlebih dahulu menghampirinya dan duduk di sebelahnya dengan tersenyum.
“Halo sayang?” Pria itu tersenyum sambil menyuruh pelayan bar untuk membuatnya minum.
Lita berhenti menggoyangkan tangan dan badannya. Ia menoleh ke samping dan melihat pria itu tersenyum. Lita yang mabuk menanggapinya dengan senyum menggoda. “Halo juga sayang.”
Tangan pria itu merangkul pundak Lita. “Kamu sendirian aja?” tanyanya.
“Aku emang sendirian yah?” tanya Lita seperti orang bodoh dengan senyum. Pria itu hanya terkekeh melihat tingkah lakunya. Pria ini umurnya tidak terlalu tua tapi tidak juga muda, mungkin sekitar umur 35-an.
“Kamu memang sendirian cantik,” jawab pria itu menanggapi pertanyaan Lita yang aneh.
“Oh iya? Aku memang sendirian, tidak ada yang menemaniku.” Lita mengubah ekspresinya jadi sendu. Melihat itu, pria tersebut mencoba menghibur Lita.
“Jangan sedih sayang! Aku akan ada untuk kamu, jadi kamu tidak sendirian lagi.”
Tangan pria itu beralih memeluk pinggang Lita yang ramping. “Bagaimana kalau kita bicara di tempat lain aja sayang?” ajaknya dengan senyum dan pelayan menaruh minuman pria itu di mejanya. Pria itu hanya tersenyum mengucapkan terimakasih kepada pelayan tersebut.
Michael yang melihat tangan pria itu memeluk pinggang Lita melangkahkan kakinya dengan cepat. Ia tak mau Lita kenapa-napa.
“Maaf, dia pacar saya!” Michael langsung melepaskan tangan pria itu dengan kasar dari pinggang Lita.
Lita langsung menoleh ke belakang dengan mata yang sudah mulai kabur akibat minumannya. “Pacar?” tanya Lita.
“Apakah dia pacar kamu?” tanya pria itu.
“A-Adrian,” Lita seperti melihat sosok Adrian di depannya bukan Michael.
Pria itu berdiri dari kursi setelah mendengar ucapan Lita dan pergi dengan mengucapkan maaf kepada Michael.
“Ayok pulang Lit!” ajak Michael mengambil ponsel Lita di meja dan memasukkannya ke kantong celana.
“Kamu Adriankah?” tanya Lita yang sudah mulai linglung.
“Bukan, aku Michael!” Michael terdengar marah karena Lita menyebut nama Adrian di depannya. Ia langsung menarik tangan Lita.
“Eh…, tunggu dulu!” Lita yang tertarik langsung meletakkan gelasnya dan ikut bersama Michael.
“Adrian?” racau Lita saat Michael menopang tubuh Lita yang sudah mabuk.
“Aku bukan Adrian Lit, tapi Michael!” tegasnya yang tidak suka dianggap Adrian.
Mereka berjalan menuju parkiran mobil dan Michael menaruh Lita di sampingnya, lalu Michael masuk dan menjalankan mobilnya menuju ke apartemennya.
****
Keesokan Harinya....,
Matahari yang terbit di atas memasuki sinar di kamar apartemen Michael. Kedua insan masih tertidur puas dengan berpelukan walau cahaya matahari mengganggu mereka.
Tangan Lita bergerak meraba sesuatu yang dipeluknya. Dia merasa nyaman memeluknya dan tanpa sadar dia mengelusnya hingga sampai di dada bidang Michael.
Ternyata Michael, pikirnya dengan senyum.
Michael, ucap Lita dalam hati. Lita langsung membuka matanya dengan lebar. Ia mengucek matanya untuk membenarkan penglihatannya dan benar itu nyata.
Lita agak menjauhkan dirinya dan mengambil selimut untuk menutupi dirinya. Ia kembali melihat Michael dengan bertelanjang dada dan memakai celana boxer.
Melihat itu Lita kembali melihat dirinya di balik selimut. Matanya mengerjap melihat dirinya hanya memakai tanktop dan celana pants.
“TIDAK!” teriaknya dengan posisi duduk dan menyelimuti dirinya sampai leher. Michael yang mendengar teriakan Lita terbangun dengan cemas.
“Kamu kenapa Lita?” tanya Michael yang melihat Lita merengek dengan posisi duduk.
“MICHAEL! KAMU APAKAN AKU?” Tanya Lita dengan intonasi tinggi.
“Emang aku ngapain kamu?” tanya Michael yang bingung.
“Ehe…, ehe…, Michael jahat.” Rengek Lita dengan kedua tangan menutupi wajahnya.
Michael tambah bingung. “Lita jangan nangis dong! Emang aku salah apa?” dengan mengelus bahu Lita.
“Kamu jahat!” tunjuk Lita.
Michael merasa bingung mendengar ucapan Lita. Ia menggaruk dagunya yang tidak gatal sambil memperhatikan sekitar dan seketika Michael langsung sadar karena melihat baju dan celananya yang berserakan di lantai.
Michael langsung merasa bersalah dengan wajah menyesal. “Shit!” umpat Michael.
“Lit.., sumpah aku enggak tahu apa yang terjadi semalam!” Michael langsung menghadap wajah Lita. Dirinya tak sadar hanya memakai celana pendek dengan bertelanjang dada.
Lita menyingkirkan tangannya dari wajahnya dan melihat Michael yang merasa bersalah. Namun, ia menutup matanya lagi karena Michael hanya memakai celana boxer saja. “Michael! Kamu mau menggoda aku yah?”
Michael langsung melihat dirinya kembali dan hanya memakai celana boxer kotak-kotak berwarna hijau. Ia langsung mencoba menarik selimutnya dan tak sengaja menampilkan Lita yang hanya memakai tanktop.
Lita yang merasakan selimutnya tertarik memandang Michael dengan wajah merah padam. “Michael!” bentak Lita di depan Michael.
Michael langsung melepas selimutnya dan menutup mata. “Maaf Lit, aku enggak sengaja!” Lita langsung mengambil kembali selimut putih tersebut dan menutupi dirinya sampai atas dada.
“Michael, kamu jahat mau mencobai aku lagi!” tunjuk Lita dengan muka menunduk.
“Lit.., maaf Lit. Aku enggak sengaja!” lirihnya. “Aku enggak tahu apa yang terjadi Lit, setahu aku semalam aku menjemput kamu. Udah itu aja.”
“Hiks.., hiks.., aku udah enggak perawan lagi.” Lita semakin menangis tersedu.
“Lit serius aku enggak tahu apa yang terjadi. Maafin aku Lita, aku akan bertanggung jawab untuk semua ini. Kalau perlu kita akan menikah hari ini juga?” Michael memohon dengan muka yang sangat merasa bersalah.
Lita yang mendengarnya membuka mata sebelah dan melirik ekspresi Michael yang terus memohon karena merasa bersalah. Lita pun menertawakannya dan lupa bahwa selimutnya terlepas sehingga menampilkan tanktopnya berwarna pink.
“Kok kamu ketawa sih?” tanya Michael yang bingung.
Lita menahan tawanya dengan memegang perutnya. “Aku itu cuman bercanda. Semalam kita enggak melakukan apa-apa Michael.”
“Maksudnya?”
~ Bersambung ~